Bagaimana cara mengatasi bencana seperti Covid-19

Bagaimana cara mengatasi bencana seperti Covid-19 virus Corona telah menjadi fokus Dunia. Kali ini saya akan membahas topik virus Corona dengan memulai tiga cerita mengenai bencana yang terjadi dalam 100 tahun terakhir. Misalnya, “311 Gempa bumi-Tsunami Jepang pada Sekolah Dasar Okawa”, Pandemi Flu pada tahun 1918, dan Perang antara Uni Soviet-Finlandia sebelum Perang Dunia Kedua. Termasuk merekomendasikan tiga buku berkaitan dengan bencana ini. Diantaranya “Ghosts of the Tsunami, The Great Influenza, dan Upheaval”.

Sekitar 9 tahun yang lalu, Pada tanggal 11 Maret 2011, gempa berkekuatan 9,0 terjadi di wilayah Tohoku Jepang. Gempa ini memicu tsunami dengan ketinggian 40,1 meter. Gempa bumi tersebut menyebabkan kebocoran nuklir dan bencana lainnya, yang menyebabkan kelumpuhan fungsional skala besar dan penghentian kegiatan ekonomi Jepang. Beberapa kota di Timur Laut bahkan lebih parah. 311 Gempa Bumi-Tsunami adalah bencana alam terbesar dalam sejarah Jepang.

Bagaimana cara mengatasi bencana seperti Covid-19

Ada Sebanyak 108 siswa di Sekolah Dasar Okawa di Miyagi, Jepang. 74 siswa dan 10 dari 11 guru tewas dalam bencana Tsunami tersebut. Ketika tsunami mendekati, para Guru atau Kepala Sekolah tidak membawa anak-anak menanjak ke atas gunung untuk berlindung tepat  waktu, melainkan tercengang kehilangan arah memegang manual bantuan bencana, melewatkan kesempatan dan akhirnya terjadilah tragedi menyedihkan.

Setelah bencana berlalu, para orang tua siswa mengajukan gugatan terhadap SD Okawa.  Persidangan kedua Pengadilan Tinggi Sendai memutuskan Pemerintah Daerah Miyagi harus memberikan kompensasi 1,43 miliar yen untuk anggota keluarga korban.  Ini adalah persidangan kompensasi Pertama karena tindakan pencegahan bencana yang tidak memadai.

Penilaian orang terhadap risiko di bawah model kognitif yang ada masih terdapat banyak kekurangan. Ketika bencana terjadi, orang-orang cenderung meremehkan risiko. Dalam kasus Sekolah Dasar Okawa, anak-anak siswa tahu untuk memberi tahu guru agar bergegas naik ke atas gunung. Tetapi sayangnya, para guru hanya menahan mereka untuk diam di tempat.  

Sementara, Para wanita di desa tersebut juga menyarankan kepala desa untuk bergegas naik ke atas gunung. Tetapi kepala desa membalas sambil berkata, tidak perlu khawatir. Hal Ini menunjukkan, “ketika risiko atau bahaya datang, pengalaman pada dasarnya tidak bisa diandalkan atau tidak bisa menyelamatkan Anda. Demikian juga organisasi tidak bisa menyelamatkan Anda.”

“Cara terbaik adalah mempercayai intuisi dan membuat penilaian berdasarkan insting.”

“Dalam hal ini, intuisi perempuan seringkali lebih baik daripada intuisi pria, karena mereka kurang terganggu oleh faktor-faktor eksternal seperti peduli muka dan martabat daripada kaum pria.”

Sekali lagi “Ketika terjadi bencana, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengandalkan intuisi kita sendiri”. Jadi, kita harus belajar beralih secara fleksibel dalam dua mode: Mode Normal dan Mode Bencana.

Dalam Mode Normal, “kita perlu meningkatkan kemampuan pencegahan risiko supaya dapat menghadapi kemungkinan risiko sistemik.” Misalnya,  kebakaran hutan. Cara terbaik untuk mencegah nyala api menyebar adalah dengan membiarkan api menyala terlebih dahulu dan kemudian membentuk zona isolasi. Artinya, mentolerir risiko kecil untuk menghindari risiko besar.  

Konsep ini konsisten dan sesuai dengan pandangan “mengunci kerugian tahap tertentu, dan memperoleh keuntungan sebesar mungkin ” dalam investasi keuangan.

“Pandemi Flu mematikan pada tahun 1918”

Dari Januari 1918 hingga Desember 1920, meletusnya wabah influenza global (H1N1).  500 juta orang di seluruh dunia terinfeksi (total populasi dunia saat itu adalah 1,7 miliar). Sekitar 50 juta atau lebih orang meninggal. Tingkat kematian rata-rata global adalah 2,5% -5%. Jauh lebih tinggi dari 0,1% influenza umum.  Ini adalah salah satu peristiwa alam paling mematikan dalam sejarah manusia.  

Gelombang wabah pandemi pada dasarnya terbagi atas tiga: Pertama, Gelombang Ringan; Kedua, gelombang yang memiliki tingkat kematian tertinggi; Ketiga, tingkat kematian di antara orang muda lebih tinggi daripada di antara orang tua.

Manusia di muka bumi ini harus belajar menghormati “virus”. Karena mereka adalah batu ujian yang khusus mengatasi kesombongan dan prasangka manusia (Pride and Prejudice). Virus tidak akan patuh dengan aturan manusia. Mereka memiliki cara berkembang tersendiri.

San Francisco sebagai contohnya. Pada saat itu, pekerjaan pencegahan epidemi San Francisco terbukti paling baik. Kesadaran pencegahan yang sangat kuat, kepemimpinan yang tegas dan masyarakat sangat mementingkannya. Sehingga, San Francisco tidak terlalu terpengaruh oleh gelombang wabah kedua. Namun, ketika mereka berpikir bahwa mereka telah mengalahkan epidemi dengan kekuatan mereka sendiri, gelombang epidemi ketiga datang lagi. Kali ini San Francisco tidak bernasib sebaik dulunya. Akhirnya, San Francisco menjadi kota paling mematikan di pantai barat Amerika Serikat.

Perkembangan Virus memiliki sejarah yang lebih panjang daripada manusia. Virus serta mikro-organisme lainnya telah hidup berdampingan dengan manusia sejak dahulu kala.  

Komunitas Medis memperkenalkan dua hipotesis tentang sistem kekebalan tubuh manusia. Pertama, hipotesis higienis. Jika ada dua anak, satu anak tinggal di lingkungan yang steril, maka kemungkinan untuk sakit lebih besar. Sebaliknya, Anak kedua yang tinggal di lingkungan yang kurang higienis justru lebih kebal daya tahan tubuhnya dan tidak mudah sakit.

Kedua, hipotesis teman lama. Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh kita menghasilkan antibodi bukan karena penyakit ketika kita masih anak-anak. Melainkan, tetapi terbentuk selama proses evolusi yang sangat panjang.

Kita semua perlu merefleksi diri Setelah epidemi Covid-19 virus Corona ini. Dalam buku “Illness as metaphor” oleh penulis Susan Sontag mengatakan bahwa “penyakit adalah sisi gelap kehidupan, dan kewarganegaraan yang lebih menyusahkan.”

Setiap orang yang datang ke dunia ini memiliki kewarganegaraan Ganda. Pertama, mereka yang memiliki kesehatan yang baik, dan Kedua, mereka yang berpenyakitan. Meskipun kita semua hanya senang menggunakan paspor berkesehatan baik, namun cepat atau lambat, setidaknya untuk beberapa waktu kedepan, kita masing-masing terpaksa harus mengakui bahwa kita juga warga negara Kerajaan lain. Kerajaan Warga yang berpenyakitan.

Para pakar Medis percaya Epidemi baru akan terus meletus di dunia ini, dan kita harus bersiap untuk gelombang kedua epidemi. Esensi dari epidemi Covid-19 virus Corona adalah guncangan eksternal. Guncangan eksternal memiliki dampak yang rada terbatas pada perekonomian. Jika tidak ada krisis sekunder, perekonomian akan pulih dengan cepat setelah epidemi berlalu.

“Risiko dan peluang selalu hidup berdampingan.” Kabar baik adalah kabar buruk. Dan kabar buruk itu sendiri adalah kabar baik.  

Di masa depan kita akan menghadapi pasang surut yang mengglobal, dan “substitusi impor adalah bisnis terbaik di masa depan.” Operasi bisnis di masa depan akan berubah dari prinsip efisiensi terlebih dahulu, menjadi prinsip mempertimbangkan “efisiensi dan keselamatan” terlebih dahulu. Di bawah dampak eksternal, epidemi Covid-19 akan mendorong munculnya banyak industri baru. Model negara besar yang berkonsentrasi melakukan Projek besar bukanlah obat mujarab satu-satunya lagi.

Saat ini, “manajemen jaringan yang tidak sempurna, kolaborasi tingkat komunitas di masa depan dan E-commerce komunitas” akan bertunas dan berkembang besar di Masa Depan.

Perang antara Finlandia dan Uni Soviet

Dalam Buku “Upheaval: Turning Points for nations in crisis,” oleh Jared Diamond mengatakan, “apa pun perubahan yang akan terjadi pada individu dan negara setelah pergolakan ekonomi.”

Bagaimana cara mengatasi bencana seperti Covid-19
Bencana Tsunami di Sekolah Dasar Okawa Jepang pada Maret 2011 (Image: The Guardian)

Pada Oktober 1939, Uni Soviet mengajukan dua permintaan kepada Finlandia. Perbatasan antara kedua negara di Kra Isthmus harus ditarik lebih jauh dari Leningrad. Kedua, Uni Soviet akan mendirikan pangkalan Angkatan Laut dekat Helsinki di Finlandia selatan, serta menuntut Finlandia untuk menyerahkan beberapa pulau kecil di Teluk Finlandia.  

Tentu saja, Finlandia menolak. Pertimbangan Finlandia adalah, Uni Soviet mungkin akan lebih agresif, atau Uni Soviet mungkin hanya menggertak, karena negara-negara Eropa lainnya akan bersama melawan Uni Soviet.

Pada 30 November 1939, Uni Soviet melancarkan serangan ke Finlandia.  Pada malam pertama pengeboman, jumlah korban sipil di Finlandia mencapai 10% dari total korban sipil selama Perang Dunia II. Dalam Perang Musim Dingin berikutnya, meskipun pasukan Finlandia bertempur dengan gagah berani, namun bagaimanapun jumlahnya kalah banyak dibanding Uni Soviet sehingga menderita banyak korban. Kemudian, Pada bulan Maret 1940, Finlandia harus menerima segala permintaan Uni Soviet yang tidak masuk akal.

Setelah Perang Dunia II, Finlandia mengubah sikapnya terhadap Uni Soviet. Finlandia terpaksa menyambut Perang Musim Dingin. Atau Mereka harus berdamai. Finlandia harus menghadapi kenyataan bahwa mereka adalah negara kecil, Uni Soviet adalah negara besar. Geopolitik ini tidak akan berubah. Jadi Finlandia berusaha mendapatkan kepercayaan dari Uni Soviet. Sementara Finlandia sendiri juga mempertahankan status independennya, dan menjadi perantara antara kamp-kamp timur dan barat.

Seperti yang diungkapkan dalam buku “Upheaval atau Pergolakan”, Ada beberapa orang (atau negara) yang dapat bangkit dari suatu krisis, sebaliknya, Ada beberapa orang atau negara yang binasa dalam krisis.

Itulah sebabnya, “Pentingnya fleksibilitas dalam menanggapi suatu krisis.” Tidak peduli Apakah itu akan mempengaruhi krisis nasional atau dampak bagi individu, “fleksibilitas adalah kuncinya.”  

Finlandia menyadari bahwa mereka harus meninggalkan strategi masa lalu dan menerima strategi baru, tetapi pada saat yang bersamaan juga harus mempertahankan kedaulatan dan kohesi nasional.  

Kesimpulannya, baik individu maupun negara yang berhasil merespons krisis, tahu bagaimana me”mosaik” (fleksibel) masa lalu dan masa depan untuk dapat hidup berdampingan.

Just like grandma says, seperti kutipan kalimat dari Professor Ilmu Politik Universitas Yale Timothy D. Snyder tentang hukum bagaimana cara mengatasi bencana seperti Covid-19, “Teman lama adalah Orang terakhir yang dapat Anda andalkan, dan berteman dengan teman baru adalah langkah pertama mengubah status quo”

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.