Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley

Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley terutama industri teknologi informasi dan bioteknologinya. Misalnya, lima perusahaan teknologi informasi paling representatif dan dua perusahaan bioteknologi. Sebagai pengamat Silicon Valley, Ricky ingin memperkenalkan perubahan apa saja di Silicon Valley yang patut kita perhatikan.

Melalui Silicon Valley hari ini, kita dapat melihat hari esoknya. Dikombinasikan dengan kemarinnya, kita juga dapat melihat beberapa karakteristik masyarakat komersial, masyarakat sipil, dan masyarakat teknologi. Karakteristik dan hukum ini mungkin juga berlaku bagi banyak daerah dengan pertumbuhan tinggi di Indonesia.

PDB tahunan Amerika Serikat pada kuartal kedua turun sekitar 33%. Banyak laporan media mengatakan turun 1/3. Sebenarnya, semua ini dikarenakan masalah statistik yang berbeda. Menurut cara perhitungan Amerika Serikat menghitung PDB, perubahan triwulanan akan diperkuat empat kali lipat bila dimasukkan dalam perhitungan setahun.

Ini setara dengan mengibaratkan “apa yang akan terjadi jika tren ini berlanjut selama satu tahun penuh”. Oleh karena itu, GDP tahunan turun 33% , setara dengan tingkat penurunan aktual pada Dua kuartal sekitar 8% .

Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley

Pendapatan Apple pada kuartal pertama tahun 2020, pada dasarnya sama dengan tahun lalu. Ada sedikit peningkatan. Alasan utamanya karena pendapatannya di Tiongkok mengalami penurunan yang relatif besar. Sehingga, mengimbangi pertumbuhan negara lain.

Omset Apple dalam satu kuartal, hampir 60 miliar dolar AS. Laba bersihnya melebihi 10 miliar dolar AS. Pada kuartal kedua, pendapatan Apple secara tak terduga 11% lebih tinggi dari tahun lalu. Hal ini dikarenakan peningkatan tajam pendapatan di Amerika Serikat dan Eropa. Dan penurunan bisnisnya di China juga mulai terkendalikan.

Setelah dua kuartal, omset Apple mendekati 120 miliar Dolar. Peningkatan dari tahun ke tahun sebesar 5%. Laba setengah tahun melebihi $ 25 miliar. Peningkatan 10% dari tahun ke tahun. Mengingat basis besar bisnis Apple dan lingkungan ekonomi global yang tidak terlalu baik, kinerja ini boleh dibilang sangat bagus.

Perusahaan kedua yang layak disebut adalah Alphabet. Perusahaan induk Google. Pendapatannya memang terpengaruh oleh epidemi global. Pendapatannya di kuartal kedua turun 2%. Tetapi pendapatannya di kuartal pertama meningkat hampir 10%. Pendapatan Alphabet dalam dua kuartal mencapai 80 miliar Dolar. Keuntungan bersihnya mendekati 14 miliar dolar AS. 

Hal ini berkat bisnis YouTube-nya yang telah berkembang pesat selama epidemi. Selain itu, dari kuartal pertama hingga kuartal kedua, Youtube tidak hanya tidak ada PHK, tetapi juga mempekerjakan 4.000 orang baru.

Total Pendapatan tahunan kedua perusahaan, Apple dan Alphabet melebihi PDB Malaysia. Mendekati PDB Austria. Bisa dikatakan mereka berdua sangat sukses di masa pandemi.

Pada paruh Pertama tahun 2020, Omset gabungan Facebook , Intel, dan Cisco mendekati 100 Miliar Dolar AS. Meningkat hampir 10% dibandingkan tahun lalu.

Dari data di atas, tampaknya Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley tidak berdampak apa-apa terhadap perekonomian perusahaan Teknologi Raksasa di sana. Namun, perlu diketahui perusahaan teknologi informasi hanya sebagian dari Silicon Valley. Bukannya keseluruhan.

Jadi, bagaimana Kinerja perusahaan Farmasi berteknologi tinggi di Silicon Valley?

Dalam Pandemi Covid-19 global ini, perusahaan biomedis yang paling menarik perhatian dunia adalah Gilead Science. Produk Vaksin yang dikembangkannya menjadi populer dalam epidemi mahkota baru ini. Berhasil menarik perhatian Global.

Mungkin Banyak orang belum pernah mendengar tentang perusahaan Gilead Science sebelumnya. Karena mereka memang sangat berprofil rendah. Namun, bila Ricky sebutkan contoh kecil mengapa Gilead Science sebenarnya sangat populer dikalangan Medis. Hari ini, hepatitis B dan hepatitis C tidak lagi berbahaya, karena sudah ada vaksin dan obat-obatnya. Semua ini berkat produk Gilead Sciences. 

Gilead Science adalah salah satu perusahaan biofarmasi terbesar di dunia. Salah satu perusahaan terbesar di Silicon Valley. Dengan pendapatan tahunan US $ 20 miliar.

Pendiri perusahaan, Michael L. Riordan adalah seorang dokter yang sangat dihormati. Gilead Sciences jarang membuat hype. Mereka sangat serius dengan penelitian ilmiah. Harga sahamnya naik 30% selama epidemi. Namun, pendapatannya di paruh pertama tahun ini turun 3%. Anda akan merasa aneh?

Sebenarnya, penurunan 3% telah merupakan kinerja terbaik di antara semua perusahaan farmasi besar di dunia. Perusahaan biofarmasi terbesar kedua di kawasan Silicon Valley adalah Genentech.

Genentech, induk perusahaan Roche Pharmaceuticals di Swiss tidak mengeluarkan laporan keuangan tersendiri. Pendapatan Roche sekitar 30 miliar Euro. Turun 4% pada paruh pertama tahun ini. Pendapatan Genentech sebagai induk perusahaan biasanya menyumbang sekitar 1/3 dari Roche.

Dari beberapa sumber yang terpercaya, pendapatan Genetech sebenarnya menurun lebih dari 10%.  Anda mungkin penasaran, kenapa? 

Mereka mengatakan karena wabah Covid-19. Semua orang takut pergi ke rumah sakit untuk melihat dokter. Sehingga pendapatan semua pabrik farmasi turun drastis.

Sebenarnya, banyak obat resep, terutama obat anti kanker diproduksi oleh Genentech. Obat ini harus digunakan di rumah sakit. Para pasien tidak diperbolehkan untuk membawa pulang dan meminumnya sendiri. Selama masa epidemi, banyak orang tidak berani berobat ke Rumah Sakit. Itulah sebabnya, pendapatan kebanyakan perusahaan farmasi besar lainnya seperti Johnson&Johnson, Pfizer dan sebagainya juga menurun drastis. 

Bagaimana Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley dalam hal ketenagakerjaan dan investasi?

Keberhasilan Silicon Valley sebagian besar bergantung pada pengembangan Teknologi terbaru seperti AI atau Kecerdasan Artifisial saat ini. Termasuk pengembangan berkelanjutan dari perusahaan multinasional baru. Sebelum menjadi perusahaan multinasional besar, perusahaan-perusahaan ini harus mengandalkan modal ventura untuk mendukungnya. 

Sejak merebaknya epidemi, investasi menurun sangat parah. Dalam beberapa tahun terakhir di Silicon Valley, biasanya ada sekitar 3000-4000 transaksi investasi dalam setahun. Mulai dari putaran awal hingga putaran B, putaran C, dan lain-lain. Rata-rata sebulan ada sekitar 300 kali transaksi. 

Akan tetapi, Dari bulan Maret hingga Juni tahun ini, hanya terdapat 600 transaksi investasi dalam empat bulan. 40% lebih kecil dari tahun-tahun sebelumnya. Terutama investasi seed round berkurang 57%. Hal ini menunjukkan bahwa semasa wabah pandemi, kebanyakan semua orang harus tinggal di rumah. Work from Home.

Untuk mengukur kualitas perekonomian suatu negara, selain melihat pendapatan usaha dan status investasi, kita juga perlu melihat tingkat penganggurannya. Karena jika hanya sedikit individu yang mendapatkan keuntungan, maka sebesar apapun agregat ekonominya, hal tersebut tidak begitu berarti bagi masyarakat. 

Meskipun tidak banyak perusahaan besar di kawasan Silicon Valley yang memberhentikan karyawannya, tapi tingkat pengangguran telah meningkat dari 3% tahun lalu menjadi 11,3% pada Mei tahun ini. Pada dasarnya setara dengan tingkat pengangguran seluruh Amerika Serikat.

Dari tiga krisis ekonomi di Amerika Serikat, Silicon Valley mengalami angka pengangguran tertinggi saat ini. Ketika gelembung Internet terjadi pada tahun 2001, tingkat pengangguran di Silicon Valley pernah mencapai 11%. Tetapi tidak setinggi puncak kali ini. Selama krisis keuangan tahun 2008-2009, Silicon Valley hampir tidak terpengaruh. Bahkan setelah krisis keuangan, daya saing global perusahaan Teknologi Silicon Valley justru meningkat.

Dalam krisis ekonomi yang ditimbulkan oleh epidemi kali ini, Silicon Valley bisa digambarkan sebagai Dua macam dunia. Di satu sisi, perusahaan seperti Apple dan Google berkinerja sangat baik. Di sisi lain, banyak industri lainnya terpukul hebat.

Kawasan Silicon Valley selalu memberikan kesan mereka didominasi oleh perusahaan-perusahaan teknologi. Akan tetapi dalam hal ketenagakerjaan, karyawan yang terkait dengan teknologi tinggi sebenarnya hanya menyumbang sebagian kecil dari jumlah karyawan di Silicon Valley. Kebanyakan orang bergerak di industri lain. 

Hukum Ricardo atau Ricardo’s law of comparative advantage yang menekankan pada hubungan ekonomi antara pusat regional dan sekitarnya. 

Bila Harga tanah di pusat regional tinggi maka akan menjalar ke sekitarnya. Apabila ekonomi bagus, pusat kota akan mendorong daerah sekitarnya naik bersama. Apabila ekonomi tidak bagus, daerah sekitarnya akan anjlok. Tetapi kawasan pusat pada dasarnya bisa dipertahankan. Karena selalu ada banyak orang yang berusaha masuk ke pusat kota.

Hukum Ricardo terbuktikan dalam Silicon Valley

Silicon Valley setara dengan salah satu kawasan sentral dari seluruh perekonomian AS. Ketika perekonomian AS secara keseluruhan tidak baik, kawasan tengah ini relatif kurang terpengaruh karena daya saing globalnya yang sangat kuat. Inilah sebabnya mengapa situasi ekonomi secara keseluruhan di Silicon Valley cukup bagus.

Disamping itu, fundamental ekonomi Silicon Valley cukup kuat. Setiap wilayah, perusahaan, maupun individu, pasti memiliki fundamentalnya sendiri.

Saat memasuki siklus Naik ke atas, mereka semua akan ikut berkembang. Misalnya, wilayah yang pandai manufaktur akan mempertimbangkan untuk mengembangkan teknologi tinggi. Perusahaan IT akan mempertimbangkan investasi. Atlet yang jago berlari 200 meter akan mempertimbangkan untuk ikut perlombaan 100 meter atau 400 meter.

Namun begitu krisis tiba, mereka harus menguruskan diri kembali ke dasar masing-masing. Bagi sebuah perusahaan, mereka harus memotong atau menjual lini produk yang kurang menghasilkan pendapatan. Bagi suatu wilayah, industri non-dasar terpaksa ditutup. Bagi seorang atlet, ia harus melindungi keunggulan terkuat Medali emasnya.

Di kawasan Silicon Valley, industri informasi berteknologi tinggi adalah Fundamentalnya. Oleh karena itu, ketika krisis datang, Fundamental di Silicon Valley akan tetap terjaga dengan baik. Bahkan krisis yang meluas ini akan memungkinkan perusahaan Silicon Valley menempati pasar yang lebih besar dalam persaingan global. 

Jika kita melihat penjualan ponsel dalam beberapa bulan terakhir, kita dapat menyadari hal ini. Perusahaan besar seperti Apple masih terus bertumbuh. Sementara sebagian besar merek kecil lainnya semakin menurun. Perusahaan-perusahaan yang menyebabkan tingkat pengangguran di Silicon Valley naik, mereka pada umumnya tidak memiliki Fundamental yang kuat.

Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley
Dampak Virus Corona bagi Silicon Valley (Image: WSJ)

Demikian pula halnya, seseorang juga perlu memiliki Fundamental sendiri. Ini adalah bekal bersaing masing-masing. Bagi yang tidak memiliki fundamental ini akan sulit bertahan ketika menghadapi bencana. Ibaratnya, seseorang memiliki 10 prestasi nilai 90, tetap tidak sebanding dengan 1 prestasi dengan nilai 100 poin. Inilah pentingnya fundamental.

Just like grandma says, Hanya aset berkualitas tinggi, perusahaan berkualitas tinggi, maupun individu berkualitas tinggi yang dapat mempertahankan nilainya dalam krisis, menurut Hukum Ricardo. 

Oleh karena itu, tidak peduli apakah itu perusahaan atau perorangan, kita perlu mencari posisi yang cocok di “Pusat”. Bukannya, menjadi raja di tempat yang tidak ada harimau di sekitarnya. Ini adalah inspirasi yang dibawakan oleh perubahan di Silicon Valley selama epidemi Covid-19 kepada Ricky.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.