konvensional ke AI

Oleh: Ricky Suwarno

Dalam satu dua tahun belakangan ini, saya sering di Tanya teman-teman dari kalangan konvensional. Terutama mereka dalam bisnis manufaktur. Bagaimana cara supaya bisnis mereka bisa berkaitan dengan AI. Atau bagaimana mereka bisa transformasi. Supaya tidak ketinggalan jaman. Tidak drop out.

Mungkin tips dibawah ini bisa berguna bagi teman-teman dikalangan yang sama. Panduan dari Google Brain, Baidu Lab dan Landing AI (AI transformation Playbook). Cara efektif membuka proyek kecerdasan buatan. Dan transformasi untuk perusahaan konvensional.

Langkah pertama, mengimplementasikan proyek percontohan. Supaya key member perusahaan mendapatkan momentum. Dan yang terpenting bukanlah proyek yang dapat membawa banyak manfaat. Melainkan proyek yang bermakna. Dikarenakan hal ini bisa membantu CEO terbiasa dengan pemikiran AI. Lebih kondusif untuk membujuk investor bertindak lanjut. Membuat team mendapatkan momentum.

Seperti, pengenalan ucapan atau voice recognition di Google Brain. Bukanlah departemen yang sangat penting. Tetapi sangat bermakna. Tim Google Speech di pilih sebagai pelanggan pertama. Yang akhirnya peningkatan akurasi yang sangat tinggi dalam pengenalan ucapan. Dimana tim ini memperoleh banyak momentum untuk proyek lebih lanjut. Pelanggan kedua, Google Map. Menggunakan deep learning untuk meningkatkan kualitas data peta. Melalui dua kerjasama yang sukses ini, google secara bertahap menentukan momentum pengembangan proyek AI.

Langkah kedua, membentuk tim AI.

Meskipun, tim outsourcing dengan pengetahuan AI yang luas dapat membantu perusahaan mencapai gol dengan jalan cepat. Tetapi dalam jangka panjang, perusahaan harus memiliki tim AI sendiri. Yang akan lebih efisien. Dan membangun keunggulan bersaing jika dilakukan oleh tim sendiri.

Tim ini bisa dipimpin oleh COO, tim engineer, ataupun Chief AI Officer (CAIO). Tugas utama, dukungan untuk seluruh tim dalam kecerdasan buatan. Membantu berbagai sector proyek AI yang berbeda untuk lintas sektoral. Termasuk penyelesaian proyek awal. Tujuannya untuk menetapkan proses berulang. Untuk melaksanakan proyek AI yang lebih berarti di kemudian hari. Artinya, tim AI dimasukkan ke setiap tim yang berbeda. Demi merealisasikan proyek AI secara fungsional.

Langkah ketiga, pelatihan ketrampilan AI bagi karyawan.

Karena, sampai hari ini, tidak ada perusahaan yang memiliki kelebihan talenta tentang AI. Perusahaan bisa juga memilih jasa perusahaan konsultan AI professional. Untuk mengembangkan kursus khusus karyawan. Atau pelatihan untuk para tim eksekutif. Supaya dengan pengetahuan tersebut, tim eksekutif bisa menetapkan arah. Mengalokasikan sumber daya. Memantau dan melacak kemajuan. Dan memastikan keberhasilan proyek.

Langkah keempat, mengembangkan strategi AI.

Selain sebagai panduan, juga berfungsi sebagai perisai pertahanan.

Begitu ada kesuksesan dari pengalaman awal, tim tersebut bisa menciptakan nilai terbesar buat perusahaan. Dan memfokuskan semua sumber daya pada bidang tertentu.

Oleh karena itu, memilih waktu yang tepat untuk menentukan strategi sangatlah penting. Akan tetapi, bagaimana AI mempengaruhi strategi perusahaan akan bergantung pada industry dan situasi khusus.

Langkah kelima, membangun saluran komunikasi yang baik secara internal dan eksternal. Karena misi penting dari CEO adalah, membina hubungan yang baik dengan para investor.

Perusahaan seperti Google maupun Baidu, menjadi sukses karena kemampuan kecerdasan buatan mereka yang membawa laba besar untuk perusahaan. Semakin besar nilai hasil kecerdasan buatan, akan membantu investor bisa mengevaluasi perusahaan secara lebih objektif.

Selanjutnya, adalah hubungan dengan pemerintah. Misalnya, auto driving car, layanan kesehatan dan bidang yang perlu banyak pengawasan dari pihak pemerintah. Perusahaan harus belajar menceritakan bagaimana nilai dan manfaat teknologi AI kepada masyarakat.

Disamping itu, sebagai budidaya pengguna. AI mungkin membawa manfaat besar bagi pengguna. Tetapi pemasaran yang tepat dan bisa membina hubungan pengguna dalam jangka panjang tidak bisa diabaikan.

Kemudian, berusaha menarik dan mempertahankan talenta supaya betah. Karena kelangkaan para talenta, oleh karena itu, menunjukkan hasil awal dan penghargaan kepada para insinyur AI yang telah berkontribusi terhadap perusahaan. Supaya mereka melihat harapan. Dan tetap berjuang dengan bersama.

Akhirnya, just like grandma says, komunikasi internal. Karena kurang pemahaman terhadap AI, sehingga menimbulkan banyak ketakutan dan ketidakpastian. Maupun keraguan karyawan terhadap AI. Banyak diantara mereka kuatir pekerjaan mereka akan digantikan oleh kecerdasan buatan. Oleh karena itu, komunikasi internal yang jelas dapat mengurangi hambatan dari karyawan untuk mengadopsi teknologi AI.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesiaTags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: