Advertisements

Fintech pedang bermata dua

Fintech pedang bermata dua . Signifikansi subversif dari Fintech akan menumbangkan bisnis keuangan, bentuk bisnis, dan bahkan bentuk sosial. Dengan munculnya Fintech, pola pertumbuhan seluruh ekonomi mungkin akan berubah.

Di lain pihak, seperti bitcoin yang dianonimkan, dan berada di luar sistem monitor moneter pemerintah. Sekarang telah menjadi alat penting untuk transaksi pornografi, senjata, narkoba, dan bahkan perdagangan manusia.

Setelah Donald Trump memenangkan pilpres tahun 2016, Facebook pernah terjebak dalam skandal data. Perusahaan data bernama Cambridge Analytics memperoleh lebih dari 50 juta data pengguna dari Facebook. Kemudian menggunakan data tersebut untuk menganalisis kecenderungan politik mereka. Dengan sarana psikologis membentuk konten intervensi mempengaruhi kecenderungan politik pemilih. Sehingga, Donald Trump memenangkan pilpres saat itu.

Fintech pedang bermata dua

Oleh karena itu, masalah-masalah diatas adalah dilema yang dihadapi Fintech saat ini. Fintech pedang bermata dua. Di satu sisi, pemerintah berharap Fintech dapat mengubah kekurangan sistem keuangan saat ini. Dan membawa sistem kredit keuangan dengan biaya lebih rendah, cakupan lebih besar, dan lebih presisi. Namun, Di sisi lain, produk baru, institusi baru, dan model baru ini akan membawa risiko baru. Termasuk gesekan baru akan terjadi pada sistem Moneter yang telah ada.

Secara umum, dampak negatif Fintech merupakan masalah yang paling diperhatikan oleh otoritas pengatur global seperti Bank Sentral setiap negara. Diantaranya masalah paling utama, adalah masalah stabilitas keuangan, masalah privasi data, dan masalah monopoli teknologi.  

stabilitas keuangan

Transaksi keuangan adalah transaksi dan pertumbuhan masa depan yang tidak terlihat. Mereka secara inheren sangat asimetris. Selain itu, pasar kredit sendiri swasembada. Sehingga, untuk mencegah ketimpangan informasi dan mencegah risiko meluas, Fintech  harus menjadi industri yang paling teregulasi oleh OJK Indonesia misalnya.

Fintech telah menimbulkan banyak masalah bagi lapisan regulasi. Fitur utama adalah kaburnya batas aturan. Sebagai contoh beberapa tahun yang lalu, Yu’ebao milik Alibaba menggunakan platform Alipay dan berkembang sangat pesat. Dalam setahun telah menjadi dana uang terbesar di dunia. Satu Yu’ebao setara PDB Vietnam, Yunani, atau Selandia Baru. Ini adalah dilema bagi lapisan pengawas Beijing. Dana uang berskala besar seperti itu belum pernah terlihat sebelumnya. Jika suatu hari terjadi fluktuasi, Yu’ebao dapat mempengaruhi fluktuasi seluruh pasar keuangan Dunia.

Apakah pemerintah perlu mengumpulkan cadangan deposit? Dan melakukan kontrol risiko seperti halnya lembaga keuangan tradisional?  Namun, pengontrolan yang ketat akan  mempengaruhi inovasinya. Sebaliknya, bila tidak dikontrol, bisa dibayangkan betapa besar resikonya.

Dalam masyarakat modern, sistem keuangan adalah infrastruktur. Memiliki dampak sistemik pada ekonomi dan masyarakat. Risiko keuangan sangat mudah ditransmisikan ke ekonomi riil dan memicu krisis sosial. Oleh karena itu, sebagai format bisnis baru, stabilitas keuangan yang dibawa oleh Fintech adalah masalah yang sangat serius.

privasi data dan hak kepemilikan

Masalah ini sangat sensitif. Bukan lagi sekedar Fintech. Di masa depan, seluruh Era digital menghadapi tantangan besar. Yaitu privasi data dan hak kepemilikan data.

Sebagai contoh, kita menggunakan banyak jenis aplikasi, sosial, pekerjaan, kehidupan, dan transaksi setiap hari. Kita hampir tidak memiliki rahasia pribadi lagi. Lingkaran teman, pendidikan, merek mobil, situasi keluarga, alamat, dan bahkan setiap tingkah laku kita disimpan di jaringan internet. Data ini mengandung banyak informasi pribadi kita. Preferensi, kebiasaan makan, status properti, status kesehatan, dan bahkan situasi psikologis. Serta banyak kontak privasi kita, termasuk suasana hati. Data ini akan diperbarui secara real time.

Tanpa diragukan lagi, analisis data ini akan membuat bisnis masa depan lebih akurat. Membuat pengambilan keputusan yang lebih cerdas.

Bahkan, AI finance dan Smart Contract keuangan intelijen buatan, bergantung pada data besar yang dapat diperbarui secara real time. Sehingga membentuk lingkaran tertutup dan mendukung pengambilan keputusan. Sekarang pertanyaannya, perusahaan-perusahaan ini yang telah memperoleh data kita, apakah mereka berhak menggunakannya?

Simbol masyarakat sipil adalah privasi dan kebebasan. Dalam masyarakat data transparan, tingkat pelanggaran privasi pribadi mungkin sebanding dengan berdemo telanjang di jalanan.  Data ini secara teoritis milik kita. Bukan oleh perusahaan dan institusi seperti Google, Facebook, Alibaba atau Gojek.  

Pada saat penggunaan jasa layanan Gojek, Gojek tidak boleh menggunakan data kita untuk tujuan komersial. Tidak boleh dibocorkan atau dijual. Informasi akomodasi kita di hotel lewat Traveloka. Baik Gojek maupun Traveloka tidak boleh menggunakan data ini semaunya.

Jadi, bagaimana menemukan keseimbangan dalam perlindungan privasi dan integrasi data? Bagaimana mendefinisikan kepemilikan? Hak penggunaan dan hak pengelolaan data? Masalah-masalah ini adalah pertanyaan yang sangat sensitif untuk Era berikutnya. Tentu saja, lapisan regulasi Fintech sekarang menghadapi kontradiksi besar. Saat ini, belum ada  solusi yang sangat cocok.

Terlebih lagi dalam masalah ini, sikap masing-masing negara berbeda. Misalnya, Uni Eropa sangat mementingkan hak privasi data. Pada tahun 2016, Peraturan Perlindungan Data Umum diperkenalkan untuk melindungi hak data pribadi warga negara UE. Namun, aspek inilah yang menghambat perkembangan perusahaan Internet di Eropa. Itulah sebabnya, UE tidak memiliki raksasa internet seperti Google, Facebook, Alibaba, Tencent maupun Gojek. UE telah ketinggalan dalam industri Internet seluler.

Terus terang, ini adalah dilema dan sulit bagi kita atau pemerintah untuk membuat pilihan. Baik China maupun Indonesia relatif tidak jelas dalam hal perlindungan data yang cuma mengandalkan “Undang-undang Keamanan Jaringan.”  Oleh karena itu, banyak perusahaan internet berada di zona abu-abu.

Pada tahun 2018, situasi telah berubah di China. Pemerintah Beijing telah mengeluarkan peraturan (“Teknologi Keamanan Informasi: Kode Keamanan Informasi Pribadi” ). Membuat peraturan sangat jelas dan ketat tentang informasi pribadi. Platform atau perusahaan internet tidak boleh menggunakan data informasi pribadi kita.

Oleh karena itu, platform Internet harus lebih berhati-hati dalam pengembangan dan penggunaan data. Dan jelas, ini akan mempengaruhi proses Fintech. Fintech pedang bermata dua.

kesenjangan si kaya dan si miskin oleh monopoli teknologi

Pengembalian modal selama beberapa ratus tahun terakhir jauh lebih besar daripada tingkat pertumbuhan ekonomi. Sehingga orang kaya yang bisa mendapatkan layanan keuangan lebih cenderung menjadi semakin kaya. Itulah sebabnya, Fintech sangat diharapkan bisa berperanan menyediakan sistem keuangan yang berbiaya rendah. Dengan cakupan tinggi, dan risiko yang dapat dikendalikan untuk mengurangi kesenjangan antara kaya dan miskin.

Pada kenyataannya, kadang-kadang justru sebaliknya. Misalnya, bitcoin yang berseratus ribu  kali lipat pengembalian keuntungan dalam 10 tahun. Siapa yang mendapat keuntungan di balik ini? Selain “petualang” yang berani, lebih banyak diantaranya adalah “para teknisi atau insinyur digital.”

Fintech pedang bermata dua
Fintech pedang bermata dua membawa dampak positif dan negatif, apakah perlu diawasi dengan ketat atau didukung untuk terus berinovasi?

Dengan kata lain, aset digital berbasis teknologi ini secara teknis merupakan penghalang yang relatif tinggi. Yang pada kenyataannya telah menciptakan monopoli baru. Dulunya, orang dengan modal banyak bisa menggunakan uang menghasilkan uang. Namanya monopoli modal. Namun Sekarang ini adalah oligarki teknologi. Dimana, efek kekayaan yang ditimbulkan oleh hambatan teknologi ini bahkan lebih besar.

Just like grandma says, Fintech pedang bermata dua, di satu sisi membawa kemajuan. Di sisi lain, juga akan membawa risiko baru seperti pedang. Karena itu, jika kita bisa memahami dua sisi Fintech, kita baru dapat benar-benar memahami keuntungan dari produk spesies baru ini.

Advertisements
Categories: Fintech pedang bermata dua

1 thought on “Fintech pedang bermata dua

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: