Cara membuat Datamu menjadi aset

Bagaimana Cara membuat Datamu menjadi aset telah menjadi pusat perhatian. Beberapa hari yang lalu, dua pendiri Google Larry Page dan Sergey Brin mengumumkan pengunduran diri mereka. Keduanya mengundurkan diri sebagai CEO dan presiden perusahaan induk Google-Alphabet. Orang yang ditunjuk untuk mengambil alih perusahaan induk adalah CEO Google saat ini. Sundar Pichai. Imigran India ke Amerika.

Apakah ini akan mempengaruhi bisnis Google?  

Dari perspektif bisnis, pada dasarnya tidak ada banyak dampak.

Alasannya, Larry Page dan Sergey Brin jarang muncul di publik. Keterlibatan mereka dalam manajemen harian perusahaan juga sangat minim. Selain itu, bisnis inti Alphabet berasal dari Google, the searching engine. Google telah berjalan lancar selama 4 setengah tahun di bawah pimpinan Pichai. Karena itu, pergantian personel ini tidak akan banyak berpengaruh.

Cara membuat Datamu menjadi aset

Namun lain halnya bagi Alphabet. Ada hal lain yang mungkin membawa dampak signifikan pada pengembangannya di masa depan. Yaitu kapitalisasi data. Cara membuat Datamu menjadi aset.

Alphabet pada dasarnya adalah perusahaan data besar. Baik itu bisnis periklanan sebagai sumber pendapatan terbesar Google. Atau layanan cloud dan pembelajaran mesin yang telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir. Semuanya didasarkan pada pengumpulan, penataan, transmisi, dan pengembangan data.

Alphabet pada dasarnya telah menggunakan data ini secara gratis. Secara eksklusif mendapatkan semua manfaat dari data kita. Tetapi di masa depan, dengan kemajuan aset Digital, Alphabet mungkin harus berbagi kue pendapatan Aset ini dengan kita. Para penggunanya.

Apa itu Aset Digital?  

Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah perusahaan farmasi terkenal. Perusahaan ini menghabiskan jutaan poundsterling untuk membeli data seorang pasien kanker yang sangat langka. Mereka rela mengeluarkan banyak uang karena pasiennya memiliki 6 jenis kanker. Sehingga, Datanya memiliki nilai yang paling unik di dunia.

Dengan kata lain, data kesehatan pasien menjadi aset yang dapat diperdagangkan. Seperti halnya real estat atau saham.

Premis utama dikarenakan perusahaan itu percaya bahwa kepemilikan data ini adalah milik pasien itu sendiri. Kedengarannya sangat jelas. Pasien sakit dan tentu saja data kesehatannya adalah miliknya sendiri.  

Tetapi, segalanya tidak begitu sederhana. Memang, seorang pasien mungkin memiliki gen yang sangat langka. Masalahnya, jika Anda bukan seorang ahli biologi, Anda mungkin tidak akan pernah menemukan gen ini. Artinya, penemuan gen juga sangat berharga.

Jika Anda pergi ke rumah sakit untuk cek skrining kesehatan. Dan dokter menemukan gen langka ini. Apakah kepemilikan data gen ini menjadi milik Anda sendiri? Atau milik dokter? Atau rumah sakit?

Jika data ini membawa manfaat, apakah keuntungannya hanya untuk pasien itu sendiri? Atau rumah sakit atau dokter yang menemukan data juga memiliki hak berbagi keuntungan ini? Ini adalah masalah yang sedang diperdebatkan oleh semua teknologi Raksasa dunia saat ini. Milik siapakah data tersebut? Dan bagaimana pendapatan yang dihasilkan oleh data harus didistribusikan?

Jawabannya, mungkin kita bisa belajar dari model bank.

Misalnya, Bu Dewi pergi ke bank untuk menabung katakanlah 1 juta Rupiah. Hak milik uang ini tentu saja miliknya Bu Dewi. Namun, Bu Dewi menyerahkannya kepada bank untuk disimpan. Di kelola. Bank tersebut dapat menggunakan uang ini untuk berinvestasi. Bank dapat mengumpulkan banyak uang dari banyak pengguna dan meminjamkannya ke perusahaan konstruksi untuk membangun gedung atau perumahan. Perusahaan konstruksi harus membayar bunga pinjaman kepada bank.

Bagi pihak bank, uang Bu Dewi tidak hanya menciptakan keuntungan untuk Bank. Tetapi juga biaya. Biaya SDM dan material yang diperlukan untuk mengelola uang tersebut. Akibatnya, bank dapat membebankan Bu Dewi namanya biaya manajemen. Tetapi pada saat yang sama, Bank harus membayar bunga untuk Bu Dewi. Karena uangnya  menjadi pendapatan bagi bank. Dengan mengurangi biaya manajemen dan pendapatan pinjaman bank, itulah hasil yang harus dibayar oleh bank kepada Bu Dewi.

Jadi dalam contoh ini ada tiga peranan. Pemilik, manajer, dan pengguna aset.

Demikian pula halnya dengan Big Data. Juga memiliki tiga jenis peran seperti Bank. Salah satunya adalah pemilik data. Yaitu, pengguna individu seperti kamu dan Ricky. Satunya adalah pengelola data. Dan yang lainnya adalah pengguna dan beneficiary yang mendapatkan keuntungan.

Perusahaan seperti Google, Facebook, Alibaba dan Tencent adalah pengelola data dan pengguna data. Di bawah sistem mereka, ada banyak perusahaan lain yang juga mendapat manfaat dari data. Seperti perusahaan e-commerce yang menggunakan data pengguna Alibaba untuk mendapatkan keuntungan. Inilah model dasar memahami aset digital.

Akan tetapi, ada beberapa tantangan untuk benar-benar mendistribusikan keuntungan sesuai dengan model ini. Pertama, kita masih tidak tahu persis di mana dan bagaimana data digunakan. Saat ini, perusahaan raksasa internet sama sekali tidak jelas tentang aliran data. Tidak ada yang tahu bagaimana data orang tertentu digunakan. Atau digunakan dalam produk mana. Atau apakah memang benar-benar meningkatkan pengalaman pengguna seperti yang dikatakan Google?

Singkatnya, penggunaan dan manfaat data saat ini berantakan.

Untungnya, Sekarang UE telah memperkenalkan UU data GDPR yang paling ketat dalam sejarah manusia. Mereka berusaha menyelesaikan masalah ini. Peraturan tersebut menetapkan perusahaan data harus jelas dengan segala data pengguna. Google atau Facebook diharuskan mengembangkan alat mereka sendiri untuk melacak penggunaan data. Sehingga pemilik data dan regulator dapat memahami data penggunaan ini.  

Tantangan Kedua, bagaimana menghindari data pengguna tidak disalin.

Uang tabungan di Bank atau rumah, atau mobil misalnya. Barang-barang ini memiliki satu kesamaan sebagai aset. Yaitu mereka adalah unik dan tunggal. Mobil atau rumah yang terjual dari tangan Anda akhirnya tidak ada lagi.

Tetapi data itu berbeda. Bagaimana data diedarkan dan diperdagangkan?  

Jawabannya Bukan ditransfer. Melainkan di salin. Salinan data yang Google jual kepada perusahaan Pak Budi adalah satu salinan untuk Pak Budi. Artinya, Google dan Pak Budi masing-masing memiliki salinan. Bahkan sebaliknya, Data dapat dimiliki oleh banyak subjek secara bersamaan.

Sebenarnya, banyak data kita telah tersebar di berbagai platform jaringan. Sulit menentukan platform mana yang merupakan pemilik pertama data kita. Karena Penggunaan data oleh salah satu pihak tidak mempengaruhi penggunaan pihak lain. Ibaratnya, ada banyak salinan lukisan di pasar. Tidak ada yang tahu mana yang asli. Saking banyaknya menyebabkan nilai lukisan secara alami menurun drastis.

Bagaimana cara mengatasi masalah ini?  

Teknologi blockchain.

Cara membuat Datamu menjadi aset
Cara membuat Datamu menjadi aset (Sumber: Forbes)

Melalui teknologi blockchain, setiap bagian data yang dihasilkan pada jaringan blockchain dapat ditandai. Untuk memastikan bahwa meskipun data digabungkan atau dipisahkan selama sirkulasi, mereka akan tetap memiliki identifikasi yang unik. Tidak dapat dirubah.  Dan bahkan dapat ditelusuri kembali.  

Mantan CEO Google Eric Schmidt pada tahun 2014 mengatakan, “Blockchain adalah pencapaian crypto yang luar biasa. Blockchain dapat membuat konten yang tidak dapat diproduksi kembali di dunia digital. Memiliki nilai yang sangat besar.

Teknologi Blockchain dapat dengan jelas memisahkan dua tautan antara kepemilikan data dan penggunaan data.  

Seandainya, hari ini Bu Dewi pergi ke dokter. Catatan medis Bu Dewi menjadi milik rumah sakit. Tetapi pasien sendiri tidak bisa mendapatkannya. Atau, rumah sakit lain tidak dapat menggunakan data ini untuk penelitian.

Setelah munculnya blockchain, para ahli statistik dan pakar bioinformatika berusaha mencari solusi. Bagaimana cara membuat datamu menjadi aset. Bagaimana pasien dapat mengambil keuntungan dari pemisahan penayangan informasi, dan memverifikasi informasi dalam blockchain? Mengembalikan catatan medis pasien ke individu. Kemudian pasien mengOtorisasi dokter atau peneliti untuk menggunakan informasi ini sebagai penelitian statistik?

Informasi medis akan dienkripsi. Hanya dapat dilihat oleh pasien atau dokter yang berwenang melihatnya. Para Peneliti dapat memperoleh jawaban dari rekaman medis dengan mengajukan pertanyaan, setelah mendapatkan otorisasi tentunya.

Menurut Profesor Yongxiong Wang dari Departemen Statistik dan Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, sebagian besar dokter di Amerika Serikat bersedia membayar untuk catatan medis yang belum pernah mereka sentuh sebelumnya.Setiap permintaan akan dibayar $ 10-15 Dolar.

Jika dapat diterapkan, pasien-pasien dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan diharapkan bisa menerima 10.000 hingga 20.000 dolar AS dalam biaya informasi per tahun. Membantu mereka membayar biaya medis di rumah sakit. Lebih penting lagi, ketika catatan medis orang-orang dengan penyakit yang tidak dapat disembuhkan ditinjau oleh banyak dokter, sangat berkemungkinan para dokter menemukan obat untuk mereka juga.

Tentu saja, jika kita benar-benar dapat bekerja bersama ke arah ini, seluruh masyarakat Dunia dapat membentuk aset digital yang sangat besar.

Just like grandma says, banyak diantara kita khawatir tentang bagaimana kita dapat mengendalikan data kita serta memperoleh keuntungan dari data kita sendiri. Akan tetapi, data hanya dapat menciptakan nilai nyata ketika data kita dapat dibagikan dan diedarkan.

1 thought on “Cara membuat Datamu menjadi aset

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.