Akankah AI menggantikan Pengacara

Akankah AI menggantikan Pengacara atau Hakim di kemudian hari. Kecerdasan buatan telah banyak digunakan di berbagai industri seperti halnya sektor hukum. Pada 2016, “The Guardian” berita harian Inggris melaporkan “Hakim Kecerdasan Buatan” yang dikembangkan oleh University College London berhasil membuat penilaian tiruan 584 kasus Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa. Dari jumlah tersebut, 79% sama dengan keputusan akhir pengadilan oleh manusia.  

Pada akhir tahun 2016, Pengadilan Tinggi Rakyat Beijing juga meluncurkan penelitian cerdas dan sistem penilaian “Hakim Rui”. Berfungsi khusus memberikan informasi yang akurat kepada para hakim seperti spesifikasi penanganan perkara dan analisis hukuman.

Juga pada tahun yang sama, ROSS, pengacara robot yang dirancang oleh IBM. Ross disewa oleh sebuah Firma Hukum terkenal di Amerika Serikat untuk menangani masalah hukum terkait. Mesin ini dapat membaca UU, mengumpulkan bukti, membuat kesimpulan, dan memberikan jawaban yang akurat berdasarkan bukti yang ada. Di samping itu, China juga tidak ketinggalan. Mereka memiliki konsultasi hukum AI dengan fungsi serupa, seperti “Fa Gougou dan Fa Xiaotao.“

Akankah AI menggantikan Pengacara

Pada tahun 2018, sebuah startup hukum dan teknologi Israel bernama “LawGeex” melakukan suatu percobaan. Percobaan tersebut memungkinkan AI dan 20 pengacara Top Amerika dengan pengalaman hukum perusahaan dan tinjauan kontrak puluhan tahun untuk meninjau 30 masalah hukum dalam 5 perjanjian kerahasiaan. Hasilnya sangat mengejutkan.

Tingkat akurasi rata-rata pengacara manusia adalah 85%. Sedangkan, akurasi dari kecerdasan buatan diatas 94%. Dari segi waktu, pengacara manusia memerlukan waktu satu setengah jam. Namun, Kecerdasan buatan hanya menghabiskan waktu kurang dari setengah menit. Masih ada banyak contoh serupa dimana Kecerdasan buatan tampaknya menggerogoti peluang pekerjaan pengacara atau hakim.

Lalu muncul pertanyaan, “Akankah AI menggantikan Pengacara atau Hakim?”

“Penilaian saya adalah AI bisa menggantikan secara parsial, tetapi tidak semuanya.”

AI Robot atau Mesin memang dapat menggantikan tugas yang sederhana, berulang atau monoton dan berbasis proses, tetapi untuk pekerjaan yang membutuhkan penilaian komprehensif, mereka tidak dapat digantikan sementara.

Misalnya, seorang Lulusan sekolah hukum yang bekerja di firma hukum. Pada tahun pertama, mereka dilatih untuk pencarian hukum. Artinya, Belajar menemukan dasar hukum dari database. Jenis pekerjaan ini tidak memerlukan banyak keahilian teknis. Sebaliknya, sangat membosankan dan memakan waktu. Namun, Kecerdasan buatan dapat dengan mudah menyelesaikannya dengan algoritma data besar.

Demikian pula, para pengacara sering harus mempelajari banyak masalah kontrak.  Kecerdasan Buatan lebih Effisien dalam jenis pekerjaan ini.

Selain itu, berkenaan dengan prediksi hasil kasus, AI dapat menganalisis kasus serupa di masa lalu melalui data besar dan memberikan hasil yang lebih dapat diandalkan dalam waktu singkat. Dengan cara ini, banyak kasus yang tidak terlalu rumit tidak perlu diadili lagi. Seperti, perancangan instrumen hukum. Misalnya, menyewa rumah. Menandatangani kontrak. Atau perjanjian transaksi bisnis sederhana dapat dirancang secara massal melalui perangkat lunak cerdas.

Sebenarnya, pekerjaan sehari-hari para pengacara dan para Legal yunior ini bisa digantikan oleh kecerdasan buatan. Teknologi baru justru dapat meningkatkan efisiensi pengacara. Menghindari banyak proses kerja yang berbelit-belit. Sehingga, bisa membuat Pengacara meluangkan waktu untuk mempelajari kasus yang lebih rumit. Jadi, para pengacara justru sangat menyambut kedatangan AI, bukannya menentangnya.

Jadi kesimpulannya, pekerjaan apa yang tidak bisa digantikan oleh AI?

Keterampilan inti pengacara senior, adalah karakter “simpati dan detasemen.”

“Artinya?”

Seorang pengacara yang baik tidak hanya dapat berempati dengan rasa sakit dan tuntutan klien, tetapi juga dengan kalem dan obyektif membantunya menyelesaikan masalah hukum. Prasyaratnya, adalah memenangkan kepercayaan pelanggan terlebih dahulu. Sederhananya, layanan hukum yang disediakan oleh pengacara adalah semacam “produk kepercayaan”. Karena hukum adalah Profesi yang memerlukan profesionalisme. Akan sulit bagi klien untuk menilai kualitas pengacara pada awalnya. Semuanya serba Tailor-made. Karena itu, memenangkan kepercayaan klien adalah aset terbesar seorang pengacara.

Klien meminta bantuan pengacara tidak hanya mengharapkan anjuran tindakan hukum dan memprediksi hasilnya. Tetapi juga, membantunya merangkum aturan, merancang strategi hukum dan memaksimalkan manfaat.

Ibaratnya seperti suatu perusahaan yang ingin Go Publik. Mereka mendatangi pengacara. Bukan hanya untuk menulis satu set dokumen hukum. Melainkan, menganalisis ke mana harus Go Publik. Apakah harus ke Indonesia Stock Exchange (IDX)? Hongkong SEHK? Atau NYSE Amerika?

Jadi, Ini tergantung pada situasi khusus perusahaan dan ide-ide manajemen untuk membantunya menilai pro dan kontra sistem hukum lokal dan sebagainya.

Apabila, klien tahu apa yang diinginkannya, membantunya menemukan dasar hukum akan menjadi lebih sederhana. Pada dasarnya, klien sering kali tidak tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan. Oleh karena itu, pengacara yang baik adalah mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Intinya, Cara berkomunikasi efektif dengan pelanggan, memahami titik pedih mereka, dan kemudian memilih strategi hukum yang relevan. Tentu saja, dalam proses ini untuk memastikan klien memahami strategi hukum yang relevan, pengacara harus memahami cadangan pengetahuan dan kebiasaan kognitif mereka. Semua ini adalah pola pikir pengacara yang sukses. Pola untuk menjawab akankah AI menggantikan Pengacara di kemudian hari.

Inti dari pengacara yang baik adalah menghubungkan hukum dengan orang. Meskipun AI dapat membantu pengacara mempelajari hukum, namun sulit bagi AI untuk membantu pengacara memahami orang. Pada tahun 2018, The Economist Inggris mengatakan, “AI tidak akan menggantikan pengacara manusia, sebaliknya akan meningkatkan kemampuan pengacara.”

Pertanyaan selanjutnya, “Bisakah kecerdasan buatan menggantikan hakim?”

Pada tahun 1955, penulis fiksi ilmiah Amerika bernama Riley menulis sebuah novel berjudul “Cyber ​​and Holmes.” Dalam novel ini, seorang hakim robot bernama Cyber ​​lebih rasional dari manusia, leibh efisien, dan lebih ketat dalam menilai kasus daripada manusia. Cyber  tidak membuat kesalahan. Bahkan, tidak terpengaruh oleh emosi dan prasangka. Secara objektif bertindak netral dan tidak memihak. Jauh lebih hebat di banding Hakim Muss dalam sejarah hukum Amerika.

Kecerdasan Buatan hanya bisa menggantikan pekerjaan transaksional dalam persidangan hakim. Misalnya, mencari artikel dan kasus hukum. Dalam banyak kasus sederhana yang berulang membuat penilaian berdasarkan artikel hukum, Hanya dengan satu klik saja.

Contoh lain, teknologi pengenalan suara dapat menggantikan panitia pengadilan untuk merekam jalannya persidangan dengan cepat dan akurat. Teknologi pengenalan suara terbesar di Asia, iflytek China telah sangat matang dalam bidang ini. Banyak pengadilan di Tiongkok telah menggunakan layanannya.

Pengadilan di China telah mengeksplorasi penggunaan aplikasi untuk menyelesaikan pengajuan kasus dan pengajuan bukti. Seperti “sistem 206” yang dikembangkan oleh Pengadilan Tinggi di Shanghai. Ini adalah sistem penanganan kasus pembantu cerdas untuk kasus-kasus pidana. Sistem Ini dapat menyelesaikan kasus pidana melalui aplikasi  Standarisasi pengumpulan dan pemasukan bukti. Sehingga, dapat mencegah kasus yang tidak adil dan salah.

AI di China dan Amerika dapat membantu menilai hukuman pengadilan. Seperti halnya pengadilan di Wisconsin, Amerika Serikat. Atau, Perusahaan Huayu dan Yuandian di Tiongkok juga telah mengembangkan sistem serupa.

“Lalu, Apa kompetensi inti Hakim yang tidak dapat digantikan oleh AI?”

Satu kata: “Penghakiman.”

Inti pemikiran dari badan hukum adalah mencapai keseimbangan dalam kasus-kasus sulit dengan fakta-fakta yang tidak jelas atau aturan yang kabur. Memilih aturan yang sesuai, dan mempertimbangkan konsekuensi sosial dan efek jangka panjang. Hal-hal rumit ini bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan oleh robot yang mahir dalam perhitungan logis.

Selain itu, kasus yang lebih sulit melibatkan penilaian seluruh masyarakat jauh di luar ruang lingkup hukum. Bahkan termasuk robot yang benar-benar memahami hukum, akan sulit untuk membuat penilaian.

Umpamanya, kasus pernikahan sesama jenis. Pertanyaannya, haruskah kita mengizinkan pernikahan sesama jenis? Pertanyaan semacam ini membutuhkan Pengacara yang berpengalaman untuk menjawabnya. Robot AI mungkin tidak cocok untuk penilaian akhir masalah ini.

Hakim Holmes pernah berkata: “Inti Kehidupan hukum adalah pengalaman, bukan logika.”

Anda mungkin bertanya lagi jika suatu hari, robot dapat membuat penilaian yang sama seperti manusia?

Jawabannya sederhana, pada saat itu pertanyaannya bukan lagi Akankah AI menggantikan pengacara atau hakim, melainkan apakah kecerdasan buatan dapat menggantikan semua manusia.

Akankah AI menggantikan Pengacara
Akankah AI menggantikan Pengacara atau Hakim (Image: New York Law Institute)

Beberapa tahun yang lalu, AI yang digunakan di Negara Bagian Wisconsin Amerika terbukti mendiskriminasi orang kulit hitam. Melanggar HAM orang kulit hitam. Sistem pengenalan wajahnya mendeskripsikan Orang kulit hitam sebagai binatang Gorilla. Jika Pelaku kejahatan adalah Orang kulit hitam, mereka akan diberi label Gorilla. Berarti, Orang kulit hitam berkemungkinan melakukan kejahatan sangat tinggi.

Suatu saat, Pengadilan Wisconsin menjatuhkan hukuman 6 tahun penjara kepada seorang pria. Pengadilan ini menggunakan sistem kecerdasan buatan saat menjatuhkan hukuman. Pria ini mengajukan Naik banding mengatakan kode sistem yang digunakan pengadilan Wisconsin tidak transparan. Sains serta kebenarannya sangat mencurigakan. Pengadilan tidak mengikuti proses hukum dalam menjatuhkan hukuman.  

Selain itu, algoritmanya didasarkan pada faktor gender dan suku untuk menilai bahaya sosial seorang penjahat. Tentu saja, terang-terangan Diskriminasi jenis kelamin dan suku. Meskipun, Mahkamah Agung negara bagian menolak naik banding, Namun pengadilan Tinggi mereka juga memperingatkan untuk berhati-hati dalam menggunakan sistem ini.

Penggunaan Algoritma untuk menilai kasus mungkin dapat memperburuk citra MA dan merusak kredibilitas sistem peradilan yang tidak transparan. Karena teknologi kecerdasan buatan lebih sulit untuk dijelaskan kepada orang biasa dibanding teknologi hukum.

Oleh karena itu, penerapan kecerdasan buatan atau AI di bidang hukum menghadapi jauh lebih banyak hambatan daripada yang dibayangkan orang biasa. Jalan ini masih sangat panjang.

Just like grandma says, kesimpulan Akankah AI menggantikan Pengacara adalah AI Tidak Akan Menggantikan Pengacara. Tetapi, Pengacara yang Menggunakan AI Akan Menggantikan Mereka yang Tidak. Oleh karena itu, agar tetap relevan, firma hukum tradisional dan departemen hukum harus memahami potensi AI dan teknologi hukum.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: