Hak kepemilikan data pengguna

Hak kepemilikan data pengguna telah menjadi isu yang serius di jaman AI atau kecerdasan buatan. Setiap hari bangun, sampai tidur di malam hari. Kita semua tidak terlepas dari internet. Ponsel. Itulah pola hidup orang jaman now. Waktu kita menggunakan jasa internet, Data yang terjadi di internet itu bakalan milik siapa. Hak kepemilikan data pengguna menjadi pembahasan serius dewasa ini.

Dalam kondisi default, biasanya data kita tercatat di platform. Misalnya, anda membeli makan siang di suatu platform takeaway. Ini mungkin suatu pengalaman sangat nyaman dan praktis bagi anda. Anda membayar. Platform memberi anda barang. Lalu kirim ke tempatmu. Uang dan barang sangat jelas. Selain uang, anda meninggalkan data anda di platform ini. Nama. Alamat. Nomor telepon. Lokasi. Hobby. Uang yang di bayar dll.

Hak kepemilikan data pengguna

Gimana mereka mengurus data yang anda tinggalkan. Mereka akan mengumpulkan semua data yang terakumulasi digabungkan jadi satu. Dalam berbagai dimensi. Dianalisa. Dengan adanya data ini mereka bisa menentukan lokasi penjualan, berapa banyak orang delivery yang diperlukan. kuliner apa yang paling diminati. Selain itu, kira-kira jasa dan produk apa yang bisa disediakan untuk anda di masa depan.

Bukankah keadaan kita ini persis dengan penduduk primitif dulu di benua Amerika? Menurut mereka, emas tidak ada nilainya. Data tidak bernilai. Tetapi menurut platform, emas dan data sama pentingnya.

Biasanya, kita menikmati jasa internet. Meninggalkan data. Pengguna hanyalah “sapi data” yang mereka pelihara. Ada pepatah mengatakan, jika anda menggunakan layanan gratis, anda bukan pengguna. Anda adalah produk itu sendiri. Mungkin ini suatu transaksi yang adil? Anda menggunakan secara gratis. murah meriah. Platform mendapatkan data yang mereka inginkan. Adil kan? Tetapi, apakah hal ini akan berkelanjutan?

Anda jangan lupa, ilmu ekonomi. Secara jangka panjang, segala profit akan kembali sama. Intinya, Tidak ada keuntungan absolut. Karena competitor lain akan masuk dan menurunkan profitmu. Anehnya, perusahaan internet yang sukses kok bisa memiliki profit yang tinggi. Rahasianya pada big data Anda. Walaupun data datang dari pengguna, tetapi mereka tidak perlu membagi untung dengan pengguna. Maka profitnya tinggi.

Perbedaan kognitif? Maksudnya hal yang sama, seseorang dapat melihat nilainya. Yang lainnya tidak. Dan ditengahnya ini, ada ruang arbitrase. Inilah perbedaan kognitif. Masalahnya, apakah ini bisa berkelanjutan? Seperti kasus tentang penduduk primitive amerika mengenai emas. Apakah mereka akan selalu berpikir emas itu tidak berharga?

Tentu saja tidak. Perbedaan kognitif akan diratakan. Ibarat lagi, kita menjuga botol aqua atau kotak kardus bekas. Kita mengambil kenyamanan atas penjualan, tetapi mengapa pemungut masih harus mengasih uang untuk mu?karena mereka mengambil untung. Dan merasa harus membagi dengan anda. Supaya bisnisnya bisa berkelanjutan. Ini merupakan kecendrungan umum revolusi pasar. Data kita sangat berguna untuk perusahaan internet. Dan sangat berharga.

Jadi bisakah para pengguna meminta perusahaan internet membayar data yang kita tinggalkan di platform mereka?

Bila hak kepemilikan data ini sudah dibangunkan, apakah profit perusahaan internet masih akan sangat tinggi? Mungkin ada diantara kita berpendapat, Bila mereka tidak membagi hasil kita juga tidak akan berdaya. Karena kehidupan kita tidak terlepas dari FB, Instagram, Google dll.  

NO!

Hak kepemilikan data pengguna pasti akan dibangunkan! Karena masih ada factor lain yang kita abaikan. Keamanan data! Data yang anda tinggalkan tidak berbahayakah? Misalnya lagi, anda lagi mencari rumah second hand di internet. Tidak berapa lama, anda menerima banyak telpon dari agen property. Atau Anda baru membeli diaper atau popok, mungkin, produk perawatan anak lainnya sudah di jalan. Bukan cuma mengganggu. Kenyataannya mungkin resiko.

Pernah ada pengguna order jasa takeaway. memberikan bad scoring (penilaian jasa jelek).  Penjual menemukan dia sebagai pembalasan berdasarkan info yang dia tinggalkan, suaminya dipukuli dan dikirim ke rumah sakit karena terluka parah.  Bayangkan, hanya berdasarkan data anda, orang lain bisa menemukanmu, mengikutimu, menangkapmu sampai memukulimu.

Bila masalah ini banyak terakumulasi, menjadi masalah besar di masyarakat. Menjadi tekanan dan masalah keamanan bagi Negara. Negara akan membuat UU yang melarang perusahaan internet dari salah guna data pengguna. Ini bukan suatu bluffing. Hal ini sudah terjadi di Tiongkok dan eropa.

Pada bulan mei 2018, Uni Eropa mengeluarkan UU tentang data yang disebut “peraturan perlindungan Data Umum”. Didalamnya Ada ketentuan khusus “lupakan”. Sederhananya, jika anda memasuki platform internet, anda berhak memilih untuk tidak meninggalkan data anda.

Hak kepemilikan data pengguna
Hak kepemilikan data pengguna sudah saatnya dibangunkan

Selama anda memilih “lupakan”, informasi anda yang paling inti, sensitif tidak akan dicatat. Selagi banyak masalah bahaya tentang data, hak kepemilikan atas data pasti akan dibangunkan. Jadi ada dua kemungkinan, pertama, bisnis internet tidak bisa diteruskan karena tidak ada data yang bisa terkumpul lagi.

Atau, kedua, perusahaan internet harus membeli data dari pengguna. Semakin gede profit yang didapat, semakin banyak uang yang diinginkan pengguna. Artinya, perahu akan naik sesuai meningkatnya air pasang.

Menurut data statistik, Indonesia memimpin persentase pengguna media sosial untuk Facebook, Twitter, dan Google. Sekitar 96% pengguna Internet di Indonesia memiliki akun Facebook, 84% memiliki akun Twitter, dan 83% memiliki akun Google. Tidak ada negara lain di dunia yang sedominan Indonesia untuk hal persentase kepemilikan akun media sosial terhadap jumlah pengguna Internet.

Misalnya, Vietnam yang memiliki angka kepemilikan akun Facebook dan Google sangat tinggi, tapi Twitter tidak populer di negara tersebut. Sebaliknya, Saudi Arabia memiliki kepemilikan akun Twitter sangat tinggi, sementara untuk Facebook dan Google tidak mendominasi, meskipun masih tercakup dalam deretan 10 besar dunia. itulah sebabnya, Hak kepemilikan data pengguna di Indonesia harus dilindungi.

Just like grandma says, apapun konsekuensinya, keuntungan besar perusahaan internet saat ini tidak akan berlanjut selamanya. Mungkin untuk sementara sebelum pemilik data bangun dari tidurnya, perusahaan internet bisa menggali barel minyak pertama. Mengangkut secara diam-diam kapal pertama yang berisi emas dan perak. Mengambil sejumlah data pertama. Namun, suatu saat, pemilik data akan terbangun. Perbedaan kognitif akan selalu diratakan. Di isi. Hukum ekonomi selalu bekerja efektif. Semua keuntungan tinggi akan selalu kembali ke rata-rata.

Advertisements
Categories: Hak kepemilikan data pengguna

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: