Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik

Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Terutama di saat seperti sekarang ini. Menularnya virus Corona menjadi wabah dunia. Sebagian besar kita yang tinggal di China harus mengisolasikan diri. Berdiam di rumah saat sebelum imlek sampai sekarang. Memang membosankan.

Tetapi, juga memberikan kesempatan langka bagi kita untuk mencari ke dalam dan mengamati hati kita. Ketika kita Dihadapkan dengan berbagai jenis informasi dari berbagai sudut dan sumber dimana standar penilaian salah atau benar setiap orang tidaklah sama.

Ada satu hal yang tidak perlu diragukan, kita semua membutuhkan lebih banyak empati. Lebih banyak kemampuan untuk dapat mengamati atau merasakan perasaan dan situasi orang lain. Semakin kita bisa memahami rasa sakit dan kesulitan orang lain, semakin kita bisa mengerti dan bertoleransi. Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik

Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik

Penulis Scott Kauffman, seorang psikolog terkenal di Universitas Columbia. Scott menerbitkan Artikel terbaru tentang Empati di Scientific American di bulan Januari 2020. Dia menegaskan empati bukan selalu merupakan hal yang baik. Terkadang, orang yang terlalu empati justru lebih sulit untuk bertoleransi.

“Mengapa Demikian?”

Supaya empati bisa berperan baik, sebenarnya ada batasan yang tak terlihat. Dan pada umumnya, hanya efektif untuk orang-orang di kamp mereka sendiri.

Ketika ada perbedaan serius dalam masyarakat, selalu ada dua kubu yang terbentuk. Kubu “kita” dan “mereka.” Empati manusia seringkali hanya diberikan kepada kubu sesama “kita” dan bukan “mereka”.

Misalnya, para penggemar sepak bola. Dalam pertandingan sepak bola, para penggemar kedua tim adalah contoh hubungan yang paling murni antara “kita” dan “mereka.”

Para peneliti merancang sebuah eksperimen. Pertama-tama mereka membuat satu tim melihat rasa sakit dari penggemar lain terlebih dahulu. Kemudian bertanya apakah mereka bersedia membantu tim penggemar satunya untuk berbagi rasa sakit. Jika mereka bersedia,  maka tim penggemar ini akan menderita lebih sedikit rasa sakit.

Para peneliti menyimpulkan bahwa pilihan akhir yang dibuat oleh subjek uji ini berhubungan langsung dengan kubu para penggemar. Jika penderita adalah golongan penggemar mereka sendiri, maka subjek uji lebih cenderung memilih untuk berbagi rasa sakit. Sebaliknya, jika penderita adalah penggemar tim lain, maka subjek uji ini kurang bersedia berbagi rasa sakit.

Hasil ini menunjukkan bahwa empati manusia tidak diperlakukan secara sama. Melainkan,  berbeda dari dalam dan luar.

Polarisasi politik di Amerika Serikat telah menjadi tren yang sangat signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kontradiksi antara kedua partai di AS semakin parah. Hampir 70% masing-masing Partai, baik Demokrat dan Republik di Amerika menganggap satu sama lain sebagai faktor paling berbahaya, yang memengaruhi perkembangan negara dan kesejahteraan rakyat.

Menurut Mantan Presiden AS, Barack Obama alasan perbedaan serius karena anggota kedua partai tidak memiliki rasa empati. Ada “celah empati” atau Empathy Gap di antara mereka. Satu-satunya cara mengubah situasi ini adalah semua orang harus menjadi lebih berempati.

Sayangnya, presiden Obama mungkin kurang tepat dalam hal ini.

Sebuah studi menemukan bahwa orang Amerika tidak kekurangan empati. Tetapi empati mereka cendrung bias. Semakin tinggi tingkat empati, semakin jelas bias ini. Bukan hanya bias dalam partai mereka sendiri. Mereka juga menunjukkan permusuhan yang mendalam terhadap partai lain.

Dalam percobaan, ada skenario berupa: Subjek Uji coba mendengarkan sebuah laporan berita. Berita itu mengatakan, sebuah partai baru saja mengadakan pengarahan politik. Tiba-tiba terjadi situasi tidak terduga. Sekelompok pengunjuk rasa dari pihak yang berlawanan datang ke tempat itu untuk mengganggu pidato. Kemudian, polisi turun tangan. Beberapa pengunjuk rasa ditangkap dan terluka selama penangkapan.  

Para peneliti menemukan tanggapan yang menarik dari subyek Uji coba setelah mendengarkan berita itu.

Jika para pengunjuk rasa berasal dari pihak yang sama dengan subyek uji coba, maka mereka akan mendukung para pengunjuk rasa. Dengan membuat masalah dan menyatakan ketidakpuasan atas intervensi polisi. Tetapi, jika para pengunjuk rasa berasal dari pihak oposisi, maka pihak subjek uji coba akan mendukung tindakan polisi.

Yang lebih mengejutkan adalah bahwa beberapa subjek mendapat skor lebih tinggi pada tes empati, yaitu, mereka adalah sekelompok orang dengan kemampuan empati yang lebih baik.

Tetapi dalam percobaan, orang-orang ini mengungkapkan perasaan gembira mereka terhadap para pemrotes yang terluka. Mereka justru berpikir, orang-orang itu pantas terluka. Dengan kata lain, orang Amerika tidak menunjukkan empati apa pun di hadapan kemalangan orang ini.

Dari sudut pandang ini, Obama tampaknya memiliki lebih banyak empati. Namun, empati ini  tampaknya kurang mendukung dan tidak bisa dicontoh. Karena ketika terjadi kontradiksi, orang dengan empati lebih tinggi cendrung menunjukkan ketidakpedulian yang lebih besar terhadap orang-orang dari kamp lain.  

Menurut Penulis artikel Kauffman, karena empati sebagai kapasitas konsensus, bisa sangat menguras energi.

Bayangkan, empati artinya kita harus berpikir dan berempati dengan situasi orang lain. Ketika mereka merasa sedih atau sakit, kita harus merasakan kesedihan atau rasa sakit yang sama. Ini benar-benar melelahkan, bukan?

Menggunakan empati secara luas, langsung atau tidak langsung, jelas bukanlah hal yang mudah. Karena Tidak hanya menyebabkan beban emosional, tetapi juga menyebabkan beban kognitif. Karena itu, orang-orang secara tidak sadar akan berupaya menghindari Empati.

Karena itu, Kauffman mengatakan banyak orang Amerika secara alami memiliki standar ketika menilai untuk siapa mereka menggunakan Rasa empati. Semuanya tergantung hubungan kedekatan dan jarak hubungan dengan mereka.

Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik
Menghilangkan kognitif “Kita” dan “Mereka” adalah cara terbaik meningkatkan Empati (Image: NYTimes)

Para ilmuwan menyimpulkan, Rasa empati manusia berhubungan dengan wilayah pulau otak depan manusia. Ketika seseorang menunjukkan rasa empati, wilayah pulau otak depan akan diaktifkan. Tetapi bila pihak empati bukan merupakan orang kita sendiri, nukleus accumbens otak akan mengirimkan sinyal untuk menghentikan rasa empati. Dalam hal ini, kesediaan orang untuk memberikan bantuan berkurang secara signifikan.

Kauffman menyarankan cara terbaik membuat empati benar-benar berfungsi dan memiliki efek positif adalah, jangan terjebak dalam lingkaran “kita”. Sebaliknya, harus lebih banyak bergaul dengan “mereka”.

Dengan kata lain, jika kita memiliki perbedaan atau konflik dengan oranglain, kita perlu mengambil inisiatif untuk menciptakan lebih banyak peluang untuk saling bergaul dan mengerti satu sama lain.

Banyak kontak atau bergaul bukan berarti membujuk atau mengubah satu sama lain. Jangan fokus pada perbedaan antara satu sama lain. Melainkan, berfokus pada tempat yang sama satu sama lain. Seperti pengalaman serupa, atau masalah yang menjadi perhatian bersama. Hanya dengan cara ini kita dapat mengurangi efek negatif empati, dan membuatnya bisa saling bekerja sama.

Misalnya, dokter harus sering menahan diri untuk empati. Karena pasien paling membutuhkan perawatan. Bukan dokter yang bersamanya. Menahan diri adalah untuk  menyembuhkan pasien. Menjaga jarak yang tepat dari pasien dapat mencegah dokter  terkekang oleh empati yang terlalu kuat. Sehingga dokter dapat membuat keputusan dan tindakan yang lebih rasional.

Just like grandma says, Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Empati adalah beban kognitif yang sangat besar. Sebenarnya, empati memiliki keterbatasannya sendiri. Semakin besar empati seseorang, semakin tidak peduli mereka terhadap orang luar. Dari sudut pandang ini, berempati secara membabi buta tidak membuat dunia lebih harmonis.

Dalam menghadapi empati, kita perlu selalu melakukan pemeriksaan diri. Pengekangan secara internal; dan jangan terlalu pelit secara eksternal.

Toleransi sejati mengingatkan kita untuk bisa melihat hal yang sama dengan orang lain. Kesamaan ini memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang “mereka”. Pada akhirnya, apakah “kita” atau “mereka” telah menjadi kurang penting.

Advertisements
Categories: Empati membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: