Elon Musk di mata orang Amerika

Elon Musk di mata orang Amerika menurut Ashlee Vance penulis Biografinya dalam buku berjudul “Elon Musk:Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future” dirilis pada tanggal 19 Mei 2015. Seminggu yang lalu, halaman depan media utama Dunia hampir dipenuhi dengan berita tentang peluncuran pesawat ruang angkasa berawak SpaceX. 

Ini bukan hanya peluncuran ruang angkasa berawak pertama oleh perusahaan swasta dalam sejarah Dirgantara, tetapi juga pertama kalinya dalam 9 tahun terakhir Amerika Serikat melakukan misi luar angkasa.

Sejauh ini, misi peluncuran SpaceX bisa dikatakan sangat sukses. Dua astronot Amerika di pesawat ruang angkasa telah mencapai Stasiun Luar Angkasa Internasional setelah 19 jam penerbangan. Jika nantinya mereka dapat kembali dengan aman ke bumi, itu berarti SpaceX telah lulus ujian NASA. SpaceX secara resmi akan menjadi “Bus luar angkasa” yang mengangkut astronot Amerika .

Elon Musk di mata orang Amerika

Di lihat dari Berita media, kita mungkin mendapatkan kesan bahwa peluncuran yang sukses ini telah membawa status Elon Musk naik satu tingkat di hati orang Amerika. Warna “heroik” dalam dirinya semakin kuat.

Tetapi apakah orang Amerika benar-benar berpikir demikian? Seperti apa “Elon Musk di mata orang Amerika?”

Menjelang peluncuran misi ini, Ashlee Vance, penulis biografi “Iron Man dari Silicon Valley” Elon Musk, merilis sebuah artikel mendalam di Bloomberg Business Weekly, berjudul “Elon Musk adalah pahlawan yang layak dimiliki Amerika Serikat”. Meskipun judulnya mengarahkannya ke altar pahlawan, namun isi artikel memberikan kesan Elon Musk yang lebih rumit. Dari artikel ini, kita tidak hanya melihat aura Elon Musk, tetapi juga bayangan negatif di bawah aura.

Berbicara tentang peringkat orang-orang yang paling mengenal Musk di dunia ini, saya rasa Ashlee Vance adalah orang dalam peringkat Top 5. Karena ketika dia menulis “Manusia Besi dari Silicon Valley”, dia pernah mewawancarai ratusan orang yang memiliki titik temu dengan Musk. 

Akibatnya, keduanya mengembangkan hubungan yang rumit. Setelah biografi diterbitkan, Elon Musk menolak untuk berhubungan dengan Ashlee Vance untuk jangka waktu yang sangat lama. Tetapi pada tanggal 17 Mei tahun ini, pada saat tahap akhir persiapan untuk misi ruang angkasa berawak, Elon Musk menelpon Ashlee Vance. Bercerita tentang perkembangan situasi terbarunya. Baru kemudian artikel ini dirilis di Bloomberg Business Weekly.

Elon Musk adalah seorang imigran dari Afrika Selatan. Sehingga banyak orang melihat pengalamannya sebagai kisah sukses tentang realisasi “Impian Amerika atau American Dream”.

Pada masa kecil, Elon Musk menunjukkan minat yang luar biasa dalam komputer dan teknologi sejak usia dini. Pada usia 12, Dia berhasil memprogram Gaming perdananya. 

Orang tuanya bercerai, kemudian, pada usia 17, Elon Musk pindah ke Kanada bersama ibu dan beberapa saudara kandungnya.

Beberapa saat kemudian, Dia berkelana ke Amerika Serikat untuk melanjutkan kuliahnya. Sesudah itu, Dia mendirikan perusahaan pembayaran Elektronik bernama PayPal. Pada tahun 2002, PayPal berhasil Go Publik, dan Elon Musk memperoleh kekayaan bernilai US $160 juta.

Elon Musk memiliki hubungan yang kurang baik dengan ayahnya. Pada saat Dia kuliah di Amerika Serikat, semua biaya kuliah bergantung pada beasiswa dan pinjaman bank. Setelah Lulus dari perguruan tinggi, Dia telah berhutang 100 ribu dolar di bank. Dengan beban utang ini, Elon Musk menyisakan 2500 Dolar mendirikan perusahaan pertamanya.

Mulai dari sinilah kehidupannya berkembang. Pada saat perayaan pesta PayPal Go Publik, Elon Musk terlihat sibuk mengamati buku manual pembuatan roket dari Uni Soviet. Dia Sudah bertanya-tanya bagaimana manusia bisa mengubah dunia dengan perjalanan ke angkasa luar.

Sejak itu, Dia mulai membuat roket, mobil listrik, baterai, satelit, dan sebagainya. Dia sedang mempersiapkan imigrasi manusia ke Planet Mars. 

Namun, selama periode epidemi Covid-19, beberapa sifat asli Elon Musk lainnya menjadi sangat menonjol. Saya merasa sangat menarik karena ada beberapa kesamaan antara Musk dan Trump dalam beberapa hal.

Misalnya, jika kita mengatakan bahwa Donald Trump adalah presiden yang menjalankan pemerintahan AS melalui Twitter. Setiap hari harus merilis paling tidak 10 Twitter ke atas. Makanya, banyak netizen mengatakan untuk memahami apa pekerjaan Trump setiap hari, lihat saja Twitternya.

Demikian pula halnya dengan Elon Musk. Dia boleh dikatakan sebagai Pebisnis yang pandai menggunakan Twitter sampai batas tertinggi. Dalam hal menciptakan “Breaking News”, Twitter Elon Musk mungkin tidak kalah serunya dengan Trump.

Misalnya, pada awal bulan Mei yang lalu, Dia mengumumkan beberapa berita kehidupan pribadinya seperti penjualan semua aset atas namanya, termasuk real estat. Selanjutnya, Dia akan bergiliran tinggal di rumah teman baiknya. Elon Musk juga mengatakan dalam Twitternya bahwa Evaluasi penilaian Tesla memiliki gelembung, sehingga menyebabkan harga saham Tesla turun 10% pada hari itu.

Ada juga beberapa pertengkarannya dengan beberapa Elit Silicon Valley. Misalnya, Wakil Presiden Facebook yang bertanggung jawab dalam AI atau Kecerdasan Buatan mengkritik Musk sama sekali tidak memahami AI. Elon Musk membalasnya dengan mengatakan “Facebook paling menyebalkan atau Facebook sucks” di Twitternya.

Dapat dikatakan bahwa Twitter Elon Musk adalah sarana pencipta berita. Setiap kali Twitternya diterbitkan, pasti akan menarik perhatian media dan followernya. Mengenai sifat dan perilakunya sendiri di Twitter, Elon Musk menjelaskan bahwa ini adalah caranya memintas dari media dan berkomunikasi langsung dengan publik.

Tetapi apakah ini benar-benar sesederhana itu? 

Belum tentu. 

Ashlee Vance mempelajari Twitter Elon Musk dalam dua bulan terakhir. Semuanya tampak sangat agresif. Yang paling kontroversial adalah posisinya tentang pencegahan epidemi virus Corona Covid-19. Dalam hal ini, posisi Musk sangat mirip dengan Trump.

Dia pernah meramalkan bahwa epidemi Covid-19 di Amerika Serikat akan berakhir pada akhir April, dan jumlah kasus baru akan segera turun ke Nol. Kenyataannya, dia menampar mukanya sendiri. Hingga akhir bulan April, epidemi belum berakhir. Bagaimana Elon Musk  menanggapinya? 

Dia mengatakan bahwa statistik Amerika Serikat sebagian besar menghitung mereka yang memiliki gejala pneumonia virus Corona. Tetapi sebenarnya bukan mereka yang terinfeksi virus. Akibatnya, kebijakan stimulus pemerintah AS membuat orang-orang lebih termotivasi untuk mengklaim bahwa mereka positif tertular virus Corona sendiri. Sehingga data dari pemerintah sudah tidak dapat diandalkan. 

Dengan kata lain, Dia meragukan kebenaran statistik para ahli AS atau CDC.

Selain itu, Elon Musk juga mengabaikan saran dari pakar kesehatan masyarakat dan bersikeras agar pabrik Tesla Fremont, di California dibuka kembali secepatnya. Pada tanggal 11 Mei, ia mengumumkan di Twitter bahwa Tesla akan melanggar peraturan pemerintah setempat dan membuka kembali pabrik Tesla. 

Selanjutnya, Dia juga memberikan tekanan kepada pemerintah setempat, mengancam akan memindahkan pabrik Tesla keluar dari California jika tidak mengijinkan pembukaan pekerjaan pabriknya. Karena tidak berdaya, pemerintah daerah terpaksa memberinya izin untuk membuka  pekerjaan di pabriknya.

Jadi, sebagai orang yang tampaknya mengadvokasi sains, mengapa Elon Musk justru melanggar akal sehat saintifik dan mengeluarkan pernyataan dan perilaku yang keterlaluan ini? Apakah hanya untuk mengejar kepentingan bisnis perusahaannya?

Tidak peduli bagaimana orang AS menganggap Musk sebagai pahlawan, Dia memiliki sifat yang tidak dapat diabaikan dalam tulang belulangnya. Yaitu, seorang pengusaha yang tidak akan berhenti sebelum mencapai tujuannya. Dia adalah seorang Pebisnis yang pragmatisme. 

Ashlee Vance mengingat ketika dia menulis biografinya bahwa orang-orang yang pernah bekerja dengan Elon Musk pada umumnya menganggap Musk adalah seorang tiran. Segala strategi bisnisnya bisa “menjengkelkan” atau “mengejutkan.”

Jadi apa konsekuensi dari semua tindakan Musk? 

Kita mungkin tidak pernah membayangkan, serangkaian Twitter Elon Musk yang kadang mengjengkelkan justru membuat Tesla mendapatkan dukungan dari Golongan konservatif di Amerika Serikat. 

Misalnya, Negara Bagian Texas, kamp konservatif tradisional Amerika, beberapa anggota parlemen sudah mulai aktif membujuk dan menyambut Tesla untuk membuka pabrik di Texas. Sebagai pengetahuan, Texas adalah basis industri minyak tradisional AS, dimana industri energi baru Elon Musk adalah musuh besar mereka.

Dengan kata lain, serangkaian tindakan Musk mungkin memenangkan peluang bisnis tambahan dan modal politik untuk perusahaannya. Apakah ini hasil dari rencananya? 

Jadi, kembali ke pertanyaan di awal, Elon Musk di mata orang Amerika sangat mirip dengan bagaimana orang Amerika melihat Trump. Jelas bisa dibagi menjadi dua kubu. Pertama, Orang-orang yang mendukungnya akan berpikir bahwa segala hal yang dilakukannya selalu benar.

Kedua, Mereka yang menentangnya pasti akan mengira dia itu pembohong dan apa saja yang dilakukan adalah untuk mendapatkan kepentingan terbesarnya.

Tentu saja, menurut pengalaman umum, ketika suatu peristiwa atau seseorang begitu kontroversial, kemungkinan kebenaran ada di antara dua ekstrem ini.

Elon Musk di mata orang Amerika
Elon Musk di mata orang Amerika (Image: Bloomberg)

Just like grandma says, Elon Musk di mata orang Amerika adalah Musk sendiri sebenarnya cermin masyarakat Amerika. Dia memiliki karakteristik imigran dengan “Impian Amerika” dan semangat teknologi dari para Elit di Lembah Silikon.

Akan tetapi dia juga memiliki bayangan konservatisme dan bahkan “Anti-Intelektualisme”. 

Ciri-ciri yang tampaknya terpecah-pecah dan saling bertentangan ini secara aneh bercampur menjadi satu dalam diri orang tersebut. Auranya maupun bayangannya adalah lambang kompleksitas Masyarakat Amerika Serikat.