Advertisements

Globalisasi sebagai Senjata

Oleh: Ricky Suwarno

28 Juni 2019

Dalam sepekan terakhir, media internasional telah berfokus pada eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Pertama, AS menyerang Iran. Mengatakan bahwa Iran meledakkan dua kapal tanker minyak. Kemudian Iran menjatuhkan drone RQ-4A Global Hawk AS. Lalu, Amerika Serikat mengumumkan untuk menjatuhkan sanksi pada pejabat senior Iran.

Mungkin Anda heran dan bertanya, mengapa AS bisa memancing perselisihan dimana-mana.

Ada pepatah tua mengatakan, tikus berani menantang kucing karena ada lubang di belakangnya. Lalu, apa lubang atau kartu Amerika Serikat?

Mungkin makalah “Weaponized Interdependence”, atau “saling ketergantungan berbasis senjata” yang diterbitkan di AS bisa menjawabnya. Makalah ini memberikan kita pemahaman baru tentang “kartu” di tangan AS. Yang menunjukkan Amerika Serikat menggunakan globalisasi sebagai senjata.

Dua penulis makalah ini, Henry Farrell, seorang profesor ilmu politik di George Washington University. Dan Abraham Newman, seorang profesor ilmu politik di Universitas Georgetown di Amerika. Kedua sekolah ini sangat kuat di Departemen Ilmu Politik. Terutama Universitas Georgetown. Yang sering menempati peringkat pertama di lembaga-lembaga politik.

Globalisasi membuat informasi lebih tersebar. Membuat seluruh dunia lebih datar. Namun, penulis menunjukkan tren lain. Yaitu, ketika kegiatan ekonomi global dan pertukaran informasi meningkat, ada beberapa titik pusat di mana informasi akan dikumpulkan. Kejadian ini memperparah ketidakseimbangan kekuasaan dalam hubungan internasional.

Dari perspektif sistem keuangan, SWIFT adalah simpul sentral. Bagi yang biasa melakukan transfer lintas batas atau bisnis trading internasional akan tahu, setiap bank memiliki ID SWIFT. Yang diperlukan untuk transaksi lintas batas.

SWIFT, sistem komunikasi antara bank adalah lembaga berbasis di Brussels. Misalnya, trader Indonesia menggunakan BCA, mau membayar uang ke bisnis partner di Tiongkok yang menggunakan ICBC. Antara dua bank ini harus saling menyapa. Mencatat transaksi, dan mengkonfirmasi identitas para pengirim.

Layanan ini pertama kali dibuat oleh perusahaan telekomunikasi di berbagai negara. Tetapi mereka kurang effisien. Dan sistemnya tidak aman. Pada tahun 1973, beberapa bank di Eropa dan Amerika Serikat bergabung dan menciptakan sistem yang lebih efisien yang dikenal sebagai SWIFT. Hasil kerjanya diterima secara luas. Kurang dari lima tahun, telah ada 22 negara menggunakan layanannya.

SWIFT memiliki posisi monopoli. Karena efek jaringannya yang sangat besar. Hampir semua lembaga keuangan besar di seluruh dunia adalah pelanggan SWIFT. Pada 2016, sistem ini telah digunakan oleh lebih dari 11.000 lembaga keuangan di 200 negara. Setiap tahun, sebanyak 6,5 miliar transaksi yang diproses pada sistem ini.

SWIFT setara dengan pusat agregasi informasi transaksi keuangan global. Lembaga ini dibuat untuk membuat transaksi lintas batas lebih nyaman. Namun, munculnya simpul semacam itu, telah dimanfaatkan beberapa negara. Dan mengambil keuntungan serta menggunakannya sebagai dua jenis senjata.

Senjata pertama, “efek penjara bundar atau sirkular”. Artinya, penjara berbentuk lingkaran dengan menara pengawas di tengahnya. Yang dapat dengan mudah memantau apa yang terjadi di seluruh penjara. Sehingga para tahanan tidak berani sembarangan.

Pusat informasi keuangan seperti SWIFT sebenarnya adalah menara pemantauan pusat. Karena mereka mencatat semua kegiatan keuangan global. Barang siapa yang mengendalikan organisasi ini dapat mengetahui segala transaksi yang dilakukan antara negara dan lembaga didunia.

Setelah peristiwa 9/11, Amerika Serikat menggunakan senjata ini. Departemen Keuangan AS menggunakan sistem SWIFT untuk melacak transaksi antara agen-agen teroris. Menggunakan informasi yang direkam oleh SWIFT. Mereka menggali hubungan antara berbagai agen teroris. Menemukan agen kolusi. Dan mengetahui rencana aksi mereka sebelumnya.

Dan tentu saja, Orang Eropa dan SWIFT tidak bersedia membocorkan informasi ini. Tetapi, karena tekanan dan ancaman yang akhirnya menyetujui pemerintah AS.

Cara ini sama halnya melacak transaksi legal dari negara dan institusi lain didunia, maka ini sebenarnya adalah “spionase”. Memata-matai negara lain. Inilah arti efek penjara sirkular yang disebutkan sebelumnya.

Senjata kedua, “Chokepoint” atau “titik sedak”. Dari sudut artinya, sama pentingnya dengan tenggorokan. Yang bisa berakibat fatal jika tertangkap.

Amerika Serikat menggunakan cara chokepoint ketika menjatuhkan sanksi terhadap Iran. Pada tahun 2012, Amerika Serikat kembali menekan SWIFT. Menghentikan layanan SWIFT ke Iran. Ini adalah pertama kalinya SWIFT menghentikan layanannya ke sistem keuangan suatu negara didunia.

Ini merupakan malapetaka bagi sistem keuangan Iran. Mulai dari bank komersial hingga bank sentral. Diisolasi dari seluruh sistem pembayaran internasional.

Poin ini kemudian menjadi senjata penting bagi Amerika Serikat untuk bernegosiasi dengan Iran. Pada bulan Mei 2018, Trump mengumumkan pengunduran dirinya dari kesepakatan nuklir dengan Iran. Mengancam Iran untuk memutuskan layanan SWIFT lagi. Namun kali ini, Uni Eropa telah menolak. Karena, Uni Eropa tidak ingin di sandera AS menjadikan SWIFT sebagai senjatanya.

Just like grandma says, Dalam sistem keuangan global, secara permukaan informasi perdagangan tampaknya tersebar luas. Tetapi, ke tingkat yang lebih dalam, banjir informasi keuangan global akan dibawa ke simpul pusat utama seperti SWIFT.

Barang Siapa yang mengendalikan dan menggunakan simpul sentral ini, Dialah yang bakal mengendalikan transaksi lintas batas setiap negara di dunia. Globalisasi sistem keuangan tidak memisahkan kekuasaan, Malah sebaliknya, justru memusatkan kekuasaan.

Advertisements
Categories: Globalisasi, Globalisasi payung baru bagi terorisme, Globalisasi sebagai ancaman dan kesempatanTags: , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: