Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley

Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley berhubung Monopoli perusahaan Teknologi Raksasa seperti FAMGA. FAMGA adalah singkatan dari perusahaan Informasi Teknologi AS seperti Facebook, Apple, Microsoft, Google dan Amazon.

Selama kampanye Pilpres AS 2020, Presiden Baru AS ini telah berulang kali menyatakan ketidakpuasannya dengan Facebook. Joe Biden menuntut Facebook untuk melakukan verifikasi iklan politik secara keras.

Namun, seorang eksekutif perusahaan teknologi mengatakan bahwa Joe Biden memiliki banyak teman di berbagai kalangan industri. Dan Dia sendiri merasa sangat nyaman berinteraksi dengan orang-orang di industri teknologi. Presiden Joe Biden bahkan mengundang Mantan Wakil penasihat hukum Facebook dan Apple, Jessica Hertz dan Cynthia Hogan untuk bergabung dalam Timnya.

Mantan CEO Google, Eric Schmidt juga di tunjuk untuk memimpin kelompok kerja industri teknologi baru di Gedung Putih. Hal ini menjelaskan bahwa komunitas informasi teknologi sangat berharap Joe Biden dapat membuat terobosan dan perubahan pada beberapa perintah Eksekutif Mantan Presiden AS Donald Trump. Seperti kebijakan imigrasi. 

Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley

Walaupun sampai hari ini belum ada pengumuman resmi Mahkamah Agung AS tentang hasil pemilihan Presiden, namun calon Presiden Joe Biden dan beberapa media besar lainnya telah mengumumkan sendiri. Calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden telah memenangkan lebih dari 270 suara elektoral. Tentu saja, Donald Trump menolak untuk mengakui kekalahannya.

Sebaliknya, Trump mengajukan tuntutan hukum dan menuntut penghitungan ulang. Meskipun, peluang kemenangannya sangat tipis. 

Akun Resmi Twitter Joe Biden telah disertifikasi Twitter sebagai “Presiden terpilih Amerika Serikat” yang baru. Joe Biden sendiri juga telah menyampaikan “Pidato Kemenangan” kepada semua masyarakat Amerika Serikat. Termasuk mulai menerapkan rencana pencegahan dan pengendalian epidemi serta, serangkaian kebijakan pemulihan ekonomi. 

Para Taipan di lingkaran perusahaan teknologi Amerika juga mulai mengirimkan ucapan selamat. Diantaranya, CEO Amazon Jeff Bezos mengatakan bahwa kemenangan Joe Biden dan Kamala Harris menandakan Era “Persatuan, Empati dan Kesusilaan” telah kembali. 

Bill Gates, yang selalu mengkritik politik kebijakan Anti-epidemi Trump mengatakan bahwa dia berharap dapat bekerja sama dengan pemerintah baru dan para pemimpin kedua partai di Kongres untuk mengendalikan epidemi mahkota baru yang merajalela di Amerika Serikat saat ini. 

Presiden Microsoft, Brad Smith berkata, “Jika kita ingin maju sebagai sebuah bangsa, kita harus membangun jembatan baru untuk menjembatani jurang pemisah di antara kita.

“Akhirnya, kita tidak harus bangun pagi-pagi untuk menghadapi badai Twitter dari Presiden Trump,” kata seorang eksekutif kalangan industri Teknologi yang tidak ingin disebutkan namanya. 

Kemenangan Biden sebagai presiden baru telah berada di ambang pintu. Dengan asumsi bahwa Joe Biden akhirnya akan secara resmi menempati Gedung Putih, apa yang akan dibawanya ke industri teknologi AS? 

Center for Responsive Politics, sebuah organisasi nonprofit Statistik menunjukkan bahwa di antara sepuluh besar donasi Dana untuk Komite Kandidat Presiden Joe Biden, Perusahaan Raksasa Teknologi seperti FAMGA telah menyumbang lima kursi. Dengan total donasi lebih dari 10 juta dolar AS.

Namun, di antara Top 25 donor Teratas Trump, tidak ada satupun dari perusahaan teknologi Silicon Valley.

Donald Trump selalu tidak ramah kepada imigran. Ditambah dengan dampak epidemi, membuat AS semakin kacau. Pada bulan Juni tahun ini, Trump menandatangani perintah Eksekutif untuk membekukan beberapa visa kerja. Seperti H-1B, mengijinkan pemilik perusahaan AS untuk mempekerjakan orang asing dalam posisi pekerjaan tertentu.

Perusahaan Industri teknologi AS sangat “bergantung” pada imigran asing. Sekitar sepertiga teknisi adalah imigran asing atau pemegang visa H-1B. Pembekuan visa kerja oleh Trump telah menyebabkan 52 perusahaan teknologi AS “menolak dan melawan”. Perusahaan yang berpartisipasi dalam tuntutan hukum terhadap Trump termasuk Apple dan Amazon, Google, Uber. 

Pada masa kampanye, Joe Biden berkata setelah dia terpilih, dia akan menyerahkan RUU reformasi imigrasi ke Kongres dan menghentikan pembangunan tembok perbatasan dengan Meksiko pada hari dia menjabat. Joe Biden tidak hanya berharap untuk mereformasi H-1B, tetapi juga mencabut kuota green card. Tentu saja, Ini berita yang sangat menggembirakan bagi para pekerja India. 

Di samping itu, Joe Biden mengusulkan untuk menaikkan pajak perusahaan. Dari 21% menjadi 28%. Memberlakukan pajak minimum baru pada perusahaan Amerika. Juga, menekankan pajak lebih tinggi terhadap orang kaya. Pengenaan pajak tidak mencakup keluarga dengan pendapatan tahunan kurang dari US $ 400.000. 

Seperti halnya dengan Trump, Joe Biden mendukung insentif pajak yang mendorong perkembangan manufaktur dalam negeri AS. 

Akan tetapi, para analis memperkirakan jika Partai Demokrat tidak dapat “memperoleh dukungan” dari Badan Senat dan Dewan Perwakilan Rakyat, reformasi kenaikan pajak akan sulit untuk dilewati. Belum bisa dipastikan apakah para Taipan Teknologi Raksasa akan mendapatkan keuntungan dari kebijakan tersebut.

Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley. Karena di beberapa area kebijakan, Biden akan merevisi kebijakan tertentu. Seperti Section 230, tinjauan Antitrust terhadap perusahaan teknologi. 

Section 230 adalah “Undang-Undang Regulasi Komunikasi” yang dilegalisasikan oleh Amerika Serikat pada tahun 1996. Artinya, perusahaan Internet pada umumnya tidak bertanggung jawab atas konten yang diposting di jaringan mereka oleh para pengguna. Ini setara dengan menyediakan “tempat berlindung” yang legal kepada perusahaan Internet. 

Tetapi CNN berkomentar bahwa baik Partai Demokrat maupun Republik memiliki alasan berbeda untuk menentang UU ini. Partai Demokrat menuntut pertanggungjawaban perusahaan teknologi. Mengharuskan mereka untuk menghapus perkataan yang mendorong kebencian dan informasi palsu dari platform mereka. 

Sedangkan, Partai Republik mengklaim bahwa dengan menghapus dan menindak lanjut konten ucapan pengguna menunjukkan perusahaan teknologi ada bias terhadap pihak tertentu. 

Di bawah kepemimpinan Biden, Partai Demokrat sangat berkemungkinan memperkenalkan peraturan baru untuk menggantikan Pasal 230. Sehingga, perusahaan teknologi mungkin lebih dapat menerima. Bukannya, hanya sekedar  membatalkan ketentuan perlindungan kewajiban perusahaan Internet.

“Tidak peduli siapa yang akan memasuki Gedung Putih di bulan Januari tahun depan, penegakan anti-monopoli perusahaan teknologi Raksasa akan terus berlanjut,” kata Profesor Sekolah Hukum Stanford.

Tidak seperti presiden Trump yang selalu mengutuk platform media sosial karena membatasi kebebasan berekspresi kaum konservatif. Joe Biden lebih memperhatikan persaingan industri, privasi, dan perlakuan terhadap pekerja sambilan, menurut The Wall Street Journal. 

Pada saat Kampanye Pilpres AS, proposal yang menentukan masa depan perusahaan teknologi Silicon Valley juga mulai berlaku. Perusahaan teknologi seperti Uber, Lyft dan perusahaan lainnya bersama-sama mempromosikan proposal hukum yang disebut Proposition 22 California. Mereka bersama menyumbangkan total US$200 juta. Sumbangan ini kemudian disebut sebagai pemungutan suara termahal dalam sejarah California. 

Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley
Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley (Image: The Hill)

Just like grandma says, Tuntutan hukum atas Monopoli para perusahaan Teknologi Raksasa akan tetap diteruskan pada Masa Pemerintahan Baru. Joe Biden menyatakan bahwa dia tidak setuju dengan betapa ramahnya pemerintahan Obama terhadap Silicon Valley di masa lalu. Dia juga menyebut para Eksekutif perusahaan Teknologi sebagai “orang aneh” yang menunjukkan “kesombongan luar biasa”.

Joe Biden bukan payung pelindung Silicon Valley, walaupun para taipan perusahaan internet merupakan Top 10 donasi terbesar dalam Kampanye Pilpresnya.

Apa Pendapat Anda

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.