Dilema Barat dengan Islam

Dilema Barat dengan Islam bisa dipersatukan dengan kekuatan cinta seperti dalam film Khan. Islam di Tiongkok telah ada sejak 1400 tahun yang lalu. Umat Islam adalah signifikan kelompok minoritas di Tiongkok. Konsentrasi populasi terbesar berada di propinsi Xinjiang. Dengan signifikan penduduk Uyghur. Yang lainnya tersebar di daerah Ningxia. Gansu. Dan Qinghai. Sekitar 4% Total penduduk muslim tinggal di Tiongkok. Jauh lebih banyak di banding orang Tionghoa yang bermukim di Indonesia.

Dalam lanskap politik dan ekonomi dunia saat ini, China berpengaruh sangat penting dalam struktur dua siklus di atas. Tidak ada urusan internasional yang bisa diselesaikan tanpa keterlibatan China. Pola dunia baru ini telah menyebabkan Polarisasi serius antara si kaya dan si miskin. Terutama di negara-negara Barat. Sehingga menyebabkan babak baru krisis ekonomi dan konservatisme politik.

Salah satunya adalah wilayah Islam yang melintasi Asia Tengah. Ke Afrika Utara. Dan yang lainnya adalah Afrika sub-Sahara. Dunia Islam pada Abad Pertengahan, sangatlah kaya dan kuat ekonominya. Bahkan sangat terbuka dan inklusif. Pada saat itu, para pemikir Islam bahkan ikut menerangi Renaisans Eropa. Tetapi Mengapa saat ini, wilayah Islam mengalami serangkaian dilema di dunia modern?

Dilema Barat dengan Islam

Ketika berbicara tentang ke kekacauan di dunia Islam, reaksi pertama kebanyakan orang mungkin langsung berasosiasi dengan Negara Islam (ISIS).

Organisasi ini sebenarnya, organisasi terkaya dalam organisasi teroris di dunia sekarang. Bahkan konon kabarnya, Osama Bin Laden tidak ada bandingannya. Tetapi, Yang mengherankan adalah banyak teroris di Negara Islam justru berasal dari pemuda Muslim yang tumbuh di negara-negara Barat.

Sebagian besar orang Barat menuduh, Islam adalah agama yang kejam. Saya yakin Tuduhan semacam ini sama sekali tidak ada landasan fondasi. Karena saya tahu persis, ajaran Islam selalu mengajarkan orang untuk berbuat baik. Mencintai perdamaian. Mengajari penghormatan kepada yang tua. Dan mencintai yang muda. Disisi lain, juga mengajarkan umat untuk tidak pernah berkompromi atau menyerah. Dan harus berani melawan ketidakadilan.

Kedua hal ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari umat Islam. Tetapi mereka tidak mudah diwujudkan dalam kehidupan dan tindakan sehari-hari.

Jadi pertanyaannya, kapan sisi yang mencintai perdamaian diwujudkan? Dan kapan sisi tidak berkompromi itu dilaksanakan? Dengan Mengenal masalah ini, kita baru bisa mengerti gejolak Dunia Islam saat ini.

Aspek umat Islam yang mana yang dipresentasikan, tergantung secara mendasar pada jenis struktur sosial tempat dimana umat Islam itu berdomisili.

Jika umat Islam tersebut tinggal di komunitas yang sangat tradisional, seperti dipedesaan. Dimana semua penduduk saling mengenal. Maka sisi yang ramah dan cinta damai akan ditampilkan. Mereka saling menghargai. Tulus. Ramah dan sangat harmoni. Inilah kesan mengapa saya sangat suka ajaran Islam.

Di sisi lain, umat Islam yang tinggal di kota besar. Yang kebanyakan asing satu sama lain. Apabila umat Islam tersebut kurang memiliki keterampilan atau bakat lainnya, Sehingga mereka mengalami hidup yang susah dalam persaingan. Atau kadang mungkin di diskriminasi.

Maka sisi yang mengajarkan orang untuk tidak pernah kompromi akan ditampilkan. Umat Islam percaya, walaupun seluruh dunia tidak mengakuinya, tetapi Allah masih tetap bersamanya.

Hal ini menjelaskan satu keadaan. Allah tidak mungkin salah. Berarti dunia ini yang salah. Sehingga umat tersebut merasa bertanggungjawab. Dan berkewajiban mengubah konsep dunia yang tidak benar, Sehingga dia merasa sangat bertanggungjawab untuk menegakkan keadilan.

Disamping itu, Karena tingkat pendidikan yang rendah, umat tersebut mungkin tidak tahu harus melawan apa. Dia hanya secara intuitif merasa bahwa orang-orang di kota besar itu bukanlah orang yang baik.

Mungkin inilah sebabnya, banyak pemuda Islam yang tumbuh di Barat pergi ke Timur Tengah untuk berpartisipasi dalam Negara Islam (ISIS).

Sebenarnya, Semangat perlawanan tegas yang tidak kenal kompromi ini, juga bisa ditemui dalam agama Yahudi. Kristen, dan Katolik. Hanya karena di dunia nyata saat ini, Yudaisme dan Kekristenan berada dalam posisi lebih dominan. Sehingga mereka lebih percaya diri dan toleran. Dan sisi pemberontakannya lebih terdilusi.

Pada Abad Pertengahan, Islam adalah agama yang paling percaya diri dan toleran. Karena Kekaisaran Arab pada saat itu sangatlah makmur. Dan berjaya. Dunia Kristen saat itu sangat terbelakang. Dan kurang cerdas. Sehingga orang-orang Kristen pada waktu itu lebih berpikiran sempit. Tetapi di zaman modern, tingkat perkembangan telah terbalik. Dan mental orang juga telah terbalik.

Pada dasarnya, Negara-negara modern saat ini memiliki dua prinsip dasar. Demokrasi dan sekularisme. Tetapi kedua prinsip ini sulit untuk hidup berdampingan di negara-negara Muslim.

Selama pemilihan demokratis yang dipilih, maka partai-partai keagamaanlah yang berkuasa. Sehingga prinsip sekularisasi akan menghadapi tantangan. Tetapi Jika bertahan dalam prinsip sekularisasi, berakibat politik dikuasai oleh orang kuat militeran. Sehingga tidak ada hubungannya dengan prinsip demokrasi lagi.

Negara-negara di Timur Tengah dan Afrika Utara, jika tidak diperintah oleh pangeran-pangeran feodal, pada dasarnya diperintah oleh orang militeran yang kuat. Mereka, pada dasarnya menekan kepercayaan agama.

Sebagian besar sejarah negara-negara Muslim lebih singkat. Kebanyakan mereka terbentuk setelah dua perang dunia. Dalam persaingannya dengan orang barat. Sehingga akhirnya, politik mereka sangat dipengaruhi oleh kekuatan Barat.

Bagi orang Barat, jika dua prinsip sekularisasi dan demokratisasi tidak bisa hidup bersama, maka orang barat lebih memilih prinsip sekularisasi.

Secara umum, negara-negara Barat tidak akan mengakui legitimasi pemerintah yang dibentuk melalui kudeta. Tetapi akhirnya, negara Barat juga mengakui secara diam-diam sekularisasi kudeta Barat dari negara-negara Muslim.

Ini agak memalukan bagi orang Barat. Mereka sangat bersemangat mempromosikan demokrasi di dunia ketiga. Tetapi menolak untuk menerima hasil pemilihan demokrasi dari negara-negara Muslim. Sehingga di mata umat Islam, ini hanya kemunafikan negara Barat.

Tentu saja, dari perspektif pihak ketiga, kita dapat mengatakan bahwa Barat tidak munafik. Melainkan, terlalu polos atau naif. Mereka tidak memperhitungkan prinsip-prinsip politik modern. Bahwa demokrasi dan sekularisasi memerlukan beberapa kondisi sosial yang harus ditetapkan. Mereka Mencoba menerapkan prinsip ini secara langsung ke negara-negara Muslim yang hanya akan menghasilkan hasil yang ceroboh.

Yang lebih kontradiksi lagi adalah aturan kekuatan politik tidak hanya bermasalah dalam standar Barat, tetapi juga tampaknya bermasalah dalam standar negara Islam.

Islam sangat mementingkan kesetaraan. Tetapi aturan orang kuat atau tangan besi tidak peduli kesetaraan.

Oleh karena itu, para teroris percaya bahwa kekuatan politik ini semuanya ulah orang jahat. Rezim yang mereka kontrol juga jahat. Jika mereka digulingkan, mereka dapat membawa keadilan kepada masyarakat. Akibatnya, tempat dengan terorisme terbanyak bukanlah di negara Barat. Melainkan dunia Islam sendiri. Di Timur Tengah.

Penguasa negara-negara Muslim tahu, bahwa mereka tidak dapat mengharapkan rakyat untuk benar-benar menerima keberadaan mereka secara politis. Tetapi jika mereka dapat membuat transkrip yang baik dalam perekonomian, rakyat pasti dapat menyetujuinya. Misalnya, Saudi Arabia dan negara Timur Tengah lainnya. Yang memakmurkan rakyatnya dengan hasil minyak.

Negara-negara Muslim terlalu peka terhadap naik turunnya perekonomian dunia. Terutama negara penghasil minyak. Begitu ekonomi dunia luar bersin, negara-negara timur tengah ini akan terkena flu. Begitu dunia luar terserang flu, negara-negara Muslim juga akan ikut sakitan.

Dilema Barat dengan Islam
Ajaran Islam yang selalu mengajarkan untuk berbuat baik dan Mencintai perdamaian

Seiring dengan kebangkitan Tiongkok, dunia Barat telah mengalami ketidakseimbangan secara internal. Untuk memperoleh dukungan suara yang lebih banyak, para politisi barat telah memperkenalkan berbagai kebijakan untuk mendorong orang untuk meminjam dan mengkonsumsi. Tetapi ekonomi riil telah menyusut, dan hari overdue ketika pinjaman belum bisa terlunasi.

Akhirnya, timbullah krisis ekonomi dunia ditahun 2008. Perekonomian dunia terserang flu. Orang Eropa tidak punya uang untuk berjalan-jalan di Afrika Utara. Dan harga energi dunia turun tajam. Timbullah krisis di negara-negara Muslim Atau terorisme.

Di wilayah yang bergejolak ini, ketertiban harus dibangun kembali. Sehingga kebangkitan Tiongkok sebagai kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia memegang peran yang sangat penting. Tetapi juga suatu menantang yang sangat besar.

Karena kebutuhan untuk membangun kembali ketertiban ini, metode dan pengalaman yang diperlukan sangat berbeda dari metode dan pengalaman yang biasa digunakan Tiongkok dalam membangun negara dan perekonomiannya.

Jenis ekonomi dan kebijakan apa yang paling tepat untuk negara-negara islam ini, perlu studi yang cermat. Terhadap tradisi dan masalah lokal dikalangan islam. Di banyak bagian dunia Islam, Dilema Barat dengan Muslim dan kebutuhan utama bukanlah pembangunan ekonomi, melainkan anti-terorisme.

Just like grandma says, sebagai salah satu kekuatan di dunia baik Tiongkok maupun Indonesia harus berpikir dari perspektif Global dalam menghadapi Dilema Barat dengan Islam. Dalam mengembangkan program yang konstruktif dan kreatif untuk membantu pertumbuhan ekonomi dan kestabilan dunia. Bukannya seperti adegan-adegan film action hollywood blood diamond atau Wolf warrior 2.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.