Apple paling mahal didunia

Apple paling mahal didunia dengan nilai pasar 2 Triliun Dolar, menjadikan perusahaan manufaktur ponsel iPhone ini sebagai perusahaan bernilai paling tinggi di dunia. Di bulan agustus tahun 2018, Apple mencapai 1 Triliun Dolar sebagai perusahaan Pertama di dunia dengan nilai pasar terbesar.

Pada konferensi Apple di bulan september yang lalu, Bagi yang menghadirinya, mungkin merasa agak kecewa. Generasi baru apple semakin kurang inovasi baru sejak peninggalan Steve Jobs.

Apple paling mahal didunia

100 tahun yang lalu, ada satu perusahaan yang sangat luar biasa. Namanya, Gillette. Produk cukur pria. Tahun 1895 dia muncul dengan bisnis model yang luar biasa. Produk dibagi dua. Dengan kebijakan harga yang berbeda. Pemegang pisau cukur dijual dengan harga sangat rendah. Bahkan hampir rugi. Tapi laba yang besar diperoleh dari menjual barang habis pakai. Pisau cukurnya. Metode ini dikenal dengan “mode umpan”.

Banyak metode perhitungan internet dewasa ini mengadopsi cara ini. Penjualan = traffic x conversion x harga per unit. Traffic artinya seberapa banyak umpan yang bisa saya taruh dalam satu kolam. Conversion, artinya berapa banyak ikan yang memakan umpan.

Sedangkan, harga per unit: bagaimana menghasilkan uang, sesudah makan umpan. Pada tahap fundraising, potensi investor akan bertanya total jumlah pengguna, jumlah pengguna yang aktif tiap hari dan tiap bulan. Tidak ada yang peduli dengan laba pada awalnya. Mengapa? Karena selama ada orang yang makan umpan pertama, menghasilkan laba adalah masalah waktu saja. Pemikiran semua ini didasarkan pada bisnis model Gillette.

Tetapi Apple justru menciptakan bisnis model yang sebaliknya. Harga produk utama sangat tinggi. Tetapi gratis atau murah untuk pelayanan jasa. Misalnya, anda membeli iphone, laptop macbook, atau ipad. Didalamnya sudah di install semua aplikasi. Seperti perangkat kantor, yang gratis dan user experience yang nyaman. Masalahnya, untuk memasuki pintu ini, Anda harus membeli hardaware yang mahal. Mengapa Apple dapat berbuat begitu?

Pertanyaan lagi, hal apa yang benar-benar tidak bisa dipisahkan dari manusia. Kita menyebutnya “nilai jangkar”. Jika pelanggan mulai memakainya, biaya untuk meninggalkannya sangatlah tinggi. Apakah nilai jangkar ini nyata atau virtual? Jawabannya menentukan cara bisnis modelmu. Seandainya, nilai jangkar adalah benda nyata, pengalaman virtual hanyalah aksesori. Maka anda pasti mengadopsi cara Gillette.

Sebaliknya, jika nilai jangkar adalah pengalaman, begitu orang mulai menyukainya. Maka sulit untuk menyingkirkannya. Inilah cara apple. Saya pernah Tanya beberapa pengguna iphone (termasuk saya sendiri), mengapa memakai produk apple? Tak berdaya,  jawabannya.

Kok bisa begitu?

Semuanya sudah diikat dengan Apple. Maksudnya, perangkat lunaknya tentu saja. Jika Kita harus ganti ke android, biaya belajarnya sangat tinggi. Semua laptop, ipad, ponsel yang mulus konektivitasnya, belum lagi banyak data yang tersimpan di apple cloud. Kita akan kehilangan banyak dan merepotkan. Ibarat kita harus pindah rumah.

Banyak hal yang harus diatasi. Kalau tidak ada alasan yang mutlak, kita tidak akan berpindah. Pengalaman virtual didunia digital internet sangatlah penting. Bahkan melampaui dunia nyata. Inilah nilai nyata jangkar Apple.

Apple menciptakan pengalaman dunia virtual, dengan pelayanan gratis untuk sebagian produk. Bila dibandingkan dengan harga perangkat keras yang lebih rendah, cara ini lebih mudah menarik pengguna. Dimasa lalu, orang membeli ponsel itu setara dengan membeli produk. Sekarang, ibarat membeli saluran kedunia maya. Semakin ketergantungan kita terhadap dunia maya.

Ponsel itu ibarat rumah kita didunia maya. Memuat semua pengalaman virtual kita. Bila kita setiap tahun mengganti ponsel, kita ibarat membayar biaya manajemen servis untuk property. Walaupun mahal, dengan kenaikan harga rumah, biaya property ini masih ada ruang untuk tumbuh. Ini menjelaskan bahwa mengapa Apple paling mahal didunia ini masih berani menaikkan harga jualnya lagi.

Metode Apple bukan berarti paling benar. Ricky Cuma ingin mengingatkan bahwa aturan operasi dunia bisnis ini bukanlah satu-satunya yang kita ketahui. Sekarang, bila Anda diibaratkan sebagai seorang gubernur didunia internet. Dan Anda adalah gubernur yang sangat bertanggungjawab atas kemakmuran kotamu. Secara otomatis, pola pikiranmu akan berbeda dengan gubernur sebelumnya.

Anda mengerti bagaimana memikirkan masalah kota dan solusi atas problem yang dihadapi. Sehingga dalam hal ini, Anda dapat memahami praktek Apple. Alasan pertama, Anda tak peduli berapa banyak orang yang memasuki kota ini. Tapi Anda lebih peduli dengan pengalaman atau perasaan yang dinikmati penduduk setempat. Karena setelah merasakan nyaman, mereka akan mengajak sanak family atau relative ataupun teman mereka untuk pindah kekotamu.

Dengan demikian, tentu saja penduduk kota akan bertambah secara otomatis. User experience adalah yang terpenting. Alasan kedua, gubernur yang dulu tentu berharap untuk bebas dan kompatibel dengan semua fenomena perangkat Apple. Tapi jika Anda adalah gubernur sekarang, Anda harus mempertahankan pengalaman dasar dari penduduk sekarang. Anda harus menetapkan aturan dasar. Ketertiban. Keamanan. Hanya kota seperti ini yang dapat meningkatkan nilai kotamu.

Apple paling mahal didunia
Apple paling mahal didunia (Image: Macrumors)

Alasan ketiga, sebagai gubernur, Anda sangat mengerti bahwa property akan semakin bernilai seiring dengan peningkatan kemakmuran suatu kota. Jadi Anda tak perlu kuatir tidak ada peluang untuk memungut pajak.

Just like grandma says, Saya yakin inilah pola pemikiran Apple dengan harga jualnya yang sangat tinggi. Kalo begitu, cara pemikiran gubernur yang demikian, dibanding dengan gubernur yang hanya peduli merekrut semakin banyak orang, dan kemudian cuma berharap memungut pajak dari penggunanya. Menurut Anda, gubernur mana yang akan memiliki masa depan yang lebih cemerlang?