Advertisements

Jepang adalah versi sejarah Perang Dagang AS-China

Oleh: Ricky Suwarno

13 Juni 2019

Selama masa ini, AS telah banyak menimbulkan sengketa dagang dengan Negara lain. Seperti Cina, Meksiko, Jepang, dan Prancis. Donald Trump telah membuat dunia sakit kepala.

Pada akhir abad 20, AS juga melancarkan perang dagang dengan Jepang. Yang berakhir dengan kekalahan Jepang. Ekonomi Jepang terpukul keras. Dan tidak pernah bangun lagi lebih dari 20 tahun.

Tetapi di satu sisi, Jepang sangat berhasil. Yaitu mencapai peningkatan industry. Jepang telah berhasil beralih. Dari industri berat, dan manufaktur padat karya, ke industri kelas atas.

“Square Agreement” sangatlah terkenal. Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1985. Pada saat itu, Jepang dipaksa oleh AS untuk menaikkan nilai mata uang yen. Perjanjian yang membuat perekonomian Jepang menjadi lesuh dan tidak pernah bangun lagi.

Sebenarnya, tekanan perdagangan AS terhadap Jepang telah dimulai sejak tahun 1950-an. Pada saat itu, AS menargetkan industri tekstil Jepang. Yang terkenal dengan insiden, “Satu Dolar Kemeja Wanita”. Yang merupakan garis api Perang Dagang Jepang-AS.

Pada saat itu, banyak kemeja diekspor dari Jepang ke pasar AS. Yang dijual hanya satu dolar. Jauh lebih rendah daripada harga pasar AS saat itu. Industri tekstil di Amerika Serikat terpukul keras. Banyak perusahaan kecil dan menengah terpukul dan bangkrut. Termasuk pabrik tekstil yang diinvestasi Warren Buffet. Tidak luput dari nasib kebangkrutan.

Para Buruh AS meluncurkan kampanye anti-dumping. Menuntut pemerintah membatasi impor tekstil Jepang. Dan Jepang, akhirnya dipaksa untuk menyetujui banyak perjanjian yang kemudian meruntuhkan ekonomi Jepang.

Pada 1960-an, industri baja Jepang ditekan. Pada 1970-an, industri TV dan mobil berwarna ditekan. Pada 1980-an, industri semikonduktor dan telekomunikasi ditekan.

Pada tahun 1982, 6 manajemen eksekutif Hitachi ditangkap oleh FBI. Dan dituduh mencuri teknologi IBM. Sama persis kayak Trump menuduh dan menangkap putri pendiri Huawei, Sabrina Meng di Vancouver. Sejarah berulang. Dengan scenario dan cara kotor yang sama persis. Untuk menjatuhkan lawannya.

Pada tahun 1987, pemerintah AS melarang Fujitsu Jepang mengakuisisi perusahaan komputer AS, Fairchild. Meskipun perusahaan itu sebenarnya milik Prancis pada saat itu.

Dalam 40 tahun, AS terus-menerus mencari masalah dengan Jepang. Setiap kebangkitan suatu industry Jepang, diseringi penindasan dari AS.

Seperti yang dilakukannya sekarang terhadap perekonomian kedua terbesar dunia, China.

Ada solusi positif yang mungkin bisa dipetik bagi China. Dari pengalaman Perang Dagang Jepang-AS.

Strategi pertama, sesekali mundur dan bertarung. Jepang memilih untuk menyerah atas industry yang telah dibatasi. Jepang memilih membuat konsesi untuk menangguhkan konflik dengan AS. Dan, Selama 40 tahun ini, Jepang telah menandatangani banyak perjanjian dengan AS yang membatasi ekspornya.

Tidak lama kemudian, industri tekstil Jepang mulai diam-diam membidik industri tekstil berteknologi tinggi, serat karbon. Serat karbon juga dikenal sebagai “emas hitam”. Serat ini jauh lebih kuat dari serat biasa. Yang tahan terhadap korosi dan suhu tinggi. sehingga dapat digunakan untuk membuat produk militer seperti pelindung tubuh. Dan dalam sector penerbangan.

Pada 1960-an, teknologi serat karbon AS telah dikembangkan selama 10 tahun. Pemain dominan di pasar adalah Union Carbide. Dengan dukungan pemerintah Jepang, perusahaan-perusahaan Jepang menginvestasikan banyak uang dalam penelitian dan pengembangan. Pada tahun 1969, sebuah terobosan bahan serat karbon berkinerja tinggi berhasil dikembangkan.

Sejak itu, Toray dari Jepang mengandalkan teknologi ini untuk menguasai pasaran. Dan berhasil menduduki peringkat pertama dalam pangsa pasar serat karbon global. Toray, sekarang pemasok paling stabil dan utama untuk Boeing.

Penindasan AS menjadi kekuatan pendorong bagi Jepang. Mengubah keunggulan biaya menjadi keunggulan teknologi. Ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk. Tetapi juga membantu Jepang mendapatkan kembali kendali atas perdagangan luar negeri.

Strategi kedua yang diadopsi oleh pemerintah Jepang, adalah mengambil keuntungan dari tren. Dan mencari titik pertumbuhan lainnya. Pada tahun 1970-an, pertikaian Jepang dengan AS sebagian besar terkonsentrasi di bidang peralatan rumah tangga, baja, dan mobil. Pada titik ini, Jepang mulai mengalih dan mengembangkan industri semikonduktor dan informasi.

Awalnya, teknologi semikonduktor Jepang jauh di belakang AS. Namun, sejak pertengahan 1970-an, pemerintah Jepang mulai mengimplementasikan proyek inovatif sirkuit terpadu. Proyek ini menyatukan lima perusahaan besar Jepang, Hitachi, Mitsubishi, Toshiba, Fujitsu, dan Nippon Electric. Dengan investasi lebih dari 70 miliar yen dalam R&D.

Kelima perusahaan ini biasanya saling bersaing. Tetapi pada saat itu mereka harus menyatukan tujuan mereka. Bersatu melawan untuk mencapai terobosan dalam teknologi inti semikonduktor. Seperti halnya, perusahaan seluler China seperti Xiaomi, Oppo, Ovo, Lenovo, meiju untuk bekerjasama dengan OS Huawei, Hongmeng melawan Google Android.

Akibatnya, hanya dalam empat tahun, proyek ini telah memperoleh lebih dari 1.000 paten. Jepang telah merebut pasar chip global. Dan teknologi di bidang mikroelektronika telah menyamai AS. Pada akhir 1980-an, chip Jepang mendominasi pangsa pasar global 53%. Dibandingkan AS yang hanya 37%.

Pada 1978, Jepang juga memperkenalkan langkah sementara untuk revitalisasi industri informasi. Dengan fokus pada komputer elektronik, peralatan presisi tinggi, dan industri pengetahuan. Perusahaan di sektor ini tidak hanya memperoleh subsidi dana khusus pemerintah, tetapi juga pelonggaran pajak dan konsesi keuangan.

Akhirnya, muncullah sejumlah besar perusahaan yang kita kenal sekarang, seperti Sony, Sharp, dll.

Strategi lainnya, “internasionalisasi”. Jepang mulai mendirikan pabrik di negara lain. Mengubah negara lain menjadi tempat pemrosesan ekspor untuk produk Jepang.

Pada tahun 1970-an, pembuat mobil Jepang mulai melakukan investasi langsung dalam skala besar di AS. Seperti Honda, Nissan, Mazda, Mitsubishi, Fuji Heavy Industries dll. Perusahaan mobil ini berhasil mendirikan pabrik di Amerika Serikat, dan berinvestasi di lembaga litbang lokal.

Dalam seratus tahun AS sebagai Negara perekonomian nomor satu dunia, telah menumbangkan 5 negara dengan perekonomian kedua terbesar didunia. Setiap kali manufaktur negara perekonomian kedua mendekati 70% total manufaktur AS, AS pasti akan menggunakan segala cara untuk menumbangkan lawannya. Seperti perang dagang AS-China saat ini.

Just like grandma says, Dalam menghadapi peristiwa yang tidak terduga, atau tantangan besar, bagaimana tidak menjadi kacau sangatlah penting. Fokus ke tujuan yang telah ditetapkan. Jangan pernah mengalihkan fokus dari target. Tidak peduli betapa besar tantangan dan gangguan dari orang lain.

Advertisements
Categories: artificial intelligence indonesia, Square agreementTags: , ,

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: