Bagaimana Muslim Cina merayakan Imlek tahun Babi 2019


Oleh: Ricky Suwarno

4 February 2019

Imlek 2019. Besok semua orang Cina akan merayakan tahun Baru Imlek. Tepatnya 1.6 Milyar penduduk di dunia.

Berdasarkan astrologi Cina, yang ditetapkan Dinasti Han. Pada kalender Lunar. Tahun 2019 di kenal sebagai Tahun Babi. Dengan unsur tanah atau Bumi. Yang datang tepat setelah Tahun Anjing Tanah di tahun 2018. Yang menjanjikan keberuntungan dan berkat bagi semua zodiac Cina.

Berdasarkan statistic populasi pemerintahan pusat, ada lebih dari 30 juta orang menganut agama Islam di Cina.

Pada tahun babi 12 tahun yang lalu, gambar dan bahasa yang berhubungan dengan Babi, yang muncul dalam program dan iklan CCTV Cina sengaja di buat kabur. Atau di ganti logo. Untuk menghormati 30 juta penduduk Islam ini.

Bayangkan, CCTV, perusahaan TV terbesar di Cina. Bisa begitu toleransi. Artinya betapa mereka mementingkan dan menghormati perbedaan suku di dalam negaranya. Walaupun Islam di Cina termasuk sangat minoritas. Yang hanya mencakup 0.02% dari total penduduknya. Atau 1.7% penduduk Muslim dunia.

Pada saat itu, media resmi Cina “people’s daily” meluncurkan gambar di Weibo (Twitter nya Cina). Dengan slogan, makan daging babi di malam imlek, di ganti dengan kata “memakan daging rebus”.

Atau misalnya, dua hari yang lalu. Ketika saya melewati mall dekat Zhongshan distrik di Shanghai. Di mana ada banyak masyarakat Islam yang tinggal di sekitarnya. Dengan masjid-mesjid. Mall tersebut berusaha menarik perhatian pengunjung. Terutama konsumen Islam. Hiasan Babi di tahun 2019, di ganti dengan boneka Doraemon. Yang tidak kalah menariknya. Akhirnya, menarik banyak pembeli Islam ke dalam Mall.

Cina, sebagai bangsa terbesar penduduknya di dunia menghargai perbedaan peduduknya. Dan menjunjung tinggi toleransi antar umat. Menghargai perbedaan yang ada. Dan semangat itu telah menyebar ke seluruh pelosok Negara.

Pluralism bukannya singkritisme. Yang mencampuradukkan satu ajaran atau suku Han dengan Islam Cina. Membangun masyarakat yang menjunjung tinggi pluralism bukanlah cara mudah. Atau gampang. Tetapi tetap harus dilakukan.

Saya selalu teringat dengan ajaran orangtua. Tentang pepatah Cina lama yang mengatakan. Kepala Negara atau presiden itu ibarat kepala keluarga. Dia harus pintar. Dan bijaksana. Tidak boleh ada prasangka. Atau berat sebelah. Karena anak-anaknya akan mencontoh.

Just like grandma says, kalau tiang (fondasi) atas suatu Negara sudah lurus. Secara otomatis tiang bawah juga akan ikut lurus.

Yang membuat saya sangat kagum dan menghormati pemerintah Cina. Adalah rasa hormat pemerintahnya kepada minoritas umat Islam. Pemerintah dan rakyatnya memberlakukan umat Islam secara sama. Adil dan merata. Bahkan ada hak special. Seperti dibidang pendidikan. Atau asuransi. Dan sebagainya.

Mengapa pemerintah atau rakyat bisa menerima? Karena umat Islam tersebut lahir dan dibesarkan di Cina. Berarti umat Islam ini adalah anak-anak dan harapan masa depan pemerintah Cina. Yang harus di lindungi. Dan di kembangkan.

Seseorang yang bisa menerima perbedaan, akan membuat orang atau Negara tersebut menjadi semakin kuat. Dan adidaya. Karena semua manusia di anugerahi talent dan kemampuan yang berbeda. Persatukan talent ini. Dan akhirnya membangun bersama menjadi Negara superpower.

Last but not least, Lautan Arafura adalah lautan terdalam di Indonesia. Sedalam 3.6km. Mengapa lautan terdalam, karena dia bisa menampung semua aliran air, sungai atau danau dari seluruh penjuru.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesiaTags: , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: