HarmonyOS Huawei untuk IoT

HarmonyOS Huawei untuk IoT bukan pengganti Sistem Android. Sebenarnya, terlepas dari ketidakjelasan baik HarmonyOS (Hongmeng OS) Huawei ataupun Fuchsia Google, keduanya sebagai operasi sistem IOT masih belum matang. Posisi HarmonyOS Huawei saat ini masih agak bermasalah. Sebelum 2019, Sistem Operasi Huawei atau Hongmeng OS diposisikan sebagai Alternatif sistem operasi seluler Android. Tetapi dalam Pasar sistem operasi seluler yang telah sangat matang hari ini, sistem operasi seluler lain sudah tidak memiliki peluang lagi.

Karena sistem Android telah cukup bagus. Misalnya, setelah dirilisnya Windows 3.1, Sistem operasi lainnya sudah tidak memiliki peluang. Yang lebih mengerikan daripada Windows adalah, pada saat desain prosesor ARM secara serempak telah dikoordinasikan dengan Android. Sehingga tingkat penggandaannya sangat tinggi. Sistem operasi lain yang beroperasi pada prosesor ARM tidak dapat mencapai efisiensi Android. 

Seperti halnya, Microsoft Windows yang telah digabungkan dengan prosesor Intel hari ini. Tetapi pada awalnya mereka saling independen satu sama lain. Karena itu, jika Hongmeng OS ingin menggantikan Android, Huawei perlu ekosistem Internet seluler yang baru, yang bisa bersaing bersamaan dengan Android. 

HarmonyOS Huawei untuk IoT

Daripada bersaing untuk hal yang telah matang, Huawei lebih baik melakukan hal yang merupakan keahliannya sendiri. Sehingga, seluruh ekosistem dapat bergantung pada Sistemnya sendiri.

Di sisi lain, jika HarmonyOS Huawei untuk IoT juga akan bermasalah. Karena pada awalnya, bukan dirancang untuk perangkat IoT. Banyak interpretasi hari ini hanyalah ulah media yang mengarahkan HarmonyOS keatas topik tersebut. Istilahnya, menciptakan topik hangat.

Bahkan ada sebagian orang mengatakan Hongmeng OS menggunakan apa yang disebut “mikrokernel,” yang secara teknis lebih canggih daripada Android, dimana kenyataannya sama sekali belum terbuktikan. Sistem operasi Android dan iOS saat ini didasarkan pada varian Unix yang berbeda. Untuk membuat perangkat keras supaya cocok dengan sistem operasi dengan baik, sistem operasi perlu menginstal program yang mendorong perangkat keras ke dalam kernel.

Efisiensi ini relatif tinggi, tetapi masalahnya semua produsen perangkat keras sangat bergantung pada sistem operasi. Makanya Supaya adil, Google membuka sumber Android dan membiarkan berbagai produsen perangkat keras berpartisipasi dalam pengembangannya. Sehingga, mereka dapat menempatkan program kode sendiri ke dalam sistem operasi Android. 

Microkernel Huawei bila dibandingkan dengan Android, kernelnya lebih kecil.  Semua driver perangkat keras dikeluarkan. Tentu saja, ini membuat fleksibilitas Kernel Huawei lebih tinggi. Namun, segala sesuatu selalu memiliki kelebihan dan kekurangan. Bila Huawei membuat ekosistem sendiri tanpa memasukkan driver perangkat pabrikan perangkat keras ke dalam kernel, efisiensinya akan sangat terpengaruh.

Jadi untuk meningkatkan efisiensi, Huawei tidak menggunakan mesin virtual Java dalam platform Android. Melainkan, menggunakan metode kompilasi Era Microsoft sebelumnya. Ini tampaknya membawa efisiensi kembali, tetapi pengembangan perangkat lunak aplikasi menjadi sangat merepotkan. 

Bila kita membandingkan Era PC, betapa sulitnya pengembangan perangkat lunak, berhubung betapa banyak aplikasi perangkat lunak di dunia. Kemudian lihatlah betapa mudahnya pengembangan Aplikasi saat ini, berapa jumlah ponsel APP hari ini, kita baru akan tahu perbedaannya.

Seperti kemampuan yang disebutkan para media bahwa HarmonyOS dapat diterapkan dalam ponsel, IoT, mobil Otonom dan lain sebagainya, pandangan ini justru semakin tak dapat diandalkan. Karena upaya seperti itu tidak pernah berhasil dalam sejarah pengembangan komputer. Contoh yang paling jelas adalah PC Microsoft Windows tidak dapat kompatibel dengan perangkat seluler. 

Jika Huawei ingin menjadi sistem OS yang berhasil, diperlukan beberapa tahap iterasi. Sama seperti halnya Microsoft harus memulai dengan Windows versi 1.0 dan mengubah solusi teknis beberapa kali hingga berhasil di versi 3.0. Untungnya, industri IOT baru saja dimulai, sehingga Huawei memiliki cukup banyak waktu.

Adapun mengenai Fuchsia Os Google, saat ini hanya sistem operasi IOTnya sendiri. Atau bahkan boleh dikatakan, Fuchsia sebagai sistem operasi masih tidak memenuhi persyaratan. Google masih belum membentuk Aliansi IoT seperti Android hari ini. Tidaklah mudah untuk menyakinkan semua orang untuk menerima Fuchsia OS yang masih dalam tahap uji coba.

HarmonyOS Huawei untuk IoT
HarmonyOS vs Fuchsia OS (Image: Notebookcheck)

Just like grandma says, Secara obyektif, masih agak dini untuk membicarakan sistem operasi IOT hari ini. Harus ditekankan bahwa selain rute teknis, masih ada banyak faktor lain yang pada akhirnya akan memainkan peran yang menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu produk. 

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.