Bagaimana menang di era digital

Oleh: Ricky Suwarno

17 april 2019

Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Pesta demokrasi terbesar di setiap 5 tahun. Yang menentukan arah dan pembangunan bangsa Indonesia. Sehingga para kandidat presiden berusaha menjual visi-misinya untuk menang. Ataupun melanjutkan perjuangan ke periode berikutnya.

Demikian juga, Semakin majunya teknologi pada era globalisasi, mengharuskan setiap perusahaan untuk selalu meningkatkan kualitas produksi maupun pemasaran. Dengan tujuan memaksimalkan keuntungan. Persaingan yang semakin ketat menuntut perusahaan agar lebih memiliki inovasi. Dan untuk menang.

Jadi, saya teringat dengan Thomas Friedman, kolumnis terkenal New York Times dalam bukunya “Terima kasih atas keterlambatannya (thank you for being late). Dengan subtitlenya “bimbingan tentang bagaimana menang di era yang dipercepat.”

Saat ini ada tiga kekuatan terpenting di dunia, yang sedang mengalami akselerasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pertama, pasar, terutama globalisasi digital, seperti Facebook, Alibaba, Twitter, Amazon, Proyek Cloud dll. Diikuti oleh ekologi alam, terutama perubahan iklim. Pertumbuhan populasi di negara-negara berkembang. Dan ketiga adalah Hukum Moore. khususnya, setiap 24 bulan produk-produk teknologi Akan digantikan generasi baru. Dan ketiga-tiganya saling berpengaruh dan bekerja sama.

Sebagai contoh, sapi memiliki periode estrus yang sangat singkat. 12-18 jam per 21 hari. Dan estrus pada dasarnya di malam hari. Sehingga sulit untuk menentukan waktu inseminasi buatan sapi.

Fujitsu Jepang menemukan solusi teknologi. Dengan memasang pedometer pada sapi. Dan data pedometer diteruskan ke perangkat lunak. Penelitian Fujitsu menemukan bahwa sesuai dengan peningkatan jumlah langkah sapi per jam, periode estrus sapi dapat diprediksi. Dan tingkat akurasinya mencapai 95%. Ketika perangkat lunak memantau estrus sapi, ia akan mengirim pesan teks ke ponsel petani. Dengan perangkat lunak ini, peternak sapi perah mudah menemukan waktu sapi estrus.

Selain itu, sensor yang dipasang pada sapi juga menemukan bahwa selama periode estrus 16 jam, jika mereka diinseminasi buatan dalam 4 jam pertama, memiliki peluang 70% untuk melahirkan sapi betina. Jika dalam 4 jam kedua diinseminasi, sangat mungkin bisa melahirkan seekor sapi jantan.

Oleh karena itu, jika perlu peternak sapi perah juga dapat menentukan rasio kelahiran sapi jantan atau betina. Lagian, dengan mempelajari pola langkah kaki sapi, bisa mendeteksi delapan penyakit sapi yang berbeda sebelumnya. Dan mengobatinya tepat pada waktunya.

Melalui pengembangan teknologi, hampir semua sistem dapat dioptimalkan untuk mencapai kinerja tertinggi.

Kemajuan teknologi telah menyebabkan banyak orang khawatir tentang pengangguran. Setelah popularitasnya ATM, pekerjaan kasir bank bukannya menurun, sebaliknya justru meningkat. Ini karena ATM telah mengurangi biaya cabang bank, dan mendorong bank untuk membuka lebih banyak cabang. Dan mengimbangi pengurangan pekerjaan karena penggunaan ATM.

Pada abad ke-19, 98% pekerjaan menenun telah terotomatisasi. Dari 100% manual, menjadi 2% tenaga kerja manual. Namun, pekerjaan tekstil pabrik justru meningkat. Karena setelah otomatisasi, efisiensi kerja meningkat secara signifikan. Dan harga produk menurun. mengakibatkan peningkatan permintaan.

Demikian pula, di awal abad ke-19, banyak orang cuma memiliki satu set pakaian. Tetapi, Pada akhir abad ke-19, kebanyakan orang telah memiliki beberapa set pakaian. Jendela di kasih Tirai, dan karpet di lantai. Setelah otomatisasi tenun, justru menaikkan lebih banyak permintaan untuk kain. Sehingga permintaan meledak.

Bagaimana kita bisa menjadi pemenang dalam menghadapi kemajuan teknologi digital atau AI yang sedemikian dramatis?

Just like grandma says, kita harus menganggap diri kita sebagai produk yang “belum selesai.” Misalnya, kita harus selalu menganggap bahwa segala pekerjaan kita hanya selesai 85%. Jadi, masih ada banyak hal yang harus kita tingkatkan atau pelajari.

Selain itu, kebanyakan orang hanya berpikir mencari pekerjaan. Sebaliknya, kita harus belajar menciptakan pekerjaan. Kita harus mengubah cara bekerja sesuai dengan perubahan yang konstan, sehingga kita tidak akan ketinggalan.

Singkatnya, kita harus belajar menangguhkan sesuatu dan berhenti sejenak. Karena manusia berbeda dengan mesin. Mesin akan berhenti total setelah ditangguhkan. Tetapi, manusia akan berpikir ketika mereka berhenti. Manusia akan mulai merefleksikan asumsinya, membayangkan kembali apa yang memungkinkan. Dan menghubungkannya dengan ide-ide yang terpikir sebelumnya.

Meskipun kita menguasai banyak informasi dan pengetahuan, tetapi mereka hanya akan berguna jika kita bisa merenungkan pengetahuan. Penangguhan bukan hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga meningkatkan kemampuan kita untuk membangun kepercayaan dengan orang lain. Kita perlu membentuk koneksi yang lebih dalam, dan lebih baik. Bukannya, hanya koneksi cepat.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, bagaimana menang di era digitalTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: