Advertisements

AI di masa depan

Setiap kali membuka situs web, nama Trump selalu menempati lebih dari setengah layar ponsel saya dibanding perkembangan AI di masa depan yang selalu menjadi fokus saya. Namun dalam sepekan terakhir, politik Amerika tiba-tiba menjadi menarik. Karena ada wajah baru dalam berita politik Amerika. Yaitu pengusaha AS keturunan China , Andrew Yang. Kandidat Partai Demokrat untuk kampanye presiden AS 2020. Andrew Yang tampil sangat menonjol dan menjadi kandidat kedua yang paling disukai setelah Joe Biden. Karena Andrew mengadopsi proposisi kebijakan yang sangat jelas dan agak berbeda.

Andrew percaya tantangan terbesar yang dihadapi Amerika Serikat sekarang, bukan dari persaingan eksternal atau kontradiksi internal di Amerika Serikat. Melainkan dari teknologi. Perkembangan AI di Masa Depan atau Kecerdasan buatan, dan otomatisasilah yang dapat menyebabkan pengangguran serius.

AI di masa depan membawa dampak pengangguran

Andrew memperkirakan dalam 12 tahun ke depan, satu dari setiap tiga orang Amerika akan menghadapi risiko pengangguran. Oleh karena itu, Andrew Yang menganjurkan setiap orang di atas usia 18 akan dikasih 1.000 Dolar sebulan untuk menjamin kehidupan dasar.

Kebijakan ini sangat cerdas. Karena setara dengan menciptakan musuh bersama untuk semua pihak, Dampak kecerdasan buatan atau AI di masa depan. Ini juga tercermin dalam slogan kampanyenya: “Bukan ke kiri, atau ke kanan, tetapi ke depan!”

Apakah AI benar-benar arah pengembangan teknologi?

George Gilde, seorang pakar ekonomi Amerika berpendapat bahwa AI hanyalah salah satu tren pengembangan teknologi. Bukan satu-satunya jalur pengembangan yang tak terhindarkan. Pada tahun 1980-an, Presiden AS Ronald Reagan sangat memuji pikiran dan pandangan Gilde. Sekarang, George Gilde adalah salah satu penginjil ekonomi digital. Dia memiliki perusahaan teknologi sendiri. Dan sering menerbitkan artikel di majalah teknologi. Sehingga, Dia disebut sebagai salah satu dari tiga pemikir era digital Amerika.

Saat ini, tren pengembangan teknologi paling optimis di dunia, “ABC”. A merujuk ke AI atau kecerdasan buatan. B mengacu pada Big Data. C merujuk ke Cloud atau komputasi awan. Ketiga teknologi ini telah menjadi konsensus perusahaan teknologi raksasa. Dan telah menjadi medan persaingan antara Google, Microsoft, Amazon, Apple, Facebook, Alibaba, Tencent, dan Baidu. Semua perusahaan raksasa ini telah menginvestasikan banyak sumber daya dalam ketiga teknologi ini.

Apa yang akan terjadi Ketika ketiga teknologi ini terus berkembang? Banyak orang meramalkan manusia pada akhirnya cuma mengikuti pengaturan algoritma. Banyak profesi dan pengambilan keputusan akan diteruskan ke algoritma.

Ini sepertinya sudah menjadi konsensus kita semua.  Tetapi menurut George Gilde bahwa rangkaian ide ini sebenarnya adalah sistem filosofis dari Google. Karena semua ini berkembang dari model bisnis Google.

Pengembangan dari model bisnis Google

Model bisnis Google bisa dirangkum dalam satu kalimat. Rekomendasi cerdas berdasarkan data besar dan algoritma. Pengguna menggunakan pencarian Google untuk mencari data sehingga menghasilkan sejumlah besar data pengguna bagi Google. Berdasarkan data ini, Google dapat mendorong pengguna ke iklan pemasaran yang tepat.  

Pada awalnya, pengguna juga perlu mencari informasi sendiri. Tentang produk atau layanan yang mereka inginkan.  Namun, dengan kematangan big data dan teknologi algoritma, platform telah beralih ke era rekomendasi, yang telah menjadi alat rekomendasi yang cerdas.

Menurut George Gilde konsep yang kita terima seperti data besar, komputasi awan, dan kecerdasan buatan, sebenarnya adalah salinan dan perluasan model bisnis Google. Bila menurut evolusi jalur ini, kita tidak pernah dapat menciptakan AI di masa depan yang sebenarnya.

Karena jalur saat ini, para teknisi memiliki celah dalam berpikir bahwa kecepatan komputasi dapat menciptakan kecerdasan. Selama data cukup besar dan kecepatan perhitungan cukup cepat, maka kita dapat memberikan kesadaran dan kreativitas pada mesin.

Di bawah logika seperti ini, komputer dan algoritma tidak perlu mengetahui perusahaan tertentu. Mereka tidak perlu tahu apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan ini. Sehingga, mereka dapat berinvestasi sesuai dengan jumlah data yang sangat besar. bahkan Komputer tidak perlu mengerti suatu bahasa, tentang Apa yang dimaksud dengan suatu ekspresi tetapi langsung dapat mengidentifikasi dan menterjemahkan secara akurat.

Pada kenyataannya, teknologi kita masih belum sepenuhnya memahami otak dan kesadaran manusia. Jika kita tidak memahami kesadaran, kita tidak dapat membangun kecerdasan. Melainkan, hanya seperangkat teori computer yang terbentuk. Kecerdasan buatan saat ini hanyalah sebuah algoritma input dan output. Atau lebih tepatnya menurut kata George Gilde, “tidak bisa berpikir sama sekali.”

AI di masa depan
Andrew Yang, kandidat Partai Demokrat yang menggunakan AI di masa depan dalam kampanyenya memperoleh suara kedua terbanyak sesudah Joe Biden

Oleh karena itu, AI atau kecerdasan buatan, data besar, dan komputasi awan hanyalah jalur evolusi teknologi yang telah dikembangkan ilmu komputasi saat ini. Ini bukan jalur tertentu, dan juga belum tentu jalur masa depan.

Mengapa banyak perusahaan berinvestasi AI

Jika teknologi berkembang sesuai dengan jalur saat ini, raksasa teknologi akan menjadi pemenang abadi. Karena teknologi ini membutuhkan banyak investasi modal dan membutuhkan sejumlah besar data yang dihasilkan pengguna. Hanya platform teknologi besar seperti Google dan kawan-kawan yang dapat melakukan hal-hal ini.

Just like grandma says, menurut George Gilde selain AI di masa depan, masih ada jalan lain dalam pengembangan teknologi di masa depan. Misalnya, teknologi blockchain. Atau AR yang berpusat pada manusia dan kecerdasan yang ditingkatkan seperti antarmuka otak-komputer Neuralink Elon Musk. ini adalah teknologi yang dapat meningkatkan kecerdasan manusia.

Advertisements
Categories: AI di masa depan

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: