Advertisements

Cara membedakan suatu startup AI

Oleh: Ricky Suwarno

20 Mei 2019

Kecerdasan buatan alias AI adalah salah satu konsep yang sedang keren beberapa tahun terakhir. Jadi tidak mengherankan, bila banyak perusahaan atau startups dengan berbagai model bisnis mengklaim sendiri adalah perusahaan kecerdasan buatan. Tetapi, kenyataannya tentu saja tidak semua startup benar-benar berteknologi kecerdasan buatan.

Arif Janmohamed, Mitra dari Lightspeed Venture, mengajarkan dari sudut pandang investor cara membedakan suatu startup apakah benar-benar berteknologi AI.

Istilah kecerdasan buatan atau AI sering digunakan dalam dunia digital startup. Hampir setiap hari, kita bisa bertemu atau mendengar startup yang menggambarkan diri mereka sebagai perusahaan kecerdasan buatan. Startup AI cendrung kedengarannya lebih keren dan modern. Dan berkembang sesuai dengan jaman now. Namun sayangnya, kebanyakan mereka tidak bisa membuktikan produk atau perusahaannya berkaitan dengan AI. Karena banyak di negara maju seperti AS, China maupun Eropa akan memberikan perlakuan khusus atau dana subsidi untuk perusahaan AI.

Banyak diantara mereka percaya, dimana kenyataannya adalah suatu kekeliruan bahwa selama pekerjaan mereka terkait dengan data, mereka dapat disebut startup kecerdasan buatan. Kunci utama membedakan perusahaan kecerdasan buatan dan perusahaan analisis data adalah, sistem kecerdasan buatan bersifat iteratif. Semakin banyak data yang dianalisis, semakin cerdas pula sistem tersebut. Bersifat iteratif artinya, proses perulangan terhadap sekelompok instruksi. Di mana perulangan tersebut akan berhenti jika batasan syarat sudah tidak terpenuhi. Kelebihan perulangan iteratif, Mudah dipahami. Dan mudah melakukan debugging ketika ada perulangan yang salah.

Misalnya, mobil otonom Tesla. Adalah contoh tipikal kecerdasan buatan. Karena Tesla dapat terus-menerus meningkatkan dirinya sesuai dengan jarak tempuh kendaraan di jalan.

Sedangkan, apabila menurut aturan yang telah ditentukan untuk menentukan kapan waktu terbaik mengirim email marketing, itu bukanlah AI. Karena Tesla akan beriterasi dan belajar sendiri. Sedangkan, Email Marketing tidak.

Jadi, sebelum berinvestasi atau memilih pekerjaan di startup yang mengklaim sebagai startup AI, mungkin bisa mempertanyakan hal-hal seperti:

“apakah bisnis perusahaan hanya didasarkan pada analisis data dasar?” atau

“apakah perusahaan dapat memperoleh banyak data kepemilikan dari sumber data?”

“bagaimana perusahaan menggunakan data untuk membuat sistem semakin cerdas dan menghasilkan data sendiri?”

“apakah perusahaan memiliki teknik iteratif yang dapat mengurangi intervensi manusia seperti pembelajaran mesin (machine learning), atau pembelajaran dalam (Deep Learning)?”

Selain itu, masih perlu bertanya apakah perusahaan tersebut memiliki pendiri teknologi atau CTO yang pakar dengan model pembelajaran mesin. Atau “apakah ada cara unik untuk menerapkan model pembelajaran mesin ke kumpulan data besar?” Atau “apakah bentuk bisnis modelnya?” dan sebagainya.

Just like grandma says, “perusahaan atau startup yang berteknologi kecerdasan buatan dapat memberikan solusi terobosan untuk masalah dunia nyata”.

Study case yang sering saya gunakan untuk membuktikan suatu startup benar-benar berteknologi AI adalah Alpha Go, dari Deep Mind. Permainan catur Go di konsol game yang kita main di waktu kecil bukanlah AI. Dalam game itu, tidak peduli berapa kali kita bermain dengannya, game yang sama akan memberikan respons yang sama.

Tetapi, Alpha Go sangatlah berbeda. Karena kedalaman permainan di setiap tahap yang berbeda, Alpha Go akan belajar sendiri dan meningkatkan rutinitas dengan cara berbeda. Itulah sebabnya, mengapa manusia takut suatu saat di masa yang akan datang, robot atau mesin akan beriteratif sendiri dan menguasai dunia.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Membedakan startup AITags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: