Di atur dan dibatasi

Oleh: Ricky Suwarno

For the petlovers. Pernahkah kamu berjalan di pinggir pantai menikmati indahnya suasana pedesaan bersama anjing kesayangan?

Yah, memang suatu pengalaman yang asyik kan? Tetapi topik kita hari ini bukan tentang anjing kesayangan. Yuk simak cerita berikut.

Sebelum tahun 2018, perusahaan teknologi seperti, Alibaba, Tencent, Google, Facebook, Apple dll adalah kesayangan seluruh dunia. Tentang ambisi mereka mengubah dunia ini. Sambil Menikmati kenyamanan yang diberikan.

Namun, sejak 2018, perusahaan kesayangan ini mulai dicurigai. Baik itu di China, maupun di Amerika Serikat.

Belum lama ini, Bill George menulis artikel di Majalah Fortune. Tentang lima masalah yang harus dihadapi mereka. Dan diselesaikan dalam tahun 2019. Bill menegaskan bila tidak ditangani dengan baik, mungkin pemerintah atau masyarakat setempat yang akan menanganinya.

Loh, masalah apa sih bisa serius gitu?

Bill George adalah usahawan yang sangat terkenal. Yah, tetu tidak sepopuler Mark Zuckerberg lah. Bill pernah menjabat ketua dan CEO Medtronic. Sebuah perusahaan perangkat medis. Dia pernah dinobatkan sebagai salah satu manager terbaik oleh majalah Business Week.

Sesudah pensiun, dia terus menjabat sebagai direktur beberapa perusahaan penting. Dan melanjutkan penelitian kepemimpinan dan tata kelola perusahaan di Harvard business school.

Pertama, masalah privasi.

Pada tahun 2018, jejaring media sosial raksasa Facebook di tantang tentang pembocoran privasi dan data pengguna. Dimana Facebook menjual data pengguna yang menyebabkan Trump memenangkan pemilihan presiden di tahun 2016. Reaksi berantai ini menyebabkan harga saham facebook anjlok.

Demikian juga, Google menggunakan browser dan Android untuk mengumpulkan data pengguna. Karena memasuki jaman AI, data pengguna adalah segalanya. Jauh lebih berharga dari minyak. Ataupun intan berlian.

Dalam hal regulasi, tindakan Uni Eropa adalah yang paling jelas. Pada mei 2018, mereka meluncurkan peraturan perlindungan data Umum. Tampaknya, pengawasan terhadap internet raksasa akan terus berlanjut di tahun ini.

Kedua, masalah monopoli.

Hampir semua internet raksasa memiliki platform mereka sendiri. Yang bisa memainkan efek jaringan dan efek skala. Sehingga pesaing lain akan sulit menantang mereka.

Dan tentu saja, ini juga menimbulkan kontroversi tentang monopoli. Di musim panas 2018, Uni Eropa menganggap Google menyalahgunakan system operasi Android. Dan memaksakan persaingan yang kurang adil. Sehingga google di denda sebesar usd5.1 Milyar.

Tentu saja, everything happens for a reason. Ini sebagai balasan UE atas proteksionisme perdagangan oleh Trump. Pajak impor yang tinggi.

Pada saat yang sama, Trump juga mempertimbangkan tuntutan hukum antimonopoly terhadap Amazon, Google dan Facebook di akhir tahun 2018. Dan mengancam kalau perlu, CEO nya bisa masuk penjara.

Ketiga, masalah protes dari para karyawan.

Di amerika serikat, para karyawan internet raksasa mulai memprotes perusahaannya untuk melakukan perubahan. Umpamanya, di November 2018, lebih dari 20 ribu karyawan Google mogok. Memprotes pelecehan seksual yang selalu diabaikan.

Ataupun, serangkaian manajemen eksekutif yang meninggalkan Facebook. Hanya karena tidak setuju dengan budaya perusahaan.

Talenta adalah inti persaingan. Sehingga memungkinkan karyawan atau talenta ini bisa memberikan tekanan pada perusahaan.

Keempat, masalah kecanduan produk teknologi. Kritikan bahwa raksasa internet menggunakan umpan supaya pengguna lebih banyak menggunakan produk mereka. Atau memancing pengguna mengklik lebih banyak iklan.

Sebagai tanggapan, Tencent harus mengeluarkan serangkaian peraturan. Membatasi pengguna di bawah umur 18 tidak boleh bermain game Honor of the King. Atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Mobile Legends. Diatas jam 8pm-10am misalnya.

Atau setiap mobile game developer harus meminta nomor lisensi dari pemerintah China. Sebelum meluncurkan seluler gamenya. Dimana waktu approval untuk lisensi ini perlu 3-6 bulan.

Apple juga mengirimkan pengingat waktu. Untuk penggunaan layar iPhone atau MacBook.

Jika perusahaan raksasa ini tidak menanggapi dengan serius, nantinya mereka harus berhadapan dengan pembuat regulasi. Dan Masyarakat sebagai pengguna.

Kelima, masalah tata kelola.

Masalah Yang paling menonjol adalah Uber. Tesla. Facebook.

Pendiri dan CEO Uber, Karanic dikeluarkan dari Dewan Direksi.

CEO Tesla, Elon Musk bersumpah di Twitter. Dan menyerang investor, dan mengusulkan privatisasi Tesla. Artinya Tesla menjadi milik individu Musk. Akibatnya, muncul serangkaian masalah. Sampai Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) melarang Musk sebagai ketua dewan perusahaan.

Bahkan, Pendiri dan CEO Facebook juga telah diminta untuk mengundurkan diri di tahun 2018.

Just like grandma says, mungkin perusahaan raksasa ini perlu mendirikan Dewan Direksi yang kuat. Dewan direksi tidak boleh hanya berperan sebagai penasehat. Tetapi juga memikul tanggungjawab tata kelola perusahaan.

Lalu memperkuat kerjasama dengan para pemangku kepentingan. Memanfaatkan berbagai perspektif membangun perusahaan yang lebih stabil. Dan lebih berhasil.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.