Advertisements

Daya Saing Indonesia

Oleh: Ricky Suwarno

23 Juni 2019

Perang Dagang AS-China tidak akan reda dalam waktu dekat. Ekspor tidak bisa lagi jadi andalan. Baik AS maupun China saling berbalas menaikkan tariff produk impornya. Dan belum menemukan kata sepakat sampai pertemuan G20 belum lama ini di Jepang.

Negara yang lemah fondasi ekonomi dan ekspornya jadi ikut kembang-kempis. Menanti kepastian dari dua penguasa ekonomi dunia ini. Dampaknya, permintaan dan harga barang ikut lesu. IMF memangkas pertumbuhan ekonomi global tahun ini sekitar 3,3%. Atau turun 0.2 poin dari estimasi.

Ada tiga faktor yang menentukan kemampuan suatu negara untuk terus menjadi kompetitif. Dalam arena persaingan global. Terutama, dalam perang dagang yang tidak kunjung padam.

Pertama adalah teknologi. Termasuk teknologi perangkat keras. Teknologi perangkat lunak. Dan Manajemen. Manajemen merupakan bagian dari teknologi. Dan sangat penting. Indikator untuk mengukur teknologi tidak hanya bergantung pada produk yang dihasilkan. Tetapi juga pada jumlah total investasi litbang di suatu negara. Dan proporsi ekonomi secara keseluruhan. Serta efisiensi litbang itu sendiri.

Faktor Kedua, bakat atau talenta. Perlu mekanisme pelatihan bakat yang baik untuk menjadi pemimpin secara teknologi. Karena itu, sangat penting bagi Presiden Jokowi untuk melatih lebih banyak talenta insinyur di perguruan tinggi.

Ketiga adalah toleransi. Toleransi adalah hal institusional. Yang terkandung dalam semua aspek. Seperti nilai-nilai, kebijakan, dan cara melakukan sesuatu. Toleransi sangatlah penting bagi suatu negara. Termasuk Indonesia, yang berBhinneka Tunggal Ika. Dari Sabang sampai Merauke. Karena karakteristik dasar dari bakat adalah bahwa mereka sangat fleksibel. Mereka suka bertanya. Mereka sangat memilih. Dan sangatlah inovatif. Sejarah menunjukkan, hanya lingkungan yang sangat toleran yang dapat menampung bakat. Dan bahkan terus menarik talenta negara lain untuk mengalir ke sini. Misalnya, Silicon Valley, pusat inovasi Amerika Serikat. Ataupun, zhongguancun, pusat inovasi China. Mengapa China bisa membangun negaranya begitu cepat dalam 40 tahun ini. Dari negara terbelakang, sampai menjadi negara perekonomian kedua terbesar dunia. Semuanya, terletak pada satu kata “Toleransi”.

Negara yang radikal, atau kurang toleran ditakdirkan menjadi negara terbelakang. Karena mereka tidak bisa menerima perbedaan. Dan tentu saja, kerugian terbesar adalah negara itu sendiri.

Sebenarnya, Daya saing utama suatu negara adalah mampu menyediakan produk non-material. Seperti sains dan teknologi. Budaya dan Seni. Termasuk gaya hidup.

Just like grandma says, “Tidaklah sulit untuk menyediakan produk-produk material. Tetapi, bagi negara yang mampu menyediakan produk-produk non-material kepada dunia adalah hal yang paling noble. Paling luarbiasa. “Karena ini akan mengubah politik, ekonomi, sosial, gaya hidup dan manajemen manusia.”

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, daya saing Indonesia, toleransiTags: , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: