Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya

Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya yang telah diciptakan oleh kekacauan pemerintahan AS Donald Trump. Minggu lalu, Korea Utara melakukan “percobaan yang sangat signifikan” di situs peluncuran satelit Laut Barat. Para pengamat politik berpendapat percobaan ini mungkin terkait dengan mesin roket Intercontinental Ballistic Missile atau Peluru Kendali Ballistik antar benua atau disingkat ICBM.  

Tes ini adalah peringatan bagi Amerika Serikat. Karena Amerika Serikat mengharuskan Korut melakukan denuklirisasi secara sepihak. Sedangkan, Korut meminta Amerika Serikat untuk mengubah posisinya dan melonggarkan sanksi terhadap Korea Utara sebelum akhir tahun ini.

Seperti yang kita lihat beberapa tahun terakhir, AS selalu keras dalam kebijakan luar negerinya. Sehingga, menyebabkan masalah di mana-mana. Tidak pedulli itu lawan atau sekutu, Presiden Trump selalu menekan dan memaksakan pihak lain. Membuat berbagai tuntutan untuk “melindungi kepentingan rakyat Amerika” dan mengorbankan kepentingan negara lain. Tetapi hasil akhirnya seringkali tidak memuaskan.

Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya

Cara keras diplomatik ini karena Amerika Serikat ingin mempertahankan posisinya sebagai Boss atau Big Brother di komunitas internasional. Namun, sebaliknya ada pandangan bahwa kekacauan yang dihadapi masyarakat internasional bukan karena AS ingin mengkonsolidasikan posisinya sebagai Big Brother. Tetapi justru AS tidak ingin menjadi Bos atau Polisi Dunia lagi. Ini mungkin tantangan paling serius dalam Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya.

Ian Bremmer, pendiri Grup Eurasia perusahaan riset dan konsultasi risiko politik global terkemuka. Perusahaan ini berspesialisasi dalam melakukan penilaian risiko politik untuk institusi besar seperti bank investasi, perusahaan multinasional, dan pemerintah.  

Beberapa waktu lalu, organisasi ini mengadakan KTT tahunan di Jepang. Bremmer mengatakan Amerika Serikat tidak ingin menjadi Polisi Dunia lagi. Hal yang mungkin sangat mengejutkan dan sulit dipercaya Dunia. Karena segala pertikaian di jagad raya, pada dasarnya ada jejak AS dibelakangnya. Termasuk Perang Dagang yang dilancarkan Trump yang membawa dunia memasuki krisis finansial. Atau, berbagai usaha AS untuk memblokir bangkitnya China.

Namun, menurut Bremmer Meskipun Amerika Serikat masih satu-satunya negara adikuasa saat ini. Tetapi, semakin banyak orang Amerika tidak ingin AS menjadi polisi dunia yang selalu mencampuri urusan dalam negeri negara lain.

Apakah benar demikian?

Ketika Bill Clinton berkampanye pada tahun 1992, apa janjinya kepada para pemilih? Akhir dari perang dingin. Akhir ini bisa berarti tidak hanya akhir dari permusuhan. Tetapi juga akhir dari semua akibat yang ditimbulkan oleh pecahnya Perang Dingin.  

Clinton menjanjikan pemilihnya “bonus perdamaian”. Ketika pemerintah AS tidak perlu lagi menghabiskan uang pajak untuk mengalahkan Uni Soviet, uang itu dapat digunakan untuk membangun infrastruktur atau medis di AS.

Bremmer juga menambahkan terpilihnya Barrack Obama sebagai presiden, Salah satu alasan terpenting adalah menentang perang global George Bush melawan terorisme. Atau Perang Irak, Afghanistan, Libya maupun Suriah. Obama berjanji untuk mengakhiri perang dan tidak akan memulai perang baru lagi. Mungkin dari presiden Clinton ke Obama memiliki mentalitas yang sama. Menghentikan AS untuk mengendalikan dunia.

Kenyataannya?

Bremmer menjelaskan Kecenderungan ini bahkan lebih jelas di era Trump. Apalagi, slogan kampanye Trump adalah America First. Menurutnya, Kalimat ini tidak berarti bahwa Amerika Serikat adalah Big Brother. Tetapi, Amerika Serikat harus mengutamakan kepentingan negara dan rakyatnya sendiri. Trump memang menggunakan diplomasi ekstrim dan menunjukkan kekuatan militer Amerika di mana-mana.

Dunia melihat Trump menarik diri dari banyak aliansi dan perjanjian internasional, seperti Perjanjian Kemitraan Trans-Pasifik, Perjanjian Rudal Kisaran Sedang, atau Perjanjian Iklim Paris. Alasan dasarnya hanya satu. Segalanya untuk kepentingan Amerika Serikat.

Mungkin Trump adalah pengecualian? Atau kasus khusus dalam politik Amerika? Kecenderungannya tidak dapat mewakili tren nasional Amerika Serikat secara keseluruhan?

Tetapi Ian Bremmer tidak setuju. Dia percaya bahwa Trump hanyalah sebuah fenomena. Namun, tren di baliknya adalah suatu keharusan. Dia mengingatkan zaman telah berubah. Populasi Amerika sedang mengalami perubahan antargenerasi. Orang-orang Amerika yang melakukan invasi global sudah tua dan semakin sedikit. Mereka sekarang berusia 70-an. Ketika generasi ini berlalu, identitas Amerika sebagai Big Brother polisi dunia mungkin akan semakin menurun.

Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya
Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya (Image: economist)

Sekilas, mungkin banyak orang berpikir adalah suatu hal yang baik. Karena lengan AS  terlalu panjang selalu mencampuri urusan orang lain. Dunia selalu berputar. Tidak ada yang abadi dalam hidup ini. Tidak ada yang bisa selalu menjadi Big Brother dunia. Amerika Serikat bisa menjadi Big Brother, Bukankah itu karena kemunduran Inggris?  Jadi perubahan kepemimpinan juga merupakan proses alami.

Tetapi dalam jangka pendek, hal ini dapat mengakibatkan turbulensi terhadap tatanan internasional. Dunia akan memasuki Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya untuk jangka waktu tertentu.

Faktanya, kita sudah dapat melihat situasi politik internasional saat ini. Dengan kata Bremmer, dunia telah memasuki “resesi geopolitik.”

Resesi geopolitik mengacu pada sistem internasional, hubungan antara pemerintah dan pemerintah telah memasuki periode fragmentasi. Pada saat seperti itu, hal-hal yang menjaga tatanan internasional di masa lalu seperti aliansi, lembaga internasional, dan nilai-nilai yang diakui oleh kebanyakan orang di dunia, semuanya dihancurkan.

Sebagai contohnya beberapa waktu lalu, NATO dibombardir oleh Trump bahwa NATO sudah ketinggalan jaman. Akhirnya, memicu serangkaian perdebatan tentang “Otak NATO sudah mati” oleh presiden Prancis Macron.

Apa dampak Kekosongan Kepemimpinan Global dan akibatnya?

Dampak secara global, tatanan internasional sedang menurun. Risiko geopolitik meningkat. Globalisasi memasuki resesi. Rantai pasokan global menjadi lebih pendek di masa depan. Karena bagi suatu perusahaan, tidak ada yang bisa mengetahui kapan dan negara mana akan mengalami konflik tarif dan konflik politik. Jadi Solusi terbaik adalah memproduksi secara lokal.

Menurut pandangannya Bremmer, globalisasi akan terpecah atas beberapa bagian. Bagian pasar barang dan jasa konsumen, mengakibatkan globalisasi jadi menurun. Karena risiko politik menjadi lebih tinggi. Rantai pasokan global akan meningkatkan biaya bagi perusahaan.

Namun, globalisasi produk komoditas akan terus berkembang seperti energi, logam, dan makanan. Alasannya, kemajuan ilmiah dan teknologi di bidang-bidang ini tidak dapat dihindari. Kemajuan Teknologi dapat mengurangi biaya. Faktor-faktor politik tidak dapat mempengaruhinya.  

Contohnya, minyak Arab Saudi. Suatu Serangan teroris dapat mengurangi produksi minyak. Tetapi menaikkan harga minyak juga. Bila, dibandingkan dengan harga di tahun 2008, harga setelah kenaikan masih hanya setengah dari harga di tahun 2008. Jadi Bremer menilai dorongan teknologi, komoditas akan terus globalisasi.

Lapisan ketiga globalisasi akan muncul di pasar data dan informasi. Seperti kecerdasan buatan, data besar, infrastruktur 5G, mobil otonom, blockchain dan sebagainya. Lapisan Pasar ini akan membentuk satu atau dua kekuatan. Pertama, seperangkat standar AS. Kedua, seperangkat standar China.

Just like grandma says, tatanan internasional memasuki suatu titik balik. Kemunduran Amerika Serikat telah menciptakan “kekosongan kepemimpinan global dan akibatnya.  Tepatnya, Tatanan internasional telah jatuh ke dalam resesi geopolitik. Di bawah latar belakang seperti itu, globalisasi mengakibatkan penyimpangan. Globalisasi komoditas akan terus diperdalam. Globalisasi barang-barang konsumen dan pasar jasa akan menyusut.  Sedangkan, pasar data dan informasi menyebabkan tren “polarisasi“.

Advertisements

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: