Apakah Apple yang tertutup suatu dosa

Apakah Apple yang tertutup suatu dosa berhubung gugatan Epic Games terhadap AppStore belum lama ini. Taipan Epic Games menambahkan fungsi “pengisian langsung” ke game “Fortnite”nya, berusaha menghindari pemungutan uang “jalan tol” Apple Appstore sebesar 30% . Tindakan semacam Epic Game setara dengan menjatuhkan bom atom di wilayah pendapatan inti AppStore. Epic Games secara langsung menyatakan perang terhadap Apple.

Apple tentu saja tidak akan duduk diam. Apple langsung menghapus Aplikasi Game “Fortnite” dan mengancam akan memblokir mesin game Unreal yang dikembangkannya. Kedua perusahaan dengan cepat bertemu di pengadilan, karena masalah “hegemoni” sistem tertutup Apple yang memonopoli pasar.

Sistem “Terbuka” tidak selalu mengalahkan sistem “tertutup”. Tetapi, “konservatif” lebih mungkin dikalahkan oleh “agresif”.

Apakah Apple yang tertutup suatu dosa

Apple telah menjadi perusahaan terdaftar kedua di dunia dengan nilai pasar lebih dari US $2 Triliun, setelah perusahaan minyak Saudi Aramco. Apple tidak punya waktu untuk menikmati dan merayakan momen gemilang ini. Karena produk revolusioner yang diciptakannya, AppStore, telah menjadi “gugatan berbagai pihak”.

Pada awalnya, hanya beberapa kelompok Antitrust yang mengajukan gugatan. Setelah itu, semakin banyak pengembang atau Aplikasi developers yang bentrok dengan Apple. Bahkan, raksasa teknologi seperti Microsoft maupun Facebook juga pernah mengungkapkan ketidakpuasannya dengan AppStore. Menghadapi keluhan tersebut, Apple sama sekali tidak panik. Karena, tidak ada yang bisa hidup tanpa Apple sekarang.

13 tahun lalu, ketika Steve Jobs mengumumkan App Store akan memungut 30% komisi, para pengembang saat itu merasa lega. Karena, komisi pra-pemasangan Aplikasi dari operator ponsel sekitar 50% dan 70% . Namun, mengapa sorak-sorai dari para pengembang sekarang menjadikan Apple sebagai “pemangsa, diktator, tiran?” 

Masalah Utama terletak pada sejarah iPhone dan AppStore. Gen “tertutup” telah lama di-tanam. Apakah Apple yang tertutup suatu dosa yang dibawa iPhone sejak lahir? Sebenarnya, Pengguna tidak peduli tentang sistem tertutup Apple. Mereka hanya peduli dengan penggunaan pengalaman yang nyaman dan lancar.

Ketika iPhone pertama dirilis pada tahun 2007, iPhone tidak mendukung aplikasi pihak ketiga. Pada konferensi pers, Steve Jobs mendemonstrasikan serangkaian halaman web dengan Safari-nya. Steve menekankan browser “desktop-nya”, dan aplikasi Web akan menjadi salah satu inti dari penggunaan iPhone. Walaupun 13 tahun yang lalu, pendekatan ini tampak kuno dan konservatif.

Sebaliknya, Sistem cerdas Symbian yang diadopsi oleh Nokia telah merilis kit pengembangan ( SDK ) dan membentuk ekosistem aplikasi pihak ketiga.

Tetapi setengah tahun kemudian, Apple berubah pikiran dan membuat SDK untuk iPhone. Para pengembang diperbolehkan untuk membuat aplikasi dalam iPhone. Namun di hari-hari awal peluncuran iPhone SDK, tidak banyak orang yang optimis dengan masa depan ” pengembangan perangkat lunak untuk iPhone .”

Hal ini dikarenakan, “sistem ponsel pintar” dan perangkat lunak pihak ketiga telah dikembangkan selama beberapa tahun saat itu. Java , Symbian Nokia, dan Windows Mobile semuanya telah mengeksplorasi masalah ini. Sayangnya, hasilnya belum signifikan. Bahkan Pada saat itu, Apple masih jauh di bawah Nokia dalam hal pengalaman pembuatan ponsel. Ataupun kalah dengan Microsoft dalam kemampuan membangun sistem komputer.

Tapi Apple “Berhasil” secara ajaib!

Komunitas pengembangan iOS saat ini merupakan komunitas pengembangan seluler terbesar di dunia. Batch pertama ada lebih dari 500 App yang dirilis. Di antaranya seperti Facebook, The New York Times dan App terkemuka lainnya termasuk Twitter serta Evernote perusahaan start-up baru di saat itu.

Sebagian besar programer pertama yang mengabdikan diri pada pengembangan perangkat lunak iPhone memiliki karakteristik independen yang serupa. SDK iPhone yang berkualitas tinggi memberikan dasar untuk pekerjaan pengembangan mereka. Aplikasi pihak ketiga di iPhone menunjukkan keunggulan mutlak dalam kualitas. Yang tidak dapat dipisahkan dari perangkat keras iPhone sendiri.

Saat memilih untuk membuka SDK iPhone, Apple juga pernah membuat keputusan yang radikal. Apple mengharuskan semua perangkat lunak pihak ketiga iPhone didistribusikan melalui saluran resmi Apple. Para pengguna hanya dapat mengunduh dan menginstal perangkat lunak melalui AppStore. 

Di AppStore, para pengembang dapat menetapkan harga sendiri untuk Aplikasi  mereka.  Apple akan mengambil 30% komisi dari harga tersebut, untuk menutupi biaya server distribusi, biaya kartu kredit, dan sebagainya. Pada saat yang sama, untuk aplikasi gratis, Apple tidak mengenakan biaya apa pun.

Hal ini tentu saja sangat memungkinkan Apple “memonopoli” hak distribusi perangkat lunak pihak ketiga di iPhone.

Namun Steve Jobs mencoba menghibur bahwa model begitu memungkinkan para pengembang menjangkau setiap pengguna iPhone secara adil. Tidak peduli apakah Anda perusahaan besar atau pengembang independen kecil. Ini adalah model berhasil tanpa preseden sebelumnya.

Perkembangan iPhone disertai dengan banyak kontroversi. Tetapi pada akhirnya, tetap memenangkan hati pengguna dengan pengalaman yang berkesan nyaman.

Semua OS komputer arus utama memungkinkan pengguna untuk menginstal perangkat lunak sendiri. Sebelum Era iPhone, Nokia juga pernah mendirikan Market place aplikasi bernama Nokia Download. Nokia Download berusaha mengontrol distribusi perangkat lunak, tetapi hasilnya biasa-biasa saja. 

Model iPhone + AppStore sebenarnya lebih dekat dengan mode pengoperasian konsol game daripada smartphone pada saat itu. Hanya saja, produsen game konsol merilis paling banyak ratusan game setiap tahun. Sebaliknya, Apple harus berurusan dengan perangkat lunak yang jauh lebih banyak, plus pekerjaan yang jauh lebih rumit.

AppStore sangat pandai menangkap kebutuhan paling kritis dari para pengembang. Sehingga, membuat distribusi dan promosi perangkat lunak menjadi sangat sederhana. Pengembang tidak perlu menyewa server, membangun halaman web, tidak perlu membeli iklan dan mempublikasikan sendiri. Atau, menghemat waktu untuk mencegah pembajakan.

Hal Ini jelas menghilangkan ambang awal yang dingin untuk pengembangan Aplikasi iPhone. Setelah pengembangan selesai, pengembang dapat mendaftar di AppStore tanpa membayar biaya apa pun di muka. Aplikasi mereka dapat dilihat oleh para pengguna segera setelah dirilis di Appstore. Jika kualitasnya cukup baik, mereka dapat direkomendasikan oleh Apple. Mendapatkan publisitas gratis.

Antusiasme para pengembang langsung menyala. Menyambut dengan sorakan gembira. Para pengembang seolah melihat harapan besar masa depan mereka. Pada bulan Juli 2008, iPhone OS versi 2.0 resmi diluncurkan. Setelah peluncuran tidak sampai 5 bulan, telah ada 10.000 Aplikasi di market place Appstore. Dengan total unduhan lebih dari 3 juta kali.

Beberapa tahun sebelum iPhone diluncurkan, “jailbreak” pernah menjadi pilihan utama di lingkaran game iPhone. Tetapi seiring dengan peningkatan kualitas sistem iOS , jailbreak semakin ceruk. Sebagian besar pengguna telah terbiasa dengan model “berbayar untuk perangkat lunak”. Sambil menikmati keamanan dan stabilitas AppStore, mereka juga beradaptasi menerima keterbatasannya. Pengalaman yang nyaman dan bebas dari kekhawatiran berhasil mengalahkan “kebebasan” dan “masalah dompet”.

Pada Akhir tahun 2018, Marketplace jailbreak terbesar, Cydia, mengumumkan penutupan Era jailbreak. Basis pengguna yang dikumpulkan Apple di iPod dan iTunes Store telah mengikat informasi kartu kredit ke akun, dan telah membentuk kebiasaan “membayar konten virtual”.

“Tertutup pasti akan dikalahkan oleh sistem terbuka!” Kalimat yang sering diucapkan saat  Android mengejar ketinggalannya oleh Apple, tampaknya terbukti salah besar. Apple yang tertutup dan AppStore yang eksklusif telah memenangkan hati para pengembang dan pengguna. Bahkan, telah menjadi salah satu perubahan bisnis paling sukses dalam sejarah. 

Perusahaan yang hebat dapat membuat sistem yang tertutup. Setidaknya dalam jangka waktu tertentu dengan mengandalkan keunggulan sendiri, dapat memberikan pengalaman yang lebih baik kepada penggunanya. Terus mengalahkan pesaingnya yang lebih terbuka, tetapi “berantakan”. 

Selanjutnya, Bagaimana kaum revolusioner dapat menghindari “direvolusi”?

Berdasarkan sistem tertutup ini, Apple telah mencapai banyak prestasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam sepuluh tahun terakhir, iPhone telah mengalami beberapa perubahan dalam ukuran layar, rasio, dan resolusi. Bagi sistem lain, mengadaptasi perangkat lunak ke layar dengan resolusi berbeda mungkin merupakan masalah yang sangat rumit. 

Tetapi setiap kali Apple mengubah ukuran layar, mereka juga akan memperbarui alat pengembangan untuk menyederhanakan pekerjaan adaptasi para pengembang.

Apple mengontrol “pengalaman inti iOS” , menentukan serangkaian standar dan aturan untuk pengembang. Menggunakan hak sensor aplikasi untuk mendorong eksekusi yang menciptakan pengalaman berkualitas tinggi untuk perangkat lunak pihak ketiga iOS dan iPhone.

Satu dekade kemudian, meskipun kritik terhadap sistem “tertutup” Apple tidak pernah surut, tetapi arah pasar tampaknya mulai berubah. Android , yang dikenal dengan “Sistem terbuka”, juga mulai mengikuti jejak Apple. Google Play telah menjadi arus utama absolut Marketplace. Di China, Marketplace Android pihak ketiga mulai menghilang, dan Marketplace produsen ponsel sendiri mulai mendominasi.

Meskipun orang-orang mengeluh tentang iPhone, namun masih banyak pengguna bertahan di ekosistem iOS. Ini adalah landasan pertumbuhan Apple. Jadi, mengapa semakin banyak pembangkang di ekosistem Apple?

13 tahun yang lalu, peluncuran AppStore merupakan ukuran penting bagi Apple dalam meningkatkan produktivitas pengembang. Saat ini, ada lebih dari 2,2 juta aplikasi di AppStore. Mekanisme komisi 30% lebih adil daripada yang dipungut oleh para operator telekom sebelumnya.

Sistem tertutup dan kontrol audit Aplikasi tidak hanya kondusif untuk mempromosikan ekologi aplikasi Apple. Perkembangan positif juga dapat membantu pengembang yang lebih menonjol mendapatkan “traffic” dan pendapatan yang substansial.

Tetapi dunia bisnis tidak pernah peduli dengan “budaya bersyukur”, melainkan sangat mementingkan “kemajuan” dan “berkembang seiring zaman.” Meskipun saat ini sistem tertutup Apple belum ditumbangkan, ia juga tidak mampu mendominasi dunia. Bahkan ketika peningkatan pasar Internet seluler melambat, Apple tidak memberikan “harapan” yang lebih besar kepada pengembang.

Pertumbuhan terbatas pada basis pasar yang besar dapat diterima oleh Apple, tetapi ketika satu generasi pengembang tidak dapat menemukan pasar tambahan yang cukup dan mekanisme pertumbuhan yang baru, generasi pengembang berikutnya tidak dapat menemukan terobosan dalam pengembangan generasi sebelumnya menyebabkan Tekanan dalam ekologi ini akan meningkat.

Selama bertahun-tahun, meskipun ketelitian Apple dalam iPhone XR, perangkat yang dapat dikenakan, AI, mobil Cerdas, TV, rumah pintar, dan banyak bidang lainnya menuju arah tren yang benar, tetapi Arah tren ini tidak membuat pengembangnya yang besar mendapatkan sumber daya dari “Dunia Baru”.

Oleh karena itu, Apakah Apple yang tertutup suatu dosa? Ekologi tertutup ini pasti akan membawa lebih banyak “suara sumbang” ke dalam ekologi Apple. Ada pengembang yang  menginginkan kebebasan, atau pertumbuhan, maupun peluang. Namun, yang diinginkan Apple adalah “stabilitas dan “aturan”.

Apakah Apple yang tertutup suatu dosa
Apakah Apple yang tertutup suatu dosa (Image: Apple)

Semakin besar sebuah organisasi bisnis, semakin dibutuhkan “skalabilitas” yang berkelanjutan. Jika tidak, maka akan menjadi rumit dan merusak stabilitas aslinya. Apple, dengan nilai pasar 2 triliun dolar AS, mengontrol ekosistem dan basis pengguna paling besar di dunia. Pada saat yang sama, mereka juga mengalami tekanan yang meningkat.

Just like grandma says, Untuk mengatasi masalah ini, Apple mungkin membutuhkan “Tujuan dan Goal yang lebih Ambisius”, kembali ke posisi di mana ia dipuji-puji 13 tahun yang lalu dalam membuat terobosan.  

Sistem “Tertutup” bukanlah suatu dosa dalam dunia bisnis. Tetapi “tidak mengikuti perkembangan jaman” atau bahkan “tidak membuat kemajuan” menuju tingkat baru iptek masyarakat manusia, pada akhirnya akan dilikuidasi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.