Advertisements

Cara kerja MIT Media Lab

Oleh: Ricky Suwarno

31 Mei 2019

Artikel saya dalam Artificial Intelligence Indonesia (AII) adalah berbagi tentang teknologi hitam terutama dari AS-China yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, 5G, iot dan sebagainya. Dari sudut pandang AI, berdiri diatas pundak 2 negara Superpower AS-China untuk melihat masa depan Indonesia.

Kali ini saya akan berbagi tentang pengalaman kunjungan saya ke lab media MIT (Massachusetts Institute of Technology) tiga tahun yang lalu. Lab media MIT sebenarnya, bukan tentang meneliti media. Melainkan tentang misi beberapa ilmuwan menggunakan imajinasi mereka tanpa batas. Meneliti apa yang tidak dilakukan oleh lembaga penelitian, dan menciptakan produk teknologi paling mutakhir.

Lab media MIT didirikan pada tahun 1985 oleh Nicholas Negroponte, dan mantan presiden MIT Jerome Wiesner. Dan bertempat di Gedung Wiesner. Dirancang oleh IM Pei. Di kenal juga sebagai Gedung E15. Lab ini telah melahirkan banyak penemuan besar yang telah mengubah dunia seperti:

1. Layar sentuh, misalnya tablet, ponsel bahkan laptop saat ini

2. Tinta elektronik, yang merupakan inti dari Kindle Amazon;

3. Bahasa pemrograman “scratch” , program khusus untuk anak-anak dalam belajar menulis dan menggambar;

4. Prosthesis robot, yang memiliki fleksibilitas anggota tubuh manusia, dan telah diterapkan pada penyandang cacat;

5. Perangkat yang dapat dipakai, merupakan pendahulu Google Glass, dan Samsung atau Apple Watch;

6. Mobil GPS, yang membuat kita secara bertahap kehilangan kemampuan mengenali jalan.

Jalan cerita lahirnya Lab media MIT mungkin agak sedikit aneh. Mereka berasal dari sebagian professor atau ilmuwan dari berbagai departemen yang tidak disukai. Dalam suatu universitas pasti ada ilmuwan dengan berbagai minat dan penelitian. Ada yang disukai, dan ada yang tidak. Ada yang bisa konsisten atau sejalan, dan ada yang tidak. Ada yang mungkin tidak menemukan kolaborator, sehingga tidak punya dana penelitian. Atau bahkan ada yang mungkin tidak cukup level. Dan tentu saja mungkin diantara mereka ada pemikiran yang terlalu maju. Sehingga, terlepas dari kenyataan.

Pada awal 1980-an, profesor MIT Nicholas Negroponte, dan Jerome Wiesner menyarankan untuk memberikan para profesor ini suatu lingkungan yang lebih liberal untuk melakukan apa yang mereka minati. Sehingga, terbentuklah Lab media MIT yang kita kenal saat ini. Dan berubah menjadi laboratorium paling inovatif di dunia.

Ada dua Fitur terbesar dari lab media MIT. Pertama, interdisipliner, yang berarti pendekatan dalam pemecahan suatu masalah dengan menggunakan tinjauan berbagai sudut pandang ilmu serumpun yang relevan atau tepat guna secara terpadu. Maksudnya, Lab media tidak akan meneliti proyek yang secara eksplisit merupakan bagian dari suatu ilmu tertentu. Melainkan, cuma meneliti proyek yang mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai ilmu.

Fitur kedua, hanya mempelajari proyek-proyek yang tidak didukung oleh perusahaan atau dana organisasi apa pun. Justru, Karena karakteristik inilah yang membuat mereka bisa menemukan hal-hal yang tidak dapat ditemukan di tempat lain. Selain itu, direktur lab media terkadang tidak berasal dari akademisi, tetapi dari kalangan pengusaha industri atau bahkan investasi. Misalnya, direkturnya saat ini, Joi Ito yang pada awalnya adalah seorang investor.

Salah satu studi yang menjadi pusat penelitiannya sekarang adalah “hubungan antara manusia dan robot”. Yang dipimpin oleh Profesor Iyad Rahwan. Bayangkan 10% dari mobil di jalan di masa depan adalah mobil tanpa pengemudi. Bagaimana seharusnya manusia beradaptasi dengan kebiasaan mobil tanpa pengemudi. Atau, sebaliknya bagaimana mobil tanpa pengemudi itu sendiri belajar dari kebiasaan mengemudi manusia, adalah suatu topik yang layak dipelajari.

Di China, layanan mobil otonom secara resmi akan dirilis oleh Baidu pada kuartal ketiga tahun ini.

Sejujurnya, setelah mempelajari penelitian Lab media MIT ini, nantinya kalau saya bertemu dengan mobil otonom ini, saya akan menghindarinya sejauh mungkin. Walaupun saya tahu bahwa mereka mengemudi lebih lancar daripada kita manusia.

Proyek kedua yang menjadi pusat penelitian, adalah dampak lingkungan dari teknologi dan kebijakan (bioteknologi). Sebagai contoh, makanan transgenik. Selain apakah berbahaya bagi tubuh, kita juga tidak tahu apakah berbahaya bagi lingkungan. Karena orang pada dasarnya lebih peduli pengaruh terhadap tubuh kita daripada lingkungan.

Tanaman transgenik, mungkin menyebabkan beberapa jenis hama menjadi punah, karena mereka tidak memiliki cukup makanan lagi. Dan hewan yang bergantung pada hama tersebut mungkin akan terpengaruh. Akhirnya, menyebabkan seluruh ekologi berubah karenanya.

Selain itu, percobaan itu sendiri membawa dampak pada lingkungan. Karenanya tidak cocok untuk pengujian di lingkungan terbuka. Menurut Kevin M. Esvelt, pemimpin kelompok evolusi pemahat dalam mengeksplorasi rekayasa evolusi dan ekologi. Yang bertanggung jawab atas penelitian ini, menganjurkan jenis penelitian ini mungkin lebih cocok untuk pulau terpencil. Jenis penelitian ini juga merupakan proyek interdisipliner yang sangat penting, tetapi tidak akan didukung oleh dana atau organisasi manapun. Sehingga, lab media akan mendukung sendiri proyek ini.

Proyek ketiga, tentang jejaring sosial dan privasi, dan jaminan sosial. Sekarang, kita akhirnya menyadari misteri keberhasilan lab media MIT. Mereka tidak terlibat dalam penelitian yang mahal, ataupun publikasi mudah dan sangat populer. Tetapi mereka justru memfokuskan topik yang sangat penting. Yang tidak ada perusahaan atau organisasi manapun bersedia menyentuh (karena alasan pendanaan).

Just like grandma says, Kembali ke diri kita sendiri. Meskipun kita tidak bakalan mendirikan lab media tersendiri, tetapi pengalaman suksesnya membawa implikasi bagi kita. Kita harus memfokuskan hal-hal yang lebih kita kuasai, alias mengenali diri sendiri. Dengan mengetahui potensi yang ada pada diri kita, kita bisa mengoptimalkannya untuk kesuksesan dalam karir maupun kehidupan bagi negara kita Indonesia.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, MIT Media LabTags: , , , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: