Dampak Covid-19 terhadap ekonomi AS-China

Dampak Covid-19 terhadap ekonomi AS-China dan Global 2020 telah menimbulkan kekhawatiran Dunia. Hal terbesar di dunia saat ini adalah Pandemi virus Corona. Pada awal bulan Februari, China memasuki masa paling kritis wabah pneumonia.

Oleh karena itu, analisis asing terhadap ekonomi China pada waktu itu pada dasarnya berfokus pada masalah rantai pasokan global. Artinya, inti pusat rantai pasokan global terlalu berbahaya untuk ditempatkan di Tiongkok. Istilahnya, begitu roda manufaktur China terhenti, Langkah dunia ikut terhenti.

Makanya, banyak perusahaan multinasional memikirkan untuk transfer keluar China. Bukan ke Asia Tenggara, karena Asia Tenggara terlalu dekat dengan China. Melainkan, ke Meksiko, Turki dan negara-negara Eropa Timur. Hal utama di bulan Februari adalah nada-nada seperti itu tentang perekonomian China.

Dampak covid-19 terhadap ekonomi AS-China

Namun, hal mengalami perubahan 360 derajat ketika memasuki bulan Maret. Situasi epidemi di Tiongkok telah terkendalikan, sebaliknya dampak pandemi virus Corona di seluruh dunia baru dimulai. Jadi, laporan Prediksi yang dirilis di bulan Maret melihat masalah dari perspektif yang lebih besar secara global. Sehingga, secara keseluruhan lebih objektif dan kualitas prediksi lebih tinggi daripada di bulan Februari. 

Pada awal bulan Maret yang lalu, Think Tank Oxford Economics memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia dari tahun lalu 2,6 persen, turun menjadi 2% di tahun 2020. Data ini pesimistis pada saat itu, tetapi sekarang mungkin lebih optimis.

Hasil analisa awal McKinsey pada bulan Maret, menunjukkan tiga mode prospek. Salah satunya adalah pandangan optimis, ekonomi dunia akan pulih dengan cepat. Satunya lagi adalah perlambatan ekonomi. Dan yang terakhir adalah resesi ekonomi. Laporan itu juga mengatakan bahwa jenis prospek optimis pertama pada dasarnya tidak memungkinkan lagi.  

Arti Perlambatan adalah perlambatan dalam pertumbuhan ekonomi, tetapi resesi mungkin akan jauh lebih parah. Misalnya, Menurut standar AS, total output ekonomi telah turun lebih dari 5% selama dua kuartal berturut-turut. Tingkat pengangguran meningkat menjadi 6% . Itu jelas lambang dari resesi.

Covid-19 virus Corona jelas akan membawa dampak resesi langsung bagi perekonomian Global. Menurut Kepala Ekonom Boston Consulting Group Philipp Carlsson-Szlezak, “Apa arti epidemi Covid-19 bagi ekonomi global?” “.

Dalam Laporannya, epidemi virus Corona telah menyebabkan resesi. “Apa yang akan terjadi pada resesi ini selanjutnya?”

Menurutnya, ada tiga mode untuk keluar dari resesi: Mode bentuk V, bentuk U, dan Waktu bottoming yang relatif panjang, dan yang terburuk adalah tipe- L . Boston Consulting Group percaya bahwa resesi yang disebabkan oleh epidemi ini lebih cenderung berbentuk V , tetapi tidak berbentuk L.

Philipp Carlsson-Szlezak menunjukkan epidemi utama dalam 100 tahun terakhir, seperti

SARS pada tahun 2003 di China, tahun 1968 pandemi Flu global, dimana jumlah korban tewas Amerika Serikat sebanyak 10 juta orang; selanjutnya, pandemi flu tahun 1958. Jumlah korban jiwa di Amerika Serikat sebesar 116.000 orang. Termasuk pandemi flu Spanyol yang terbawa dari Kansas, Amerika Serikat pada tahun 1918. Jumlah kematian di Amerika Serikat mencapai 670.000 orang.

Walaupun ke empat wabah di atas sangatlah parah. Tetapi, ekonomi global saat itu hanya mengalami bentuk V. Dengan kata lain, resesi yang cepat, tetapi juga pemulihan yang cepat juga.

Setelah dua bulan kemudian, yaitu saat ini China memimpin dalam mengendalikan epidemi Covid-19. Pada waktu bersamaan, China juga akan memimpin seluruh dunia dalam pemulihan ekonomi. Organisasi atau perusahaan yang telah mendesak untuk memindahkan rantai pasokan keluar dari China mulai terbungkam mulutnya. Paling tidak, masalah pemindahan rantai pasokan tidak akan diangkat lagi menjadi bahan pembicaraan dalam jangka pendek.

Pemulihan ekonomi Tiongkok sebagian besar tergantung pada perkembangan situasi epidemi dunia.  Sekarang, ekonomi Tiongkok telah tidak dapat dipisahkan dari negara-negara lain di dunia. Banyak perusahaan ekspor China mengalami pembatalan order dari luar negeri berhubung meluasnya wabah di negara lain. Industri shipping global telah menyusut secara dramatis, dengan kerugian rata-rata $ 350 juta per minggu .

Penyusutan UMKM di Tiongkok juga menjadi sorotan mata dunia. Karena, UKM adalah pilar tiang yang sangat penting bagi perekonomian setiap negara. Jumlah pekerja di UKM Tiongkok mencapai 80%, mengkontribusikan PDB lebih dari 60%.

Menurut laporan dari Think tank RAND, Christopher J. Bowie Di satu sisi, perusahaan kecil dan menengah China tidak dapat menghindari kebangkrutan. Banyak diantaranya harus mengakhiri bisnis mereka dalam epidemi ini.

Namun Di sisi lain, RAND juga optimis tentang UKM lebih fleksibel daripada perusahaan besar lainnya. Langkah-langkah dukungan sebelumnya dari pemerintah Beijing juga terbukti sangat efektif. Jika Beijing terus mendukungnya, perusahaan kecil dan menengah umumnya akan dapat mengatasi kesulitan ini.

Dampak epidemi terhadap ekonomi Tiongkok sangat besar, dan masih jauh dari selesai. Tetapi tidak sampai pada tingkat yang tidak dapat dikendalikan. Fondasi dasar ekonomi Tiongkok sangat kuat, dan keseluruhan prospeknya sangat optimis.

Menurut Carnegie Endowment for International Peace, Paul Haenle yang dulunya berasal dari Angkatan Darat AS, dan merupakan manajer proyek Dewan Keamanan Nasional AS selama masa pemerintahan George W. Bush menerbitkan laporan pada tanggal 11 maret 2020. Dalam laporannya, beliau mengatakan,”epidemi Covid-19 hanya akan membuat hubungan Tiongkok-AS lebih tegang. “Mengapa?”

Pertama, dilihat dari sifat karakter Donald Trump yang cendrung menyalahkan orang lain menimbulkan kurangnya rasa saling percaya antar dua negara semakin parah.

Sebenarnya, setelah berakhirnya SARS pada tahun 2003 , China dan Amerika Serikat justru membentuk kemitraan kesehatan masyarakat yang sangat baik. CDC dari Amerika Serikat, bahkan mendirikan cabang dan memiliki staf permanen di China.

Setelah krisis kesehatan masyarakat muncul kembali, Amerika Serikat dan China Dapat bekerja sama dengan cepat. Dari perspektif Amerika, baik George Bush Jr maupun pemerintahan Barrack Obama terus mempertahankan kerjasama ini.

Namun sayangnya, setelah Trump berkuasa, hubungan kerja sama kelembagaan ini diputuskan. Sebagian besar personel di China ditarik kembali ke Amerika. Oleh karena itu, setelah pecahnya epidemi ini, tidak ada koordinasi mekanis antara China dan Amerika Serikat. 

Perluasan pengaruh China dalam Dunia Global membawa kecemburuan di pihak Paman Sam. Laporan Carnegie mengatakan, epidemi ini sekali lagi menimbulkan kekhawatiran tentang meningkatnya pengaruh China terhadap negara Barat/Eropa. Terutama,  pengaruhnya dalam organisasi internasional seperti WHO. Itulah sebabnya, Donald Trump bermaksud menghentikan dana operasi WHO berhubung WHO dituduh tidak melayani kepentingan AS.

Carnegie juga menunjukkan, setelah krisis keuangan pada tahun 2008 yang merupakan hasil kerjasama yang erat antara kedua negara Superpower ini, yaitu China membantu AS keluar dari krisis dengan membeli banyak Obligasi Amerika. Sehingga, ekonomi dunia dengan cepat keluar dari resesi. Namun, kali ini China dan Amerika Serikat tidak ada mekanisme yang layak, akibatnya tentu akan menghambat pemulihan ekonomi global, sama-sama menderita.

Dalam laporan Carnegie, banyak orang Amerika Serikat khawatir epidemi akan mencegah China untuk mengimplementasikan fase pertama perjanjian Perang Dagang untuk membeli produk-produk Amerika seharga 200 miliar dolar AS.

China sangat perlu memulihkan ekonomi, dan Trump perlu menstabilkan citra politiknya. Kedua belah pihak harus menstabilkan pasar dasar dalam jangka pendek. Sehingga mereka akan menemukan cara untuk mengimplementasikan fase pertama dari perjanjian perdagangan.

Dampak Covid-19 terhadap ekonomi AS-China
Dampak Covid-19 terhadap ekonomi AS-China (Image:Forbes)

Hubungan ekonomi Sino-AS masing-masing berusaha mempertahankan status quo. Pokoknya selama wabah, hubungan ini Tidak akan memburuk, tetapi juga tidak akan menjadi lebih baik. Amerika Serikat akan berusaha mempertahankan tarif impor yang tinggi walaupun ada tekanan epidemi.

Di sisi lain, laporan yang dikeluarkan oleh Henderson Institute pada pertengahan Maret , merangkum pengalaman awal perusahaan China dalam mengatasi epidemi yang patut dipelajari Amerika.

Sebagai contoh, pertama, para perusahaan harus melihat ke depan dan berusaha mencari cara penanggulangan terbaik. Misalnya, Master Kong perusahaan Mie Instant. Master Kong melacak situasi dinamis setiap hari. Master Kong dengan cepat mengalihkan fokusnya dari saluran ritel berskala besar ke O2O , e-commerce, dan toko-toko kecil.

Melalui pelacakan pembukaan kembali gerai ritel, mereka berhasil menyesuaikan rantai pasokannya dengan fleksibel. Sehingga setelah meletusnya wabah dalam beberapa minggu, rantai pasokannya telah pulih lebih dari 50% , atau sekitar tiga kali lipat dari pesaing utamanya.

Kedua, mempraktikkan mode tindakan dari bawah-keatas, untuk melengkapi tindakan dari atas kebawah. Artinya, menekankan inisiatif lini pertama di saat krisis.

Ketiga, menciptakan kejelasan dan keamanan bagi sertiap karyawan. Istilahnya, informasi selama wabah mudah menyebabkan kepanikan, membingungkan dan saling bertentangan. Pada saat ini, perusahaan harus bertindak cepat membuat proses yang jelas dan dapat dioperasikan, termasuk cara bekerja, dan cara melindungi diri para karyawan. 

Just like grandma says, Dampak Covid-19 terhadap ekonomi AS-China seperti kutipan terkenal dari mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, “Never let a good crisis go to waste, atau Jangan mensia-siakan suatu krisis yang bagus.”

Krisis epidemi Covid-19 masih jauh dari selesai, tetapi proses belajar dari krisis dan perbaikan dari krisis harus dimulai sejak dini.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.