Bagaimana Singapura menangani Covid-19

Bagaimana Singapura menangani Covid-19 virus Corona secara cepat dan efektif, mungkin bisa menjadi pendekatan yang bisa kita pelajari selain cara China dan Korsel. Dalam dua minggu terakhir, situasi epidemi Covid-19 di luar negeri telah berkembang sangat pesat terutama Amerika Serikat dan Negara-negara Eropa lainnya seperti Italia, Spanyol, Jerman dan Inggris. Banyak diantara negara tersebut telah meningkatkan langkah-langkah pencegahan epidemi, seperti inspeksi ke setiap rumah tangga di Iran dan lockdown kota-kota di Italia utara.

Tidaklah mudah bagi banyak negara untuk mencegah dan mengendalikan wabah seperti cara China, ataupun pendekatan cara Singapura. Banyak orang melihat cara yang diadopsi Singapura adalah “cara longgar”, karena mereka hanya melihat pemerintah Singapura menyerukan orang sehat untuk tidak memakai masker. Ataupun, tidak menutup sekolah serta komunitas masyarakat bersangkutan.

Bagaimana Singapura menangani Covid-19

Kebanyakan netizen mungkin kurang mengerti cara pemerintah Singapura mengatasi Covid-19. Pengertian cara longgar mereka hanyalah sebuah fenomena yang dangkal. Sebaliknya, pemerintah Singapura sebenarnya menggunakan pencegahan epidemi “tangan besi”.

Kasus pertama Singapura ditemukan pada 23 Januari. Pada 1 Maret, tercatat 106 kasus dikonfirmasi, 74 kasus disembuhkan. Angka kesembuhannya mencapai 70%. Dengan jumlah kematian Nol. Memasuki pertengahan Februari, Singapura berhasil mengendalikan kurang dari 5 kasus baru per hari. Tingkat penyembuhan jauh lebih tinggi daripada tingkat kasus baru yang didiagnosis. Langkah-langkah pencegahan epidemi Singapura telah bekerja dengan baik pada awalnya.

Majalah “Fortune” AS khusus melaporkan langkah-langkah pencegahan epidemi Singapura sangatlah ekstrim. Bahkan, Fortune menggunakan kata “agresif” dan “secara konsisten memaksa” atas pendekatan yang digunakan oleh Singapura.

Mengapa Demikian?

Pertama, langkah-langkah pencegahan epidemi Singapura dimulai sangat awal. Pemerintah langsung mengambil tindakan begitu epidemi muncul.

Menurut informasi yang dipublikasikan di situs web Kementerian Kesehatan Singapura, tindakan pengendalian Singapura telah dimulai sejak tanggal 2 Januari.  Pada saat itu, Departemen Kesehatan mengeluarkan pemberitahuan mewajibkan semua rumah sakit memperhatikan pasien yang dicurigai berkemungkinan terinfeksi virus Covid-19.

Setiap pasien dengan riwayat perjalanan ke Wuhan dalam waktu 14 hari terakhir harus diisolasi. Mulai 3 Januari, Bandara Changi mulai memonitor setiap suhu badan penumpang dari Wuhan. Pada tanggal 4 Januari, kasus tercatat yang dicurigai diumumkan di situs web Kementerian Kesehatan Singapura. Saat itu hampir 20 hari sebelum kasus terinfeksi pertama kali ditemukan di Singapura.

Selain itu, Singapura adalah salah satu negara paling awal mengeluarkan pembatasan perjalanan Masa epidemi. Mulai tanggal 28 Januari, pemerintah Singapura mengharuskan orang-orang yang pernah berkunjung ke Wuhan mengkarantinakan diri dirumah dalam waktu 14 hari keatas. Kemudian, pada tanggal 29 Januari Singapura menutup perbatasan khusus pengunjung dari Wuhan. Langkah-langkah pencegahan epidemi terus ditingkatkan. Termasuk Langkah-langkah seperti mewajibkan para karyawan untuk ambil cuti atau liburan tanpa gaji, maupun penangguhan kegiatan berskala besar.

Pemerintah Singapura mengumumkan bahwa tindakan karantina memiliki efek hukum. Barangsiapa yang melanggarnya akan menghadapi hukuman berat. Sebagai contoh, seorang penduduk yang memiliki sejarah bepergian ke Wuhan tidak mengikuti aturan untuk  karantina di rumah.

Ketika ia kembali ke Singapura, ia ditemukan oleh pejabat pemerintah Singapura selama inspeksi di bandara. Orang ini sangat tidak kooperatif. Akhirnya, pemerintah Singapura memaksanya meninggalkan Singapura. Ketika orang ini mengajukan permohonan untuk masuk kembali, pemerintah Singapura tidak hanya menolaknya, tetapi juga mencabut status penduduk tetapnya atau Greencard.

Tentu saja, peraturan ini dapat diadopsi oleh negara mana pun. Tetapi seperti halnya hukum apa pun, kesulitannya tidak terletak pada ketegasan regulasi itu sendiri. Kesulitan sebenarnya terletak pada implementasi secara spesifik dan riil. Salah satu prasyarat dapat diterapkannya UU dan peraturan Singapura adalah pemantauan dan pengawasan terus menerus terhadap penduduk Singapura.

Pemerintah Singapura memiliki kemampuan yang kuat untuk mengumpulkan dan mengendalikan arus informasi warganya. Bagi warga yang memiliki riwayat epidemiologi, pemerintah dapat terus melacak lokasi, status kesehatan, dan kontak warga tersebut dengan orang disekitarnya.

Majalah Fortune juga mengutip studi Harvard yang memperkirakan kemampuan  memonitor kasus input di 194 wilayah selain China. Studi Harvard memperkirakan  kemampuan pemantauan di wilayah ini hanya dapat mencapai 40% dari kapasitas Singapura.  

“Apa resep Singapura?”

Mengandalkan kemampuan organisasi yang sangat kuat.

Pada akhir bulan Januari, Pemerintah Singapura membentuk sebuah kelompok pelacakan kontak yang terdiri dari 140 orang pengawas. Tujuan dari Organisasi ini adalah menemukan orang-orang yang pernah “kontak dekat” dengan pasien. Definisi kontak dekat adalah “dalam jarak 2 meter dari orang yang terinfeksi, dan tetap bersama selama lebih dari 30 menit.”  

Selain itu, pemerintah juga mengerahkan banyak organisasi dan departemen untuk bekerja bersama. Misalnya, maskapai penerbangan diharuskan berbagi daftar nama penerbangan penumpang. Departemen transportasi harus menyediakan layar monitor, dan bahkan polisi harus mampu berinvestigasi dan menyelidiki jalan-jalan termasuk daerah perumahan.

Kemampuan pelacakan ini sebenarnya berasal dari sebagian besar pengalaman historis di masa lalu. Singapura pernah berdampak parah selama wabah SARS dan H1N1. Ada 33 kematian di Singapura selama SARS. Dan tercatat 400.000 orang terinfeksi selama H1N1.

Setelah pengalaman ini, Singapura secara bertahap membentuk sistem pencegahan dan pengontrolan yang matang. Ini adalah kondisi dasar agar langkah-langkah pencegahan epidemi Singapura dapat berjalan efektif.

Pemerintah Singapura dapat memastikan sumber daya medis yang memadai selama pandemi Covid-19 merajalela. Karena dari data saat ini menunjukkan ada perbedaan sangat besar dalam tingkat kematian akibat virus Corona, yaitu apakah ada sumber daya medis yang memadai dan sumber daya medis yang berkekurangan.

Sebenarnya, pasien pneumonia dengan dampak positif Covid-19 memiliki tiga tingkat kematian. Pertama, kematian di bawah perawatan yang memadai, diperkirakan kurang dari 1%. Kedua, keterlambatan pasien yang dapat dirawat di rumah sakit. Tingkat kematian dalam perawatan ini sekitar 4%. Ketiga, tingkat kematian pasien yang tidak dapat dirawat.  Tingkat kematian ini sulit diketahui, dan tentu saja sangat tidak optimis.  

Oleh karena itu, memastikan sumber daya medis yang memadai merupakan kondisi terpenting untuk efektivitas tindakan pencegahan epidemi. Dari titik ini, kita dapat melihat bagaimana Singapura menangani Covid-19 dan mengapa fenomena ini terlihat sebagai pengendalian yang longgar menurut para netizens.

Singapura tidak menyarankan orang biasa memakai masker. Namun, lebih menekankan persediaan masker seperti N95 diutamakan kepada penggunaan staf medis. Salah satu pertimbangannya, bahwa memakai Masker adalah pemborosan dalam kasus tingkat infeksi yang rendah di Singapura. Masker atau Alat Pelindung Diri (APD) hanya diutamakan bagi  Staf medis untuk menjamin sistem medis dapat beroperasi secara normal.

Tentu saja, investasi Singapura dalam sumber daya medis jauh melampaui Masker. Pemerintah Singapura juga melakukan hal yang sangat penting, yaitu mengembangkan pereaksi uji. Di awal bulan Februari, Singapura telah mengembangkan 15.000 kit Test.  5.000 unit diantaranya untuk penggunaan Domestik. Sedangkan, sisa 10.000 disumbangkan ke Wuhan.  

Persediaan Pereaksi yang memadai dapat digunakan untuk memonitor pasien yang dicurigai terinfeksi pertama kalinya, yang juga merupakan salah satu tautan paling penting dalam sistem pelacakan dan pengendalian.

Baru-baru ini, Singapura juga telah mengadopsi langkah deteksi baru, yang dikembangkan bersama Universitas Duke Amerika Serikat dan Universitas Nasional Singapura. Pengembangan ini dapat mendeteksi apakah seseorang memiliki antibodi terhadap virus Corona.  

Bagaimana Singapura menangani Covid-19
Bagaimana Singapura menangani Covid-19 (Image: CNN)

Dengan kata lain, sebagian warga mungkin telah terinfeksi virus sebelumnya. Tetapi mereka telah sembuh sendiri karena tidak ada cara untuk menguji sebelumnya. Metode baru ini dapat menyelesaikan masalah ini dan meningkatkan pelacakan kasus lebih jauh.

Karena akumulasi pengalaman pencegahan epidemi di masa lalu, pemerintah Singapura juga memiliki seperangkat sumber daya medis untuk pelacakan secara detail “sistem diagnosis demam.”

Singapura memiliki lebih dari 873 klinik persiapan kesehatan masyarakat.Bagi negara dengan populasi kurang dari 6 juta, jumlah ini sangatlah tinggi. Sebagai perbandingan, jumlah klinik demam di Beijing sekitar 100, sekitar seperdelapan dari Singapura.

Setiap klinik Singapura sangatlah kecil. Tetapi tujuannya bukan untuk mengobati, melainkan untuk memastikan pasien yang dicurigai dapat ditemukan dan dilaporkan pada saat pertama. Biaya klinik tersebut sangat rendah. Tujuannya untuk mendorong warga melakukan pengecekan secara tepat waktu.

Just like grandma says,  bagaimana Singapura menangani Covid-19 bukan hanya pencegahan dini yang ketat, tetapi juga persiapan sumber daya Medis sejak awal. Ini adalah alasan mengapa langkah-langkah pencegahan epidemi Singapura sangat efektif.

Negara-negara lain belum tentu cocok meniru cara Singapura, mereka juga tidak mampu menirunya. Namun, gagasan memprioritaskan dan memastikan sumber daya medis yang memadai untuk pencegahan epidemi patut dipelajari.

2 thoughts on “Bagaimana Singapura menangani Covid-19

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: