Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika

Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika, bukannya hanya presiden pendukungnya sendiri. Begitu pandangan Ricky terhadap Trump dalam Pilpres AS 2020. Dalam kampanye ini, Trump telah melakukan pekerjaan dengan baik. Misalnya, terbang ke lima negara bagian berturut-turut dalam satu hari untuk mengumpulkan suara pendukung. 

Ini adalah suatu tantangan berat bagi Orang Usia Lanjut seperti Trump. Namun dalam artikel ini, Ricky ingin berbagi tentang beberapa kesalahan Trump yang seharusnya bisa dihindari dan pelajaran apa yang telah Beliau berikan kepada kita.

Pilpres AS 2020 ditakdirkan berliku-liku. Pertama, jajak pendapat secara konsisten mengklaim bahwa Joe Biden memimpin. Menurut tingkat kepemimpinan yang ditunjukkan oleh jajak pendapat, boleh dikatakan bahwa terpilihnya presiden baru seharusnya tidak diragukan lagi. Namun masyarakat cukup curiga akan hal ini. Karena apa yang mereka lihat dan rasakan sangatlah berbeda dengan kenyataan. 

Misalnya, di media sosial Facebook atau Twitter. Berbagai statistik menunjukkan ada banyak orang yang mendukung Trump. Antusiasme mereka sangat tinggi. Seminggu sebelum pemilihan, dukungan besar-besaran Trump muncul di berbagai Negara bagian Amerika Serikat. Termasuk negara bagian California dan New York yang dulunya mendukung Partai Demokrat.

Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika

Kontradiksi antara hasil jajak pendapat dan perasaan tidak hanya menghalangi pemilih untuk menilai siapa yang menang atau kalah. Bahkan kedua kandidat Presiden juga tidak mempersiapkan perayaannya terlebih dahulu. Karena banyak surat suara kali ini yang dikirim lewat pos suara berhubung Pandemi virus Corona.

Pada umumnya, diperkirakan waktu penghitungan suara akan memakan waktu yang lama. Hal ini menyebabkan fluktuasi besar ke pasar saham pada minggu sebelumnya. Karena pasar saham tidak menyukai ketidakpastian.

Pada hari pencoblosan pada tanggal 3 November, hasil pemungutan suara juga berliku-liku. Di sebagian besar negara bagian, kota-kota besar terlebih dulu mengumumkan hasil. Sedangkan kota kecil lebih lambat. Berhubung segala kondisi yang buruk dan keterbelakangan. Sehingga pada awalnya, Biden memimpin didepan.

Tetapi dengan cepat, hasil voting dari kota-kota kecil mulai terhasilkan. Donald Trump mulai menyalip dan memimpin. Apalagi, berdasarkan kepemimpinan Trump, diperkirakan dia akan mendapatkan sekitar 286-306 suara elektoral. Dalam Pilpres AS, kandidat yang mendapatkan 270 suara elektoral lebih dulu akan menjadi pemenang. Sehingga, dalam pertengahan pemilihan ini, Donald Trump menunjukkan keunggulan yang relatif jelas.

Tetapi ada tanda-tanda yang kurang menguntungkan bagi Trump. Sayangnya, kurang diperhatikan Tim kampanye Trump pada saat itu. Yaitu, negara bagian merah tradisional Arizona telah membiru. Merah adalah lambang partai Republik. Biru adalah lambang partai Demokrat. Hal ini berarti, Negara bagian Arizona sebagai pendukung setia Partai Republik kali ini telah berubah mendukung Partai Demokrat. 

Ketika Donald Trump memimpin jauh didepan dalam negara bagian berstatus ayunan atau istilahnya “swing state”, 11 suara ini tampaknya tidak begitu penting. Tetapi ketika penghitungan suara terus berlanjut, perolehan suara Trump di swing state mulai tidak menguntungkan di periode selanjutnya. Arizona, sebuah negara bagian kecil yang secara historis tidak pernah dipentingkan, mungkin akan menjadi jerami terakhir yang menghancurkan unta.

Selama masa kuasa empat tahun, Donald Trump memang telah menorehkan banyak prestasi. Tetapi ada juga banyak pelajaran dan hal-hal yang cukup menjadi peringatan bagi kita. Misalnya, seorang politisi atau pemimpin tidak boleh melakukan pekerjaan yang tidak bermanfaat.

Swing state bukan seharusnya suara yang tidak boleh kehilangan. Karena Swing State sendiri memang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi. Tetapi dukungan tradisional Negara bagian merah ini, Trump seharusnya tidak boleh kehilangan 11 suara tersebut. Hal ini memang sangat disayangkan. Kejadian ini disebabkan oleh penyingungan Trump terhadap seseorang. Seorang mantan Senator dari Arizona. Mendiang veteran politik Amerika bernama McCain.

McCain adalah politikus yang pernah menjadi tawanan perang dalam Perang Vietnam di abad yang lalu. Pada saat itu, tentara Vietnam tahu bahwa dia adalah putra Laksamana dan Komandan Pasifik AS. Jadi, mereka berharap mendapatkan keuntungan dengan menawannya. Tapi McCain bersikeras menjadi tawanan perang di Vietnam. Beliau tidak bersedia ditukar dengan persyaratan yang merugikan kepentingan nasional. 

Oleh karena itu, setelah Perang berlalu dan McCain kembali ke Amerika Serikat. Dia dianggap sebagai pahlawan perang. McCain diagung-agungkan selama beberapa dekade berikutnya dalam politik. Terutama di kampung halamannya di Arizona.

Meskipun McCain adalah seorang penganut garis keras di Partai Republik, namun dia memiliki reputasi yang sangat tinggi. Karena keadilannya dalam urusan kenegaraan. Pada Pemilu 2008, akibat krisis finansial, Partai Republik memang tak punya harapan sama sekali untuk menang. Tapi McCain, sebagai calon presiden, tetap mempertahankan pijakan dasar Partai Republik.

McCain pernah meremehkan Trump dan menyatakan ketidaksetujuannya selama kampanye Trump di tahun 2016. Hal ini tentu saja membuat Trump merasa tidak enak. Trump Tersinggung dan menyimpan dendam dalam hati.

Trump bahkan mengatakan McCain hanyalah seorang tawanan perang. Bukan Pahlawan perang yang dipuja banyak orang. Akibatnya, Ini tidak hanya menyinggung McCain, tetapi juga menyinggung semua pendukung di belakang McCain. Terutama para pemilih di kampung halamannya di Arizona.

Kemudian di tahun 2017,Partai Republik berusaha untuk mencabut Program ” Obamacare ” dalam pemungutan suara Senat. McCain menolak keras. Trump sekali lagi mengeluarkan kecaman sambil mengatakan, “McCain tidak punya nyali.” 

Pada tahun 2018, ketika McCain meninggal dunia, Trump bersukacita atas kemalangannya. Ini bukanlah sikap yang seharusnya dimiliki seorang politisi atau pemimpin Negara Superpower seperti AS. Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika yang dapat menerima semua kritikan dari lawannya.

Pada saat pemilihan umum tahun 2020, sebenarnya sudah ada tanda-tanda bahwa Trump akan kalah di Negara bagian Arizona. Sayangnya, Trump tidak melakukan apa pun untuk memperbaikinya. Baik Trump maupun kampanye Timnya tidak melakukan banyak pekerjaan secara lokal untuk menebus kesalahan masa lalunya.

Sebenarnya, semua tingkah laku Trump terhadap banyak koleganya sama dengan tingkah laku terhadap McCain. Setiap kali terjadi sesuatu yang tidak selaras, Trump selalu berbicara buruk terhadap orang tersebut. Trump orangnya pendendam. Trump tidak bisa menerima ada orang yang jauh lebih hebat darinya, kata orang terdekat Trump. Oleh karena itu, banyak kolaboratornya kemudian berbalik melawannya.

Setiap orang mungkin dipengaruhi oleh Emosi. Kita semua mungkin pernah menghadapi pertentangan dari orang lain dalam hal tertentu. Namun, merasa tidak nyaman di hati adalah satu hal. Atau memiliki dendam yang harus dibalas adalah hal lain. Membalas dendam tidak bermanfaat bagi Trump. Namun, mungkin akan membuat dirinya bahagia. 

Terlepas dari apakah seorang politikus dapat mencapai tujuan mereka atau tidak, namun mereka sebaiknya tidak menyinggung atau menanam benih dendam dari orang lain. Sebaliknya, mereka seharusnya selalu membuat jalan atau peluang di kemudian hari. Jika Anda menempatkan orang di kubu yang sama sebagai musuh politik, hanya karena tujuan Anda belum tercapai, maka Anda hanya melakukan pekerjaan negatif yang membuat Anda semakin jauh dari Prestasi.

Terus Terang, menurut Ricky Pilpres AS 2020 bukanlah kampanye persaingan Trump dan Biden. Melainkan, lebih seperti referendum Rakyat AS melawan Trump. Sebenarnya, Para pemilih tidak peduli siapa lawan Trump. Negara bagian merah tradisional seperti Arizona berpaling dan memihak Biden bukan karena mereka menyukai Biden. Tetapi karena mereka tak berdaya. Mereka hanya ingin melihat Trump tersingkir dari Gedung Putih.

Sekalipun kita bukan seorang politikus, kita perlu belajar dari pelajaran Trump ini. Jangan melakukan hal-hal yang tidak berarti, hanya karena emosi sesaat.

Sebagai pemimpin, Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika. Bukannya hanya presiden pendukungnya sendiri. Pendukung Trump memang sangat antusias dalam pemilihan. Hal ini tergambarkan dalam gelombang merah di seluruh Amerika Serikat. Tapi hal ini hanya mewakili setengah dari orang Amerika. Dukungan mereka tidak bisa memenangkan kemenangan Mutlak bagi Trump.

Bila Trump cukup peka dan peduli, sebenarnya Banyak ajudannya pernah mengisyaratkan bahwa Trump harus menjadi presiden semua orang Amerika. Bukan hanya setengah dari para pendukungnya. Sangat Jelas Trump telah mengabaikannya.

Bila Dilihat dari unjuk rasa di kampanye Trump, para pendukungnya tampak sangat antusias. Tetapi sebagai seorang presiden, ini masih jauh dari cukup. Setidaknya Trump tidak boleh membiarkan pihak lain menentangnya dengan ekstrim.

Dalam historis, ada dua Presiden AS yang paling dihormati Donald Trump. Salah satunya, adalah Presiden Andrew Jackson di awal abad 19. Yang lainnya, adalah Ronald Reagan di abad terakhir tahun 80-an. Sebagai presiden, keduanya memiliki gaya kepemimpinan yang keras dalam melakukan sesuatu. Namun Pada saat yang sama, mereka masih dapat memperoleh dukungan luar biasa di seluruh negeri. 

Terutama Ronald Reagan. Beliau pernah mencetak rekor memenangkan suara 49 negara bagian dalam pemilihan umum. Pendahulu Trump, si Barrack Obama, sebenarnya adalah seorang presiden yang hanya mewakili separuh warga Amerika. Ini juga yang menjadi alasan penting gagalnya Partai Demokrat pada Pilpres tahun 2016. Saat itu, banyak orang memilih Trump karena tidak menyukai Partai Demokrat.

Sangat disayangkan, Trump sama sekali tidak mempelajari pelajaran dari pendahulunya si Obama. Paling tidak, Trump tidak mencoba untuk menutupi keretakan yang ditinggalkan oleh Obama. Bahkan, menjadi presiden dari separuh lainnya yang gagal. 

Dalam organisasi apa pun, walau hanya sebagai pemimpin kecil sekalipun, kita  harus menjadi pemimpin dari semua bawahan kita. Bukannya hanya pemimpin pendukung kita sendiri. 

Bukan semua orang akan puas dengan kita. Pasti ada juga sebagian orang yang menentang. Jadi, Sebagai seorang pemimpin, kita perlu mendapatkan dukungan mereka juga. Setidaknya, tidak menimbulkan oposisi yang lebih sengit dari mereka. Jika tidak, meskipun kekuasaan berada di tangan kita, kita akan sulit untuk merealisasikan apapun.

Sebagai seorang pemimpin, kita harus dapat mengendalikan risiko. Kita harus ada tindakan pencegahan dan tindakan yang memadai untuk risiko yang telah diketahui.

Dari pertengahan Pemilu, Trump jelas unggul di negara bagian Wisconsin dan Michigan. Karena ketika penghitungan suara akan segera berakhir, lawannya masih tertinggal sekitar dua poin persentase. Tapi dalam semalam, Partai Demokrat tiba-tiba mengungguli dengan banyak suara. Alhasilnya, walau usaha apapun Trump hanya akan memperoleh 268 suara elektoral. Masih ketinggalan 2 suara.

Banyak pendukung Trump menganggap ada konspirasi. Mereka memeriksa kurva pemungutan suara di Negara bagian Wisconsin dan Michigan. Mereka menemukan dalam kurun waktu tertentu, jumlah suara Demokrat meningkat tajam. Sedangkan, jumlah suara Partai Republik tidak berubah sedikitpun. Sehingga banyak pihak berpendapat Partai Demokrat telah melakukan penipuan. 

Apakah benar ada kemungkinan seperti itu?

Ricky rasa kemungkinannya sangat kecil. Karena kalaupun itu curang, terlalu jelas dan terlalu mudah dideteksi. Bila kecurangan besar-besaran ditemukan, kehidupan politik seluruh Partai Demokrat di masa depan bisa saja berakhir. Disamping itu, Ricky yakin bahkan jika pemilihan muncul kecurangan, Partai Republik sendiri juga harus memikul tanggung jawab.

Mengapa Demikian?

Karena Partai Republik dan Tim Kampanye Trump setidaknya harus waspada dan memiliki rencana pencegahan. Dalam sejarah pemilu di berbagai negara di dunia, Ricky hanya mendengar tentang partai yang berkuasa yang mencurangi pemilu. Belum pernah mendengar tentang partai berkuasa yang ditipu oleh Partai Oposisi. Jika ini terjadi, kemampuan eksekutif pemerintahan Trump dan Partai Republik sangat diragukan.

Dari pengalaman menginvestasi Ricky, para Investor pasti memiliki pengalaman yang serupa. Mereka sendiri harus selalu waspada dengan investasinya. Jangan sampai investasinya diam-diam dicuri dan dialihkan oleh Tim pengelola.

Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika
Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika (Image: BBC)

Hal semacam ini memang pernah terjadi dalam sejarah. Tetapi sekarang, jika seseorang tidak dapat mengontrol investasi dan sahamnya pada saat melakukan investasi, dia benar-benar tidak memenuhi syarat untuk melakukan investasi. Hal yang sama berlaku untuk para manajer. Dalam posisi manajemen, bila mereka tidak dapat mencegah risiko, Mereka dianggap gagal dalam menjalankan pekerjaannya.

Just like grandma says, walaupun hasil akhir saat ini menunjukkan Biden menang dengan total 279 Suara, kita semua perlu mengambil peringatan dari kesalahan Trump. Hal pertama yang harus dilakukan adalah menghilangkan pertentangan antara pendukung kita dan lawan kita. Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika, bukannya hanya presiden pendukungnya sendiri.

2 thoughts on “Donald Trump seharusnya menjadi Presiden semua orang Amerika

  1. masalah utama Barat adalah kurang mau mempelajari sejarah. Peradaban Asia seperti India dan Tiongkok telah jauh maju sebelum mereka. Justru karena arrogannya yang menjatuhkan mereka….

  2. Di buku everybody lies, melalui data dari search engine google, ditemukan bahwa Trump menang sebagai perwujudan balas dendam ke partai demokrat atas terpilihnya obama sebagai presiden kulit hitam. Masyarakat US masih rasialis, tp di permukaan dan didepan umum mereka tidak mau mengakuinya.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: