Apple telat dalam 5G

Apple telat dalam 5G lagi. Walaupun demikian, transaksi pada malam penjualan iPhone 11 di Tmall Alibaba telah menembus 100 juta dalam satu menit. Sedangkan,  JD.com juga menunjukkan bahwa penjualan seri iPhone 11 Pro terjual habis hanya dalam 5 menit. Inilah China. Pasaran dan konsumen terbesar di dunia. Meskipun, Apple telat dalam 5G.

Dilain pihak, banyak media Barat sendiri melaporkan bahwa secara global, jumlah total pesanan untuk iPhone 11 tahun ini telah menurun 10%. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Alasan di baliknya sangat sederhana, tidak mendukung 5G.

Apple telat dalam 5G

Firma riset IDC memperkirakan penjualan iPhone akan turun 15% tahun ini, dikarenakan tidak ada produk 5G. Tidak ada keraguan bahwa rantai industri 5G adalah hit terbesar di industri Internet tahun ini. Pandangan umum sekarang adalah, 5G adalah teknologi yang termutakhir. Tanpa 5G, produsen ponsen tidak akan memiliki bargain power, bahkan akan kehilangan daya saing. Dalam peluncuran iPhone 11, Tim Cook tidak menyebutkan satu katapun tentang 5G. Dikarenakan kuatir akan memicu desas-desus netizen, bahwa Apple ketinggalan zaman.

Namun, secara pribadi Ricky menyarankan bagi tech-savvy yang selalu berjalan seiring teknologi baru, sekarang masih belum saatnya membeli ponsel 5G merek apapun. Alasannya sederhana, karena negara penata letak 5G seperti China, AS dan UE masih belum mencapai konsensus pemakaian 5G secara global. Namun, hal itu akan di capai bulan Maret 2020. Jadi, bagi peminat 5G bisa mempertimbangkan ponsel 5G setelah Maret.

Apakah benar Apple telat dalam 5G? Untuk teknologi baru, tidak “naik bus” duluan, apakah pasti ketinggalan? Jawabannya adalah NO, terutama dalam bidang teknologi komunikasi,

Sebenarnya, Dalam perkembangan teknologi komunikasi, setiap datangnya Era Generasi baru, produk ponsel membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk matang. Berdasarkan pengalaman, para produsen ponsel yang berebutan pertama kali “naik bus” dalam gelombang teknologi baru, pada akhirnya menjadi “dingin” artinya gagal.

Sebagai contoh 3G. Komersialisasi 3G mulai dikembangkan di Eropa dan Amerika Serikat sejak tahun 2003. Nokia adalah manufaktur pertama yang merilis ponsel 3G sejak tahun 2003. Namun, ketika Apple merilis iPhone pertama di tahun 2007 juga belum mendukung 3G. Sampai tahun 2008, Apple baru secara resmi mendukung 3G di model barunya. Yang telah 5-6 tahun ketinggalan dibanding ponsel merek utama saat itu. Demikian pula Saat memasuki era 4G, Apple juga sangat terlambat.

Demikian pula di saat komersialisasi 4G. Swedia adalah negara pertama memulai 4G komersial pada tahun 2009. Pada tahun 2011, Samsung dan Motorola sudah memproduksi banyak ponsel 4G. Dan Apple masih belum ada action sama sekali. Hingga musim gugur tahun 2012, Apple baru merilis ponsel pertama yang mendukung 4G, iPhone 5. Dan sekali lagi, Apple terlambat merilis sekitar 1-2 tahun dibanding ponsel merek arus utama lainnya. Mungkin ini adalah tradisi Apple. Selalu lamban Dalam menghadapi teknologi baru.

Kenyataannya, iPhone telah menjadi salah satu ponsel dengan prestasi paling populer di dunia. Baik di Era 3G maupun di era 4G. Pada Agustus 2018, nilai pasar Apple mencapai tonggak triliunan dolar. Jadi, walaupun selalu “terlambat” tidak menghalangi Apple melangkah ke posisi puncak.

Di sisi lain, merek-merek ponsel lain yang pertama berebutan merilis dan naik bus dalam 3G dan 4G akhirnya, tidak berkembang sebagai ponsel terbaik juga. Misalnya, HTC adalah Merek ponsel 4G yang pertama dirilis didunia. Pada awal Juni 2010. Dua tahun lebih awal dari Apple. Namun, akhirnya HTC hampir menghilang di era 4G.

Mengapa merek ponsel yang menganut paham untuk menjadi pertama “Makan kepiting” teknologi komunikasi baru, tetapi akhirnya tidak bisa menikmati dividen atau menjadi pemimpin dalam arena persaingan?

Alasannya, teknologi baru memiliki “periode matang” yang tidak dapat diterobosi. Pada awal setiap Era Generasi baru, produk ponsel selalu membutuhkan waktu dua-tiga tahun untuk matang. Ponsel yang berebut menjadi pertama merilis produk yang kurang matang, menghadapi banyak risiko. Dimana, akhirnya mempengaruhi reputasinya di kalangan konsumen.

Dalam pembangunan jaringan 4G awal yang kurang sempurna, penggunaan ponsel harus bolak-balik antara jaringan 4G dan 3G khususnya di daerah yang sinyal 4Gnya sangat lemah. Sehingga, meningkatkan konsumsi daya baterai sangat cepat. Setelah, konstruksi jaringan sudah matang, produk ponsel 4G pun ikut matang.

Sekarang, dunia mulai memasuki Era 5G. Salah satu masalah terpenting yang harus diatasi ponsel 5G adalah masalah konsumsi daya baterai. Sama dengan ketika 4G baru saja diluncurkan.

Nonstandalone (NSA)

Cakupan jaringan 5G di waktu awal pasti tidak memadai. Begitu sinyal 5G yang terhubung ke ponsel lemah, ponsel akan meningkatkan daya Radio Frequency (RF). Dalam teknologi 5G, daya RF chip ponsel dua kali lebih besar dari 4G. Sehingga konsumsi daya akan meningkat secara eksponensial.

Karena itu, ponsel 5G bukan cukup hanya ditambahkan modul 5G. Dari chip, antena hingga solusi daya, perlu dirancang ulang dan di-debug. Ini adalah proyek sistem yang sangat besar. Dan tidak akan matang dalam waktu sekejap.

Namun, sekarang telah mulai banyak ponsel 5G beredar di pasaran. Seperti OPPO Reno 5G, 7Pro 5G One Pluse, Samsung S10 5G dll. Pada dasarnya mereka memakai 5G sebagai bahan penarik perhatian. Chip 5G mereka hanya mendukung NSA (Non-Standalone). Yang merupakan mode jaringan non-independen. Dianggap sebagai teknologi transisi.

Maksudnya, jaringan 5G NSA tidak independen. Meskipun ada stasiun pangkalan sinyal 5G, akses stasiun pangkalan 5Gnya masih merupakan jaringan inti 4G. Akibatnya, bandwidth dan kecepatan akan terpengaruh. 5G di masa depan haruslah SA. Standalone. Setiap base station 5G mengakses jaringan inti 5G sendiri. Harus sepenuhnya independen dari jaringan 4G. Sehingga bandwidth dan kecepatan 5G dapat direalisasikan. Dan, Saat ini, penyebaran jaringan SA baru saja dimulai.

Apple telat dalam 5G
Apple telat dalam 5G lagi, Mengapa iPhone 11 yang baru dirilis belum lama ini tidak mendukung 5G?

Pentingnya Era 5G tidak hanya membuat ponsel lebih cepat. Jaringan 5G adalah revolusi teknologi di seluruh rantai ekologis. Termasuk platform konten video, rumah pintar, dan kendaraan tak berawak atau mobil otonom.

Semua ini membutuhkan jangkauan jaringan 5G yang jauh lebih lebar dari 4G saat ini. 5G mungkin memiliki penetrasi yang buruk, sehingga membutuhkan lebih banyak stasiun pangkalan. Jumlah BTS 5G pada akhirnya harus mencapai 5 kali lipat BTS 4G. Baru bisa benar-benar merealisasikan fungsi fitur 5G.

Just like grandma says, itulah alasan mengapa iPhone 11 belum mendukung 5G. Masih butuh beberapa tahun untuk mengkomersialkan 5G. Negara pelopor 5G seperti China, AS dan Korsel baru akan memasuki komersial 5G di tahun 2020. Dan dunia lainnya baru akan terealisasi di tahun 2025 termasuk Indonesia. Karena, Seluruh pasar masih belum matang dalam hal infrastruktur maupun chip pendukungnya.

Produsen ponsel yang merangkul 5G lebih awal memang bisa mengakumulasi pengalaman lebih awal. Atau, menempati posisi tertinggi dalam opini publik. Tetapi di sisi lain, mereka juga harus menanggung efek negatif yang ditimbulkan oleh ketidakdewasaan produk 5G.

Advertisements
Categories: Apple telat dalam 5G iPhone 11

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: