Imlek Migrasi terbesar China kontemporer

Imlek Migrasi terbesar China kontemporer tahun 2020 jatuh pada tanggal 25 Januari. Tahun baru China atau imlek adalah perayaan seluruh umat China dalam merayakan pergantian musim dingin ke musim semi. Menyongsong harapan baru setelah bekerja keras di tahun lalu. Namun, Hampir semua berita utama dalam beberapa hari terakhir terkait dengan epidemi pneumonia dari infeksi virus corona dari Wuhan, propinsi bagian Tengah Tiongkok. Wabah di perayaan Imlek jelas menambah kerumitan dalam pencegahan dan pengobatan terhadap penyakit menular ini.

Kompleksitas ini bukan hanya seberapa banyak orang yang pulang kampung selama Festival Musim Semi. Tetapi dalam arah dan tren arus, telah menciptakan beberapa fenomena baru dalam dua tahun terakhir.

Imlek Migrasi terbesar China kontemporer

Secara tradisional, Festival Musim Semi atau imlek adalah kembalinya para pekerja di luar kota besar seperti Beijing, Shanghai, Guangzhou, atau Shenzhen pulang kampung untuk reuni dengan keluarganya di kota lain.

Selama Imlek, banyak orang yang bekerja di kota metropolitan diatas atau biasa disebut sebagai “First Tier City”, tidak lagi kembali ke kota asal mereka untuk merayakan Imlek. Sebaliknya, mereka mengundang orangtuanya untuk datang ke kota ditempat mereka bekerja untuk berkumpul. Makan malam bersama, terutama di malam tahun baru. Tren ini disebut “Perayaan Terbalik festival musim semi.”

Penyebab utama Tren terbaru ini, dikarenakan mereka tidak dapat membeli tiket. Baik tiket pesawat maupun tiket kereta cepat. Berhubung jauh hari sebulan sebelum Imlek, semua penjualan tiket telah di mulai. Bagi mereka yang tidak mendapatkan tiket, akhirnya memutuskan untuk tidak pulkam. Atau, meminta orangtuanya untuk mengunjungi mereka.

Data menunjukkan arus penumpang “Perayaan terbalik festival musim semi” tumbuh 9% per tahun. Selama Imlek tahun 2019, Li Wenxin, wakil manajer National Railway Group mengatakan: “Departemen kereta cepat telah mendiskon tarif hingga 35% pada beberapa arah jalur Non-populer destinasi. Tujuannya, menghimbau lebih banyak orang untuk pulkam dan berkumpul dengan keluarga.

Jadi mengapa ” Imlek Migrasi terbesar China kontemporer” perayaan terbalik menjadi tren dalam dua tahun ini? Mengapa tidak terjadi di masa lalu?

Jawabannya, mungkin terletak pada “budaya keluarga Cina dan Urbanisasi.”

Di masa lalu, orang Cina selalu menekankan “daun harus kembali ke akarnya”. Artinya, mereka harus pulang kampung berkumpul dengan keluarga. Reuni bersama sanak saudara untuk merayakan Imlek. Tapi sekarang, konsep keluarga di Tiongkok menjadi semakin kecil. Mereka merayakan Imlek demi untuk bertemu dengan orang tua atau kakek nenek. Mereka sekarang kurang mengunjungi kerabat atau teman. Mereka cukup mengucapkan “Xin Nian Kuai Le” atau “Gong Xi Fa Cai” atau membagi “Angpao” lewat Wechat saja.

Jadi secara emosional, hal ini dapat diterima bagi masing-masing pihak. Ini adalah perubahan budaya keluarga Cina.

Alasan lainnya, berkaitan dengan jaringan transportasi China yang bertumbuh pesat.  Misalnya, sekitar 8-10 tahun yang lalu. Ketika Ricky naik kereta tradisional dari Shanghai ke Beijing. Jarak antara dua kota sekitar 1200km. Saat itu memakan waktu lebih dari 12 jam. Namun, sekarang dengan munculnya bullet train hanya perlu waktu 4.5 jam.

Di tahun 2019, jarak tempuh kereta cepat Tiongkok telah menjangkau 80% semua kota besar negara Tirai Bambu ini. Belum lagi terhitung jalan tol yang telah mencakup 97% kota dengan populasi 200.000 keatas. Ini juga meletakkan dasar transportasi yang mendukung perayaan terbalik Imlek tidak harus di kampung halaman sendiri.

Oleh karena itu, Kementerian Perhubungan Tiongkok merilis Laporan Prakiraan Perjalanan Festival Musim Semi 2020 beberapa waktu lalu. Mereka memprediksi kota-kota terpopuler perayaan terbalik Imlek ini diantaranya, seperti Chongqing, Guangzhou, Chengdu, Wuhan dan sebagainya.

Munculnya tren ini berarti bahwa daya saing kota berubah dari kaya secara ekonomi menjadi “dapat memberikan orang rasa memiliki dengan atmosfer bisnis yang kuat, dan serangkaian pertimbangan “infrastruktur yang nyaman”.

Peluang ekonomi suatu kota dapat mempertahankan lebih banyak tenaga kerja. Akan tetapi, hanya dengan kekuatan keseluruhan yang kuat baru dapat mempertahankan hati seseorang.

Ini adalah perubahan besar pertama yang terjadi selama migrasi Festival Musim Semi, “perayaan Terbalik Festival Musim Semi versi China”.

Singkatnya, selama Imlek arus penumpang di Tiongkok bukan lagi aliran satu arah dari area yang kaya secara ekonomi ke area yang kurang berkembang. Tetapi aliran dua arah dan bahkan multi-arah.

Pola Urbanisasi Cina sedang berubah. Jiangsu, provinsi pesisir terbesar kedua dalam perekonomian Tiongkok. Namun, lalu lintas penumpang dari Transportasi Musim Semi atau “Chunyun” Jiangsu telah turun selama dua tahun berturut-turut. Data tahun lalu menunjukkan jumlah transportasi sebesar 112 juta orang. Yang mengalami pengurangan 4.84 juta orang. Atau penurunan sekitar 4,16%.

Contoh lainnya, propinsi Fujian dan Zhejiang. Mengalami penurunan total arus penumpang setidaknya 4 poin persentase selama Imlek 2018.

Selain itu, Provinsi Guangdong, yang dikenal sebagai “Pabrik Dunia.” Juga mengalami Nol peningkatan dalam lalu lintas penumpang selama Imlek. Just fyi, sebelum Imlek, total arus penumpang di Guangdong selalu menduduki urutan pertama di negara Panda ini.

“Mengapa ini terjadi?”

Penurunan arus penumpang selama Imlek sebenarnya mencerminkan penurunan bertahap dalam input tenaga kerja di provinsi-provinsi ini. Artinya, tidak banyak orang datang untuk bekerja di Guangdong lagi seperti sebelumnya.

Saat ini, Orang Tiongkok semakin cenderung untuk tidak melintasi provinsi. Sebaliknya, lebih bersedia bergerak di dalam suatu provinsi. Ini juga akar penyebab semakin banyak kota kaya dalam beberapa tahun terakhir.

“Artinya?”

Imlek Migrasi terbesar China kontemporer
Imlek Migrasi terbesar China kontemporer di tahun Tikus 2020

Gap atau Tingkat perkembangan antar kota berangsur-angsur menjadi seimbang. Tidak hanya menonjol di wilayah pesisir tenggara. Banyak orang bisa mendapatkan pekerjaan yang cocok, dan lebih dekat dari kampung halamannya.

Dengan demikian, mereka yang bekerja diluar dan ingin pulang waktu Imlek, tidak perlu melintasi setengah wilayah Tiongkok yang sangat besar. Misalnya, Sichuan. Sichuan adalah provinsi tradisional khusus mengekspor layanan tenaga kerja. Di masa lalu, banyak orang Sichuan bekerja di kota lain. Namun, sejak tahun 2011, populasi penduduk Sichuan telah meningkat setiap tahun. Meningkat sampai 2,6 juta orang dalam tujuh tahun.

Hal ini mencerminkan secara fundamental bahwa pembangunan infrastruktur regional Tiongkok sedang memasuki tahap baru.

Just like grandma says, Imlek Migrasi terbesar China kontemporer menjadi semakin rumit. Dalam jangka panjang, kompleksitas ini merupakan hal yang baik. Berarti lebih banyak pilihan dalam kehidupan dan vitalitas di masing-masing kota.

Sebenarnya, kita tidak harus terkusut dalam istilah pulkam untuk reuni keluarga. Demikian pula halnya dengan perayaan Idul Fitri. Selama kita bisa bertemu dengan orang yang kita cintai, dimanapun kita berada sudah tidak menjadi masalah.

Advertisements
Categories: Imlek Migrasi terbesar China kontemporer

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: