Advertisements

Cara bergaul Dunia Timur dan Barat

Oleh: Ricky Suwarno

7 Juli 2019

Kishore Mahbubani adalah seorang sarjana hubungan internasional yang sangat berpengaruh di dunia Barat. Dia adalah Dekan Sekolah Kebijakan Publik Lee Kuan Yew. Di Universitas Nasional Singapura. Dia juga seorang diplomat. Yang menjabat sebagai Duta Besar Singapura untuk PBB. Banyak hasil karyanya terkait dengan topik perbandingan kekuatan, kerjasama, ataupun konflik antara Barat dan Timur. Beberapa saat yang lalu, dia juga menulis “Can Asians think?”

Dalam bukunya, “Has the west lost it?” (apakah Barat telah kalah)?” Mahbubani terus mengeksplorasi masalah Dunia Barat dan Timur. Menurut Martin Wolf, kepala ekonom Financial Times, bahwa pertama: Barat telah menang sebelumnya. Saat ini, Barat mulai kalah. Dan selanjutnya Barat harus beradaptasi dengan Status Quo. Menerima bangkitnya Dunia Asia Timur.

Dominasi barat sebelumnya di dunia, memimpin dalam bidang sains dan teknologi. Namun, semakin banyak negara atau wilayah menyadari peran teknologi. Dan mulai belajar dari pencapaian teknologi Barat. Akibatnya, negara lain mulai mengejar ketinggalan. Era yang didominasi oleh seperdelapan populasi dunia akan segera berakhir.

Saran Mahbubani, Dunia barat harus mulai beradaptasi dengan perubahan ini. Orang Barat, terutama AS, harus belajar dari pelajaran sejarah. Secara substansial, harus mengurangi campur tangan terhadap masalah negara lain. AS harus meningkatkan kerja sama. Mengakui dan menerima bangkitnya Raksasa China. AS harus menghentikan kesombongan. Terutama seringkali intervensi yang sangat bodoh.

Martin Wolf sangat setuju dengan pandangan Mahbubani. Dalam pandangannya, meskipun dunia telah mencapai kemajuan yang sangat mengesankan secara keseluruhan. Dari tingkat kemiskinan yang telah berkurang dan peningkatan usia hidup. Namun, kemajuan juga membawa tantangan baru. Dari mengelola urbanisasi skala besar ke kerapuhan sistem keuangan.

Di antara mereka, resiko terbesar adalah “konflik global dan bencana lingkungan”. Kedua resiko ini, membutuhkan kerjasama Dunia Barat, yang mewakili negara-negara kaya, dengan Dunia Timur.

Pertanyaannya sekarang, “negara yang relatif besar dan superpower secara global, tidak bisa menerima kenyataan dengan perubahan statusnya (maksudnya AS yang mengalami kemunduran, di banding China yang semakin kuat)”. Sehingga, AS yang melambangkan dunia Barat akan menolak untuk bekerjasama. Namun, jika Dunia masih ingin mempertahankan kemajuan peradaban manusia, jalan satu-satunya hanyalah kerjasama. Tidak peduli Dunia Barat bersedia atau tidak menerima kenyataan kemunduran mereka.

Just like grandma says, hanya kerja sama antara Timur dan Barat yang bisa menyelesaikan risiko dan tantangan perkembangan global saat ini. Tetapi, para pakar hubungan internasional khawatir bahwa mentalitas dunia Barat yang tidak bersedia menerima kenyataan akan mempengaruhi kerja sama ini

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, barat vs indonesia, Dunia Barat vs TimurTags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: