Advertisements

Berapa harga tiket ke Planet Mars

Oleh: Ricky Suwarno

24 Juli 2019

“Bagaimana menjadi Miliarder dalam pasar peluncuran roket swasta?” Jawabannya adalah: Pertama, menjadi miliarder dulu. Dan kemudian memasuki pasar peluncuran roket swasta. Itulah yang terjadi pada Elon Musk. Pendiri dan CEO dari SpaceX. Tesla. Solarcity. Neuralink.Open AI. The Boring Company. Starlink.

Pada saat dia ingin memasuki bidang dirgantara, banyak teman baiknya menganggap dia gila. Menyarankannya lupakan saja. Jangan kayak orang-orang kaya lainnya di AS. Yang memiliki keinginan, dan akhirnya gagal dan membakar duit. Bahkan Teman baiknya yang paling intim pernah mengedit video. Video tentang berbagai kematian akibat kegagalan peluncuran roket. Yang meledak beberapa menit setelah peluncuran.

Saya masih ingat perkataan Elon Musk. Beberapa saat yang lalu. “Mendirikan perusahaan mobil adalah tindakan orang idiot. Apalagi berinvestasi diperusahaan mobil listrik. Suatu tingkah laku yang lebih dari idiot lagi. Artinya, investasi perusahaan dirgantara adalah hal yang tidak mungkin berhasil.

Jadi, mungkinkah Elon Musk mengangkut 1 juta orang ke planet Mars? Jawabannya, tidak sulit. Bagi Elon Musk. Untuk mencapai impian ini, kendala terbesar adalah Money.

Karena kualifikasi bukan masalah besar Di AS. Kendali keseluruhan atas peluncuran roket dan kedirgantaraan swasta relatif longgar. Dari awal sejarah manusia hingga saat ini, hanya ada 3 negara yang memiliki kemampuan mengirim manusia ke angkasa luar. Amerika Serikat, Rusia, dan Tiongkok. Seperti Gagarin dari Rusia. Neil Armstrong dari AS. Yang Liwei dari Tiongkok. Mereka adalah manusia pengunjung pertama ke ruang angkasa.

Setelah program Apollo berakhir, Amerika Serikat meluncurkan proyek baru. Namanya “proyek Space Shuttle”. Dan mulai mengalihkan fokus hemat biaya. Karena, di masa damai, para warga pembayar pajak tidak bersedia melihat pemerintah AS membakar uang secara cuma-cuma. Untuk proyek yang kurang bermanfaat.

Mengurangi biaya peluncuran melalui penggunaan roket berulang. Mirip dengan konsep Elon Musk. “Daur ulang roket dan penggunaan kembali”.

Estimasi tingkat teknologi. Atau Kurangnya pengalaman beroperasi. Menyebabkan Biaya pesawat ulang-alik masih jauh dari harapan. Setelah setiap penerbangan diperlukan Pemeliharaan. Akibatnya, waktu dan biaya perawatan jauh lebih tinggi dari biaya perancangan. Sehingga, daur ulang pemanfaatan pesawat ruang angkasa sangat tidak effisien.

Untuk waktu yang sangat panjang, pemerintah AS telah kehilangan kemampuan untuk meluncurkan roket. Dan harus bergantung pada Rusia.

Pemerintah AS tentu sadar akan hal ini. Dan perlahan-lahan mulai membina perusahaan luar angkasa komersial swasta. Misalnya, Pada bulan Desember 2015. Kongres AS menyiapkan anggaran sekitar $ 19,3 miliar. Untuk penggunaan NASA di tahun 2016.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan ruang angkasa komersial swasta mulai bermunculan. SpaceX miliknya Elon Musk. Dan Blue Origin, miliknya orang paling kaya di jagad raya ini. Boss besar Amazon, Jeff Bezos.

“Tujuan Elon Musk mengirim 1 juta orang ke planet Mars untuk berdomisili. Is it possible?”

Sebelum bisa berdomisili di planet Mars, pertama-tama Elon Musk harus mengirim manusia ke Mars. Adakah teknologi seperti itu? Jika tidak, berarti Elon Musk harus menemukan teknologi baru. Jika ada, Elon harus memikirkan cara penggunaan yang telah ada.

Pada tahun 1989, Presiden Bush mengusulkan pendaratan berawak di Mars. NASA bertugas menghitung biayanya. Pengiriman 4-6 astronot, perlu biaya $450 miliar. Atau sekitar $100 Miliar per orang.

Sampai tahun 2004, George W. Bush teringat lagi rencana pendaratan di Mars. Dan meminta NASA menghitung kembali. Thanks to the fast growth of new technology, biaya per orang telah menurun jadi $10 Miliar. Sepuluh kali lipat lebih murah.

Untuk mencapai tujuan ini, cara satu-satunya bagi Elon Musk adalah mengurangi biaya perjalanan ke Mars. Harga Berapa lebih cocok? $500.000 per orang. Sekitar Rp6.5Miliar.

Namun, tidak peduli berapa harga akhir tiket, pasti harus ada yang membayarnya. Pertama, dari Perusahaan SpaceX sendiri. Kedua, Penumpang membayar sendiri. Kayak membeli tiket pesawat. Atau tiket kereta cepat.

SpaceX bukanlah organisasi amal. Supaya bisa berkelanjutan, harus ada pendapatan. Jadi Elon Musk tidak mungkin membayar penumpang untuk pergi ke planet Mars. Elon Musk tahu untuk membuka Era perjalanan ke ruang angkasa, harus memancing antusiasme orang-orang untuk menjelajahi alam semesta. Hanya dengan penumpang yang membayar sendiri, mereka baru dapat menyaring 1 juta penumpang. Imigran planet Mars yang paling fanatik dan loyal.

Oleh karena itu, tujuan besar “menjadikan manusia sebagai spesies multi-planet”, butuh analisis tahap demi tahap. Pada akhirnya, kita sampai pada pertanyaan yang sangat sederhana. Berapa harga tiket yang cocok untuk mengangkut 1 juta penumpang di antara 7 miliar penduduk di bumi ini.

500.000 dolar mungkin bukan jumlah kecil bagi kebanyakan orang. Tetapi juga bukan harga langit. Harga tersebut Mungkin bisa membeli rumah yang bagus di banyak daerah perkotaan. Tetapi, jika seseorang memang berniat menetap di Mars, menjual rumahnya mungkin merupakan langkah yang tak bisa dihindarkan. Harga ini dapat terjangkau bagi golongan kelas menengah di negara-negara berkembang. Yang mengandalkan tabungan gaji bulanan. Jumlah potensi berpendapatan ini tidaklah sedikit. Bahkan, mungkin banyak diantara mereka ingin mengubah kehidupan ke planet lain.

Just like grandma says, 500ribu dolar mungkin bukan perhitungan matematis yang sangat logis. Tetapi memberikan Elon Musk satu arah dan tujuan yang sangat jelas. Mengurangi harga tiket Mars dari $10 miliar menjadi $500.000. Diskon hingga 20.000 persen. “Wow, ada yang mau booking dulu?” “maybe?”

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, misi Nasa ke Mars, ongkos terbang ke Mars, tiket ke MarsTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: