Gugatan Antitrust terhadap Google

Gugatan Antitrust terhadap Google Alphabet oleh Departemen Kehakiman AS atas monopoli pasar. Penyelidikan tersebut diluncurkan pada tanggal 20 Oktober yang lalu. Departemen Kehakiman AS menuduh Google menggunakan posisi pasar dominannya untuk menekan pesaing demi mempertahankan monopoli dalam iklan penelusuran atau mesin pencarian. Gugatan antimonopoli yang epik pernah terjadi 22 tahun yang lalu.

Pada tanggal 18 Mei 1998, Departemen Kehakiman AS bersama dengan 19 negara bagian dan ibu kota Washington, DC mengajukan gugatan terhadap Microsoft. Pemerintah AS menuduh Microsoft menggunakan monopoli sistem operasi untuk mengusir Netscape Navigator keluar dari pasar browser. 

Akhirnya, Microsoft kalah dalam gugatan tersebut. Tetapi sayangnya, Netscape tidak dapat menunggu sampai keputusan akhir pengadilan. Netscape kemudian diakuisisi oleh AOL dengan nilai $ 4,2 miliar pada November 1998.

Sebenarnya, pembentukan monopoli adalah legal di AS. Tetapi ilegalitasnya terletak pada penggunaan kekuatan monopoli untuk melumpuhkan persaingan. Departemen Kehakiman AS menuduh dalam dakwaan bahwa Google menyuap dan membayar 12 Miliar Dolar kepada Apple setiap tahun. Sebagai imbalannya, Apple menjadikan mesin pencari Google sebagai pengaturan default di perangkat platform Apple. Hal ini sama saja dengan menggunakan keunggulan monopoli untuk menghadang pesaing diluar pintu.

Gugatan Antitrust terhadap Google

Pada tanggal 6 Oktober, Komite Antitrust DPR AS merilis “Laporan Investigasi Pasar Digital”, yang mencantumkan perilaku monopoli dari empat raksasa teknologi utama. Diantaranya seperti, Amazon yang menyalahgunakan keunggulan platform E-Commerce mencegah calon lawan bersaing dengannya. Apple memonopoli pasar aplikasi iOS, memungut biaya komisi yang terlalu tinggi dari para pengembang Aplikasi.

Untuk memperluas posisi monopolinya, Facebook terus-menerus mengakuisisi Potensial Pesaing seperti Instagram dan WhatsApp. Bahkan, Hal yang paling menjijikkan Facebook langsung menyalin fitur perusahaan seperti Snapchat dan Tiktok.

Selain Google, Amazon adalah pihak gugatan yang paling banyak mendapatkan perhatian. Karena merek independen Amazon sendiri memiliki keuntungan yang sangat tinggi, dan supaya dapat mengontrol rantai pasokan front-end maupun hubungan pengguna back-end dengan lebih baik, Amazon meluncurkan produk merek sendiri. Tujuannya supaya dapat menggantikan produk pihak ketiga yang ada di platformnya sendiri.

Hal ini sama dengan menjadi atlet dan wasit pada saat bersamaan. Amazon menggunakan keunggulan platform sendiri untuk memprioritaskan produk Amazon ke posisi daftar terlaris. 

Sebagai Analogi, jika Taobao Alibaba juga meluncurkan pakaian, peralatan rumah kecil atau produk lainnya dengan merek sendiri. Alibaba, sebagai platform yang menguasai data pengguna dan algoritme rekomendasi, bagaimana dapat memastikan keadilan dan ketidakberpihakan persaingan produk di platformnya sendiri? Ini adalah masalah besar.

Meski kita semua tahu bahwa monopoli akan mencekik inovasi industri. Namun, tata kelolanya tidaklah mudah. Alasan mendasar perusahaan teknologi ini dapat memonopoli adalah bahwa bisnis tertentu telah menjadi infrastruktur baru. 

Misalnya, dari sejak awal infrastruktur seperti air dan listrik pada umumnya dikendalikan oleh pemerintah. Pemerintah tidak boleh menaikkan harga air dan listrik secara semena-mena. Sehingga, Infrastruktur dan aplikasi lainnya harus dipisahkan. Perusahaan air minum tidak boleh menjual coca-cola, bir, atau produk lainnya di dalam bisnis salurannya.

Tetapi lain halnya dengan infrastruktur teknologi Era baru. Alasannya sangat sederhana. Pertama, perkembangan teknologi maju terlalu cepat. Banyak produk teknologi dengan cepat menjadi infrastruktur sebelum pengawasan pemerintah sempat dilakukan.

Kedua, sulit bagi pemerintah untuk mengatur perusahaan teknologi dari segi harga. Misalnya, sistem penelusuran atau mesin pencarian Google gratis. Tetapi Google dapat menghasilkan keuntungan dari produk dan layanan lain.

Ketiga, infrastruktur teknologi baru dapat ditumpangkan pada aplikasi dan produk lain di platform. Korelasinya sangat kuat. Korelasi ini mudah digunakan untuk mempromosikan aplikasi sendiri, menekan aplikasi orang lain, dan menyebabkan persaingan tidak sehat.

Jika pemerintah tidak memisahkan layanan dasar, tetapi hanya membagi aplikasi, aplikasi baru di platform dapat tumbuh kapan saja. Akibatnya, persaingan tidak sehat akan terus berlanjut. Sebaliknya, jika platform infrastruktur dipisahkan, akan merusak daya saing perusahaan. Seluruh platform dapat runtuh oleh karenanya. 

Kekuatan platform teknologi seringkali dikaitkan dengan kekuatan suatu negara. Jika platform infrastruktur teknologi perusahaan terpecah, kepentingan seluruh negara akan dirugikan. Misalnya, Amerika Serikat pernah membagi raksasa industri komunikasi AT&T menjadi delapan perusahaan. Pemisahan ini membuat seluruh industri telekomunikasi AS kehilangan kepemimpinan globalnya selama sepuluh tahun ke depan. 

AT&T saat ini adalah salah satu dari delapan perusahaan yang dipisahkan waktu itu. AT&T sendiri mengakuisisi AT&T dan mewarisi mereknya. Tapi daya saingnya sudah jauh sangat lemah dibanding sebelumnya.

Hukum dibaliknya adalah infrastruktur teknologi baru pada dasarnya berupa jejaringan, yang sejalan dengan hukum Metcalfe. Artinya, nilai jaringan tidak sebanding dengan jumlah pengguna jaringan, tetapi sebanding dengan kuadrat jumlah pengguna jaringan. Semakin besar nilai jaringan, semakin besar nilainya dua kali lipat. 

Oleh karena itu, bisnis internet tidak dapat dipecah dengan semaunya. Karena setelah perpecahan, kemungkinan besar akan kehilangan Dominasi teknologi canggihnya. Pada akhirnya, mengakibatkan runtuhnya perusahaan teknologi tersebut. Bahkan penurunan kekuatan ilmu pengetahuan dan teknologi negara. Dalam keadaan seperti itu, antitrust telah menjadi dilema bagi negara seperti AS dan Tiongkok.

Oleh karena itu, gugatan antitrust terhadap Google kemungkinan hanya akan dikenakan denda. Bukan untuk menyembuhkan gejalanya.

Jadi, bagaimana menyelesaikan masalah ini ?

Menurut Ricky, dibutuhkan pendekatan multi-cabang dari beberapa aspek untuk mencapai pemerintahan yang efektif. Diantaranya seperti, Pertama, harus ada standar untuk identifikasi perusahaan platform teknologi dasar. Sebuah perusahaan dapat dikenali sebagai perusahaan platform bila memenuhi standar tertentu.

Kemudian pemerintah dapat memperkuat pengawasan terhadap perusahaan platform. Pada saat bersamaan, pemerintah tidak hanya memberikan dukungan, tetapi juga memastikan platform dapat membantu seluruh masyarakat meningkatkan kekuatan teknologi. Selain itu, pemerintah juga dapat memberlakukan pembatasan untuk menghindari penggunaan monopoli  menekan pesaing.

Kedua, pemerintah perlu mengawasi bisnis aplikasi spesifik perusahaan platform di dalam platformnya. Pemerintah harus melarang perusahaan platform melakukan bisnis aplikasi sendiri, mencegah perusahaan platform bertindak sebagai wasit dan atlet.

Gugatan Antitrust terhadap Google
Gugatan Antitrust terhadap Google (Image: WSJ)

Ketiga, menghilangkan hegemoni data. Perusahaan platform diharuskan membuka data terstandardisasi, menyediakan data yang adil dan terbuka bagi penyedia layanan di platform. Perusahaan platform harus menjadi surga bagi para inovator dan menelurkan lebih banyak perusahaan inovatif.

Just like grandma says, gugatan antitrust terhadap Google sebenarnya bisa dihindari bila pemerintah memahami Karakteristik industri iptek. Pemerintah sebagai regulator harus memasuki pasar terlebih dahulu. Karena inovasi teknologi sering kali mengarah pada pembangunan ekonomi dan sosial.

UU yang relevan harus berwawasan ke depan. Pra Undang-Undang. Bukannya, Pasca Undang-Undang seperti di bidang tradisional. Jadi dengan demikian, pemerintah dapat mempromosikan perkembangan teknologi dengan lebih baik dan mencegah potensi risiko sebelum terjadi.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.