Advertisements

I am sorry

Oleh: Ricky Suwarno

24 maret 2019

Kita mungkin berpikir, dengan mengatakan “Aku minta maaf” atau sorry, adalah penampilan yang sopan. Tetapi, apakah benar? Apakah harus demikian?

Sosiolog Kanada Maja Jovanovic, berpendapat bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kebanyakan orang sering meminta maaf. Walaupun tidak bersalah. Permintaan maaf yang berlebihan. Sebenarnya, tidak hanya tidak membantu kita. Tetapi juga merusak kepercayaan diri kita. Bahkan juga image kita.

Empat tahun lalu, Jovanovic menghadiri konferensi akademik. Ada empat cendekiawan wanita terkemuka yang hadir juga di panggung konferensi. Mereka telah menerbitkan ratusan artikel akademik. Konferensi pun di mulai. Para speaker mulai memperkenalkan diri. Cendekiawan wanita pertama memulai dengan rendah hati.

“Saya tidak tahu apa yang bisa saya kontribusikan untuk konferensi ini.”

Wanita kedua berkata, “Saya semula mengira penyelenggara mungkin salah mengirim surat ke saya” Saya merasa kurang enak duduk di sini. Dengan begitu banyak speaker yang luar biasa.

Dua wanita lainnya, juga membuat pernyataan dan pembukaan yang sama. Dengan permintaan maaf. Tetapi tidak ada satupun speaker pria yang menyatakan permintaan maaf dalam pembukaannya.

Sejak itu, Jovanovic mengamati permintaan maaf yang berlebihan dalam hidup sehari-hari. Dia menemukan ini tidak ada hubungannya dengan perbedaan gender. Permintaan maaf yang berlebihan telah menjadi cara komunikasi yang umum. Dan mungkin kurang tepat.

Orang-orang sering meminta maaf walaupun bukan kesalahan mereka sendiri. Misalnya, asisten Jovanovic atau abang gojek meminta maaf. Mereka bilang karena alamat kantor yang sulit di cari. Jadi dia terlambat.

Jovanovic percaya bahwa kita tidak perlu selalu mengungkapkan perasaan maaf setiap saat. Kita dapat menggunakan ekspresi lain. Misalnya, jika Anda ingin membuat saran dalam rapat, Anda dapat mengatakan “Saya punya ide” bagaimana kalau……….

Atau, “Saya ingin menambahkan sesuatu”. Atau “Mengapa kita tidak mencoba yang ini” daripada harus selalu dimulai dengan minta maaf. Atau sorry.

Jovanovic menyarankan kita bisa juga menggunakan kata ajaib lain – “saya sangat berterima kasih atas kesempatan ini” atau sejenisnya.

Misalnya, saya mengambil pengalaman pribadi sebagai contoh.

Pada satu pertemuan makan siang. Dengan seorang client yang sangat senior. Dan client tersebut terlambat setengah jam. Saya lagi berpikir bagaimana dia akan meminta maaf nantinya. Akhirnya, beberapa saat kemudian dia muncul. Dia hanya tersenyum dan berkata: “Terima kasih kalian sudah menunggu.”

Semua orang termasuk partner saya berkata, “Tidak masalah”. Dan makan siang berikutnya menjadi sangat menyenangkan.

Demikian pula, jika suatu saat Anda bersama seorang teman. Anda tiba-tiba menyadari bahwa Anda telah berbicara tanpa hentinya. Sebenarnya, Anda tidak perlu mengatakan “Maaf saya telah mengeluh terlalu banyak”.

Anda bisa saja mengatakan, “Terima kasih atas kesediaannya mendengar”. Atau “Senang sekali memiliki Anda di sisiku saat ini.”

Just like grandma says, selain mengurangi jumlah permintaan maaf dalam hidup kita, kita juga harus mengingatkan orang lain. Atau teman baik ketika mereka meminta maaf secara berlebihan.

Sehingga, beberapa saat yang lalu, saya bersikeras memutuskan pembicaraan teman yang meminta maaf berturut-turut. Sambil bertanya kepada teman saya, “Mengapa kamu merasa menyesal atau harus minta maaf?”

Teman saya sendiri merasa bingung. Dan menjawab ,“Saya juga tidak tahu.”

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesiaTags: , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: