Apakah Eropa sedang mengalami kemunduran

Apakah Eropa sedang mengalami kemunduran berhubung virus Corona saat ini. Wabah pneumonia yang diakibatkan oleh Covid-19 sedang melanda Eropa dan telah menyalakan lampu merah terutama bagi Italia. Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, Bapak Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dalam sebuah pernyataan pada 13 Maret:” Akan ada lebih banyak kasus baru per hari di Eropa dibanding puncak epidemi di China.  Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Eropa telah menjadi pusat epidemi global.

Eropa memang agak kacau dalam beberapa tahun terakhir. Misalnya, Brexit, kebangkitan pasukan sayap kanan, krisis utang, atau serangan teroris. Semuanya merupakan masalah yang sulit. Bahkan, pakar Eropa sendiri berkomentar kekacauan di Eropa telah melemahkan kepentingan dan pengaruhnya secara global.

Apakah Eropa sedang mengalami kemunduran

The Economist, majalah internasional asal Inggris mengatakan salah satu pengaruh Eropa yang masih penting secara internasional yatiu pembuat peraturan. Seperti Di banyak bidang antitrust, perlindungan privasi, kesehatan, perlindungan lingkungan dll. Aturan yang dirumuskan oleh Eropa seringkali berakhir menjadi aturan universal. Standar industri UE bahkan dapat memengaruhi jenis produksi dan model bisnis perusahaan di negara lain.

Istilah khusus untuk pengaruh ini disebut “Efek Brussels”. Markas besar Uni Eropa terletak di Brussels, Belgia. Pernyataan ini pertama kali diusulkan oleh Anu Bradford, seorang profesor di Sekolah Hukum Universitas Columbia. Pada Tahun yang bersamaan dia menerbitkan buku baru yang merinci efek Brussels.

Menurut Profesor Bradford, efek Brussels adalah senjata tajam bagi orang Eropa. Selama UE memiliki kekuatan pembuat peraturan vital ini, Uni Eropa akan tetap menjadi tulang punggung ekonomi global.

Contoh paling umum dari efek Brussels adalah di bidang teknologi. “Anda mungkin heran bahwa Eropa yang tampak ketinggalan di Era Internet mengapa bisa mempunyai pengaruh yang tidak kalah dengan Amerika atau China?”

Memang, perusahaan-perusahaan Eropa hanya menyumbang kurang dari 4% dari total nilai pasar platform digital global. Jauh dibawah Amerika Serikat dan China. Tidak ada satupun perusahaan Eropa yang masuk dalam Top 10 perusahaan Teknologi Global. Tetapi, sebaliknya peraturan Eropa justru membuat raksasa teknologi global seperti Amerika harus tunduk kepala.

Terutama dalam “Peraturan tentang masalah privasi dan perlindungan data.”

Peraturan Perlindungan Data Umum (GDPR) yang disahkan oleh Uni Eropa pada tahun 2016. Peraturan ini menempatkan pembatasan yang sangat ketat pada pengumpulan dan penggunaan informasi privasi pengguna oleh perusahaan teknologi Amerika. Perusahaan teknologi dalam mengumpulkan data pribadi, pengguna tidak ada pilihan lain selain menerima dan menyetujui. Data pribadi yang dikumpulkan oleh Facebook atau Google hanya dapat digunakan untuk layanan perusahaan ini, bukan untuk tujuan lain, dan tidak boleh dibagikan dengan pihak ketiga.

Namun, dengan adanya GDPR Jika perusahaan teknologi melanggar aturan, mereka akan didenda besar setidaknya 20 juta euro. Atau, didenda hingga 4% dari omset tahunan global perusahaan pada tahun sebelumnya. Bagi raksasa teknologi seperti Facebook atau Google, ini berarti denda hingga miliaran dolar.

Peraturan Perlindungan Data Umum mulai berlaku pada Mei 2018. Perusahaan Apple segera menyatakan dukungan dan membuat penyesuaian memungkinkan pengguna mengunduh dan menghapus data pribadi mereka secara bebas bila dikumpulkan oleh Apple.

Sebelumnya, pengguna harus menghubungi dan mendatangi Apple memohon untuk menghapus data mereka yang prosesnya sangat merepotkan. Setelah peraturan perlindungan privasi UE diresmikan, negara-negara lain mulai menirunya. Sejauh ini, hampir 120 negara telah mengeluarkan peraturan perlindungan privasi. Kebanyakan mereka sangat mirip dengan Peraturan Perlindungan Data Umum UE. Standar yang diperkenalkan oleh Uni Eropa akhirnya menjadi standar acuan untuk tata kelola Internet global.

Inilah “Efek Brussels.”

Efek Brussels tidak hanya terbatas pada industri teknologi.  Namun termasuk industri kimia seperti Dow Chemical yang sangat terkenal. Perusahaan multinasional ini berkantor pusat di Amerika Serikat. Tetapi, mereka menggunakan peraturan dan standar kimia dari Uni Eropa. Nama lengkapnya adalah “Pendaftaran, Evaluasi, Peraturan Terbatas atau disingkat “REACH” sebagai standar yang diselaraskan secara global untuk implementasi produknya.

UE juga memiliki suara yang kuat dalam regulasi Anti-Monopoli. Salah satu contoh paling terkenal adalah merger antara General Electric dan Honeywell pada tahun 2001 bernilai $ 45 miliar. Ini mungkin telah menjadi merger terbesar dalam sejarah industri dunia. Sayangnya, berhasil dibatalkan karena veto penolakan Uni Eropa.  

Pada saat bersamaan, Presiden GE Jack Welch dengan terpaksa mengumumkan pengunduran dirinya pada 7 September tahun itu.

Kegagalan kasus merger dan akuisisi ini memiliki signifikansi tonggak sejarah. Walaupun mereka berdua adalah perusahaan AS. Mereka jelas telah memperoleh lisensi merger dari pemerintah Amerika Serikat. Tetapi merger gagal karena penolakan Uni Eropa. Bisa jelas terlihat Pengaruh Uni Eropa dalam hal ini.  

Pengaruh ini terus berlanjut hingga hari ini. Pada tahun 2018, Uni Eropa memberlakukan denda anti-monopoli hingga $5miliar pada Google. Berhasil memicu guncangan global. Sampai The Wall Street Journal berkomentar Margrethe Vestager, kepala anti-monopoli Eropa telah menjadi “regulator global de facto.”

Sebenarnya, Banyak industri didunia juga memiliki fenomena serupa. Misalnya, peraturan yang dibuat oleh Uni Eropa dapat mengubah jumlah kayu yang dipanen di Indonesia, mode produksi madu di Brasil, komposisi pestisida yang digunakan di peternakan Kamerun, atau standar peralatan pabrik susu di China. Pada batas tertentu, Uni Eropa telah memiliki kekuatan mengatur pasar global.

“Mengapa Uni Eropa bisa begitu keras dan berpengaruh dalam membuat aturan?”

Jawabannya hanya satu, “kekuatan pasar dengan konsumen yang kaya.”

Jika Eropa adalah pasar kecil, perusahaan besar secara alami pasti mengabaikannya. Tetapi UE adalah pasar konsumen yang sangat penting dengan total populasi lebih dari 500 juta. Dua kali lipat pasar Indonesia. Juga pasar yang jauh lebih besar dari AS. Tidak ada perusahaan multinasional yang dapat mengabaikannya. PDB per kapita UE melebihi US$ 40.000, menjadikannya lebih kaya daripada pasar China.

Pasar Eropa menyumbang 25% untuk pendapatan global Facebook. Sedangkan, Pangsa pasar Google di sebagian besar negara anggota UE melebihi 90%. Pangsa pasar Google di Amerika Serikat sendiri hanya 70%. Bagi perusahaan-perusahaan ini, beradaptasi dengan standar UE yang ketat memang butuh pengorbanan yang sangat mahal. Tetapi manfaat tetap di pasar UE tidak diragukan lagi lebih besar.

Pada saat yang sama, sistem politik dan hukum UE yang relatif sehat juga memberikan jaminan yang cukup untuk otoritas dan penegakan aturan.

Selain itu, Brussels juga memiliki sanksi ekonomi yang keras. Barangsiapa yang melanggar peraturan dapat langsung dilarang produk dan layanannya memasuki pasar UE. Kemampuan sanksi ini telah memaksa banyak perusahaan untuk memperhatikan peraturan UE dengan serius.

“Mungkin suatu perusahaan bisa lebih fleksibel dan hanya menyediakan produk dan layanan khusus untuk UE?”

Bagi perusahaan multinasional, menyediakan produk dan layanan yang berbeda ke berbagai negara dan wilayah justru menyebabkan biaya yang lebih tinggi. Karena aturan yang ditetapkan oleh UE adalah yang paling ketat di dunia. Asalkan memenuhi standar UE, pasti tidak akan ada masalah jika mereka memasuki pasar di wilayah lain. “Kompatibilitas ke bawah” adalah cara yang paling hemat tenaga dan praktis. Itulah sebabnya, mengapa banyak perusahaan bersedia sukarela mengikuti standar UE.

UE tidak mengharuskan suatu perusahaan untuk menegakkan aturannya di wilayah lain. Tetapi perusahaan akan secara otomatis memperlakukan standar UE sebagai standar umum untuk menyesuaikan produk dan layanannya.  

Di beberapa industri seperti industri makanan, kepatuhan atas standar UE bahkan dapat menjadi identik dengan kualitas tinggi dan menjadi titik promosi. Negara dan wilayah lain juga akan memprioritaskan peraturan UE saat merumuskan peraturan yang relevan.

Apakah Eropa sedang mengalami kemunduran
Apakah Eropa sedang mengalami kemunduran (Image: Compliance Junction)

Inilah kekuatan di balik efek Brussels. UE, pasar yang kuat dan memainkan peranan pentingnya di dunia. Tujuan UE adalah menjadi sumber pengawasan ilmiah dan teknologi terpenting di dunia, dan pembuat aturan baru untuk ekonomi digital.

Bulan lalu, Uni Eropa merilis kertas putih tentang kecerdasan buatan yang mengusulkan pembangunan kerangka peraturan baru dalam rangka mengurangi risiko aplikasi AI di masa depan. Pada waktu yang bersamaan, Komisi Eropa juga akan mengeluarkan rancangan Undang-Undang Layanan Digital akhir tahun ini. UE akan memberlakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap cara perusahaan teknologi menggunakan data.

Perusahaan teknologi Raksasa sangat mementingkan segala gerak gerik UE. CEO Facebook Mark Zuckerberg dan CEO Google Sundar Pichai baru-baru ini mengunjungi Brussels untuk mempelajari pembatasan undang-undang Uni Eropa baru pada perusahaan teknologi. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, Presiden Microsoft Brad Smith juga  sering berkunjung ke Brussels.

Terlepas dari keengganan raksasa teknologi AS, kenyataannya adalah mereka harus menerima peran UE sebagai “pembuat aturan ilmu pengetahuan dan teknologi global.”

Just like grandma says, Apakah Eropa sedang mengalami kemunduran atau sebaliknya, alasan mengapa Eropa dapat “mengatur” dunia, Intinya adalah pasar yang besar dan kaya. Prinsip efek Brussels sebenarnya sangat sederhana. Semakin besar dan semakin kaya pasar konsumen, semakin besar kemungkinan perusahaan multinasional akan berusaha memenuhi standarnya.

Selain itu, ada fenomena yang mirip dengan efek Brussels di Amerika Serikat namanya Efek California. Seperti Uni Eropa, California juga merupakan pasar yang besar. Populasi yang kaya, terkonsentrasi dan peraturan yang sangat ketat. Akibatnya, banyak perusahaan AS mengadopsi aturan California sebagai standar terpadu. California, juga seperti Uni Eropa, telah menjadi pembuat aturan de facto.

Mengapa Eropa dapat terus memperkuat peran “pembuat penguasa” karena mereka harus memegang kuat ekosistem ini. Dengan cara begini, Eropa baru tidak akan ketinggalan dalam persaingan yang ketat di masa depan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.