Bahaya dan risiko Libra

Bahaya dan risiko Libra mata uang digital Facebook yang tersembunyi, telah menjadi pusat perhatian Kongress AS dan bank sentral masing-masing negara. Para senator AS khawatir jika Libra berhasil diluncurkan, asosiasi pendiri Libra akan memainkan peran bank sentral Libra yang menumbangkan The Federal, Bank Sentralnya Amerika. Nantinya, Libra dapat berkembang menjadi sektor Dana Swasta Moneter Internasional. Dan karena Libra diikatkan dengan ekonomi swasta dan Ekonomi massal dengan 2.7 Miliar pengguna, sehingga kedalaman serta luas pengaruhnya akan jauh melebihi Organisasi Dana Moneter Internasional maupun Supremasi Dolar Amerika.

Jika suatu institusi memiliki kemampuan mempengaruhi pengaturan nilai tukar mata uang Dunia, tetapi tidak memikul tanggung jawab sama sekali, itu adalah bencana yang sangat mengerikan.

Bahaya dan risiko Libra

Bagi sistem moneter internasional, lembaga yang mengatur dan mengkoordinir mekanisme pertukaran mata uang masing-masing negara haruslah suatu organisasi yang kredibel dan netral. Jika tidak, dia akan menjadi alat perang finansial.

Libra secara alami akan mengancam mata uang antar negara. Terutama mengancam kebijakan moneter bank sentral dan kebijakan nilai tukar di Dunia. Misalnya Rupiah Indonesia. Libra pasti akan mengikis status Rupiah atau Mata Uang negara apapun.

Bayangkan jika Bank Indonesia menyetujui pertukaran Libra dengan Rupiah, pasti akan memicu konversi besar-besaran Rp ke Libra. Yang nantinya akan mengarah pada depresiasi Rupiah. Apabila Rupiah mengalami devaluasi, akan menyebabkan semakin banyak orang untuk menukar Libra. Semakin banyak orang Indonesia bertukar Libra, semakin Libra akan meningkatkan tekanan penyusutan terhadap nilai Rupiah yang selama ini sudah cukup menderita. Dan kemudian menjadi lingkaran setan bagi Rupiah kita.

Tentu saja, masalah yang dibawa Libra tidak terbatas pada hal ini. Bahaya dan risiko Libra yang tersembunyi dan sangat besar adalah transaksi melalui Libra. Dimana tanggung jawab anti pencucian uang dan pembiayaan anti-terorisme sangat tidak jelas.

Misalnya, lihat saja sidang Libra di Kongres AS beberapa hari ini. Departemen Keuangan dan Kongres AS paling cemas tentang masalah aliran Dana. Ke mana uang tersebut akan mengalir? Apakah mengalir ke negara musuh? Umpamanya, ke Iran? Atau transfer ke Korea Utara?  

Pencucian uang atau money laundry, penggelapan pajak, dan pendanaan teroris merupakan masalah yang paling mengkhawatirkan AS. Inilah Bahaya dan risiko Libra. Dan cara penanganan Libra sangat lemah di bidang-bidang ini.

Sebenarnya, aset terenkripsi telah lama menjadi salah satu persentase terbesar dari pengiriman uang lintas batas. Sebuah perusahaan blockchain bernama Clovr, pada tahun 2018 melakukan survei “Pengiriman Uang Pulang kampung”. Survei menunjukkan pengiriman lintas batas lewat Bitcoin dan Ethereum sudah menyumbang 15% dari pangsa pasar. Artinya, 15% dari pelarian modal tercapai dengan mengenkripsi aset dan tidak terdeteksi.

Yang lebih mengkhawatirkan, banyak transaksi dark-net, transaksi pasar gelap, transaksi perdagangan manusia, narkoba, senjata, dan sebagainya pada dasarnya menggunakan bitcoin dan aset crypto lainnya.

Misalnya, kasus yang pernah terjadi di Tiongkok. Ada seorang profesor di Wuhan, kota terpadat di bagian Tengah Tiongkok. Seperti Serial TV “Breaking Bad”, Professor itu  membuat Narkoba. Yang bernama “Acaxetin.” Dan khusus dijual ke luar negeri dengan menggunakan Aset terenkripsi Bitcoin sebagai transaksi pembayaran.

Jadi jika BI mengijinkan Libra beroperasi di Indonesia, Ada kemungkinan sangat besar kotak pandora kegiatan ekonomi bawah tanah ini akan sepenuhnya terbuka. Inilah sebabnya mengapa dari perspektif manajemen modal, banyak bank sentral negara-negara di dunia seperti Tiongkok, Rusia dan Eropa tentu tidak akan memperbolehkan Libra untuk beroperasi di negaranya.  

Pada saat ICO dan Bitcoin saking memanasnya di tahun 2017, tujuh kementerian Tiongkok secara bersamaan menindak tegas ICO dan Bitcoin. Alasan utamanya untuk menghindari masalah penggalangan dana secara ilegal, penipuan keuangan dan MLM. Namun, alasan yang lebih dalam adalah  mencegah penggunaan ICO dan aset kriptografi terkait untuk pelarian modal dan pencucian uang, serta penyediaan saluran pembayaran untuk transaksi bawah tanah.

Jadi bagaimana Facebook menanggapi Masalah pembiayaan anti Money Laundry dan anti-terorisme yang sangat diperhatikan Kongres AS?  Facebook menghindari tanggung jawab ini dan melemparkannya kepada institusi dan pengguna yang berpartisipasi di dalam Libra.

Facebook menggunakan “arsitektur hybrid”, dibawahnya adalah struktur sentralisasi. Hanya lapisan teratas menggunakan blockchain. Cara Operasi Libra sama dengan teknologinya, yakni pengaturan dua tingkat. Lapisan teratas adalah Asosiasi Libra plus simpul verifikasi. Sedangkan, lapisan bawahnya adalah peran khusus dari para dealer – dealer Libra.

Dalam hal operasi, Libra tidak menjual langsung ke publik. Sebaliknya, melisensikan peran khusus ini kepada dealer atau para agen. Asosiasi menjual Libra ke Agen, yang kemudian menjual Libra kepada publik.

Tentu saja, cara ini sebenarnya dibalikkan. Para Agen akan mengumpulkan uang dari publik dan kemudian membeli Libra. Tindakan para Agen membeli Libra inilah yang baru akan dibukukan di bagian atas node blockchain. Inilah yang dimaksud dengan teknologi dua tingkat dan sistem operasinya. Inilah cara Facebook menghindari tanggungjawab dari  pengawasan pemerintah AS.

Dengan cara ini, para agen akan harus bertanggungjawab atas pembiayaan anti pencucian uang dan anti terorisme, termasuk para penggunanya. Bila ada masalah, otoritas hanya akan mencari dealer untuk bertanggungjawab, karena informasi pengguna berada di tangan para agen.  

Libra menggunakan Rantai lisensi untuk bertransisi ke Rantai Publik dalam lima tahun. Perbedaan antara rantai publik dan rantai lisensi adalah Rantai Publik benar-benar terbuka, sedangkan Rantai Lisensi baru bisa masuk setelah mendapat ijin lisensi.

Setelah Mata Uang digital Libra masuk ke rantai publik, Libra akan terlepas dari segala  tanggung jawab. Libra bisa mengabaikan tanggungjawabnya secara total. Karena Pencucian uang tidak akan ada hubungan sedikitpun dengan Libra. Karena dalam Rantai publik, Libra tidak tahu siapa penggunanya. Ini setara dengan semua tanggungjawab terhadap anti pencucian uang dan pembiayaan anti-terorisme tidak ada hubungannya dengan Facebook.

Jadi walaupun di dalam persidangan dengan para Kongres AS, Mark mengatakan Facebook bersedia menerima pengawasan, tetapi sebenarnya beberapa pengaturan cara-cara diatas membuat Facebook akan terlepas dari segala tanggung jawabnya.

Bisakah Libra melindungi privasi pengguna

Asosiasi Libra terdaftar di Jenewa, dan hanya terikat oleh hukum Swiss. Tetapi, Swiss bukan anggota Uni Eropa. Artinya, Swiss tidak tunduk pada hukum Uni Eropa yang terkait dengan perlindungan data dan perlindungan privasi “Data umum” yang sangat ketat itu. Sehingga, Ordonansi Perlindungan privasi pengguna tidak akan terlindungi. Sebaliknya, para agen operasi seperti Calibra dan Facebook termasuk 28 lembaga anggota Libra berada di Amerika Serikat. Yang artinya mereka diatur oleh hukum AS.

Perbedaan antara sistem hukum di atas, akan menyebabkan apa yang akan terjadi?

Misalnya, jika sesuatu hal lebih mudah dilakukan di AS dan standar regulasinya lebih rendah, maka LIbra akan meletakannya di AS. Sebaliknya, Jika masalah ini lebih nyaman di Swiss, karena standar hukum Swiss lebih rendah, maka Libra akan meletakkannya di Swiss. Ini namanya “arbitrase pengaturan” yang kita kenal.

Berbicara tentang perlindungan data privasi, Libra mengadopsi mekanisme nama samaran Anonimitas. Yang berarti beberapa alamat dapat didaftarkan dengan nama pengguna yang sama. Pengguna dapat menerapkan mekanisme nama samaran untuk mendaftar beberapa alamat sekalian.

Namun, Apakah mekanisme nama samaran ini benar-benar dapat melindungi privasi pengguna?  

Bahaya dan risiko Libra
Bahaya dan risiko Libra terhadap kedaulatan Mata Uang Rupiah akan tak terbayangkan bila setujui beredar di Indonesia

Para pengguna Libra sebenarnya akan tumpang tindih. Pengguna Libra mungkin juga  pengguna Facebook, WhatsApp, Instagram serta pengguna dari 28 organisasinya. Ketika para pengguna mendaftar Libra, mereka pada dasarnya harus terdaftar dengan nama asli. Karena mereka harus mengikat dengan alat pembayaran tradisional atau alamat email terdaftar. Sehingga, pada akhirnya lewat penambangan Big Data Otoritas dapat dengan mudah mengetahui siapa dibelakang anonimitas ini.

Tentu saja, Facebook akan bilang Anda tidak perlu khawatir. Facebook tidak akan mengambil data dari Libra. Paling-paling, Facebook hanya menggunakannya untuk kepentingan iklan saja. Namun, mereka tidak mengatakan bahwa data Facebook tidak akan digunakan oleh Libra. Artinya, Facebook mungkin akan menyerahkan data penggunanya kepada Libra. Jika Facebook menyediakan data pengguna ke Calibra, itu berarti setelah dua data digabungkan, Otoritas juga akan segera mengetahui identitas asli pengguna Libra.

Oleh karena itu, mekanisme nama samaran Libra sama sekali tidak benar-benar anonim. Apalagi, Libra akan beralih dari rantai lisensi ke rantai publik, dimana informasi tentang rantai tersebut akan sepenuhnya terbuka.

Just like grandma says, pada serangkaian masalah Bahaya dan risiko Libra, ancamannya terhadap sistem moneter Indonesia dan internasional, ancaman terhadap kedaulatan mata uang Rupiah, saluran pembayaran terbuka untuk pencucian uang, pelarian modal, transaksi bawah tanah, Serta masalah privasi data merupakan masalah serius yang harus dihadapi BI dan otoritas moneter masing-masing negara.

Advertisements
Categories: Bahaya dan risiko Libra

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: