Bahaya tersembunyi Starlink

Bahaya tersembunyi Starlink mulai menjadi perhatian lagi Pada tanggal 22 Oktober lalu. Ketika Elon Musk pendiri Starlink, suatu proyek satelit internet SpaceX khusus mengirim tweeter pertamanya menggunakan Starlink, dan berkata, “Whoa, It worked!” Wow..akhirnya berhasil.

Suatu teknologi baru pasti akan menghadapi serangkaian tantangan tak terduga ketika menuju penggunaan komersial skala besar. Ini karena munculnya teknologi baru yang disruptif akan mengubah kompleksitas seluruh sistem yang ada.

Bahaya tersembunyi Starlink

Beberapa hari ini saya berbicara dengan beberapa teman baru yang bergerak dibidang Dirgantara dan teknologi satelit tentang perkembangan terbaru di lingkaran teman mereka. Seiring dengan kematangan teknologi satelit komersial, “Eksternalitas Negatif” adalah masalah Utama yang muncul di bidang dirgantara. Masalah ini menyebabkan beberapa negara seperti AS, Tiongkok, Rusia dan UE dan bahkan perusahaan satelit komersial harus memikirkan kembali dan mempercepat investasi maupun tata letak satelit komersial.

Eksternalitas negatif adalah konsep ekonomi. Yang mengacu pada perilaku seseorang atau bisnis. Dan membawa dampak serta biaya tambahan kepada orang lain.  

Starlink merupakan sistem jaringan luar angkasa menggunakan 42.000 satelit untuk menyediakan internet akses secara global. Seperti WIFI Raksasa yang bisa mencakup segala penjuru dunia. Bayangkan, jumlah total satelit yang telah diluncurkan dalam sejarah manusia sampai detik ini sebanyak 9.000 satelit. Dengan kata lain, jumlah satelit yang akan diluncurkan oleh Starlink nantinya hampir lima kali lipat dari yang telah ada. Potensi Bahaya tersembunyi Starlink bagi pengembangan Bidang Dirgantara Dunia.

Pada bulan Mei tahun ini, 60 satelit Starlink sudah berhasil diluncurkan. Tweeter Elon Musk diatas dikirim melalui jaringan satelit Starlinknya. Begitu berita ini keluar, para penggemar Elon Musk termasuk saya dan teknologi di seluruh dunia sangat bersemangat.

Sayangnya, bukan semua orang bisa ikut gembira dengan prestasi Elon Musk. American Astronomical Society (AAS) menyatakan ketidakpuasan dan pernyataan serius bahwa proyek Starlink akan mencemari pengamatan astronomi Dunia.

AAS merasa prihatin bahwa rasi bintang satelit yang sangat besar akan dikerahkan ke orbit Bumi yang rendah. Dalam beberapa tahun ke depan, satelit-satelit ini akan membawa  dampak buruk signifikan pada astronomi. Efek ini termasuk pantulan satelit. Atau cahaya yang dipancarkan oleh bintang atau satelit akan mengganggu pengamatan optik dan inframerah dekat Astronomi. Radiasi elektromagnetik dalam pita komunikasi satelit akan mempengaruhi pengamatan astronomi radio. Atau satelit-satelit yang saling bertabrakan dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble.

Bagaimana cara mengatasi masalah ini?  

Tidak ada solusi yang baik. Para Astronomi hanya bisa menunggu sampai satelit berubah arah baru bisa mengamati lagi. Atau mengirim teleskop ke tempat yang lebih jauh seperti ke bulan untuk menghindari gangguan. Tapi yang jelas, langkah-langkah ini akan meningkatkan biaya pengamatan astronomi. Inilah yang dinamakan masalah “eksternalitas negatif” diatas.

Sampai saat ini hanya 60 satelit Starlink yang diluncurkan. Jika 42.000 satelit diluncurkan semua ke ruang angkasa, betapa besar dampak dan halangan pengamatan bagi Astronom. Masalah lainnya adalah sampah luar angkasa.

Menurut statistik, berat total sampah yang saat ini mengambang di ruang angkasa setidaknya melebihi 4.500 ton. Total jumlah lebih dari 100 juta lapis. Di antara mereka, satelit yang telah kadaluwarsa melampaui 90%.

Begitu sampah antariksa ini terproduksi, akan membawa dampak yang sangat merepotkan. Mereka tidak dapat diposisikan secara akurat, melayang cepat, dan mengambang ratusan atau bahkan ribuan tahun di ruang angkasa. Bahkan sepotong kecil sampah antariksa dapat menyebabkan kerusakan besar. Misalnya, sampah seberat 10g, jika langsung menabrak satelit, daya tabrakan setara dengan satu proyektil penusuk baja.

Pernah suatu saat, Starlink terjadi tabrakan. Satelit Starlink menyimpang dari orbit. Mendekati satelit penginderaan jarak jauh “Aeolus” dari Badan Antariksa Uni Eropa. Ini memaksa ESA melakukan penghindaran. Jangan mengira tindakan mengelak itu tidak ada apa-apanya. Atau masalah kecil. Tindakan yang tidak terencana ini akan mengurangi usia satelit. Karena bahan bakar yang dibawa oleh satelit sangat terbatas.

Ruang angkasa memang sangat besar. Tetapi di bawah kendala biaya, jalur praktis Orbit satelit sangat terbatas. Hampir semua satelit memadati trek ini. Dan kepadatannya jauh dari yang kita bayangkan. Misalnya, dalam orbit ruang angkasa yang paling ramai yaitu orbit geosinkron. Orbit yang mempunyai rotasi yang sama dengan Rotasi Bumi. Sehari memiliki 23.94 jam. Jumlah satelit dalam antrian ini melebihi 2.600 satelit. Namun, Kapasitas maksimum orbit ini hanya bisa menampung 200 satelit.

Elon Musk tidak mengungkapkan informasi orbit terperinci dari setiap satelit Starlinknya. Sehingga organisasi lain yang juga beroperasi di ruang angkasa hanya dapat mengandalkan jaringan peringatan dini mereka sendiri untuk observasi dan pencegahan tabrakan. Dengan kata lain, biaya bagian ini tidak ditanggung oleh Starlink, melainkan oleh pemain lain sendiri. Ini adalah masalah “eksternalitas negatif” atau Bahaya tersembunyi Starlink kedua yang diakibatkan oleh Program ini.

Selain itu, peluncuran Startlink juga membawa banyak Dampak “eksklusivitas” bagi industri dirgantara. Maksudnya, trek luar angkasa yang sangat padat dan merupakan sumber daya yang langka.

Jika perusahaan satelit ingin jaringan mereka mencakupi seluruh permukaan Bumi, mereka perlu berhati-hati merancang lokasi masing-masing satelit untuk menyeimbangkan biaya dan kinerja. Solusi paling ekonomis, paling tidak membutuhkan 24 satelit untuk mencakup jaringan seluruh dunia. Namun, jika Anda adalah latecomer yang tidak menempati posisi paling ideal, Anda mungkin perlu mengerahkan lebih banyak satelit dengan pengaturan yang lebih rumit. Yang tentu saja akan meningkatkan lebih banyak biaya. Ini adalah lapisan “eksternalitas negatif” yang dibawakan oleh Program Starlink juga.

Teman Dirgantara ini mengusulkan cara terbaik untuk menghadapi “eksternalitas negatif” bukanlah dengan memblokir. Melainkan, bisa menggunakan ide-ide pembangunan untuk menyelesaikan masalah pengembangan ini.

Misalnya, sampah Ruang angkasa yang semakin banyak bisa dikelola dengan cara yang sama seperti sampah di Bumi. Ada Organisasi internasional khusus menciptakan beberapa area di ruang angkasa namanya “pemakaman satelit”. Para Satelit Tua dapat menggunakan bahan bakar tersisa mereka untuk mendorong diri mereka sendiri ke area pemakaman, saat mereka mendekati masa pensiun.

Bahaya tersembunyi Starlink
Bahaya tersembunyi Starlink dengan 42.000 satelit Luar Angkasanya

Badan Antariksa Eropa juga menerbitkan laporan setiap tahun. Khusus mengenali satelit yang pensiun tepat waktu dan memasuki “pemakaman satelit”. Bagi satelit-satelit yang gagal memasuki kuburan atau bahkan tidak mencoba memasuki daerah kuburan, mereka akan melakukan “pemberitahuan kritik.” Dalam laporan 2017, satelit Rusia dan Jepang “diberikan peringatan dan dikritik” karena kegagalan memasuki tempat pemakaman pensiun mereka.

Solusi lainnya, NASA mengembangkan semacam “layar angkasa” yang dapat mengantongi sampah luar angkasa seperti kantong kain. Sebuah perusahaan Dealer senjata AS bernama Novo, meluncurkan robot pemeliharaan orbital pertama di dunia. Yang dapat dilampirkan ke satelit ruang angkasa untuk memelihara satelit dan memperpanjang masa kerjanya. Di masa depan, satelit yang “tidak dapat mengurus diri sendiri”, robot ini dapat mendorong satelit Tua ke area “pemakaman satelit”. Memastikan bahwa satelit tersebut dapat pensiun tepat waktu.

Memperbaiki dan menjamin keteraturan satelit Luar Angkasa merupakan bisnis baru. Ini berkat pemikiran “Ide pengembangan” untuk memecahkan masalah perkembangan. Bukannya memblokir.

Just like grandmas says, kemunculan setiap teknologi baru akan mengubah kompleksitas suatu sistem. Seperti mengubah alokasi sumber daya, pola persaingan, biaya marjinal dan sebagainya. Demikian juga, dalam menghadapi gelombang blockchain dan persaingan Mata Uang Digital Libra temasuk dampaknya terhadap mata Uang antar negara di Masa depan. Ada baiknya kita berpikir jauh didepan bagaimana mengatasi masalah eksternalitas negatif yang mungkin muncul di kemudian hari.

Advertisements
Categories: Bahaya tersembunyi Starlink

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: