Advertisements

Bagaimana Kecerdasan Buatan mengubah cara kerja Jurnalisme

Oleh: Ricky Suwarno

27 Juni 2019

Artificial Intelligence. Kecerdasan Buatan. Saat ini, mungkin telah banyak orang mencapai kesepakatan. Mencapai suatu konsensus. Bahwa kecerdasan buatan (AI) akan berdampak besar pada banyak industry. Termasuk Jurnalisme. Atau Media.

Industri berita tradisional telah sangat terpengaruhi oleh Internet. Apakah teknologi AI merupakan berkah bagi Jurnalisme? Adalah pertanyaan yang sering terdengar dikalangan Media dan teman-teman Wartawan.

Saya adalah orang yang cendrung berpikir positif. Jadi, Dari sudut pandang positif, AI dapat membebaskan jurnalis atau para wartawan dari tugas-tugas yang monoton. Dan berulang-ulang membosankan. Sehingga, memungkinkan jurnalis untuk fokus pada konten yang jauh lebih kreatif.

Perusahaan Raksasa seperti Associated Press, Washington Post, Bloomberg, Tencent, Alibaba atau Headline Today sudah menggunakan AI untuk menulis laporan Real-Time. Seperti Berita kompetisi olahraga. Atau laporan pendapatan suatu perusahaan.

Selain membantu para wartawan menulis laporan yang tidak mereka sukai, AI juga dapat memberdayakan kerja para wartawan. Seperti melakukan proses penyelidikan. Ataupun mengingatkan wartawan untuk menjaga keseimbangan dalam memberitakan suatu laporan. Jangan ada bias.

Teknologi pengenalan suara atau Speech Recognition dapat membantu dan mengubah rekaman menjadi teks. Financial Times menggunakan AI membuat statistik untuk laporannya sendiri. Jika laporan itu terlalu bias terhadap pendapat atau komen para laki-laki, dan mengabaikan perempuan untuk sementara waktu, AI akan mengeluarkan peringatan.

AI dapat membaca file jauh lebih cepat dari para Reporter. Dan menemukan kebocoran. AI juga dapat membantu wartawan memeriksa fakta jauh lebih effisien. Beberapa alat Kecerdasan Buatan dapat membantu wartawan mengidentifikasi keaslian suatu foto atau video.

Tentu saja, tidak semuanya positif. Ketika AI digunakan dalam bidang Jurnalisme, itu juga akan membawa beberapa dampak. Salah satu aset paling berharga dari Jurnalisme tradisional, adalah transparansi dan kredibilitas.

Ketika algoritma diterapkan pada laporan berita, mengharuskan algoritma itu sendiri harus bisa ditafsirkan supaya orang dapat lebih percaya terhadap laporannya.

Munculnya kecerdasan buatan, tentu saja akan menantang hak cipta tradisional. Algoritme secara otomatis akan membaca berbagai sumber informasi yang dapat diandalkan. Dan secara tidak langsung, mungkin akan melibatkan masalah hak cipta orang lain.

Selain itu, pemahaman para wartawan tentang teknologi AI, serta kerja sama antara industri konten dan industri teknologi, juga telah menjadi masalah penting.

Misalnya, Setelah pendiri Amazon Jeff Bezos mengakuisisi Washington Post, Jeff menambahkan puluhan ilmuwan data untuk mendukung pekerjaan kantor editorial surat kabar.

Just like grandma says, teknologi Kecerdasan Buatan akan mengubah Departemen Editorial berita tradisional. Meskipun tidak sepesimis seperti yang dipikirkan banyak orang, Namun, sudah saatnya bidang Jurnalisme membuat beberapa perubahan supaya tidak ketinggalan zaman.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, jurnalismeTags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: