Akankah manusia didefinisikan ulang

Akankah manusia didefinisikan ulang dalam Era Internet of Brains oleh AI menjadi bahasan belum lama ini, Ketika perusahaan Neuralink milik Elon Musk berhasil menanamkan chip komputer ke dalam otak seekor babi. Namanya, Brain Machine Implantables (BMI) atau Implan Mesin Otak. Akankah antarmuka otak-komputer ini membuat manusia kehilangan dirinya dan kehilangan kebebasannya? 

Situasi ekstrim apa yang bakalan terjadi dengan antarmuka otak-komputer ini di masa depan? Jawabannya hanya satu. Saya pikir definisi fundamental dari ” Manusia ” sedang berubah.

Sebelumnya, Ricky akan menceritakan sebuah kisah kecil. Protagonis cerita tersebut, ada seorang pria Inggris bernama Neil Harbisson. Jika Anda melihat paspornya, Anda akan melihat titik di foto paspornya. Yaitu, ada antena yang dipasang di atas kepalanya. 

Untuk apa antena ini ? Neil Harbison terlahir dengan buta warna total. Melalui antena ini, dia bisa merasakan warna dunia dengan cara mendengar.

Akankah manusia didefinisikan ulang

Pada Awalnya, antena diatas kepala Harbison hanyalah perangkat mata elektronik yang dapat dikenakan. Tetapi kemudian, dia merasa tidak dapat melepaskan diri dari antenanya. Dia perlu antena 24 jam. Antena tersebut telah menjadi bagian dari tubuhnya. Makanya, dia memutuskan untuk menanamkan chip antena ke dalam otaknya. Sekarang, dia adalah warga cyborg legal pertama di dunia.

Sebenarnya, Ini bukan pertama kalinya kita menghadapi perubahan definisi ulang tentang manusia. Manusia telah berevolusi dari primata menjadi manusia modern. Proses ini semakin dipercepat. Evolusi dari primata menjadi Homo sapiens membutuhkan waktu seratus ribu tahun. Sedangkan, dari Homo sapiens menjadi manusia modern hanya membutuhkan waktu puluhan ribu tahun.

Saat ini, proyek transformasi biologis seperti antarmuka otak-komputer telah memungkinkan kehidupan manusia berkembang lebih cepat. Evolusi manusia dimasa depan sangat mungkin terjadi dalam satuan seratus tahun. Atau bahkan lebih pendek. 

Ini adalah pertama kalinya otak manusia berpindah dari komputer ke jaringan internet. Kesadaran paling rahasia setiap manusia telah berpindah dari tertutup menjadi terbuka. Kita khawatir privasi dicuri. Kita khawatir tentang serangan peretas. Kita khawatir tentang transaksi ilegal, kejahatan, penipuan, dan sebagainya. 

Tetapi apa yang dapat dilakukan oleh Internet adalah mendapatkan informasi yang belum diinformasikan oleh pengguna. Seperti situs web apa yang kita jelajahi atau hobi berbelanja kita.

Antarmuka otak-komputer mengekspos otak kita untuk pertama kalinya. Kita mungkin belum mengetahui risikonya sama sekali. Kita khawatir tentang kebocoran informasi pikiran dan kesadaran kita. Kita mungkin juga takut oranglain mencuri data saraf kita. Atau bahkan memodifikasi antarmuka otak-komputer untuk memanipulasi kesadaran kita.

Pada tahun 2013, para ilmuwan di Universitas North Carolina di Chapel Hill berhasil menciptakan tombol yang mengontrol kebiasaan makan tikus. Misalnya, Selama kepala tikus diterangi cahaya, ia akan makan terus. Sebaliknya, ketika sumber cahaya dimatikan, tikus akan segera berhenti makan. Jika cahaya tetap menyala, tikus akan terus makan hingga mati kekenyangan.

Ini karena para ilmuwan telah menanamkan protein yang disebut ” protein photochannel ” ke dalam otak tikus. Ciri khas dari protein ini adalah sangat sensitif dengan cahaya. Begitu terpapar cahaya akan langsung merangsang neuron untuk bekerja. Ini hanya salah satu cara untuk mengontrol perilaku. Para ilmuwan juga menemukan prinsip serupa, namanya ” optogenetik ” yang juga dapat menciptakan emosi palsu pada tikus.

Di Era ekonomi pasar, umat manusia telah lama mengendalikan teknologi yang tidak diketahui oleh orang yang dimanipulasi. misalnya, Iklan membuat kita mengonsumsi secara sukarela. Game membuat kita kecanduan secara sukarela. Internet membenamkan kita secara sukarela. 

Dalam menghadapi ” manipulasi ” ini, kita tidak merasa terancam oleh teknologi. Sebaliknya, sangat menikmatinya. Karena teknologi terus-menerus mendefinisikan ulang batas-batas kebebasan manusia.

Kita telah menerima keinginan kita, dan melepaskan sebagian dari kebebasan kita. Tetapi juga telah memperluas kemampuan dan ruang kesenangan manusia. Di era Otak dikoneksikan dengan Internet atau “Internet of Brains”, mungkinkah kita mengorbankan sebagian wilayah kebebasan berkehendak dan menerima intervensi langsung dari mesin AI di otak untuk mendapatkan kemampuan yang lebih besar? 

Mungkin hilangnya kebebasan tidak sekhawatir yang kita pikirkan.

Dibandingkan dengan kekhawatiran tentang pembatasan kebebasan, seperti Harbison, dampak etis terbesar adalah hubungan antara manusia dan mesin. 

Pernahkah Anda membayangkan, bahwa benda-benda buatan manusia semakin berperilaku seperti makhluk hidup. Sementara, makhluk hidup menjadi semakin mekanis. Ini semua karena meningkatnya kemampuan manusia dalam mentransformasikan dirinya sendiri.

Dengan meningkatnya integrasi manusia dan mesin, bagaimana kita memahami konsep ” manusia ” ? 

Berapa banyak organ tubuh kita yang harus diganti sehingga masih terhitung sebagai manusia? Dan berapa banyak organ yang harus diganti untuk menjadi robot? Bagaimana status sosial antara robot dan manusia? Bagaimana pula dengan cyborg?

Ada sekelompok orang di Ohio, AS namanya The Amish. Mereka menolak sains dan teknologi dan bersikeras untuk hidup dengan cara produksi yang alami. Mereka bepergian dengan kereta kuda dan mengolah tanah dengan tenaga manusia. Mereka percaya bahwa listrik adalah pembawa yang menghubungkan dunia manusia dengan keinginan material.

Mereka juga percaya bahwa listrik dapat membuat orang kecanduan kenikmatan material dan melupakan esensi kehidupan. Anda mungkin tidak dapat percaya bahwa mereka ini hidup di Era Informasi seperti kita. Apakah menurut Anda mereka begitu hebat sehingga mereka tidak diasimilasikan oleh mesin dan internet.

Namun kenyataannya, mereka juga membutuhkan baterai 12 volt. Apa artinya?

Walupun baterai 12 volt tidak dapat menghidupkan peralatan listrik yang rumit, atau menonton TV. Maupun menggunakan komputer. Tetapi baterai 12 volt dapat digunakan untuk menyalakan lampu. Mereka membutuhkan daya 12 volt untuk memastikan produksi yang diperlukan.

Oleh karena itu, ketika kita merasa bahwa teknologi baru telah memicu konflik etika yang tampaknya tidak terpecahkan, mungkin kerangka kerja etika kita sendiri perlu berkembang atau evolusi etika sedang berlangsung. Setelah evolusi selesai, kita mungkin akan menemukan bahwa kontradiksi yang tampaknya tidak dapat didamaikan sebelumnya tidak pernah ada sebelumnya.

Jadi dalam menghadapi masalah hubungan antara manusia dan mesin, kita mungkin akan semakin menerima kehidupan mesin. Mesin bukanlah alat manusia atau budak manusia, apalagi penguasa manusia. Kita perlu menggunakan daya komputasi mesin untuk mencapai evolusi. Mesin juga memerlukan kemampuan beradaptasi dan toleransi kesalahan otak manusia. Mesin akan muncul sebagai mitra manusia dan berevolusi bersama dengan manusia.

Menurut Penulis buku “Out of Control” Kevin Kelly, telah terjadi empat kali kesadaran manusia yang dibangunkan. Kebangkitan kognitif pertama terjadi saat Copernicus mengemukakan teori heliosentris. Ternyata bumi bukanlah pusat alam semesta. Sejak saat itu, Kita telah mendefinisi ulang hubungan antara manusia dan alam semesta. 

Kebangkitan kognitif kedua, Teori Evolusi Charles Darwin yang menemukan bahwa manusia berevolusi dari monyet. Kebangkitan kognitif Untuk ketiga kalinya, filsuf Sigmund Freud dengan teori kesadaran diri.

Dan, kebangkitan kognitif keempat adalah seperti Neil Harbison. Manusia mengenali kembali hubungan antara diri sendiri dengan mesin. Akan semakin banyak cyborg dapat menjadi warga negara yang sah di masa depan.

Singkatnya, dalam proses perkembangan teknologi, selama teknologi baru telah muncul, walaupun Anda ingin hidup seperti suku Amish di Ohio, Anda tidak dapat menolak kehadiran teknologi bagaimanapun juga.

Akankah manusia didefinisikan ulang
Akankah manusia didefinisikan ulang (Image: SCMP)

Jadi bila Anda merasa ketakutan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, ada baiknya Anda mengubah pola pikir. Pertama-tama, mengakui teknologi ini pasti akan datang. Kemudian, menyesuaikan kerangka etika agar batas etika juga bisa berkembang secara bersamaan. Karena etika selalu berjalan di belakang teknologi. Jadi yang harus kita lakukan sekarang adalah mengedepankan pemikiran seperti ini.

Just like grandma says, Akankah manusia didefinisikan ulang? Era otak tunggal manusia telah berakhir. Masa depan adalah Era “Internet of Brains.” Kisah manusia dengan antarmuka otak-komputer baru saja dimulai.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.