Hollywood dan Superhero

Oleh: Ricky Suwarno

13 Juli 2019

Hollywood, nama yang sudah tidak asing bagi semua orang. Terutama mereka yang punya hobby menonton film. Kebangkitan Hollywood tahun 1970 diawali dengan berkembangnya teknologi menonton film di bioskop. Dengan diperkenalkannya wide screen atau “layar lebar”. Yang lebih dikenal sebagai cinema scope. Warna yang lebih bagus. Dengan teknik audio surround. Suara yang lebih jernih. Menjadikan gedung bioskop tidak lagi stand alone.

Ada banyak karakter heroik di film-film Hollywood. Para pahlawan biasanya mengalahkan musuh-musuh jahat. Atau mengatasi kesulitan yang besar. Yang diatur dalam alur cerita. Namun, untuk bisa diminati penonton adalah suatu tantangan.

Sebenarnya, Ada cara-cara tertentu untuk membentuk para Superheroes atau pahlawan yang disukai penonton.

Matthew Luhn, seorang penulis Amerika. Konsultan cerita. Animator. Dan sutradara cerita dari perusahaan film animasi terkenal. Pixar dan The Simpsons.

Matthew Luhn berbagi keahliannya dalam membentuk karakter pahlawan favorit. Dia telah bekerja lebih dari 20 tahun sebagai penulis film animasi. “Toy Story”, “Monster Inc”, “Ratatouille”, “Up” adalah contoh karya-karyanya yang sangat terkenal.

Berbuat baik:

Dalam sepuluh menit pertama, mengatur karakter membantu plot yang lemah. Demi memotivasi penonton agar menyukai mereka. Di kalangan Hollywood, jenis amal ini sering disebut “selamatkan kucing atau save the cat”

Sebagai contoh, film “Aladdin”. Aladdin adalah orang yang sombong. Kita melihatnya mencuri roti. Aladdin dengan mudah lolos dari orang yang mengejarnya. Pada saat dia mau makan roti curian, tiba-tiba cerita memasukkan plot “menyelamatkan anak kucing” di sini. Yaitu, Dia melihat dua anak yatim piatu yang sedang kelaparan. Aladdin kemudian menyerahkan rotinya kepada mereka. Pada saat ini kita baru tahu bahwa Aladdin adalah orang yang baik. Dan kita semua mulai menyukainya.

Bertingkah seperti anak kecil:

Membiarkan para pahlawan membagikan kisah masih mudanya. Merupakan cara yang bagus bagi pemirsa untuk menyukai Superheroesnya. Karena kita semua pernah menjadi anak kecil. Jadi mudah untuk menghubungkannya dengan pengalaman diri sendiri.

“Brave”, “Monsters Inc.”, “UP” dan puluhan film Pixar lainnya, banyak menggunakan trik kecil ini untuk membuat penonton seperti protagonis.

Bahkan ada penulis naskah menggunakan versi yang lebih disempurnakan dari trik ini. Menjadikan karakter utama sebagai anak yatim. Ketika seorang karakter menceritakan kisah masa kecilnya, itu berarti dia membuka hatinya. Menunjukkan kerentanannya sendiri. Dan membuat karakter lebih menarik.

Berperan sebagai orang yang lemah:

Menunjukkan kelemahan juga akan menambah nilai pesona. Penonton akan selalu mendukung karakter yang lebih lemah. Dan bersimpati terhadap karakter tersebut.

Just like grandma says, pada saat-saat tertentu didalam kehidupan, kita kadang tak terlepas dan terjebak pada kondisi lemah. Misalnya, dalam film “Ratatouille” Ada seekor tikus yang ingin menjadi koki. Secara otomatis, Kita akan berpikir bahwa tikus adalah peran yang lemah. Sehingga, penonton pasti akan mendukungnya.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Hollywood dan superheroTags: , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: