Bagaimana China menangani virus Corona

Bagaimana China menangani virus Corona yang dikenal dengan Covid-19. atau Menghadapi penyakit infeksi baru, reaksi pertama setiap orang adalah “Apakah ada obat khusus atau vaksin.” Tentu saja, Saya juga berharap demikian.

Misalnya belum lama ini, para ilmuwan Institut Shanghai Materia Medica dari Akademi Ilmu Pengetahuan Tiongkok dan Universitas Sains dan Teknologi Shanghai, telah bekerja sama menemukan 30 senyawa yang mungkin efektif terhadap virus Corona baru. Atau misalnya, para Ilmuwan dari Lembaga Pusat Pengendalian Penyakit China, sangat optimis dalam mengembangkan vaksin virus Corona.

Upaya para ilmuwan Cina patut dihargai. Hanya saja, khusus virus baru dan berjangkitnya penyakit menular, obat-obatan spesifik dan vaksin baru kurang memungkinkan untuk menjadi penyelamat kita di saat sekarang.

Bagaimana China menangani virus Corona

Pengembangan vaksin baru membutuhkan waktu yang rada panjang. Dari awal penelitian hingga produksi massal. SARS, Penyakit infeksi pernafasan yang merebak di Guangdong, Cina pada akhir tahun 2002. Baru berhasil dikendalikan pada musim panas 2003. Vaksin virus SARS baru dimulai percobaan pada tubuh manusia di saat musim semi 2004. Dan secara resmi terkendalikan pada tahun 2006. Pada saat itu, SARS telah menghilang dan tidak perlu untuk produksi dan vaksinasi skala besar lagi.

Sejauh ini, para ilmuwan belum benar-benar mengembangkan obat spesifik untuk SARS. Pengobatan suportif masih menjadi pengobatan utama dalam praktik. Pengobatan suportif maksudnya untuk mempertahankan kelangsungan hidup pasien melalui bantuan pernapasan, anti-infeksi, dan penggantian cairan. Kemudian menunggu sistem kekebalan pasien sendiri untuk menghancurkan virus yang menyerang.  

Faktanya, sebagian besar penyakit menular yang disebabkan oleh virus, manusia tidak memiliki obat spesifik untuk membasminya. Contoh terkait termasuk hepatitis yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Influenza yang disebabkan oleh virus influenza. Sindrom pernapasan yang disebabkan oleh virus MERS dan SARS dan sebagainya.

SARS telah berlalu 17 tahun yang lalu. Dalam menghadapi wabah baru pneumonia virus Corona, tidak realistis mengharapkan para ilmuwan untuk menghasilkan vaksin dalam semalam. Karena tidak ada siapapun yang bisa melakukannya.

Tentu saja, dibandingkan dengan SARS 17 tahun yang lalu, respons para ilmuwan China dan pemahaman tentang pneumonia virus corona jauh lebih cepat dan lebih dalam. Karena pengalaman penelitian sebelumnya tentang SARS telah cukup banyak.

 Misalnya, penelitian bersama antara Institut Shanghai Materia Medica dan Universitas Sains dan Teknologi Shanghai, menggunakan obat anti virus Aids mungkin efektif melawan virus corona baru. Yang secara signifikan memang telah meringankan penyakit pasien.  

Selain itu, Tiongkok sekarang bisa membuat vaksin jauh lebih cepat daripada 17 tahun yang lalu. Bahkan lembaga penelitian Moderna berencana meluncurkan uji klinis vaksin RNA Moderna dalam waktu dekat. Secara teori, vaksin RNA memang dapat memiliki siklus produksi yang lebih cepat. Tetapi kemungkinan ini masih dalam teori. Masih belum ada vaksin RNA yang berhasil dihasilkan dalam penelitian klinis manusia.

Sebenarnya, manusia memiliki cara tua tetapi sangat efektif untuk menghadapi penyebaran infeksi yang tiba-tiba. Yaitu “Isolasi diri”.

Inti dari wabah penyakit menular terletak pada penularannya. Baik secara langsung atau tidak langsung. Ditularkan dari satu orang ke orang lain. Atau lebih banyak orang. Jika seseorang dengan penyakit menular tidak dapat menyebar ke lebih dari satu orang, penyakit itu sendiri akan perlahan menghilang. Oleh karena itu, meskipun kita tidak memiliki obat yang dapat langsung membunuh virus, selama kita dapat mengisolasi diri sehingga orang yang sudah sakit tidak dapat terus menyebar. Maupun orang yang belum terinfeksi tidak akan terinfeksi. Sebagai hasilnya, kita dapat secara efektif mencegah dan mengendalikan penyakit ini.

Ada tiga inti isolasi saran dari para ilmuwan.

Pertama, menemukan dan mengelola sumber infeksi.

Para ilmuwan telah mengkonfirmasi bahwa virus Corona adalah patogen dari berjangkitnya penyakit menular ini. Dan dapat ditularkan dari orang ke orang.

Kedua, memotong saluran transmisi.

Sebagai virus pernapasan, rute transmisi utama virus Corona adalah melalui transmisi tetesan. Baik air liur maupun air mata. Oleh karena itu, cara paling efektif untuk memutuskan rute transmisi adalah menghindari keramaian orang.

Ketiga, melindungi kelompok rentan.

Dalam menghadapi virus baru ini, setiap orang adalah kelompok yang rentan. Dengan kata lain, kita perlu melindungi diri kita sendiri. Mengenakan masker, sering mencuci tangan, tidak menyentuh hidung, mulut dan mata, menghindari keramaian atau berolahraga, semuanya adalah cara meningkatkan perlindungan.

Saya percaya setelah kita melihat langkah-langkah tegas yang diadopsi pemerintah China sejauh ini, kita dapat memahami mengapa Beijing secara medis mengisolasi pasien dan menutup puluhan kota, memblokir lalu lintas, membatalkan kegiatan publik Imlek, dan meminta semua orang untuk memakai masker dan mencuci tangan sesering mungkin.

Tentu saja, tidak mudah untuk menutup suatu kota atau lockdown cities. Bagaimanapun, seluruh masyarakat masih perlu beroperasi dengan tertib. Ekonomi masih harus berjalan.  

Namun kenyataannya dalam sejarah, dari penutupan Venesia pada tahun 1374 hingga Kematian Hitam, dari tahun 1910 Woollende memutuskan jalur kereta api untuk melawan wabah tikus Timur Laut, hingga saat ini penutupan kota Wuhan mencegah kematian terhadap wabah pneumonia dan isolasi terhadap virus Corona. Semua ini merupakan perang manusia melawan penyakit menular yang parah. Salah satu langkah paling efektif.

Bagaimana menangani virus corona
Pembangunan RS baru Wuhan dalam 6 hari khusus menampung 1000 pasien (image:gulfnews)

Secara sederhana bagaimana China menangani virus Corona, para ilmuwan Cina telah melakukan tindakan yang sangat baik dalam perlawanan dengan virus kali ini. Pada awal Desember 2019, ketika pasien pertama datang ke RS dengan demam dan batuk. Dalam satu bulan berikutnya, lebih dari 40 pasien dengan gejala yang sama datang ke RS. Pada akhir Desember, Komisi Kesehatan dan Kesehatan Kota Wuhan mengeluarkan peringatan “penyebab pneumonia yang tidak diketahui”.  

Dalam sebulan, para ilmuwan dan dokter telah dapat mendeteksi munculnya jenis baru penyakit infeksi pernapasan. Ini adalah suatu pencapaian yang sangat luar biasa. Musim dingin adalah waktu ketika flu dan penyakit pernapasan lainnya menular dengan cepat. Di Wuhan, ada ribuan pasien yang datang berobat untuk gejala pernapasan setiap hari. Jadi Sangat menakjubkan, dari menemukan dan memastikan penyakit unik dan menular ini dalam waktu singkat.

Selanjutnya, efisiensi para ilmuwan Cina bahkan lebih tinggi. Pada 7 Januari 2020, para ilmuwan telah mengkonfirmasi bahwa virus Corona baru adalah patogen pneumonia yang tidak diketahui seluk beluknya. Pada 10 Januari, urutan genom virus telah selesai dan dikonfirmasi. Pada tanggal 24 Januari, telah membuktikan kemampuan virus menular dari manusia ke manusia.

Upaya-upaya ini memberikan panduan ilmiah bagi pemerintah Tiongkok untuk mengambil langkah-langkah kuat dalam mencegah dan mengendalikan penyakit. Dari Epidemi SARS pada tahun 2003 hingga respons yang cepat dan akurat tentang virus Corona, merupakan kemajuan ilmu pengetahuan Cina dan ilmuwan Cina yang patut diajungkan jempol.

Disamping kelebihan para ilmuwan ini, ada juga kekurangan yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, sebagian besar hasil penelitian para ilmuwan Cina diterbitkan terlebih dahulu dalam jurnal akademik terkenal internasional, seperti The New England Journal of Medicine dan The Lancet.  

Hal ini tentu saja merupakan pengakuan tertinggi terhadap kualitas penelitian, tetapi mengingat urgensi pencegahan dan pengendalian penyakit menular, apakah benar-benar perlu untuk publikasi sebagai prioritas utama?  

Karena proses penerbitan makalah dari menulis, meninjau, merevisi ke penerbitan, akan menunda berbagi informasi penting untuk pengobatan pasien. Bahkan, ada beberapa makalah hasil penelitian perlu berbayar. Artinya, para ilmuwan Cina lainnya dan departemen pencegahan dan pengendalian penyakit tidak dapat secara bebas memperoleh hasil penelitian ini dan memulai langkah berikutnya.

Juga, meskipun kecepatan ilmuwan Cina dalam identifikasi patogen sangat mencengangkan, namun informasi urutan gen virus yang dirilis hingga saat ini masih relatif terbatas. Belum cukup untuk mengungkapkan lintasan awal wabah virus dan menganalisis tren evolusi virus dalam populasi. Penelitian dan berbagi data di bidang ini masih perlu diperkuat.

Lebih penting lagi, munculnya virus-virus ini sendiri merupakan “produk” peradaban manusia. Semakin banyak invasi habitat alami hewan dan tumbuhan, semakin banyak peternakan unggas untuk memenuhi kebutuhan hidup kita sehari-hari, mikroorganisme yang secara alami berada pada tubuh hewan telah mendapatkan semakin banyak peluang untuk menular ke tubuh manusia.

Bill Gates pernah secara terbuka menyatakan dalam pidatonya, “jika sesuatu yang dapat membunuh puluhan juta jiwa manusia dalam beberapa dekade ke depan, kemungkinan terbesar adalah virus menular.” Karena investasi kita pada sistem pencegahan epidemi masih terlalu kecil. Dan kita masih belum siap untuk mencegah terjadinya pandemi global.

Just like grandma says, bagaimana China menangani virus corona atau penyakit menular bersangkutan, sebagian besar beban ini akan jatuh ke pundak para ilmuwan. Mereka perlu mempelajari asal-usul dan evolusi berbagai mikroorganisme. Mempelajari hukum penyebaran dan model matematika penyakit menular manusia. Membuat sistem peringatan dan pelacakan penyakit yang lebih akurat. Mengembangkan obat, menyiapkan vaksin, dan mempelajari mekanisme biologis dasar penyakit. Semua tugas ini adalah misi para ilmuwan di masa depan.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: