Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona

Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona covid-19 tanpa Lockdown. Seiring meningkatnya virus Corona di luar China seperti Korea Selatan, Italia, Inggris, Serbia, Portugis ataupun Amerika telah mengakibatkan kepanikan dunia. Fluktuasi besar di pasar saham global minggu ini mencerminkan persepsi ini.

Pada saat yang sama, media internasional terutama suka menyatukan kasus-kasus Italia dan Korea Selatan. Alasannya, kedua negara mengalami wabah dalam waktu yang bersamaan. Tetapi setelah tiga minggu upaya pencegahan epidemi, malah menampilkan hasil yang sangat berbeda.

Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona

Pada 18 Maret, lebih dari 8.400 kasus yang dikonfirmasi di Korea Selatan. Angka kematian kurang dari 1%. Sementara, jumlah kasus di Italia melonjak hingga lebih dari 30.000 kasus dengan angka kematian 7%. Meskipun wabah di Korea Selatan terkonsentrasi di Daegu, namun belum menyebar ke wilayah lain dalam skala besar. Sebaliknya, Epidemi di Italia Utara telah menyebar ke seluruh negeri.

“Apa perbedaan praktik antara kedua negara, sehingga membawa hasil bagai langit dan bumi?”

Laporan media internasional menekankan kemampuan deteksi Korea Selatan cukup luar biasa dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Korea Selatan adalah negara kedua selain China yang bisa mengendalikan wabah pneumonia dalam waktu singkat.

Wabah di Korea Selatan terjadi sekitar satu bulan yang lalu. Pada tanggal 19 Februari, Korea Selatan mengkonfirmasi “Super spreader atau penyebar super” pertama, yang dikenal sebagai Pasien No. 31.

Pasien ini telah berpartisipasi dalam banyak layanan ibadah di Gereja Yesus Shincheonji Korea. Dengan Munculnya pasien ini, pemerintah Korea Selatan segera meningkatkan langkah-langkah pencegahan epidemi dan mulai menyelidiki kemungkinan orang yang pernah kontak dekat dengannya.

“Coba terka, Berapa banyak orang yang harus dites? diselidiki?”  

Hingga hari ini, jumlah orang yang telah dites di Korea Selatan sebanyak 270.000 orang. Apa artinya? Setiap 200 warga Korea, pasti ada satu orang yang pernah diTes virus Corona.

Artinya lagi, dalam jumlah 1 juta orang ada sekitar 5000 warga yang telah di Tes apakah telah terinfeksi. Sedangkan, Jumlah orang Italia yang dites lebih kurang dari Korsel. Dalam 1 juta orang Italia, ada sekitar 2.000 warga yang di periksa. Sementara Amerika Serikat jauh lebih sedikit lagi. Dalam 1 juta orang, hanya ada 70 warga yang menerima pengetesan.

Jika kita melihat kembali situasi selama sebulan terakhir, kita akan menemukan bahwa kapasitas inspeksi di Korea Selatan telah meningkat dengan cepat. Dalam laporan media pada 4 Maret, batas atas pengecekan harian di Korea Selatan sekitar 10.000 orang. Satu minggu kemudian, jumlahnya meningkat 50% menjadi 15.000. Hingga hari ini, jumlah pengecekan perhari mencapai 20.000 orang.

Sebagai perbandingan, Italia yang memiliki populasi 20% lebih banyak daripada Korea Selatan, batas pengetesan terbanyak sehari hanya 3.000 orang. Sekitar 1/7 dari jumlah di Korea Selatan.

“Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona dan bisa mencapai pendeteksian sebanyak ini?”

Wall Street Journal dan majalah American Science meneliti cara kerja sistem deteksi Korea. Pertama, pengembangan awal reagan dan respons yang cepat. Pada 7 Februari, pemerintah Korea menyetujui reagen uji pertama yang dikembangkan oleh perusahaan komersial Korea, Kogene Biotech.  

Pada saat itu, jumlah kasus yang dikonfirmasi di Korea Selatan masih sedikit. Kurang dari 20 kasus sehari. Tiga hari kemudian, reagen yang dikembangkan oleh perusahaan telah didistribusikan ke seluruh sistem medis.

Hingga akhir Februari, masih ada 42 perusahaan yang mengajukan 64 aplikasi terkait dengan tes tersebut. 19 di antaranya telah disetujui oleh Divisi Manajemen Penyakit Korea. Pada hari kesebelas setelah reagen tes diberikan di seluruh Korea Selatan, pasien No. 31 akhirnya terdeteksi. Sejak itu, Korea Selatan memulai skrining cepat, dan dalam seminggu telah ada 66.500 orang yang telah dites.

Ini adalah poin kunci pertama, Tindakan yang sangat tepat waktu dan cepat.

Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona
Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona (Image: FT)

Titik kunci kedua adalah standar yang lebih lebar.

Pengujian di sebagian besar negara Eropa masih terbatas pada pasien dengan riwayat epidemiologi dan bergejala. Metode tes semacam itu lebih efektif untuk influenza umum. Namun, ada sedikit kompleksitas dalam pasien pneumonia baru ini. Yaitu infeksi asimptomatik. Maksudnya, pasien tidak memiliki gejala sebelumnya. Jika pasien ini tidak dapat dideteksi sedini mungkin, mereka dapat menjadi penyebar tersembunyi.

“Jadi siapa saja yang harus dites di Korea Selatan?”  

Pertama-tama, orang yang telah mengunjungi 11 negara dengan kasus infeksi terberat seperti Italia, dan telah mengalami demam atau masalah gejala pernapasan, maka golongan ini secara alami akan dites.

Kedua, bahkan jika seseorang belum pernah ke negara di mana ada kasus infeksi, tetapi orang tersebut memiliki gejala pneumonia yang tidak dapat dijelaskan. Maka dia boleh dites.

Ketiga, bahkan jika seseorang tidak memiliki gejala dan belum pernah bepergian ke daerah atau negara berwabah, tetapi Anda hanya ingin mengujinya, Dalam hal ini Anda harus membayar sendiri. Biaya tes sekitar $130, sangat tidak murah bagi rakyat biasa. Namun, jika hasil tes positif, pemerintah akan mengembalikan biaya tes kepada pasien. Jika hasil tes negatif, paling tidak Anda telah membeli suatu ketenangan hati.

“Anda mungkin penasaran, dengan volume deteksi yang begitu besar dan rentang deteksi yang luas di Korea Selatan, bagaimana kita dapat memastikan bahwa orang yang telah dites tidak akan saling menginfeksi satu sama lain?”  

Alasan mengapa banyak negara tidak melakukan pengujian secara terbuka, selain sistem medis mungkin tidak dapat menanggungnya. Namun yang terpenting adalah bila terlalu banyak orang dikumpulkan pada pengetesan bersama, kemungkinan besar justru akan meningkatkan risiko infeksi saling menular.

Dalam hal ini, Korea Selatan juga telah mengambil langkah-langkah khusus. Setelah kasus di Daegu, Korea Selatan segera mendirikan “klinik pembeda” khusus untuk penyaringan orang yang telah dites.

Ada lebih dari 600 klinik semacam itu di seluruh Korea. Beberapa di antaranya disebut klinik “Drive thru”. Pasien dapat melakukan pengetasan dan menyelesaikan semua prosedur tanpa harus turun dari mobil.

Secara umum, hasil tes dapat diperoleh dalam waktu 6 jam. China hanya perlu 15-30 menit. Pasien tidak perlu menunggu atau mengambilnya secara langsung. Hasil tes akan dikirim ke pesan teks ponsel penguji. Langkah-langkah ini akan membantu menghindari infeksi silang yang dapat disebabkan oleh pengujian massal.

“Namun muncul pertanyaan lagi, mengapa Korea Selatan melakukan tes skala besar?”  

Dari kasus negara-negara Eropa, kita melihat sebagian besar negara telah memilih kebijakan pengujian yang relatif konservatif. Mereka berfokus hanya pada kelompok berisiko tinggi. Menurut analisa Majalah “Science” dikarenakan Korea Selatan telah belajar dari pengalaman kegagalan sebelumnya.

Pada tahun 2015, Korea Selatan pernah mengalami wabah Sindrom Pernafasan Timur Tengah atau disingkat MERS. Wabah ini telah memberikan pelajaran menyakitkan kepada pemerintah Korea Selatan.

Pada saat itu, seorang pengusaha Korea baru kembali dari bisnis trip di Timur Tengah. Pengusaha tersebut telah pergi ke tiga rumah sakit sebelum didiagnosis dan dikonfirmasi terjangkit sindrom MERS. Pada saat dia didiagnosis, telah ada 186 orang terinfeksi dan 36 orang diantaranya meninggal dunia.  

Di antara orang-orang ini adalah staf medis dan pasien lain di rumah sakit yang dia kunjungi. Pada akhirnya, wabah itu menyebabkan 17.000 orang dikarantina dan baru terkendalikan dua bulan kemudian. Oleh karenanya, pemerintah Korea Selatan mendapat kritikan sangat hebat.  

Menurut majalah Science, pelajaran itu membuat Korea Selatan menyadari betapa pentingnya melakukan tes laboratorium tepat waktu dan menyeluruh dalam mengendalikan penyakit menular yang sedang berkembang.

Selain itu, berkat pengalaman ini, Korea Selatan juga telah memperkenalkan peraturan pencegahan epidemi baru yang memungkinkan pemerintah melacak dengan cermat pasien yang terinfeksi. Misalnya, pemerintah mengumpulkan sinyal GPS dari ponsel mereka, mendapatkan data transaksi kartu kredit mereka, melihat gambar yang direkam oleh kamera cerdas, dengan informasi ini dapat memulihkan rute aktivitas sang pasien.

Belakangan ini, pemerintah Korea Selatan juga meluncurkan aplikasi seluler yang dirancang untuk melacak status kesehatan karantina di rumah, seperti Gao De aplikasi sistem navigasi dari China.

Just like grandma says, Bagaimana Korea Selatan menangani virus Corona, Selain dasar ilmiah dan pelajaran pahit di masa lalu, pemerintah Korea Selatan telah menemukan Daya kontrol dalam menghadapi ketidakpastian epidemi yang begitu besar ini.

Ps:

Dalam waktu dua bulan, pemerintah China berhasil mengendalikan wabah menular ini dan memperoleh banyak pengalaman bagaimana menangani virus Corona yang telah dibuat dalam Handbook dan dimuat dalam situs:  

covid-19.alibabacloud.com

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.