AI China menyalip Amerika

AI China menyalip Amerika Serikat kata Kai-Fu Lee Pendiri Sinovation Ventures. Sekaligus penulis buku terkenal, “AI Superpower: China, Silicon Valley dan New World Order.” Dalam wawancara beberapa hari yang lalu oleh Forbes, Kai-Fu Lee menekankan tentang pencapaian AI alias Kecerdasan Artifisial Dunia sejauh ini.

Kai-Fu Lee adalah seorang Pakar komputer. Pengusaha dan penulis kelahiran Taiwan. Dia saat ini berbasis di Beijing, China. Lee mengembangkan sistem pengenalan suara atau Speech Recognition berkelanjutan yang tidak bergantung pada pembicara Pertama di dunia. Sebagai gelar Ph.D tesisnya di Universitas Carnegie Mellon pada tahun 1980-an.

Kai-Fu Lee di pandang sebagai otoritas terkemuka dunia dalam kecerdasan buatan. Lee kemudian berkarir di China dan AS. Beliau pernah menjabat sebagai CEO di Apple, Microsoft, Silicon Graphics, dan Google China. Lee sekarang menjalankan perusahaan modal ventura bernama Sinovation Ventures yang berfokus pada investasi Startup AI dari China maupun Amerika. 

AI China menyalip Amerika

China telah berkembang sangat pesat dalam beberapa dekade terakhir. Dari peniru menjadi inovator sejati hari ini. Berkat Big data, AI, dan lingkungan ekosistem wirausaha, Saat ini China bersama Amerika Serikat memimpin Dunia dalam Kecerdasan Buatan. Ketika Buku AI Superpowers diterbitkan pada tahun 2018, cukup mengejutkan kalangan AI dunia.

Inovasi AI berkembang sangat cepat. Terutama kecepatan inovasi AI dari penelitian ke produk. Sebagai contohnya, algoritma Visi Komputer dan jaringan saraf konvolusional. Keduanya membutuhkan waktu 30 tahun dari makalah penelitian pertama hingga akhirnya menjadi teknologi yang digunakan secara luas. 

Ketika Google menerbitkan makalah akademis, hanya dalam dua tahun kemudian hampir setiap perusahaan komersial telah merealisasikannya dalam produk mereka. Hal ini membuat para pakar yakin bahwa adopsi cepat AI ke semua jenis domain dan negara akan menjangkau aplikasi komersial jauh lebih cepat. Dibanding teknologi lainnya.

Pada saat ditanya tentang keunggulan alami China dalam AI, Kai-Fu Lee menggunakan contoh Tik Tok yang dipaksa jual untuk Perusahaan Amerika di saat pemerintahan Trump. Tik Tok adalah produk AI yang sangat sempurna. Jadi, tidaklah mengherankan jika TikTok mencapai kesuksesan yang sangat besar.

Tik Tok telah terbukti tidak dapat disalin oleh perusahaan-perusahaan Top Raksasa Amerika khususnya Facebook ataupun Youtube. TikTok adalah contoh yang paling representatif dari keunggulan alami Tiongkok, Big Data.

Perusahaan ini telah memanfaatkan Big Data di China. Yang dapat digunakan untuk mengembangkan Antarmuka yang menampilkan video menarik.  Yang cocok dengan selera pengguna. Bahkan membuat mayoritas pengguna ketagihan setiap saat. 

TikTok menggunakan Big Data sebagai panduan untuk disesuaikan dengan pasar AS dan negara lain. Tik Tok menciptakan pengalaman serupa untuk audiens yang berbeda. AI memungkinkan TikTok memberikan pengalaman yang ditargetkan kepada setiap individu. Dengan demikian Tik Tok dapat mengumpulkan data untuk iterasi yang konstan. 

Perusahaan asal Negeri Tirai Bambu ini menunjukkan bahwa jika Anda memiliki produk yang bagus, iterasikan produk tersebut, gunakan AI untuk membuat pengguna lebih melengket. Sehingga, Anda dapat mengadopsinya ke lebih banyak wilayah lainnya. 

Ini telah menjadi fenomena global. Itu adalah cerita khas Tiongkok. Sebenarnya, tidak ada teknologi AI terobosan di TikTok. Tik Tok hanyalah eksekusi AI yang luar biasa. Banyak data. Iterasi, dan pertumbuhan yang sangat agresif. Ini adalah formula yang mendukung kesuksesan AI konsumen di China.

Kunci kesuksesan investasi Sinovation Ventures dalam AI sejauh ini bisa disimpulkan sebagi berikut. Pertama, memahami pentingnya data bagi suatu perusahaan. Big Data adalah minyak di Abad 21. Kedua, jika Anda memiliki data, Anda memiliki peluang besar untuk menerapkan AI dan menghasilkan banyak nilai. Ketiga, praktekkan bagaimana teknologi AI berpenetrasi dengan cepat. 

Kesimpulannya, pemilik perusahaan Teknologi AI hampir tidak seberharga perusahaan pemilik Big data. Wawasan itu memberikan Sinovation Ventures ide untuk mendapatkan pendanaan baru. Daripada mencari perusahaan AI ilmu roket, Sinovation Ventures lebih suka mendanai perusahaan yang memiliki banyak data. 

Sebagai contoh, Data yang terstruktur dengan baik. Dalam jumlah besar. Terhubungkan ke metrik bisnis dan Hak Milik. 

Perusahaan target Sinovation pada awalnya adalah perusahaan yang belum mempraktekkan AI. Tetapi mereka memiliki siklus pendapatan yang cukup baik. Mereka bukan perusahaan Startup. Tetapi mereka juga bukan perusahaan berskala besar. 

Kai-Fu Lee cendrung mencari perusahaan dengan nilai setengah miliar sampai satu miliar dolar. Kemudian, Lee akan masuk berinvestasi dan membantu mereka menyadari nilai data mereka. Yang jika diterapkan pada AI, akan sangat cepat memberikan keuntungan tambahan dalam pendapatan dan kapitalisasi pasar.

Singkatnya, Fokus Lee adalah perusahaan di saat valuasi perusahaan bisa naik dari setengah miliar menjadi 5 miliar Dolar Amerika.

Dari semua portfolio investasi Sinovation Ventures, mereka kebanyakan telah membantu perusahaan data keuangan meningkatkan penggunaan lebih dari 300%. Ini masih terhitung prestasi yang rendah. 

Lee juga berinvestasi di beberapa perusahaan perangkat keras yang bereputasi tinggi. Misalnya Perusahaan yang memiliki kapabilitas mekanik dan produk yang kuat. Tetapi tidak memiliki visi komputer. Sebagai contohnya, perusahaan Mesin pengangkat barang yang belum memiliki kemampuan mengemudi otonom AI.

Masalah Etika pengembangan AI

Sinovation Ventures bukan perusahaan kendaraan. Oleh karena itu sebagai investor dan sekaligus konsultan, Lee akan membantu Startup yang di investasinya. Berusaha mencari perusahaan yang cocok untuk bekerjasama. Atau paling tidak bisa bermitra dengan Universitas Top di Tiongkok. 

Sebagai hasilnya, Sinovation mendapatkan “nilai tambah AI” pada startup investasinya. Cara yang banyak dilakukan kalangan investor juga. Makanya, ketika mereka menghasilkan uang, Sinovation juga ikut mendapatkan keuntungan. 

Ketika ditanya mengenai Etika dalam AI, Lee menjawab bahwa Seorang insinyur yang tidak sadar atau tidak peduli dengan orang lain dapat menciptakan produk yang sangat berbahaya. Hal ini berkaitan dengan kurangnya pendidikan. Mereka mungkin tidak sadar bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk memastikan kumpulan data pelatihan yang berlimpah dan seimbang antara jenis kelamin, ras, dll.

Solusi yang lebih baik untuk mengatasi masalah ini adalah menanamkan pendidikan tingkat awal. Sehingga para insinyur sadar bahwa mereka tidak hanya menulis kode. Atau mengeluarkan beberapa angka saja. Kami harus meningkatkan atau paling tidak, kami harus  mengeluarkan regulasi yang memadai, jawab Lee. 

AI China menyalip Amerika
AI China menyalip Amerika (Image: GCN)

Just like grandma says, AI China menyalip Amerika dalam banyak penetrasi dan Aplikasi. Misalnya, pendidikan online sekitar lima tahun lalu. Atau bahkan lebih awal lagi. VIPKid, yang didanai Sinovation telah membantu lebih dari satu juta anak Tiongkok belajar bahasa Inggris Online. China memiliki terlalu sedikit guru. Jadi pendidikan online menjadi solusi yang sangat baik. Terutama pada saat Pandemi Covid-19 sekarang ini.

“Pada tahun 2020, China akan menyusul dan menyeimbangi AI Amerika. Pada 2025, perkembangan AI China akan jauh lebih baik dari kita. Sampai Pada tahun 2030, AI China menyalip Amerika dan mendominasi hampir kebanyakan industri di dunia, “kata Mantan Google CEO, Eric Schmidt. Oleh karena itu, Amerika harus menggunakan segala cara untuk mencegah terjadinya hal tersebut, lanjut Eric Schmidt sambil mengakhiri wawancara pers.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.