Akankah Indonesia menjadi negara berteknologi tinggi

Oleh: Ricky Suwarno

9 Mei 2019

Pengalaman adalah guru yang terbaik. Kalau ingin menjadi nomor satu, belajarlah dengan orang atau negara nomor satu. Kesan yang teramat dalam waktu pengajaran di SD Fajar Harapan di Kalimantan. Karena orang yang pintar dan sukses, selalu pandai menggunakan pengalaman orang lain. Untuk menjadikan cermin bagi dirinya sendiri. Supaya tidak mengulangi kegagalan yang sama.

AS dan China adalah negara superpower di dunia saat ini. Teknologi dan perekonomian mereka menempati peringkat nomor satu dan nomor dua secara global. Di samping itu, kedua negara tersebut memiliki kesamaan dengan Indonesia. Yaitu, negara dengan populasi yang sangat besar. Dan satu diantaranya adalah negara berkembang. Dan terletak di Asia.

Sekarang, pertanyaannya bagaimana meningkatkan teknologi Indonesia supaya berkembang cepat?

Di masa lalu, teknologi biasanya hanya berfokus pada sisi negara atau perusahaan penyedia teknologi. Bagaimana meningkatkan investasi atau R&D. Bagaimana mendapatkan talenta dalam ilmiah dan teknologi dan sebagainya. Namun perlu diketahui, teknologi juga merupakan suatu pasar. Yang juga memiliki sisi permintaan. Tetapi sering diabaikan kebanyakan orang.

Dalam 40 tahun terakhir sejak pembukaan dan pembangunan pesat di Cina. Banyak fakta menunjukkan, China pada awalnya bukan negara pembangkit teknologi. Tetapi karena ekonomi dan populasinya yang sangat besar, membuat permintaan Cina terhadap kebutuhan teknologi sangatlah besar.

Akibatnya, permintaan terbesar dalam komunikasi dan digital Internet, membawa pertumbuhan dan perkembangan kekuatan ilmiah dan teknologinya maju pesat. Artinya, permintaan dan kebutuhan besar terhadap teknologi, pada akhirnya juga dapat memaksa perkembangan teknologinya. Seperti perkembangan economy sharing, E-commerce, AI, kereta cepat, sistem pembayaran digital yang telah menjadi pelopor dunia.

Telegraf ditemukan oleh orang AS bernama Samuel F.B. Morse pada tahun 1844. Telegraf Menjadi salah satu fondasi dasar untuk perkembangan teknologi AS di kemudian hari. Wilayah AS yang sangat luas, menyebabkannya sulit untuk saling terhubung. Dengan adanya telegraf, Amerika Serikat kemudian menjadi pasar besar yang tersatukan. Para usahawan di seluruh AS melihat peluang ini. Karena itu, pembangunan jalur telegraf di Amerika Serikat menjadi besar-besaran. Dan dipopulerkan. Karena AS telah melakukan persiapan akan kebutuhan teknologi tersebut.

Sampai akhirnya, teknologi telegraf pun di bawa ke China. Jalur telegraf pertama diletakkan di jalur Tianjin-Shanghai. Secara resmi mulai digunakan pada awal 1882. Telat hampir 40 tahun. Untuk teknologi baru ini, reaksi China begitu lamban waktu itu. Alasan utamanya, birokrasi dan struktur transmisi informasi negara pada saat itu.

Sebelum adanya telegraf, pemerintah Qing (Dinasti terakhir sebelum Republik Rakyat China) menggunakan sistem stasiun untuk mengirimkan informasi. Ini adalah teknologi tua yang diturunkan nenek moyang dari jaman Kaisar Qin. Tetapi, Efisiensi informasi dari sistem ini tidak ada bandingannya dengan telegraf.

Walaupun sistem stasiun sangatlah lamban, tetapi aman dan dapat diandalkan. Khususnya menurut pandangan pemerintah pusat saat itu. Informasi rahasia bisa ditransmisikan dengan lancar dalam saluran ini. Tidak akan hilang. Tidak akan bocor. Walaupun agak tertunda. Sehingga, Seluruh proses transfer informasi berada di bawah kendalinya.

Di jaman telegraf, Telegram ditagih berdasarkan jumlah kata. Bahkan walaupun seorang pejabat besar, juga harus menulis secara ringkas. Telegraf akhirnya mengubah segalanya.

Just like grandma says, tingkat teknologi suatu negara sebenarnya tergantung pada dua faktor. R&D dan talenta, adalah faktor dari sisi penyedia teknologi. Di sisi lain, faktor dari pihak permintaan, yaitu struktur sosial dan konsep tradisional. Beban Sejarah siapa yang lebih kurang, atau struktur sosialnya lebih terbuka, atau permintaan terhadap teknologi baru lebih mudah diterima, akan menentukan perkembangan teknologinya berkembang lebih cepat.

China hari ini adalah kebalikan dari Cina lebih dari seratus tahun yang lalu. Dalam hal permintaan, justru memberikannya keyakinan pada kebangkitan teknologi China. Apalagi, dengan munculnya sebuah teknologi baru, baik itu pembayaran elektronik, kecerdasan buatan, 5G, atau blockchain Dalam skala global, Tiongkok sering kali merupakan negara dengan antusiasme terbesar dan aplikasi tercepat.

Saya yakin ini bukan hanya masalah sikap atau mental. Tetapi juga struktur sosial dan cara  pemikiran di sisi permintaan, telah siap lepas landas untuk menyambut kemajuan teknologi nasional. Seperti halnya Era telegraf di AS, struktur sosial dan konsep pemikiran AS waktu itu, telah ada persiapan memasuki generasi teknologi tinggi.

Seperti kutipan dari pakar statistik dan eknonomi Jerman, Ernst Engels: “Begitu masyarakat memiliki kebutuhan teknologi yang kuat, kebutuhan ini akan mendorong teknologi berkembang jauh lebih cepat dibandingkan sepuluh universitas.”

Dari kenyataan ini, mungkin orang China akan mengerti lebih mendalam karena permintaan yang sangat kuat untuk mengubah negaranya. Semoga dan, Demikian pula halnya, Indonesia.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Kecerdasan buatanTags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: