Kecerdasan buatan yang semakin manusiawi

Kecerdasan buatan yang semakin manusiawi menurut Terrence Sejnowski, Bapak pendiri Deep Learning atau Pembelajaran mendalam Dunia. Beberapa hari yang lalu, saya direkomendasi oleh teman untuk membaca buku Deep Learning: The Core Driver of the Smart Age. Yang ditulis oleh Terrence Sejnowski sendiri. Beliau adalah salah satu tokoh yang sangat penting dalam bidang kecerdasan buatan. Yang menjelaskan Deep learning atau pembelajaran mendalam secara merakyat.

Artinya, mudah dimengerti oleh bahkan orang yang bukan di bidang Artificial Intelligence alias Kecerdasan Artifisial. Beliau adalah salah satu dari sepuluh ilmuwan kecerdasan buatan dunia. Pendiri Deep learning. Dan juga Ketua Neural Information Processing Systems alias NIPS.

Kecerdasan buatan yang semakin manusiawi

Teman saya yang merekomendasi buku diatas, adalah salah satu startup robot AI atau kecerdasan buatan terbesar di dunia. Yang nantinya akan saya tulis tentang kisah suksesnya.

Robot AI nya agak spesial. Dan lain dari yang lain. Robot mereka khusus menyapu dan membersihkan lantai, jendela bahkan udara dalam ruangan. Atau tepatnya, robot pengurus rumah tangga. Mereka juga ada serial robot komersial yang ditujukan untuk layanan publik. “Motto mereka sangat manusiawi, robot yang kayak keluarga sendiri.”

Atau ibaratnya pembantu rumah tangga di Indonesia yang sehari-hari kita panggil Bibi, atau Mbak.

Buku ini adalah buku pertama yang saya baca sampai selesai dalam tiga hari. Dari sekian banyak buku yang pernah saya baca sebelumnya.

Dalam bukunya, Terence menekankan kecerdasan buatan terinspirasi oleh ilmu otak. Yang semakin mendekati otak manusia. Ilmu otak juga bisa mendapat manfaat ketika kecerdasan buatan dikembangkan lebih dalam. Karena alat dan teknik yang dikembangkan dalam pembelajaran mesin ini akan digunakan untuk menjelaskan fungsi otak. Karena itu, ada interaksi yang baik antara kedua bidang ini.

Ketika ditanyai mengapa manusia hanya perlu satu atau dua contoh cangkir untuk mengenali cangkir lain. Sementara AI atau kecerdasan buatan membutuhkan ribuan cangkir untuk mengidentifikasi sebuah cangkir.

Terence menjawab pertanyaan ini, dengan mengambil otak manusia sebagai contoh. Meskipun ada banyak area khusus di korteks serebral kita yang bertanggung jawab untuk menjelaskan beberapa hal khusus, tetapi area ini termasuk dalam sistem operasi yang sama.

Ini dikarenakan bagian yang berbeda bisa saling berkolaborasi. Dan arus informasi antara bagian yang berbeda akan saling berinteraksi. Ini namanya “kesadaran.”

Dengan kata lain, ada hierarki di atas sistem khusus ini. Misalnya kita tidak bisa menyadari visi atau penglihatan kita. Ataupun bahasa kita. Tetapi kita tidak tahu mengapa, kita dapat melihat. Dapat mendengar. Dapat menyentuh. Bahkan dapat merasakan.

Ketika kita dihadapkan dalam suatu latar belakang, kita dapat mengenali ekspresi di wajah teman. Ini terjadi di berbagai bagian otak, yang sedang dalam proses terkoordinasi.

Kecerdasan buatan yang semakin manusiawi
Kecerdasan buatan yang semakin manusiawi (Image: Machine Learning)

Untuk jaringan pembelajaran mendalam saat ini, setiap jaringan dapat memecahkan masalah. Misalnya, kita memiliki jaringan visual, jaringan suara, jaringan bahasa, dan jaringan sistem gerak. Tapi yang harus kita lakukan adalah mencari pendekatan secara keseluruhan untuk mengatur dan mengoordinasikan semua jaringan ini.

Just like grandma says, Inilah yang tidak dimiliki oleh jaringan pembelajaran mendalam atau deep learning. Yang juga merupakan arah pengembangan di masa depan.

Prinsip-prinsip ilmu otak dapat membantu pengembangan kecerdasan buatan. Dan kecerdasan buatan akan semakin mendekati fungsi otak manusia. Suatu Kecerdasan buatan yang semakin manusiawi.