Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut

Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut. Belakangan ini, bila kita ingin memahami industri mana yang paling terpengaruh oleh epidemi Covid-19, maskapai penerbangan mungkin berada di peringkat tiga besar.

Pekan lalu, Boss besar Berkshire Hathaway si Warren Buffett membuat keputusan yang sangat mengejutkan. Mereka menjual sebagian besar saham Delta Air Lines dan Southwest Airlines dengan nilai total $388 juta. Dimana, hanya setengah bulan yang lalu, Warren Buffett pernah mengatakan dalam sebuah wawancara mediabahwa dia tidak akan pernah menjual saham maskapai penerbangannya.

Begitu berita ini keluar, banyak orang langsung berkeringat memikirkan nasib industri penerbangan. Sebagai “Raja Investasi”, segala keputusan investasi WarrenBuffett selalu dianggap sebagai baling-baling dan sinyal pasar. Sinyal dari aksi jual-beli ini ditafsirkan sebagai situasi di maskapai penerbangan masih jauh dari titik terendah. Masa depannya berkemungkinan akan lebih suram daripada sekarang.

Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut

Namun, bukan maskapai penerbangan yang menarik perhatian saya, melainkan raksasa produsen pesawat di belakang maskapai, Boeing.

Boeing 737-Max telah dilarang terbang sejak tahun lalu, yang tentu saja telah membawa pukulan besar pada harga dan bisnis saham Boeing. Tapi sekarang seiring datangnya wabah epidemi virus Corona, bahkan jika 737 Max terbang kembali, para pelanggan Boeing tidak akan memesan pesawat barunya dalam waktu singkat. Menurut “New York Times”, bahkan beberapa pesanan Boeing yang telah ada, para maskapai penerbangan menolak untuk menandatangani. Pesanan internasional, sepertiChina dan Eropa juga tidak dapat dipenuhi.

“Dalam situasi yang sedemikian parah, bagaimana seharusnya Boeing merespons?”

“Jika epidemi tidak bisa dikendalikan, apakah Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut?”

Boeing yang “Too Big too fail” merupakan produsen pesawat terbesar di dunia, dengan pendapatan tahunan puluhan hingga miliaran Dolar. Boeing memiliki sejarah 103 tahun. Latar belakang keluarga yang begitu dalam, bahkan jika bisnisnya tidak baik selama satu atau dua tahun kedepan, hanya dengan mengencangkan ikat pinggang, bagaimanapun juga akan bisa bertahan?!

Masalahnya justru terletak di sini. Sejarah panjang Boeing dan skala besar justru menjadi batu sandungannya.

Pertama, di tahun lalu ketika Boeing mengalami kerugian, mereka sebaliknya tidak memperketat pengeluarannya. Melainkan, justru meningkatkan dividen parapemegang saham sampai $4,6 miliar. Hal ini jelas menyebabkan rasio aset-liabilitas melonjak hingga 106%, tertinggi di antara semua pesaingnya.

Mengutip analisis CITIC Securities, “ini adalah praktik rutinitas umum bagi raksasa industri tradisional untuk mempertahankan harga saham.

Ketika suatu perusahaan memasuki tahap matang, tingkat pertumbuhan bisnis cenderung stabil. Memasuki periode ini, jika manajemen ingin memenangkan dukungan pemegang saham, mereka sering perlu mencari cara selain pertumbuhan bisnis untuk menjaga harga saham terus naik. Metode yang dipilih oleh banyak raksasa tradisionaladalah pembagian dividen yang tinggi dan pembelian kembali saham sendiri. Demikian pula halnya dengan  Boeing tanpa terkecuali. Boeing membayar dividen dari uang tunai, artinya menggunakan uang yang diperoleh untuk membayar dividen.

Dalam keadaan normal, ini tentu bukan masalah. Tetapi masalahnya, Boeing telah menghadapi tekanan operasional yang sangat berat karena terhalangnya bisnis 737 Max, dengan kerugian Net 92 juta Dolar tahun lalu, dan penurunan laba 106% YoY. Tahun ini, terpengaruhi oleh wabah epidemi, pemulihan bisnis mungkin akan lebih parah. Dimana  kemudian mungkin membawa banyak risiko arus kas ke Boeing. Apalagi, Boeing tidak memiliki banyak uang tunai dalam pembukuannya.

Uang tunai Boeing tetap berkisaran lebih dari 10 miliar dolar AS selama beberapa tahun. Sebagai perbandingan, cadangan uang tunai raksasa teknologi seperti Microsoft atau Apple setinggi US $100-200 miliar.

Mengapa Boeing tidak menyimpan uang tunai yang lebih banyak?

Boeing memiliki posisi yang kuat dalam maskapai penerbangan. Mereka selalu membebankan biaya deposit kepada pelanggannya untuk membayar di muka, tetapimereka dapat menunda pembayaran kepada rantai pemasoknya. Ini berarti selama proses produksi, Boeing dapat menggunakan uang pelanggan untuk membeli dari pemasok tanpa menggunakan dana cadangan sendiri. Dengan cara ini, Boeing tidak perlu memegang banyak uang tunai.

Sayangnya, ketika wabah epidemi Covid-19 menghantam ekonomi global, uang tunai adalah “raja untuk bertahan hidup.” Model bisnis Boeing adalah keunggulan di masa normal, dan sekarang justru menjadi risiko.

Anda mungkin berpikir, “jika Boeing tidak dapat menahannya suatu hari, pemerintah AS pasti tidak akan membiarkan Boeing jatuh dan bangkrut?”

Boeing is “Too Big Too Fail”. Dalam hal ketenagakerjaan,perusahaan Boeing telah mempekerjakan 100.000 orang. Di Amerika Serikat, jumlah orang yang dipekerjakan oleh berbagai pemasok Boeing dan perusahaan terafiliasi diperkirakan mencapai jutaan.

“Dalam hal daya pengaruh, Boeing adalah produsen dan eksportir terbesar di Amerika Serikat, dan juga pernah menjadi perusahaan terbesar di Dow Jones Industrial Index.”

Dapat dikatakan jika Boeing sakit flu, perekonomian AS akan ikut bersin. Pada bulan Desember tahun lalu, para ekonom AS memperkirakan, penangguhan 737 Max akan  langsung mempengaruhi tingkat pertumbuhan PDB AS pada kuartal pertama tahun 2020. Dapat Mengurangi tingkat pertumbuhan sebesar 0,5-0,6 poin persentase. Belum lagi stagnasi permintaan bisnis pesawat komersial. Seberapa besar dampak ini, saya rasa tidak ada yang bisa membayangkannya.

Ketika suatu perusahaan mencapai skala tertentu, jika bangkrut akan berdampak terlalu besar pada perekonomian, dan pemerintah tidak ada pilihan lain selain mengulurkan tangan membantunya.

Namun, dalam sejarah Amerika Serikat, perusahaan dengan ukuran dan status seperti ini bukannya tidak ada. Contoh paling tipikal adalah General Motors (GM).

Pada 2008, ketika terjadinya krisis keuangan AS. Pada saat itu, Amerika Serikat berada di puncak krisis seperti hari ini. Pada saat itu, GM adalah perusahaan manufaktur mobil terbesar di dunia, merupakan salah satu pilar inti ekonomi AS. Namun, ukurannya menyembunyikan rasio utang hingga 200%. Di antaranya, utang yang terkait dengan tunjangan karyawan telah mencapai 80-90 miliar dolar AS, 50% dari total utang. Begitu krisis keuangan datang, dan arus kas mendesak, GM tidak dapatbertahan dan akhirnya menyatakan kebangkrutan.

“Akankah Boeing menjadi GM kedua?”

Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut
Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut (Image: Barron’s)

Jawabannya, “Mungkin tidak.”

Alasannya, meskipun ada banyak kesamaan antara Boeing dan General Motors, namun ada perbedaan yang sangat penting. Bagi pemerintah Amerika Serikat, Boeing bukan hanya pilar ekonomi, tetapi juga memiliki arti penting dalam strategis pertahanan nasional.

Boeing adalah produsen senjata terbesar kedua di dunia. Bisnis pesawat komersialnya hanya menyumbang sekitar 40% dari total pendapatan Boeing, yang hampir sebanding dengan bisnis pesawat militernya, 34% total pendapatan. Beberapa produk Boeing dalam peralatan utama militer AS, seperti jet pesawat tempur Boeing F/A-18E and F/A-18F Super Hornet, pesawat angkut besar C-17, helikopter Penyerang Boeing AH-64 Apache, dan sebagainya. Pada bulan Agustus tahun lalu, Boeingberhasil memenangkan kontrak US$1 miliar dari Departemen Pertahanan AS.

Tidak hanya itu, Boeing juga merupakan kontraktor terbesar untuk NASA. Roket merek Boeing, satelit komersial, dan pesawat ulang-alik semuanya berada di posisi terdepan global.

Seandainya kita bergurau, walaupun pendapatan bisnis komersial Boeing adalah nol, hanya dengan mengandalkan layanan pertahanan dan global saja Boeing masih dapat menghasilkan lebih dari 4 miliar arus kas. Apalagi, Boeing menempati ekosistem sangat penting dalam pertahanan nasional negeri Paman Sam. Sehingga, pemerintah AS lebih termotivasi untuk memberikan dukungan ekonomi kepada Boeing.

Beberapa minggu yang lalu, pemerintah federal AS meluncurkan rencana stimulus ekonomi sebesar 2 triliun Dolar. Diantaranya, ada sebuah klausulkhusus “perusahaan bisnis yang menjaga keamanan pertahanan nasional. Meskipun nama Boeing tidak muncul didalamnya, media Amerika menganalisis bahwa iniberkemungkinan besar khusus tailor-made untuk Boeing, Boeing dapat menerima keringanan pajak hingga $ 17 miliar.

Just like grandma says, Apakah Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut. Boeing bukannya, too big too fail, melainkan, “Too Vital too fail”. Skala besar adalah bebannya Boeing. Namun, “Ekosistem atau ceruknya adalah sedotan penyelamat nyawanya.” Istilahnya, “Boeing adalah permata mahkota manufaktur Amerika”. Boeing menjadi berharga bukan hanya karena dia adalah “Mutiara”, tetapi karena Dia berada “di atas mahkota”.

1 thought on “Boeing produsen pesawat terbesar dunia terancam bangkrut

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: