Advertisements

Intel dan Nvidia

Oleh: Ricky Suwarno

8 april 2019

Intel dan Nvidia, dua perusahaan manufaktur chip yang sangat terkemuka di dunia. Asal Amerika Serikat. Bedanya, Nvidia didirikan pada tahun 1993 oleh orang Taiwan, yang dibesarkan di Amerika. Dan bermarkas besar di Santa Clara, California.

Saya melihat persaingan sebagai kekuatan pendorong di belakang teknologi antara Intel dan Nvidia. Sebelum adanya kemenangan atau kekalahan di antara mereka berdua, tekanan kompetisi akan memaksimalkan kemajuan teknologi.

Saya juga pernah berasumsi bila suatu saat Intel dan Nvidia bergabung, apakah masih ada kemajuan teknologi yang begitu cepat?

Mengingat penggabungan aplikasi transportasi antara Didi dan Kuaidi (Ubernya China), atau Dianping dan Meituan (aplikasi takeaway terbesar di dunia), akan membentuk monopoli pasar. Dan akhirnya, banyak konsesi yang menguntungkan konsumen dibatalkan.

Merger memang kehendak dari para pemilik modal. Setelah penggabungan dan monopoli pasar, apakah penanam modal masih bersedia mengeluarkan banyak uang untuk penelitian dasar dan inovasi? Atau sebaliknya, Jika monopoli tidak kondusif untuk kepentingan pasar dan publik, apakah mekanisme anti-monopoli harus diperkuat?

Pertama-tama, mungkin kita harus memikirkan mengapa dua perusahaan harus bergabung. Terutama di antara startup. Karena merger bukan hal yang umum. Dan para pengusaha juga tidak bersedia digabung.

Misalnya, dua merger diatas yang terjadi di China. Merupakan salah satu penggabungan terbesar di dunia. Setelah penggabungan, kedua pendiri mungkin mulai mengekspresikan hubungan yang erat. Dan saling memberi selamat. Tetapi, Dalam sekejap mata, mereka berselisih dan akhirnya, berpisah. Bahkan fenomena kata-kata buruk mulai terdengar. Karena pada dasarnya, masing-masing pihak tidak puas.

Bahkan ada banyak startups membuat berbagai pengaturan ekuitas yang hanya bermanfaat bagi mereka sendiri. Seperti hak berbagi saham. Stok satu saham pengusaha, 10 kali lipat dari saham biasa. Sehingga pengusaha mengontrol 10% saham. Dimana keputusan perusahaan selalu dalam kendalinya. Ini adalah bukti sebenarnya mereka tidak bersedia bergabung. Atau merger.

Snapchat, adalah contoh yang paling menonjol. Pengaturan kepemilikan sahamnya bahkan lebih ekstrim. Saham yang dikeluarkannya tidak memberikan hak suara. Itu artinya investor hanya menikmati keuntungan dari snapchat. Investor tidak perlu berpartisipasi dalam segala pengambilan keputusan shapchat. Tidak peduli seberapa banyak saham yang telah di invest.

Tentu saja, jika founder atau pendiri perusahaan telah tidak ada, atau wafat. Kemungkinan merger akan lebih besar. Karena, hak prioritas dan kepentingan yang diberikan kepada pendiri umumnya, tidak akan berlanjut ke ahli warisnya. Demikian juga, karena kurangnya antusiasme untuk terus mengoperasikan perusahaan.

Namun, CEO Nvidia Jen Hsun Huang masih ada. Jadi sementara, Nvidia tidak akan bergabung dengan Intel. Bahkan, Tahun ini Nvidia sangat berpeluang melampaui Intel dalam nilai pasar. Itulah sebabnya pasaran lebih optimis tentang Nvidia daripada Intel.

Jadi, mengapa masih begitu banyak merger atau penggabungan perusahaan di Cina?

Karena sebagian besar bisnis model di China adalah inovasi model. Hambatan untuk model inovasi tidaklah tinggi. Termasuk kurangnya perlindungan atau jaminan. Sehingga sering membutuhkan modal yang kuat untuk mendukungnya. Dan mengandalkan pangsa pengguna untuk menang.

Bisa dibayangkan betapa besar jumlah modal yang dikonsumsi dalam perang modal ini. Karena modal adalah kunci untuk menang. Sehingga akan menarik semakin banyak investor untuk masuk. Dan memenangkan persaingan ini.

Sebagai investor, mereka tentu saja tidak berharap untuk terus bertarung sepanjang waktu. Penggabungan adalah pilihan terbaik. Terutama pada akhirnya, ketika mereka telah berada di ambang pintu kemenangan. Dimana tinggal dua pemain di pasaran. Sehingga merger atau penggabungan adalah pilihan terbaik. Untuk untung besar.

Namun, sebaliknya penggabungan bukan pilihan yang disukai oleh pengusaha atau pendiri. Karena umumnya, hanya satu CEO yang bisa dipertahankan. Yang lainnya harus keluar. Atau drop out.

Fakta ini bukan hanya terjadi di Cina. Tetapi juga di Amerika Serikat. Seperti, perusahaan pembayaran PayPal. Produk dari penggabungan dua perusahaan. Kedua CEOnya sama-sama hebat. Elon Musk, dan Peter Thiel. Mereka bergiliran menjadi CEO. Tetapi ketika satunya menjabat sebagai CEO, yang satunya harus pergi. Tetapi, setelah diakuisisi oleh eBay, kedua CEO ini pun akhirnya pergi.

Just like grandma says, CEO yang hebat tidak bersedia merger. Tidak mau bergabung. Tetapi bila bisnis model startup Anda lebih mengandalkan kemenangan modal, seperti halnya Go-Jek saat ini. Sorry, Gojek harus mengikuti kehendak pemilik modal. Siapa tahu, nantinya Gojek terpaksa bergabung dengan Grab. Atau, sebaliknya.

Jadi bisa dimengerti, banyaknya penggabungan atau merger, sebenarnya adalah merger air mata para pendiri perusahaan.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, intel dan nvidiaTags: , , , , , , , , , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: