Berapa harga privasi Anda

Berapa harga privasi Anda jika Facebook menggunakan informasi pribadi seperti menandai (tag) foto Anda tanpa ijin. Kira-kira berapa banyak kompensasi yang harus Anda dapatkan?  Atau, kapan pengontrolan dan kepemilikan data dapat benar-benar menjadi milik kita?   

Setiap kali Facebook terlibat dalam skandal privasi pengguna, Facebook telah terbiasa dengan prosedur manual dalam mengatasi skandal. Misalnya, dari Proses perlakuan umum: Mark Zuckerberg akan keluar untuk meminta maaf dan smenggunakan kata berulang ribuan kali, seperti “Ini adalah suatu Kesalahan besar, atau Kita tahu kita dapat melakukan yang lebih baik untuk pengguna” dan sejenisnya. Namun, saat ini hal telah berubah.

Berapa harga privasi Anda

Baru-baru ini, Facebook terpaksa mencapai perdamaian dan penyelesaian gugatan Aksi kelas dengan para penggunanya. Gugatan tersebut menuduh “Facebook menggunakan alat penandaan foto untuk mengumpulkan informasi wajah foto dan profil pengguna tanpa izin.” 

Akibatnya, Facebook mengajukan penyelesaian dengan kompensasi US $550 juta. Anggota gugatan aksi kelas dapat menerima kompensasi mulai dari $ 150 hingga $ 300 per orang.  Ini adalah jumlah penyelesaian terbesar tindakan aksi kelas terkait masalah privasi yang pernah ada dalam sejarah manusia. 

Jika Facebook tidak mengajukan penyelesaian, sesuai dengan hukum setempat, Facebook harus mengganti rugi setiap anggota aksi kelas sekitar 1.000 dan 5.000 dolar per orang. Haluan dari jejaring media sosial terbesar di dunia menandakan karena pengumpulan informasi pribadi seperti wajah pengguna, Facebook mungkin tidak hanya harus menyiapkan seperangkat kata-kata hubungan masyarakat yang lebih hebat, tetapi juga harus mulai berpikir tentang membayar kompensasi kepada pengguna. Atau paling tidak mengingatkan Facebook, data pengguna harus digunakan lebih terstandarisasi.

Insiden ini juga memicu opini publik yang tersebar luas. Apakah data pengguna yang berbeda menghasilkan nilai yang berbeda? Bagaimana menyeimbangkan kepentingan antara tiga pihak dari pemerintah, perusahaan dan pengguna dalam mencapai mekanisme perlindungan keseimbangan privasi? 

Butuh waktu lebih dari 5 tahun untuk membuat Facebook tunduk kepala sambil membawa inisiatif ke penyelesaian. Namun, kali ini yang beruntung hanyalah pengguna di Negara Bagian Illinois.

Gugatan terhadap Facebook dimulai pada 2015. Selama bertahun-tahun, Facebook telah membujuk para pengguna untuk menandai orang atau teman di foto yang mereka unggah. Sehingga, Facebook dapat menyimpan informasi pengguna yang ditandai, termasuk membuat tautan ke profil orang tersebut. Dengan demikian, Facebook dapat menggenggam erat 2.7 Miliar Data profile semua pengguna di dunia.

Fungsi ini pada awalnya tidak begitu menarik banyak kontroversi. Sampai suatu hari 3 pengguna Facebook merefleksikan bahwa alamat rumah dan informasi privadi lainnya, juga dimasukkan ke dalam fungsi pengenalan gambar Facebook secara illegal. Kebetulan Ketiga pengguna ini berasal dari tempat yang sama, Illinois. Jadi, mereka melakukan gugatan bersama.

Memang Sulit bagi pengguna biasa untuk memenangkan gugatan terhadap perusahaan teknologi raksasa seperti Facebook. Ini ditakdirkan menjadi perang yang memakan waktu dan biaya mahal. Alasan gugatan tersebut dapat dimenangkan oleh pengguna Illinois, faktor terbesar adalah adanya hukum yang relevan di sana, Hukum “Biometric Information Privacy Act.”   Atau UU Privasi Informasi Biometrik.  

Masalah seperti kebocoran privasi dan penggunaan data yang tidak benar memang sering membuat Facebook menjadi tuntutan hukum.

UU tersebut menetapkan jika gambar atau sidik jari pengguna digunakan tanpa izin, perusahaan dapat didenda $ 1.000 hingga $ 5.000 setiap kali. Di Amerika Serikat, ada dua negara bagian lain dengan UU yang serupa. Tetapi individu tidak diizinkan untuk mengajukan tuntutan hukum. Sebaliknya, mereka dapat mendelegasikan kekuatan penegakan hukum kepada jaksa agung mereka. Tetapi sayangnya, para jaksa agung ini tampaknya tidak dapat berbuat banyak. 

Karena untuk dapat berbuat banyak, Ada “harganya.”

Kepala organisasi asosiasi bisnis setempat pernah mengkritik hukum Illinois “menempatkan litigasi di atas inovasi.” Sehingga, dalam Menghadapi UU Illinois, banyak perusahaan teknologi memilih untuk mundur seperti Sony. Sony menolak untuk menjual anjing robot ” Aibo ” kepada penduduk Illinois karena fungsi Utama robot didasarkan pada teknologi pengenalan wajah atau Facial Recognition.   

Di negara bagian lain di Amerika Serikat, tidak ada hukum yang serupa. Oleh karena itu, dalam gugatan yang serupa dengan “tuduhan bahwa perusahaan Internet memperoleh informasi pribadi pengguna dari email dan memantau kebiasaan menjelajah internet mereka,” para pengguna biasanya tidak memiliki peluang untuk menang.

Meskipun Facebook telah tunduk kepala dan membayar kompensasi pengguna $ 150-300 per orang, masih banyak orang yang tidak puas dengan jumlah ini. Pertanyaanya, berapa nilai data masing-masing pengguna selayaknya? Data pengguna bagaimana lebih berharga? Berapa harga privasi Anda?

Saat ini, kita memasuki jaman AI atau Kecerdasan Buatan dimana bangkitnya banyak perusahaan dan perkembangan selanjutnya sangat tergantung pada data. Berdasarkan data pengguna, mereka baru dapat membuat keputusan bisnis yang lebih terinformasi. Selain itu, dengan mengandalkan akumulasi data pengguna, perusahaan teknologi ini baru dapat terus menunjukkan kepada investor apa yang telah mereka capai dan potensi pengembangan di masa depan.  

Data pengguna ini dapat mencakup riwayat penelusuran browser, kebiasaan pengoperasian aplikasi, informasi identitas pribadi, Foto pada ponsel, geolokasi, dan bahkan informasi suara.  

Namun, dengan “kebangkitan” kesadaran perlindungan privasi pengguna, selain memperhatikan bagaimana perusahaan teknologi menggunakan dan mengelola data, pertanyaan lain juga mulai menimbulkan diskusi. Apakah perusahaan yang mendapatkan manfaat dari berbagi data pengguna harus berbagi keuntungan dengan pengguna? Berapa nilai data konsumen? Berapa harga Privasi Anda?

Sebuah laporan dari  Quartz menunjukkan, meskipun konsumen tampaknya menggunakan fungsi dan layanan Aplikasi tertentu secara gratis, pada kenyataannya, pengguna sendiri harus “membayar” dengan memberikan perusahaan-perusahaan seperti Facebook sejumlah besar informasi pribadi atau bahkan informasi pribadi yang sangat sensitif.    

Anggota Kongres AS dari Colorado Chris Hansen mengatakan, “Kita Masing-masing mentransfer sejumlah besar data untuk mewujudkan transfer nilai, sehingga sangat penting untuk menemukan cara memastikan bahwa pengguna dapat berbagi semangkuk sup dengan Facebook.” 

Dia meminta para pengguna dapat mempertahankan pengontrolan dan kepemilikan data sendiri demi mencegah data mereka dijual dan digunakan secara acak oleh perusahaan teknologi seperti Facebook atau lembaga lain.  

Kritikus terkemuka, Chris Hughes menyarankan pemungutan pajak 5 % untuk perusahaan yang menggunakan data pengguna dimana nantinya dapat menghasilkan setidaknya $100 miliar pendapatan tahunan bagi pemerintah. Dengan Menggunakan pajak ini, pemerintah dapat membayar dividen data kepada setiap orang dewasa Amerika dengan cek sekitar $ 400 per tahun.              

Chris Hughes juga menambahkan, “tidak seperti minyak, data adalah sumber daya yang tidak ada habisnya. Alhasilnya, jumlah cek yang dibayarkan kepada pengguna dapat meningkat seiring waktu.” 

“Jadi, kapan data seseorang lebih berharga daripada yang lain?”

James Zou, seorang peneliti ilmu komputer di Stanford University menjelaskan: “Jika saya hanya pengguna biasa dari Facebook dimana banyak pengguna homogen mirip dengan saya, maka data saya sebenarnya kurang berharga. Karena Facebook memiliki banyak kasus Alternatif.”

Menurut sudut pandangnya, nilai data tergantung pada keunikan data pengguna. Apakah pengguna lain mengklik iklan online dan membeli sesuatu darinya.     

James Zou menggunakan model dalam teori persaingan ekonomi. Pada dasarnya ekonomi menghitung bobot kontribusi masing-masing orang terhadap hasil dalam mendistribusikan bonus akhir secara adil. 

Tentu saja, tidak semua orang setuju bahwa “penetapan harga data konsumen” adalah tugas yang berharga. Misalnya, Seorang juru bicara Electronic Frontier Foundation, sebuah organisasi hak dan hukum digital nirlaba internasional mengatakan, “Bukanlah hal yang baik bagi konsumen untuk mendapatkan beberapa dolar dari perusahaan dengan imbalan kapitalisme tanpa pengawasan.” Perlindungan privasi harus menjadi tugas Utama para legislator. 

Kita semua baru berhadapan dengan Kecerdasan buatan, privasi data, informasi biologis tidak begitu lama. Bagaimana Cara supaya perusahaan yang berpartisipasi dan orang-orang yang terlibat didalamnya berada dalam jalan yang benar tidak hanya bergantung pada kendala moral mereka sendiri. Karena Setelah kendala hilang, yang menjadi korban adalah masyarakat umum.

Meskipun kita semua mengkritik Facebook karena menggunakan data kita untuk mendapatkan laba, akan tetapi kita masih harus bergantung pada perusahaan-perusahaan ini. Bagaimana cara mencapai keseimbangan “Win-Win”?

Di belakang ini adalah gergaji segitiga perlindungan informasi pribadi untuk pengguna, perusahaan, dan pemerintah.

Misalnya, apakah mungkin bagi Facebook untuk secara teratur mengungkapkan status memperoleh data dari pengguna, serta manfaat tertentu, dan menentukan apakah perusahaan-perusahaan ini terlibat dalam perilaku anti-persaingan.

The New York Times pernah melaporkan perusahaan bernama Clearview AI telah menambang dan menangkap gambar wajah secara online untuk membangun basis data besar pengenalan wajah. Artinya, jika Anda tidak mengenali seseorang, tetapi lewat foto wajahnya, secara teori, Anda dapat menggunakan pencarian gambar untuk menemukan semua informasinya. Seperti alamat rumah, nomor telepon, pekerjaan, usia, siapa dan berapa jumlah anaknya, dan lain-lain.

Berapa harga privasi Anda
Berapa harga privasi Anda (Image: Consumer Affairs)

Bahkan pernah suatu ketika, seorang miliarder menggunakan perangkat lunak perusahaan untuk “mencari” informasi tentang seorang gadis asing yang dikencani. Ini tentu saja melanggar UU perlindungan privasi. Itulah sebabnya kita semua harus memperjuangkan kepemilikan dan kontrol data kita.

Just like grandma says, No Man is an island. Setiap pihak di dalamnya tidak bisa berdiri sendirian. Hanya ketika Facebook punya kesadaran melindungi privasi data pengguna, dengan panduan pemerintah, membatasi dan mengatur dengan UU yang relevan, perusahaan, pemerintah dan pengguna baru dapat mencapai keseimbangan dalam permainan ini. Kita semua baru dapat menggunakan kekuatan ilmu pengetahuan untuk pemanfaatan terbaik dalam teknologi, kehidupan pribadi serta Kemajuan sosial.