Advertisements

Artificial General Intelligence

Oleh: Ricky Suwarno

12 Juli 2019

Artificial General Intelligence, Kecerdasan Umum Buatan atau di singkat AGI. Kecerdasan sebuah mesin yang dapat melakukan tugas intelektual apapun yang dapat dikerjakan seperti manusia biasa. Bahkan mungkin jauh di atas kemampuan manusia.

Kecerdasan Umum Buatan sering di sebut juga “Strong AI”. Atau “Full AI”. Tahap yang ditakuti oleh manusia. AGI pertama kali dikenalkan oleh Mark Gubrud. Di tahun 1997. Dalam sebuah diskusi implikasi otomatisasi pada produksi. Dan operasi militer.

Banyak ilmuwan telah memperingatkan tentang risiko kecerdasan buatan. Pada konferensi TED tahun 2018, fisikawan MIT, Max Tegmark menunjukkan sebuah gambar. Di dalam gambar ada gunung, pulau, dan lautan. Pulau dan pegunungan ditandai dengan aplikasi teknis yang berkaitan dengan kecerdasan buatan.

Pulau dan pegunungan dengan ketinggian yang berbeda mewakili kesulitan realisasi teknologi. Misalnya Penterjemahan otomatis. Mobil tak berawak. Catur Go. Dan teknologi pengenalan suara tepat di atas permukaan laut. Artinya, area aplikasi paling penting dari kecerdasan buatan saat ini.

Seni, fotografi, dan penulisan buku yang di tandai di atas gunung, mewakili area di mana kecerdasan buatan sulit dikendalikan. Paling tidak untuk saat ini. Manusia masih lebih baik dalam penciptaan spiritual, seni dan budaya.

Max TegMark percaya bahwa permukaan laut pada akhirnya mewakili tingkat kecerdasan buatan akan menenggelamkan segalanya. Ketika kecerdasan buatan mencapai ketinggian ini, berarti manusia telah memasuki “Era kecerdasan buatan umum” atau AGI.

Seperti halnya manusia, kecerdasan buatan umum dapat berpikir dan belajar sendiri. Dapat memberikan kesimpulan. Dan bahkan menciptakan kesadaran independen. Pengembangan lebih lanjut akan mengarah pada tingkat tertinggi. “kecerdasan buatan super” yang jauh lebih maju.

Kecerdasan Buatan Super sangat sulit untuk diprediksi. Ketika Anda mengeluarkan suatu perintah untuk “memprediksi arah peperangan” dia akan segera mencari melalui jaringan, analisis berbagai data, dan akhirnya memberikan Anda laporan analisis dalam satu detik.

Menurut Max Tegmark, risiko nyata dari kecerdasan buatan super bukanlah berbahaya atau tidak, melainkan Dia “sangat pandai merealisasikan tujuannya”. Jika tujuan ini tidak konsisten dengan tujuan manusia, maka manusia akan berada dalam kesulitan besar.

Max TegMark mengutip contoh kepunahan badak hitam di Afrika. Dia mengatakan bahwa manusia tidaklah bodoh sampai berharap badak hitam punah. Tetapi sebagai spesies yang lebih pintar, tujuan manusia untuk mendapatkan tanduk badak tidak sesuai dengan tujuan badak hitam untuk mempertahankan kelanjutan hidupnya. Dalam tabrakan perbedaan yang konstan, partai yang lebih lemah secara bertahap menjadi punah.

Just like grandma says, kecerdasan buatan tentu akan lebih baik. Jauh lebih baik daripada manusia di banyak bidang di masa depan. Karena itu, bagaimana manusia bisa hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan super adalah suatu tantangan. Tantangan bagaimana menghindari seperti nasib badak hitam dan manusia di masa depan.

Advertisements
Categories: Artificial General Intelligence, artificial intelligence indonesiaTags: , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: