AI mengubah taktik perang

AI mengubah taktik perang menjadi realita. Dalam beberapa hari terakhir, pengiriman pasukan Turki menginvasi Suriah telah menarik perhatian dunia. Presiden AS Donald Trump menarik pasukannya dari Suriah, dan menyetujui Turki untuk mengirim pasukannya. Kita tidak tahu kartu apa yang dimiliki Trump saat ini, sehingga Dia membuat keputusan seperti itu. Mungkin Dia baru saja membaca Fox News, atau mungkin dia telah mendengarkan informasi militer yang terperinci tentang situasi di Suriah, sehingga membuat keputusan setelah pertimbangan yang cermat.

AI mengubah taktik perang

Di Era kecerdasan buatan, kita tidak hanya mengandalkan manusia untuk membuat keputusan. Dalam berbagai skenario, semakin banyak data terkumpulkan membuat informasi yang dihadapi semakin kompleks. Mungkin hanya dengan bantuan kecerdasan buatan, kita dapat menyederhanakan dan membentuk strategi yang optimal. Hal ini sedang terjadi di bidang militer. Kecerdasan Buatan atau AI mengubah taktik perang.

Beberapa waktu lalu, The Economist menerbitkan sebuah artikel “Battle Algorithm atau Perang Algoritma” bahwa kecerdasan buatan akan mengubah semua aspek pengambilan keputusan militer.

Pada bulan Februari tahun ini, Departemen Pertahanan AS merilis dokumen strategi Kecerdasan Buatan pertama dalam sejarah. Mereka mengatakan penilaian yang patut diperhatikan, kecerdasan buatan atau AI mengubah taktik perang telah siap. Dan dapat senantiasa mengubah medan perang Di masa depan.

Kecerdasan buatan akan menjadi faktor kunci dalam memenangkan peperangan. Namun di medan perang, masalah yang paling sulit bukan pada perolehan informasi intelijen, melainkan bagaimana menambang informasi berharga dari intelijen.

Saat ini, ada banyak peralatan yang dapat digunakan untuk mengumpulkan intelijen. Misalnya melalui satelit, pesawat pengintai atau drones, dan bahkan telepon seluler maupun komputer. Sebaliknya, Bagaimana menangani data besar yang disediakan oleh perangkat ini adalah masalah Utama.

Sebagai contoh, pada tahun 2011 AS hanya mengandalkan drones berhasil mengumpulkan gambar sebanyak 327.000 jam. Atau sekitar 37 tahun. Begitu banyaknya gambar, bila hanya menggantungkan pada analisa mata manusia adalah Mission Impossible. Algoritma kecerdasan buatan dapat digunakan untuk memproses data tersebut.  

4 tahun yang lalu, algoritma klasifikasi gambar di laboratorium telah melampaui kinerja kerja manusia. Dan Pada tahun 2018, algoritma sudah dapat menemukan banyak objek yang berbeda dari gambar grafik dan berhasil mengklasifikasikannya satu persatu.

Berdasarkan teknologi ini, Departemen Pertahanan AS membentuk tim yang disebut “Perang Algoritma” dua tahun yang lalu. Tugas tim adalah menggunakan algoritma pembelajaran mendalam atau Deep Learning untuk menemukan perilaku mencurigakan dari gambar di medan perang. Tentu saja, algoritma tidak hanya dapat menangani data gambar. Misalnya, Program “Pengawasan Global” AS untuk memonitor semua negara pesaing yang dibocorkan Edward Snowden. Bagian dari Program itu adalah memantau komunikasi individu atau kepala negara. Dalam proyek ini, kecerdasan buatan digunakan untuk menganalisis informasi intelijen teroris.

Atau Misalnya lagi, AS mengawasi orang yang sering bepergian dari Lahore ke kota perbatasan Peshawar dalam sebulan terakhir di Pakistan. Atau Siapa yang sering mematikan ponsel atau mengganti perangkat ponsel lebih sering daripada biasanya. Ini adalah beberapa informasi yang disimpan di ponsel sedikit demi sedikit. Data yang sangat berharga  dan mudah diabaikan. Amerika Serikat akan memproses data ini dengan pembelajaran mesin atau Machine Learning, dan kemudian menggunakan algoritma untuk menentukan siapa yang mungkin mengirimkan berita ke organisasi teroris.

Jika tidak ada kecerdasan buatan, walaupun informasi ini tersedia di depan kita, Kita juga tidak akan dapat menemukan informasi yang efektif. Algoritma membuat informasi di medan perang menjadi semakin transparan.

Namun, seandainya AI bisa berpikir seperti manusia, Dia pasti tidak akan bersedia menjadi seorang perwira intelijen saja. Da pasti ingin naik pangkat lebih tinggi dalam struktur Organisasi militer. Umpamanya, membantu komandan merumuskan strategi dan membuat keputusan militer.

Saat ini, telah ada beberapa perusahaan AI yang bekerja ke arah ini. Namanya, Arrow dari Israel. Perusahaan Arrow dapat membantu komandan mengerahkan pertempuran dengan memproses sejumlah besar data. Data ini biasanya mencakup informasi lokasi musuh, jenis senjata, lokasi geografis, dan kondisi cuaca. Selain itu, algoritma juga mempertimbangkan data empiris sebelumnya dan memberikan opsi keputusan yang berbeda.

Untuk melakukan pekerjaan semacam ini, manusia pada umumnya harus melihat peta, melihat formulir, dan melakukan berbagai analisis. Dan membutuhkan waktu lebih dari 20 jam untuk menyelesaikannya.

Selain itu, Teknologi kecerdasan buatan lainnya yang membantu manusia membuat keputusan adalah model yang menggunakan algoritma dalam lingkungan perang yang disimulasikan. Departemen Pertahanan Inggris misalnya membeli perangkat lunak yang dikembangkan oleh perusahaan game untuk meniru lingkungan Perang yang rumit. Data dari berbagai lingkungan dunia nyata diimpor, dan diproses oleh algoritma kecerdasan buatan.

Dari kasus-kasus diatas, Perang Cerdas atau Intelligent War tampaknya telah menjadi tren yang tak terhindarkan. Li Minghai, profesor terkemuka di Universitas Pertahanan Nasional Tiongkok menyimpulkan mekanisme “Intelligent War” di masa depan. Perang Di masa depan akan menjadi “Game Algoritma”. Dari “Perang berbasis mesin” Dan pengambilan keputusan otak manusia beralih menjadi pengambilan keputusan cerdas.

Jika Anda ingin merasakan seperti apa perang ini, Anda dapat melihat ditahun 1970. Dalam operasi militer tahun itu, imajinasi banyak orang tentang perang di masa depan telah menjadi kenyataan. Perang Vietnam. Nama kode operasi militer ini adalah “Operation Igloo White”.

Militer AS menggunakan pesawat tempur AL untuk meluncurkan beberapa peralatan pemantauan elektronik di hutan-hutan Vietnam. Misalnya, mikrofon digunakan untuk memantau jejak musuh atau suara pengapian truk. Atau, sensor penciuman bau amonia dalam urin manusia dan melacak keberadaan musuh. Data ditransmisikan ke drone dan komputer. Algoritma memprosesnya, kemudian menentukan area pemboman nantinya. Dalam beberapa menit, pesawat pembom akan lepas landas ke daerah sesuai dengan instruksi algoritma.

Namun, dari segi pertimbangan operasional dan etika yang praktis, bentuk perang cerdas ini juga memiliki banyak kelemahan. Bahaya tersembunyi terbesar adalah interpretabilitas.

AI mengubah taktik perang
AI mengubah taktik perang dari perang berbasis mesin sampai ke pengambilan keputusan cerdas

Pembelajaran Mendalam atau Deep Learning itu ibarat kotak hitam. Bagaimana atau mengapa dia dapat membuat keputusan tidak bisa dijelaskan sendiri. Jika algoritma Deep Learning digunakan dalam keputusan perang, bagaimana kita bisa memahami rasionalitas di balik keputusan tersebut?

Manusia selalu berpikir bahwa mereka adalah yang paling cerdas. Tetapi siapa tahu mungkin algoritma jauh lebih komprehensif daripada yang kita bayangkan. Ketika keputusan algoritma bertentangan dengan keputusan manusia, dan manusia tidak dapat memahami alasan di balik keputusan tersebut, siapa yang harus dipercayai???

Just like grandma says, pengambilan keputusan manusia dalam perang dapat secara bertahap ditransfer ke algoritma. AI mengubah taktik perang dan Bentuk perang di masa depan akan berubah secara dramatis. Namun, satu fakta yang tidak dapat diabaikan adalah jika algoritma dapat membuat keputusan, Dia tidak dapat membantu manusia  menanggung konsekuensi dari pengambilan keputusan. Oleh karena itu, Ricky berpikir posisi algoritma yang paling cocok adalah berperan sebagai Divisi Militer manusia. Karena sebagaimana canggihnya Algoritma, peperangan merupakan aktivitas politik umat manusia.

Advertisements
Categories: AI mengubah taktik perang

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: