Kecerdasan Buatan China dimata AS

Kecerdasan Buatan China dimata AS dalam beberapa tahun ini telah mencapai kemajuan luar biasa. Bahkan dalam banyak penerapan telah jauh melampaui AS. Pada tanggal 10 September yang lalu, bertepatan hari Guru di China, ada beberapa Sekolah Menengah di Beijing telah muncul Guru Kecerdasan Buatan atau AI. Guru AI ini mulai menggantikan guru manusia mengajar matematika. Guru-guru AI Beijing dapat menyesuaikan program pembelajaran yang dipersonalisasi untuk siswa. Dan merangkum serta menganalisis data latihan. Mereka lebih memahami kelemahan masing-masing siswa daripada guru manusia.

Kecerdasan buatan China telah mulai membawa perubahan besar pada industri pendidikan di dunia. Guru manusia yang digantikan oleh AI bisa memberikan lebih banyak energi untuk mendidik talenta. Misalnya, melatih pemikiran kritis siswa. Meningkatkan kemampuan belajar secara mandiri. Dan membina sikap dan pandangan mereka terhadap kehidupan.

Kecerdasan Buatan China dimata AS

Dengan kata lain, kecerdasan buatan China mendefinisikan ulang peran seorang guru. Kecerdasan Buatan China dimata AS terutama di penerapan aplikasi AI, China telah jelas menunjukkan prestasinya dalam dua tahun terakhir. Tidak hanya industri pendidikan. Tetapi juga banyak industri tradisional yang secara aktif mengeksplorasi teknologi AI.

Situs “Nature” menerbitkan artikel tentang status quo AI China. China telah membuat kemajuan luar biasa dalam bidang kecerdasan buatan. Sudah saatnya menarik perhatian AS. Untuk menjadi pemimpin AI Dunia di tahun 2030, China perlu meningkatkan beberapa bidang utama.

Harus diakui saat ini, AS masih menjadi pembangkit tenaga teknologi nomor satu di dunia. Namun di beberapa sektor, AS sebenarnya sangat cemburu atas keberhasilan China. Dimana mereka masih sangat sulit menerima kenyataan ini. Namun akhirnya, apakah AS bersedia atau tidak AS nantinya harus terbiasa dengan berbagai pencapaian teknologi China. Karena hal ini akan menjadi hal yang sangat normal bagi AS maupun Dunia.

Berdasarkan Think Tank Interdisciplinary Data, Teknologi, dan Kebijakan Publik AS bulan lalu yang merilis laporan komparatif tentang kekuatan AI antara China, AS, dan UE. Laporan tersebut menunjukkan China berada di peringkat kedua dalam hal kekuatan secara keseluruhan.

Secara komprehensif, AS menempati peringkat pertama dengan skor 44,2 poin (dari total 100 poin). Skor ini mencakup empat dimensi bakat, penelitian, pengembangan, dan perangkat keras. Dalam hal talenta, AS memiliki talenta AI terbanyak di dunia. Dalam hal penelitian, kualitas rata-rata makalah AI AS adalah yang tertinggi.

Dalam hal pengembangan bisnis, AS memiliki jumlah startup AI terbanyak di dunia. Dan mereka telah memperoleh investasi ekuitas dan modal ventura.Sedangkan, dalam perangkat keras, AS memimpin industri semikonduktor dan chip komputer tradisional. Kedua industri ini dapat membentuk pemberdayaan pengembangan industri AI.

Peringkat Kedua, China mengejar dibelakang AS. Mencetak total 32,3 poin. China memimpin dan melampaui UE yang di tempat ketiga hampir 10 poin. Penilaian ini menunjukkan bahwa bidang kecerdasan buatan di China berkembang sangat cepat. Dengan cepat mempersempit kesenjangan antara China dan AS. Bahkan, telah jauh melampaui UE dalam hal investasi modal dan aplikasi AI.

Kecerdasan Buatan China dimata AS mencakup beberapa keunggulan yang sangat menonjol. Yang pertama adalah, penerapan teknologi AI di pasaran. Yang kedua adalah data besar. Skala populasi adalah keuntungan paling besar China dalam pengembangan teknologi AI. Populasi Memberikan data yang sangat kaya. Dua keunggulan unik ini menjadikan China sebagai “Lahan Uji Coba” yang sangat menguntungkan untuk teknologi Kecerdasan Buatan.

Dalam penerapan teknologi AI, China telah memimpin secara global mulai tahun 2018. Mencapai total 32%, yang jauh lebih tinggi dari AS dan UE. Dengan kata lain, telah banyak perusahaan China menggunakan AI untuk mengotomatisasi tugas sehari-hari. Sebagai contoh, teknologi AI untuk menangani proses penggantian biaya atau reimbursement. Para Karyawan hanya perlu memberi tahu program AI beberapa informasi dasar. Program AI secara otomatis akan membantu mengisi formulir, dan memulai proses penggantian yang menghemat waktu.

Data menunjukkan 53% perusahaan China sudah mengujicobakan aplikasi kecerdasan buatan. Dan data ini jauh di depan AS. Di Amerika, rasio ini hanya sekitar 29%.

Bahkan, ada banyak industri China yang telah menjadi “Standar AI”. Seperti, proyek “Aibee” dari mantan Presiden Baidu Research Institute Lin Yuanqing. Proyek ini awalnya dimulai untuk memberdayakan AI industri ritel, dan sekarang telah diperluas ke industri wisata.  

Selain itu, Cloudwalk Technology yang merupakan salah satu “Empat Naga Kecil” perusahaan Kecerdasan Buatan China, adalah pakar dalam pengendalian risiko bank atau Fintech. Sekarang mereka telah ekspansi dari dunia perbankan dan keuangan ke peningkatan layanan cerdas toko 4S (Sales, Service, Spare-parts and surveys untuk servis mobil).  

Inti dari teknologi AI adalah pembelajaran mendalam atau Deep Learning. Yang tidak dapat dipisahkan dari “pemberian” data besar. Untuk melatih AI memprediksi penyakit tertentu dibutuhkan kumpulan data pasien yang cukup besar. Dan kumpulan data pasien di China jauh lebih besar daripada negara manapun didunia.  

Aplikasi Super Wechat

Data di China tidak hanya banyak, namun juga sangat beragam. Ini adalah faktor yang sangat menonjol. Sehingga, lebih mudah mencapai “lintas batas” antara data. Ini berkat kontribusi super Aplikasi Wechat. Kita dapat menyelesaikan hampir semua hal melalui WeChat. Seperti berbelanja, pembayaran kartu kredit, membayar air dan listrik, memanggil taksi, memesan makanan, mengisi daya ponsel dan sebagainya.

Sebaliknya, baik AS maupun UE tidak memiliki aplikasi super seperti itu. Pengguna hanya dapat berbelanja di aplikasi Amazon, tetapi mereka tidak dapat memesan hotel. Untuk mencapai beberapa fungsi, diperlukan beberapa aplikasi yang berbeda. Sehingga data yang dihasilkan dan terkumpul masuk ke perusahaan teknologi yang relatif independen dan tersebar.

Sementara di China Semua fungsi terkonsentrasi di Aplikasi Wechat. Dengan kata lain, WeChat dapat mengumpulkan data dari semua kegiatan diatas dan mencapai data lintas batas.

Namun, China juga perlu meningkatkan beberapa bidang utama jika ingin mencapai kepemimpinan global di bidang kecerdasan buatan. Misalnya, kemampuan berkontribusi pada teori dan teknologi fundamental AI. Jika tidak memiliki terobosan dalam penelitian algoritma, China akan segera menghadapi keterbatasan. Tetapi, Ada juga Berita baiknya adalah rata-rata angka kutipan dari makalah China di bidang kecerdasan buatan telah meningkat secara dramatis dalam beberapa tahun terakhir. Melampaui rata-rata dunia dan mendekati AS.

Kelemahan utama China terletak pada keterbelakangan dalam alat untuk membangun teknologi inti kecerdasan buatan. Seperti platform sumber terbuka TensorFlow dan Caffe. Di sisi perangkat keras, sebagian besar chip mikroprosesor kecerdasan buatan tercanggih saat ini dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan AS, seperti NVIDIA (walaupun pendirinya orang Taiwan-China), Intel, Apple, Google dan AMD. Jika China tidak ingin dikendalikan oleh negara lain, China harus bekerja lebih keras di sisi chip. Untungnya, China masih ada Huawei yang teknologi chipnya sudah maju pesat.

Status talenta AI di China mungkin kurang memuaskan. Meskipun China memiliki banyak peneliti dan insinyur AI sebesar 18.200 orang. Menempati urutan kedua di dunia. Namun, talenta AI top China, yang makalahnya banyak dikutip dan dipergunakan kurang dari seperlima dibanding AS. Menempati peringkat keenam di dunia.

Sekarang lembaga-lembaga AI China telah berhasil menarik para peneliti bayaran tinggi untuk kembali ke China. Misalnya, Pusat Intelejen dan Robotika Buatan Universitas Xi’an Jiaotong. Para profesor kelas kakap menerima dua hingga tiga kali lipat gaji departemen lainnya.

Selain itu, sejak tahun 2018, ada 35 universitas di China lulusan program sarjana “Kecerdasan Buatan”. Seperti Universitas top Tsinghua (Harvard nya China) telah mendirikan sejumlah pusat penelitian dan pelatihan bakat AI untuk melatih para profesional AI.

Kecerdasan Buatan China dimata AS
Kecerdasan Buatan China dimata AS telah menimbulkan kecemburuan AS terutama dalam tahap penerapan Aplikasi AI di China

Penetapan pedoman etika yang jelas untuk pengembangan dan penerapan AI juga sangat penting bagi AS-China. Misalnya, bagaimana mencegah agar data yang dikumpulkan tidak terbocor atau disalahgunakan. Atau bagaimana memastikan bahwa AI lebih transparan dan dapat diandalkan dalam membantu manusia membuat keputusan. Menghindari prasangka atau diskriminasi. Pedoman etika seperti ini bisa membantu perusahaan AI AS-China  membangun kepercayaan di arena internasional. Sekalian memenangkan kerja sama pengguna.

Just like grandma says, salah satu perasaan subyektif Ricky adalah keunggulan China dalam penerapan aplikasi dan data akan sulit dilampaui oleh negara manapun termasuk AS. Pada saat yang sama, kekurangan China dalam talenta dan keterbelakangan tata kelola litbang telah terkejar dengan cepat. Situs Nature percaya, Kecerdasan Buatan China dimata AS terutama kemajuan dan penerapan aplikasi AI China akan menjadikan China sebagai pemimpin AI secara global.

Menurut CEO Innovation Works, Kaifu-Lee bahwa tahap dividen teknologi murni AI telah berlalu (yang menguntungkan pihak AS). Sekarang, Dunia mulai memasuki Era penerapan AI (yang menguntungkan pihak China). Industri tradisional yang dapat segera memberdayakan teknologi AI akan menciptakan kekayaan yang sangat besar. Dan perusahaan China bergerak sangat cepat dalam hal ini. Bagaimana dengan Indonesia?

Advertisements
Categories: Kecerdasan Buatan China dimata AS

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: